bc

The Buried Secret

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
dark
friends to lovers
brave
single mother
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
mystery
campus
city
office/work place
civilian
like
intro-logo
Blurb

After her husband’s death, Elzara believes the inheritance he left behind will secure a future for her and her two young sons. She is wrong. What appears to be a fortune soon pulls her into a family mystery surrounding her late husband’s past. Hidden enemies begin to surface, dangerous secrets threaten everything she thought she knew about the man she married, and the inheritance that was meant to protect her family becomes the very thing putting them in danger. As Elzara searches for the truth, she discovers that some secrets were never meant to be inherited. And when the truth finally comes to light, she must decide how far she is willing to go to protect her children—and whether the future she once believed was hers is still worth fighting for.

chap-preview
Free preview
Untitled Episode1.The Nightmare Begins
 Hujan turun tanpa henti sejak subuh, mengubah jalan setapak batu kuno dan tanah di pemakaman bersejarah itu menjadi genangan air yang licin.  Di tengah deretan mausoleum marmer Gotik yang megah, upacara pemakaman Alfred Lauren—miliarder dan pendiri Lauren Group—berlangsung dalam keheningan yang mencekam, hanya terpecah oleh gemuruh guntur.  Dikelilingi lautan payung hitam, Elzara berdiri kaku seperti patung lilin.  Tatapannya tetap tertuju tanpa berkedip pada peti mati kayu ek yang dipoles saat perlahan-lahan diturunkan ke dalam liang kubur.  Pipinya tetap kering; tak setetes air mata pun jatuh, tak ada isak tangis yang keluar dari bibirnya. Hanya matanya yang berbicara—kosong, tak terbaca, tak mengungkapkan apa pun.  Tepat di sampingnya, ibu mertuanya menangis histeris. Wanita tua itu berulang kali memanggil nama putra kesayangannya, suaranya serak dan hampir pecah karena kesedihan.  Di sisi lainnya, Joe dan Giani berpegangan erat satu sama lain. Kedua anak laki-laki itu menangis tersedu-sedu, bahu kecil mereka bergetar hebat melawan angin Milan yang menusuk tulang.  Para pelayat datang satu per satu untuk menyampaikan belasungkawa. Ungkapan-ungkapan kosong yang bermaksud baik bergema di sekitarnya, namun tak satu pun yang benar-benar sampai ke telinga Elzara.  Dia tetap diam, bahkan tidak memberikan anggukan sopan sebagai balasan.  Sikapnya yang tenang dan dingin segera menarik tatapan aneh dan penuh pertanyaan dari para kerabat yang berkumpul. Bisikan-bisikan samar terdengar di bawah deru hujan.  Sebagian besar orang mengira dia sangat tidak peka terhadap kematian mendadak suaminya. Yang lain mulai curiga, yakin bahwa dia sebenarnya tidak pernah benar-benar mencintai Alfred sama sekali.  Akhirnya upacara selesai. Satu per satu, para pelayat pergi, meninggalkan area pemakaman.  Tidak butuh waktu lama hingga area tersebut menjadi sunyi.  Namun di tengah keheningan yang lembap itu, hanya satu sosok yang tersisa. Bukan Elzara. Bukan pula kedua putranya, yang sudah dibawa ke mobil yang menunggu.  Sebaliknya, yang terlihat adalah seorang pria berbadan tegap mengenakan setelan hitam, yang kini basah kuyup hingga ke kulit.  Tatapannya tak pernah goyah, tertuju pada sedan mewah itu saat perlahan-lahan mobil tersebut menjauh.  Rahangnya mengatup rapat. Kepalan tangannya mengepal keras di dalam mantel wol tebalnya.  Kemarahan yang telah lama ia pendam akhirnya meledak.  “Apakah menurutmu ini akan membawa kedamaian bagimu, Elzara?” gumamnya pelan, suaranya penuh kebencian.  Dia terus menatap mobil itu sampai mobil tersebut berbelok dan menghilang dari pandangan.  “Aku akan memastikan hidupmu menjadi neraka.”  Kilat menyambar langit Milan. Hujan turun semakin deras, seolah sengaja menghapus setiap jejak kaki di tanah pemakaman itu.  Dan bersamaan dengan itu, jalinan rahasia yang kusut—terkubur dalam-dalam bersama Alfred selama bertahun-tahun—mulai bergejolak, menuntut untuk diseret ke terang.  Dalam perjalanan pulang, Elzara bersandar lemas di kursi penumpang.  Dia menatap lurus ke luar jendela yang berkabut, menyaksikan lampu-lampu jalanan Milan berkilauan melalui kaca yang berbekas hujan, berlalu tanpa terlihat.  Malam semakin larut.  Akhirnya ia tiba di vila keluarga Lauren, yang berdiri tenang dan megah di tepi Danau Como. Cahaya hangat dari dalam menyinari samar-samar permukaan air yang gelap dan beriak.  Setelah masuk ke kamar utama, Elzara berbaring di samping kedua putranya yang berusia lima dan tiga tahun yang sedang tidur.  Dengan lembut dan perlahan, dia menyisir rambut Joe terlebih dahulu, lalu rambut Giani.  Pada saat itu, seluruh tekadnya akhirnya runtuh.  Air mata mengalir deras kini, tak mungkin ditahan. Ia tak mengeluarkan suara—hanya menangis dalam diam, air matanya membasahi bantal di bawah kepalanya.  Tatapannya tertuju dengan penuh kerinduan pada wajah-wajah polos mereka. Mulai hari ini, di dunia yang kejam ini, mereka hanya memiliki dia.  Setelah yakin mereka tidur nyenyak, Elzara bangun dengan tenang.  Dia berjalan tanpa alas kaki menuju jendela kaca lebar yang menghadap Danau Como.  Di luar, hujan masih membasahi lahan yang luas, sementara danau terbentang hitam dan tak berujung di bawah langit malam.  Dia berdiri di sana lama sekali, menatap kosong ke arah bayangannya sendiri.  Lalu bibirnya sedikit terbuka, membisikkan kata-kata yang dingin dan tegas.  “Aku tidak akan menyerah. Ingat itu, Alfred.”  Senyum tipis dan kaku tersungging di bibirnya.  “Kau tak akan pernah bisa tenang di sana. Kau akan melihat… betapa kejamnya aku. Dan kau akan menyaksikan… seberapa jauh aku bersedia bertindak.”  Keheningan itu tiba-tiba terpecah oleh dering telepon rumah yang tajam.  Elzara menoleh cepat ke arah meja kecil di sudut ruangan. Setelah membiarkannya berdering beberapa kali—membiarkan ketegangan meningkat—dia berjalan mendekat dan mengangkat gagang telepon.  "Halo."  “Selamat malam. Apakah saya berbicara dengan Elzara Lauren?” terdengar suara seorang pria, tegas dan formal.  “Ya, ini dia. Siapa yang menelepon?”  “Izinkan saya memperkenalkan diri, Nyonya. Saya menelepon dari Divisi Perbankan Korporasi kantor pusat kami di Milan.”  Dahi Elzara langsung berkerut, perasaan buruk menyelimuti dadanya.  “Apa yang begitu mendesak sehingga Anda harus menelepon pada jam segini?”  “Kami perlu menjadwalkan pertemuan darurat dengan Anda besok pagi pukul sembilan di kantor pusat kami. Ada kewajiban keuangan yang belum terselesaikan atas nama almarhum Bapak Alfred Lauren yang memerlukan klarifikasi segera dari Anda.”  Tatapan Elzara langsung menajam.  “Kewajiban keuangan?”  “Benar, Nyonya. Aset yang dijaminkan sebagai agunan atas pinjamannya kini telah jatuh tempo, sehingga kami perlu menghubungi ahli waris sahnya.”  Genggaman Elzara mengencang hingga tangannya menjadi kaku.  “Aset mana yang Anda maksud?”  Nada suara pria itu tetap datar dan tak bergeming.  “Kediaman utama yang saat ini Anda tempati di Danau Como.”  Napas Elzara tercekat di tenggorokannya. Darahnya membeku. Rumah ini… tempat anak-anaknya dibesarkan. Satu-satunya tempat aman yang pernah mereka kenal.  “Kami mohon agar Anda tiba tepat waktu besok pagi di Milan. Semua dokumen jaminan asli akan dijelaskan kepada Anda secara lengkap. Selamat malam, Nyonya.”  Sambungan telepon terputus.  Elzara berdiri membeku di tempatnya, gagang telepon masih menempel kaku di telinganya. Matanya kosong, seolah pikirannya menolak untuk menerima kengerian yang baru saja diucapkan.  Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekik—hingga tawa pelan dan patah keluar dari bibirnya.  Itu adalah suara yang kasar dan hampa.  “Alfred…” Elzara menggelengkan kepalanya perlahan. Senyum pahit dan sinis teruk di bibirnya.  “Dasar bajingan.”  Napasnya semakin cepat, dadanya naik turun karena amarah yang terpendam.  Dengan lembut, dia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, lalu mengepalkan kedua tangannya di atas meja kayu.  “Dasar bajingan, Fred,” gumamnya.  Suaranya hampir tak terdengar, namun amarah yang terpancar darinya terasa jauh lebih menakutkan daripada jeritan apa pun.  Malam itu, Elzara terpaksa menghadapi kenyataan pahit: kematian Alfred Lauren bukanlah akhir dari penderitaannya. Mimpi buruk yang sesungguhnya baru saja dimulai.  Saat matahari menembus kabut, Elzara sudah siap.  Ia mengenakan blus putih bersih dan rok hitam selutut, mengikat rambut panjangnya ke belakang menjadi sanggul rapi. Pagi itu ia memilih tampilan yang lebih tegas, merias wajah dengan teliti untuk menutupi kelelahan yang terpancar di wajahnya setelah semalaman tidak tidur.  Di meja makan, Joe dan Giani duduk berhadapan. Piring sarapan mereka hampir tak tersentuh, makanan hanya diaduk tanpa ekspresi.  Mereka terlalu muda untuk memahami badai hukum dan keuangan yang mengancam mereka—tetapi mereka bisa merasakan suasana di rumah mereka telah berubah.  Mereka hanya tahu satu hal dengan pasti: ayah mereka tidak akan pernah kembali.  “Mau pergi ke mana, Mama?” tanya Joe pelan, memecah keheningan.  Elzara berlutut di samping putra sulungnya dan mencium keningnya dengan lembut.  “Ya, sayangku. Mama harus pergi ke Milan sebentar.”  Joe menatap sendoknya, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya.  “Kapan kamu akan pulang?”  “Secepatnya.” Elzara menyisir rambutnya ke belakang, mencoba memberinya kekuatan—kekuatan yang hampir tidak tersisa baginya sendiri.  “Tolong jaga adikmu selama aku pergi, ya?”  Joe mengangguk perlahan.  Elzara kemudian menoleh ke Giani, mencium kedua pipinya.  “Habiskan sarapanmu, anakku yang pemberani. Tetaplah kuat.”  Giani mengangguk kecil, lalu berbisik, "Aku sayang Mama."  “Aku juga mencintaimu, sayang.”  Beberapa menit kemudian, Elzara melangkah keluar.  Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan tepi Danau Como, berkelok-kelok melewati perbukitan hijau sebelum bergabung dengan jalan raya menuju pusat kota Milan.  Pikirannya berkecamuk sepanjang perjalanan, dihantui oleh nada dingin sang bankir dari malam sebelumnya. Rumah ini—rumah mereka, yang dipenuhi dengan setiap kenangan yang mereka miliki—sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Itu hanyalah jaminan belaka.  Semakin dekat dia ke distrik bisnis Milan yang ramai, semakin sesak dadanya terasa.  Setelah hampir satu jam di jalan, mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit modern yang ramping: kantor pusat divisi Perbankan Korporasi.  Sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Elzara melangkah keluar dan berjalan dengan penuh tekad menuju pintu masuk utama bank.  Tak lama kemudian, dia duduk di ruang pertemuan pribadi yang kedap suara.  Di seberangnya duduk seorang bankir senior paruh baya, kacamata bertengger di hidungnya, sebuah map kulit tebal terbuka di depannya di atas meja marmer.  “Mohon terima belasungkawa terdalam kami atas meninggalnya Bapak Alfred, Ibu Elzara,” katanya, dengan nada sopan dan hati-hati.  Elzara tidak sabar dengan formalitas.  “Saya ingin tahu semuanya sekarang. Jangan lewatkan satu detail pun.”  Bankir itu mengangguk, lalu membuka halaman pertama berkas hukum tersebut.  “Enam bulan lalu, Bapak Alfred mengajukan pinjaman modal jangka pendek dengan jumlah yang luar biasa.”  Sebelum dia selesai bicara, Elzara menarik map itu ke arahnya. Matanya bergerak cepat, meneliti setiap baris klausa. Angka-angka dengan deretan nol yang menakutkan. Rumah di Danau Como terdaftar sebagai jaminan mutlak. Aset pribadi keluarga Alfred. Bahkan saham penting di Lauren Group telah dijaminkan.  “Dia menggadaikan semua aset penting ini tanpa sepengetahuan atau persetujuanku?” tanya Elzara, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.  “Untuk pembiayaan korporasi internasional tingkat ini, Bapak Alfred memegang wewenang penuh sebagai pemilik tunggal, Ibu. Semua tanda tangan dan jaminan telah diverifikasi dan diproses sesuai dengan prosedur hukum bank kami.”  Rahang Elzara mengatup begitu erat hingga pelipisnya berdenyut.  Dia membalik halaman berikutnya dengan kasar—lalu terdiam.  Tatapannya tertuju pada sebuah nama yang tercetak jelas dalam riwayat transfer dana: Sony Fernandez. 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.7M
bc

The Silver Wolf

read
640.8K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
916.6K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook