Meisya

1313 Words
Rumaisa langsung masuk ke dalam kamar lagi dan tak mau mendengar apa pun lagi yang dua orang di bawah sana bicarakan. "Mas, aku tidak mau. Aku tidak mau berjuang bukan karena aku tidak cinta lagi sama kamu. Aku ... ada suatu hal yang tak bisa dan tak mungkin kujelaskan padamu. Aku harus pergi karena waktuku sangat singkat." Meisya segera meraih tasnya lalu berdiri. "Tapi, Mei ... aku tidak bisa begitu saja melepaskanmu. Aku akan berjuang sendiri kalau kamu tidak mau. Aku tau, kamu tidak enak dengan kedua orang tuaku. Kamu tidak enak karena kamu sudah tidak punya keluarga lagi, bukan? Tidak masalah bagiku, Mei." Bagus tampak begitu memohon. Namun, wanita itu terus menggeleng. Meisya meminta maaf sekali lagi dengan kedua tangannya yang bersedekap. "Bahagialah kamu dengan dia, Mas." Air mata Meisya terjatuh lalu wanita itu bergegas pergi dari hadapan Bagus. Bagus yang mengejar pun selalu ditolaknya. Meisya menghempas tangan Bagus seraya melepas cincin di jari manisnya. Hadiah ulang tahun dari Bagus. Wanita berambut panjang itu melewati pagar setelah melepas benda mengkilau tadi. Bagus yang sibuk menemukan cincin itu pun tak dapat mengejar Meisya lagi. Wanita itu tiba-tiba menghilang setelah melewati pagar. "Ke mana dia tadi?" Bagus menoleh kanan kiri. "Aku yakin, pasti dia naik motor kalau bukan mobil. Tapi, naik mobil siapa dia?" Bagus masih mengatur deru napasnya sambil berkacak pinggang. Sekilas ia menatap cincin itu lalu kembali masuk. Sudah mencoba menghubungi ponsel Meisya, tetapi nomor wanita itu sudah tidak aktif lagi. Bagus pun membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Rumaisa duduk di lantai sambil menatap ke luar jendela. Namun, ia tak peduli. Pria itu kembali melangkah setelah meraih tasnya. Karena terlalu fokus pada ponsel, Bagus sampai tak melihat kalau di depannya ada pintu. Spontak kepalanya menabrak kusen pintu. Lelaki itu pun terjatuh dengan barang-barang berserakan. "Aww!" Bagus meringis menahan sakit keningnya. "Mas Bagus enggak apa-apa?" Rumaisa langsung berlari menghampiri. "Sakit," balas Bagus. Ia merasa kepalanya berat sekaligus tatapannya kabur. "Biar saya bantu, Mas." Rumaisa gemetaran pertama kali memegang lengan kekar Bagus. Ia membantu Bagus berdiri lalu berakhir di atas ranjang. "Ah, sakit banget." Bagus langsung merebahkan tubuhnya di sana. "Memang berdarah, Mas. Makanya, kalau jalan jangan nunduk aja." "Enggak usah bawel kamu! Buruan bantuin apa kek. Tatapanku mendadak buram." "Iya-iya." Gadis itu langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil kain basah. Lalu tak lupa anti biotik untuk ia oleskan pada luka di kening suaminya. Dengan sangat pelan, Rumaisa mengobati luka itu. Ia sempat meniupnya juga agar lekas mengering. Namun, tindakan Rumaisa yang lugu itu malah membuat jantung Bagus tak berdetak baik. Jarak yang tercipta di antara mereka membuat getaran di hati masing-masing. Rumaisa segera menjauh setelah ia selesai dan Bagus pura-pura langsung memejamkan matanya. "Udah, Mas. Buat istirahat aja, enggak usah ke kantor. Bahaya buat nyetir kalau sampai matanya masih buram buat melihat."" "Enggak usah sok tau," balas Bagus. Ia masih saja ketus. Lelaki itu memaksakan dirinya bangun lalu berjalan, akan tetapi malah terjatuh di lantai karena kepalanya masih berat. "Aduh!" "Mas Bagus!" Rumaisa berlari mendekat lagi. Ia membantu Bagus berdiri dan kembali ke tempat tidur. "Udahlah, Mas! Jangan ngotot kalau dibilangin." Lama-lama gadis itu kesal juga. "Iya-iya, gitu aja marah-marah. Galak!" "Biarin kayak galak. Sekalian aja galaknya kayak macan. Biar bisa gigit." "Modelan kayak kamu mana bisa gigit." "Ck." Rumaisa langsung menunduk, menyembunyikan rona wajahnya. Entah perasaan dari mana, rasanya ia sedikit bahagia saat Bagus sudah mulai mau bicara dengannya. "Apa perlu saya panggil dokter, Mas?" "Enggak usah." "Ya sudah, saya keluar dulu." "Mau ngapain?" "Ya ... mau nyuci." "Bukannya ada pembantu? Ngapain nyuci sendiri?" Dengan mata terpejam, Bagus terus menjawab. "Enggak apa-apa. Baju saya sendiri, kok." "Di sini aja! Nanti kalau aku butuh sesuatu. Siapa yang ngambil? Mana mungkin aku turun ke lantai bawah dengan keadaan begini." "Iya-iya." Rumaisa pun mengurungkan niatnya. Ia duduk di bibir ranjang yang lain. Terkadang pindah di kursi dan rasanya bosan sekali. Siang itu, Rumaisa mulai mengantuk setelah membaca buku. Ia menutup buku tersebut lalu mulai memejamkan matanya. Dengan menyandar kursi tunggal dalam ruangan itu, ia tertidur. Giliran Bagus yang bangun. Pria itu mencoba bangkit dengan perlahan. Tubuhnya lebih enakan juga dengan kepalanya. Namun, bekas balutan masih menempel di sana. Bagus menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12 siang. Ia merenggangkan dasinya lalu berdiri. Selangkah lelaki itu ingin ke kamar mandi, ia melihat Rumaisa tertidur. Bagus hanya menatap tanpa berucap. Namun, saat kepala Rumaisa hampir terjatuh dari sandaran kursi, Bagus dengan cepat menangkapnya. Ia terkejut begitu juga dengan Rumaisa yang terbangun tiba-tiba. Dunia seakan berhenti berputar ketika mereka berdua saling bertatapan. Bagus menatap gadis itu tanpa berkedip saat ia baru menyadari betapa manisnya gadis itu. Sesaat kemudian, keduanya sama-sama tersadar lalu menjauh. "Maaf, tadi kamu mau jatuh." Bagus jadi salah tingkah dan ia segera menyembunyikan perubahan rona wajahnya yang gugup itu. Ia pergi ke kamar mandi, sementara Rumaisa memegangi dadanya yang berdegup kencang. Peristiwa tadi adalah hal pertama yang menimpanya. Sedekat itu posisi mereka tadi. Masih terbayang nyata di benak Rumaisa. Rumaisa berdiri dari kursi lalu pergi ke depan pintu kamar mandi. "Mas, saya mau turun ke bawah. Mas Bagus mau nitip diambilkan apa?" "Air putih aja," balas Bagus dari dalam. "Iya." Gadis itu pun langsung melangkah keluar dari kamar. *** Rumaisa berada di lantai bawah tepatnya di dapur bersama pembantu yang sedang mencuci piring. Gadis itu menyiapkan makan siang untuk Bagus. Baru saja ia melangkah dengan nampan berisi makanan menaiki satu anak tangga, tiba-tiba suara sapaan terdengar dari pintu utama yang terbuka. "Assalamualaikum, Mai." Ammar datang dengan tentengan di tangan. Rumaisa yang melihat pun mengurungkan langkahnya lagi. "Mas Ammar." "Hai, Bagus ada di rumah?" Ammar berjalan mendekat. "Iya, Mas. Tadi pagi enggak masuk kantor. Ini mau bawakan makan siang ke atas," lanjut Rumaisa. "Emangnya dia sakit?" Satu persatu anak tangga mereka jejaki. "Ada insiden kecil tadi pagi. Mas Ammar mau ketemu Mas Bagus?" Mereka sampai juga di lantai atas. Lalu Rumaisa membuka pintu dan masuk bersama Ammar. "Mas, makan dulu," kata Rumaisa. Ia meletakkan makanan tadi di atas meja rias, depan Bagus duduk sambil menatap keningnya yang masih dibalut. "Ngapain kamu bawa orang itu masuk ke sini?" sindir Bagus. "Mas Ammar ...." Rumaisa bingung mau menjawab apa. Lalu Ammar sendiri pun mendekati gadis itu. Ia membisik, "Tidak usah diambil hati ucapan dia. Aku akan pergi sebentar lagi." Rumaisa mengangguk lalu hendak keluar. Namun, Ammar mencegahnya seraya memberikan bingisan dengan bag paper berlogo branded itu padanya. Ammar beralih pada Bagus yang masih duduk dengan tatapan sinis. "Aku ke sini cuman mau ngasih hadiah kecil buat Rumaisa. Rupanya dia masih pakai handphone butut. Juga pakaiannya banyak yang lawas. Jadi ... aku cuman ...." Bagus menggebrak meja. Lalu lelaki itu berdiri dengan hati panas. "Tidak usah pedulikan dia! Dia itu tanggunganku." "Oke, aku tau. Tapi, sepertinya dia tidak bahagia. Dia tertekan hidup sama kamu. Kamu kan sudah punya Mesiya. Sampai dibela-belain ke Jogja juga kan? Kasiannya Rumaisa. Dia menikah dengan lelaki yang salah." "Cukup! Aku masih menghormatimu, Mas! Sebelum kemarahanku memuncak, keluar dari sini!" Bagus membusungkan dadanya. "Oke. Enggak masalah. Yang penting, aku sudah bertemu dengan Rumaisa. Memastikan kalau dia baik-baik saja dan sehat." Ammar keluar dari kamar itu dengan hati puas. "Oh ya, satu lagi pesanku. Kalau kau sudah tak membutuhkan Rumaisa, aku siap menampungnya menjadi istri." Ammar mengulas senyuman dengan sengaja. Bagus pun semakin syok mendengarnya. "Ambila aja! Gadis tak berguna seperti dia sebentar lagi bakal aku buang." "Serius, ya. Oke deh, makasih banyak. Aku tunggu kabar darimu, Adikku." Ammar pun langsung keluar dari kamar itu. Sampai di bawah, Ammar menemui Rumaisa lagi. Mereka terlihat bicara, tetapi tak terdengar hingga ke posisi Bagus berdiri di ambang pintu. Bagus menahan kesal melihat keakraban kakak dan istrinya itu. Bagus kembali menutu pintu kamarnya dengan keras. Ia langsung menelpon Doni--teman sekaligus bawahannya. "Hallo, kau cari Meisya lagi! Tadi sempat ke rumah, tapi aku tidak bisa mencegahnya pergi. Setelah dapat, aku berniat akan segera menikahinya." "Oke, Bos!" Balasan langsung Bagus dengar dan setelah itu, pria itu menunggu kabar selanjutnya dari Doni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD