Bab 1. Diusir Ibu Kos Baik.
Saat itu kegiatan PENSI di sekolah, Rindu sedang mengambil dekorasi.
Namun tangga yang digunakannya tiba-tiba bergeser.
Tubuhnya pun kehilangan keseimbangan, dan sebelum terjatuh, sebuah tangan menarik pinggangnya dengan cepat.
Leon.
Namun karena dorongannya terlalu kuat, Leon dan Rindu justru sama-sama terjatuh, dengan posisi gadis itu diatas tubuh Leon.
Dan dalam kekacauan itu, bibir mereka bertemu sesaat.
Hening.
Seluruh aula seakan membeku.
Rindu yang tersadar langsung mendorong Leon dan bangkit dengan wajah merah.
"Dasar m***m!" Rindu mencak-mencak sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.
Leon yang sebenarnya juga kaget langsung membalas dingin.
"Kalau mau terima kasih, bilang saja." jawab Leon sambil berdiri menepuk-nepuk celananya.
Rindu mendelikkan matanya.
Dan tentu saja.
Mereka kembali bertengkar.
_______________
Sore itu, di sebuah kampus ternama di kota Jakarta, setelah acara wisuda kelulusan, Rindu langsung pulang ke kostnya, saat ini teman-temannya berencana mengadakan pesta kelulusan di bar, tapi gadis itu memilih untuk tidak ikut.
Walaupun sudah menuju sore, dan matahari tidak lagi diatas kepala, tapi hawa masih terasa hangat, karena sejak siang tadi, cuaca kota ini begitu panas.
Angin bercampur polusi yang berhembus masih terasa panas, hingga membuat wajah gadis itu sedikit merah.
Anak rambut yang tak terikat sesekali menghalangi pandangannya, ditambah peluh yang membasahi tubuhnya, membuatnya sangat tidak nyaman dan ingin segera pulang, daripada mengikuti teman-temannya.
Ia dan Nabila sahabatnya, berdiri di halte, menunggu ojek yang sudah di pesannya, sedangkan Nabila menunggu kekasihnya, Damar, yang sedang mengambil mobil di parkiran, mereka akan ke bar bersama teman-temannya yang lain.
"Kamu beneran nggak mau ikut Rin?." tanya Nabila pada Rindu.
"Nggak Bil, aku masih harus kerja malam ini, trus besok mau ke Mahendra Group." jawab Rindu.
"Oh iya, kalo gitu lain kali aja kita makan deh, tenang aja.. aku yang traktir." ucap Nabila.
"Ok Bil, aku tunggu traktirannya, aku duluan ya." Rindu melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Ojek pesanannya pun sudah datang.
Rindu memilih naik ojek agar cepat sampai rumah, sore ini jalanan lumayan ramai tapi masih lancar, gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di kota Metropolitan ini, suara deru kendaraan silih berganti.
Ojek itu berhenti di sebuah rumah kost sederhana, di gang sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, rumah itu begitu sederhana di tengah-tengah kemegahan kota Jakarta.
Rumah minimalis dengan dua kamar, ruang tamu, dapur kecil dan kamar mandi, di samping kanan kirinya rumah-rumah dengan desain yang sama dan ukuran yang sama berjejer, itu adalah khusus perumahan kontrakan milik bu Rina.
Setelah lulus, ia harus segera mencari pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi, dengan kemampuannya ia yakin banyak perusahaan yang akan menerimanya, Rindu begitu percaya diri.
Waktunya tinggal tiga hari lagi untuk menerima gajinya di coffee shop empire roast, dan ia berencana untuk mengundurkan diri.
Tidak seperti teman-temannya yang lain setelah wisuda mengadakan pesta, Rindu sungguh berbeda ia gadis yang sederhana dan pekerja keras, ia harus mencari uang agar orang tua dan adik-adiknya di kampung bisa makan dan sekolah.
Rindu sudah biasa melakukan ini sejak SMA, kadang ia harus menahan lapar agar bisa menabung.
Beberapa saat kemudian ojek berhenti di depan sebuah kost sederhana.
"Terimakasih pak." ucap rindu pada tukang ojek sambil mengulurkan uang dua puluh ribu.
"Iya nak sama-sama." jawab tukang ojek sambil menerima uangnya lalu menunduk merogoh tas selempang bututnya mengambil kembalian.
Saat mengangkat kepala ternyata gadis itu sudah menghilang dari hadapannya.
"Loh nak, ini kembaliannya belum!." teriak tukang ojek karena Rindu sudah berada di gerbang kostnya.
Rindu menoleh lalu tersenyum.
“Udah pak ambil saja kembaliannya." jawab Rindu.
Tukang ojek pun mengangguk lalu mengucapkan "Terimakasih ya neng." membalas senyum.
'Semoga hidupmu selalu bahagia nak.'
Ucap tukang ojek di dalam hati.
Rindu memang begitu, setiap kali menaiki kendaraan umum ataupun belanja pasti selalu melebihkan uangnya.
Berbagi tidak harus kaya.
Itu yang selalu ibunya ajarkan sejak kecil.
Rindu bergegas masuk ke dalam rumah, sebenarnya ia ingin merebahkan diri, tapi itu tidak ia lakukan, karena ada tanggung jawab yang menunggu di empire roast.
Setelah melepas sepatu dan menggantung tasnya ia pun ke kamar mandi kecil itu.
Air dingin mengalir membasahi tubuhnya, sejenak menghilangkan semua rasa lelah dan panas di tubuh, setelah mandi ia bersiap untuk berangkat lagi ke coffee shop.
Saat akan berangkat tiba-tiba ada tamu yang datang, suara ketukan di pintu terdengar.
"Sebentar." jawab Rindu dari dalam.
Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
Saat Rindu membuka pintu, sesosok wanita paruh baya dengan tubuh gemuk, berdiri di depannya, wajahnya menyiratkan kecemasan, itu adalah bu Rina pemilik kosan itu.
"Eh.. bu Rina, silahkan masuk bu." sambut Rindu.
Wanita itu pun masuk sambil tersenyum, dia pun duduk di sofa warna abu di ruang tamu itu.
"Maaf sebelumnya ya dek Rindu, ibu mau bicara."
"Loh bu, kenapa minta maaf, silahkan duduk." ucap Rindu.
Bu Rina pun duduk di sofa warna abu itu.
"Begini dek Rindu, ibu mau tanya kira-kira kapan bisa bayar kost ini?." ucap bu Rina lembut tanpa ingin menyakiti Rindu.
Mendengar itu Rindu sejenak menundukkan kepala.
"Bukannya ibu maksa ya dek, cuma ibu udah ditanyain terus sama bapak, kalau gak bayar lunas bulan ini, terpaksa dek Rindu harus cari kost lain dulu, daripada nanti bapak yang datang pasti marah marah, ibuk gak tega." ucap bu Rina lagi dengan hati-hati karena ia pun terpaksa melakukannya daripada suaminya yang mengusirnya.
Bu Rina memang ibu kost yang baik mungkin kalau di tempat lain Rina sudah dimaki dan diusir kasar karena sudah dua bulan ini belum bisa bayar biaya kost, suaminya lah yang kejam kalau udah marah melebihi wanita, satu RT bisa dengar semua.
Inilah yang dihindari bu Rina takut menyakiti hati anak-anak kostnya, jadi lebih baik ia yang datang sendiri untuk menagih atau berbicara.
Ibu Rindu di kampung beberapa bulan ini asmanya kambuh harus bolak-balik beli obat dan biaya adik adiknya yang SMP dan SMA harus segera dilunasi karena akan ujian kenaikan kelas, belum lagi biaya makan sehari-hari.
Rasanya kepala Rindu mau pecah memikirkannya, inilah sebabnya Rindu kewalahan bayar sewa kostnya, padahal biasanya lancar baru kali ini Rindu bermasalah.
Rindu menunduk menarik napas begitu dalam, ada rasa malu yang begitu kuat.
"Maafin Rindu ya bu, Rindu jadi telat-telat gini bayarnya, tiga hari lagi Rindu gajian kok bu, minta tolong sekali lagi ya bu jangan usir Rindu dulu." ucap Rindu memohon, ia bingung harus pergi kemana kalau diusir dari sini.
"Ya udah dek, kalau gitu nanti ibu sampaikan sama bapak ya, sekali lagi ibu minta maaf." bu Rina masih merasa gak enak dan kasihan sama gadis malang ini, tapi disisi lain ada suaminya yang temperamental.
"Iya bu, maafin Rindu juga ya bu." jawab Rindu sambil menunduk.
"Ibu pergi dulu ya, kamu mau berangkat kerja juga kan?." ucap bu Rina pamit pulang.
"Iya bu, terimakasih udah ngertiin Rindu." ucap Rindu lagi.
Bu Rina mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Rindu sendiri.
Setelah bu Rina pergi, Rindu segera berangkat ke coffee shop empire roast, ia naik ojek lagi.
Coffee shop itu berada di pinggir pantai.
Matahari mulai turun, hembusan angin tidak sepanas siang tadi, namun perjalanan sore itu, terasa begitu lambat, waktu seakan mempermainkannya, Rindu benar-benar gelisah, seperti mengejar sesuatu yang besar tapi tidak pernah sampai.
Seperti terjebak di lorong gelap dan berharap ada cahaya diujung sana.
Pikirannya kacau, bagaimana cara keluar dari situasi ini, jika saja ayahnya masih ada di dunia ini, hidupnya tidak akan seberat saat ini.
Tapi takdir memang memilihnya untuk menjadi gadis mandiri dan kuat.
Kini bahkan bayangan ayahnya pun begitu kabur, ia meninggal saat usianya baru lima tahun.
Yang ia ingat hanya sebagian kenangan masa kecilnya saat ayahnya pulang dengan membawa banyak hadiah dan makanan enak, itupun tidak setiap hari, karena ayahnya bekerja di kota, sedangkan Rindu dan ibunya tinggal di desa yang jauh di pelosok, hanya pulang beberapa bulan sekali.
Satu yang Rindu ingat pesan terakhir dari ayahnya.
'Jadilah anak yang pintar dan tangguh, walaupun anak perempuan harus jago bela diri, karena di dunia ini tidak semua orang baik, kamu harus bisa menjaga diri'.
Setelah pertemuan terakhir itu, Rindu selalu menantikan kepulangan ayahnya, tapi tidak pernah terjadi, hingga akhirnya hanya jenazahnya yang pulang, kejadian itu membawa kesedihan keluarganya selama bertahun-tahun, apalagi ibunya.
Saat itu ibunya tengah mengandung putra bungsunya.