23

1999 Words

Aqilla Dira berdecak kagum. Tiada henti memuji bentuk bangunan bersama isi di dalamnya. Semua sudah diperhatikan serinci mungkin. Aksa sama sekali tidak melewatkan sedikit pun bagian kasarnya. Seakan dia bertaruh untuk banyak hal dalam proses pembuatannya. Aksa dan tangan ahlinya. "Aku harus menyesal karena telah mengatakan ini. Tapi Aksa bisa membuat karya hebat lainnya dengan duduk di kursi nomor satu perusahaan," bisik Dira lirih. Adelia menghela napas. Memandang lemah pada sekitar restauran yang masih dalam bentuk baru. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang untuk membersihkan dan menata meja bersama kursi. "Cita-cita masa kecilnya menjadi arsitek, kan?" Alis Dira tertaut. "Kau tahu?" "Ibunya bilang padaku. Dan Aksa harus mengubur mimpinya demi duduk di kursi nomor satu."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD