Prolog

405 Words
"Nona muda, Nona sudah bangun!" "Aduh suara siapa yang seperti toa itu?" batin Valerie. "Kamu siapa?" tanya Valerie. "Nona muda melupakan Xia-xia, huhu...," ujarnya. Kemudian suatu ingatan membanjiri kepala Valerie. "Yang benar saja, aku menyeberang ke dimensi lain dunia," batin Valerie, "Huaaa... aku mau kembali, aku masih belum lulus kuliah bahkan." "Nona muda, aku akan memanggilkan dokter," ujar Xia. "Tidak perlu, Xia," cegah Valerie, "Aku gak papa." "Nona muda, nona muda kedua semakin keterlaluan! Apalagi semenjak nona muda tidak masuk ke Cloud Academy," keluh Xia. "Tidak masalah," ujar Valerie, "Apakah Cloud Academy sampah seperti itu tidak layak untuk dimasuki, aku akan masuk ke Staries Academy." "Tapi nona muda tanpa memiliki tahun pertama di Cloud Academy apakah bisa?" tanya Xia. "Mereka hanya akan melihat bakat elemen kita," jawab Valerie, "Walaupun aku gak tau bakat elemenku, tapi aku yakin seorang jenius sepertiku pasti akan diterima." "Lagian berdasarkan berita yang aku dapatkan, kepadatan energi tumbuh paling cepat saat kita berusia 16 tahun dan akan melambat setelah kita berusia 17 tahun. 2 tahun yang lalu Kak Lio bilang bahwa tingkat kepadatan energi adalah sesuatu jarang dan aku yakin sekarang tingkat kepadatan energi pasti sudah naik," ucap Valerie, "Dan ini adalah sesuatu yang hanya bisa aku capai, karena aku tidak keterima di Cloud Academy, kalau aku masuk Cloud Academy aku tidak akan bisa berlatih memadatkan energiku siang dan malam." "Tapi bagi banyak orang lebih baik masuk Cloud Academy daripada tidak masuk academy sama sekali," ujar Xia dengan kuatir. "Semakin tinggi resiko yang kita ambil, semakin besar keuntungan yang akan kita dapatkan," ujar Valerie, "Lagian bukan kah pangeran ketujuh dan putri kedelapan juga tidak berhasil masuk Cloud Academy? Tetapi setahun kemudian mereka berhasil membukam mulut-mulut jahat itu dengan masuk ke Staries Academy!" "Yah, Xia-xia percaya nona muda pasti akan berhasil seperti mereka," ujar Xia. "Aku lapar," ujar Valerie. "Xia-xia akan mengambilkan makanan untuk nona muda," ujarnya lalu segera keluar kamar. "Kalung ini ternyata ikut," gumam Valerie dengan meraba kalungnya. Tiba-tiba saja Valerie merasa tersedot ke dalam cahaya. "Bukan kah ini cafe yang mau dibuka oleh Papa dan Mama?" ujar Valerie. "Wah... aku masih bisa minum es kopiku, masih bisa makan cheese cake-ku," ucap Valerie saat melihat lemari display cake yang terisi dengan berbagai cake. "Apakah lantai 2 juga tetap toko buku," ujar Valerie dengan bersemangat. "Wah... setidaknya aku tidak akan mati kebosanan," ujar Valerie, "Mari kita ke lantai 3." "Kamar istirahatku juga ikut bertransmigrasi!" ucap Valerie lalu menjatuhkan dirinya ke kasurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD