Semuanya terasa berbeda. Entah karena pendingin ruangan yang menyala terlalu tinggi, atau memang suasana yang mendukung untuk bergelung semakin rapat pada sepi. Selimut tebal ini tidak banyak membantu mengusir rasa dingin yang masuk melalui celah terbuka di ujung selimut. Adelia terbangun, merasakan sentuhan kulit telanjangnya pada seprai sutra yang terasa lembut. Kedua matanya membuka parau. Menemukan matahari belum sepenuhnya bangun dari peraduan. Suasana kamar masih temaram. Bersama suara mesin pendingin yang konstan. Alisnya bertaut tajam. Menyadari dia terbangun dimana, jam berapa dan berada dipelukan siapa. Kedua matanya kembali bersirobok dengan sosok yang pulas, tidak sama sekali terusik dengan dirinya yang bergerak gelisah. Adelia menarik napas. Merasakan sesak pada dadanya pe

