"Aku sampai lima belas menit lagi, Adelia. Tunggu aku di sana, oke?"
Dira tersenyum dari balik ponsel. Menyudahi percakapan mereka untuk pergi makan siang bersama, dan melanjutkan membayar tagihan belanjaan yang baru saja ia beli dari sebuah toko pakaian ternama.
"Ck! Bisa diam sebentar, tidak? Kenapa kau berisik sekali, Naka?"
Kepala Dira menoleh. Saat alisnya terangkat, menemukan bocah sekitar lima tahun ditemani perawat yang setia mengekori layaknya anak ayam pada sang induk. Anak itu berulang kali menghentakkan kakinya di atas lantai, menggerutu dengan keras sembari menarik pakaian sang ibu.
"Ini bukti pembayarannya, Nona Aqilla."
Dira mengangguk dengan senyum. Menerima bungkusan penuh berisi pakaian dan mantel mahal yang baru saja ia beli. Setelah menarik bungkusan itu, dan terpaku menemukan siapa pembeli yang masuk ke dalam toko dan membentak sang anak.
"Oh, kau?"
Cibiran Dira sepertinya terlampau keras. Membuat anak malang itu berjengit, mendongak menatap mata birunya yang sama sekali tidak ramah.
"Aqilla Dira, kalau aku tidak salah. Sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu?"
Dira mendengus. Tidak menanggapi uluran tangan itu di depannya. "Aku baik. Bagaimana denganmu, Sara? Berjalan-jalan bersama putramu sepulang sekolah?"
Alis Sara terangkat naik. "Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau muak bertemu denganku?"
"Aku ingin muntah," ujar Dira dingin.
Sepasang manik biru lautnya menatap datar pada bocah lima tahun itu, lalu pada asisten pribadi yang menunduk takut padanya. Setelah Dira menyeret kakinya pergi dengan kasar keluar dari toko, membiarkan dengusan Sara menyapa gendang telinganya.
"Dasar sombong."
***
Dira menahan langkahnya. Terkejut menemukan sosok yang bergabung bersama mereka untuk makan siang. Senyumnya melebar penuh. Menunduk untuk menyapa Devan Ara yang ikut tersenyum ramah.
"Bibi Ara, apa kabar? Astaga. Sudah lama sekali rasanya."
Ara tersenyum hangat. Mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Dira dengan lembut. "Aku baik. Bagaimana denganmu? Sudah lama sekali. Sejak terakhir kali Aksa membawamu ke rumah bersama Zura untuk makan malam dan pesta daging di taman belakang."
Dira balas terkekeh. Saat dia menatap Adelia yang menyodorkan buku menu padanya. "Karena kita berada di restauran yakiniku, aku ingin makan sepuasnya kali ini. Rasanya lapar sekali."
Adelia mencibir. "Belanjaanmu banyak. Berapa banyak uang kau habiskan untuk membayar?"
"Rahasia," balasnya dengan tawa.
Devan Ara menggeleng menahan senyum. Saat dia memperkenalkan Adelia dengan semangat pada sahabat putranya. "Dira, ini Adelia. Aku rasa kalian sudah saling mengenal. Apa karena Aksa mengenalkan Adelia padamu?"
Dira terdiam sebentar. Melihat raut wajah Adelia sekilas, kepala pirang itu terangguk. "Aksa membawa Adelia padaku. Aku dan Adelia akrab karena kami punya hobi yang sama. Kami suka berkuda. Aksa membawa calon istri yang tepat. Bukan begitu?"
Ara mengangguk antusias. Senyumnya melebar. Saat dia mencoba menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas, Adelia membantunya. Membiarkan calon ibu mertuanya menegak air untuk minum.
"Terima kasih."
Adelia balas tersenyum. "Sama-sama."
"Bibi Ara datang dengan supir?"
Kepala Ara menggeleng. "Aku mengirimkan pesan pada Adelia tanpa Aksa tahu. Aku ingin sekali pergi menikmati udara siang."
"Kami sudah bertukar nomor," sahut Adelia dengan senyum. "Aku sama sekali tidak keberatan membawa Bibi Ara pergi berjalan-jalan."
"Tolong, ibu saja. Aku sangat senang kalau kau memanggilku ibu sama seperti Aksa."
Adelia terdiam. Saat senyum di wajah Dira perlahan ikut pudar. Beberapa kali iris hijau itu melirik pada sang sahabat, dan Dira berdeham.
"Udara di luar cukup bagus. Tidak terlalu panas. Aku ingin sekali menemani kalian berjalan-jalan. Sayangnya, aku ada urusan setelah makan siang," ucap Dira sesal.
Adelia mendengus. Menendang tulang kering Dira dari bawah meja dengan sepatu hak miliknya. "Jangan sok sibuk," ujarnya dengan canda. Dan Dira tertawa.
Ara menggeleng menatap keduanya. Dia mengangkat tangan, meminta pelayan mendekat. Setelah memesan, mereka larut dalam obrolan. Adelia lebih banyak diam kali ini. Dia tidak tahu banyak tentang Devan Aksa, calon suaminya sendiri. Terlebih Dira tidak banyak membocorkan bagaimana Aksa padanya. Dan Adelia harus menebak-nebak bagaimana sifat pria itu nanti di masa depan.
Tapi, janji Aksa terasa nyata. Seakan Adelia tidak lagi perlu bertanya. Cukup dengan Aksa yang tidak akan menyakitinya secara fisik, Adelia baik-baik saja.
"Aku akui, Aksa gemar berganti perempuan. Tapi, aku yakin dia tidak benar-benar serius. Aksa tidak pernah membawa perempuan ke dalam rumah. Dan yang terpenting, tidak pernah mengenalkannya padaku, pada ibunya."
Adelia termangu mendengar kalimat jujur dari ibu Aksa yang terlihat tulus di matanya.
"Kalau Aksa mengenalkanmu pada sahabatnya, itu artinya dia serius. Aksa tidak ingin kehidupan pribadinya jadi santapan teman kencannya. Dia tidak ingin ada berita apa pun tentang kami, tentangku sebagai ibunya, dan tentang ayahnya. Dia ingin menyimpan rapat-rapat itu dari dunia luar."
Aqilla Dira balas menunduk. Memilih untuk menyesap lemon dinginnya.
"Saat dia membawamu padaku, aku sangat terkejut. Aksa tidak pernah serius selama hidupnya. Terkecuali, saat dia sedang bekerja. Putraku mengenalkan calon istrinya padaku, aku sangat bahagia."
Remasan pada tangan Adelia di atas meja mengerat. Mata biru Dira menangkapnya dengan jelas. Senyum di bibir Devan Ara, dan getir pada mata Adelia yang berbayang pedih.
***
"Jadi, kau membeli rumah itu untuk Adelia? Maksudku, kau tahu benar apa yang gadis itu alami sampai-sampai membawanya cukup jauh dari rumah?"
Alis Aksa berkerut dalam. "Masih berjalan delapan puluh persen. Setidaknya, aku tahu apa yang dia alami tanpa perlu bertanya."
"Wah," Zura menelan rasa bangganya. Yang terlontar hanya decakan sinis. "Aku tidak meragukanmu. Hanya saja, kau harus hati-hati. Aku tidak mau kau tiba-tiba mabuk dan mengungkit luka istrimu nanti."
Aksa balas mendengus. Kembali mendorong dokumen di atas meja untuk dia baca kembali. Arion Zura datang. Padahal, firma hukum yang dibangun Namikaze Ando cukup besar. Zura bisa menjadi partner bisnis yang baik. Tapi, dia memilih untuk bekerja bersama Aksa, teman baiknya. Duduk di posisi General Manager dengan kerja keras.
Kalau Zura ada di ruangannya, selain untuk bekerja adalah bergosip. Zura terlihat dingin terkadang, sikap hangatnya bisa membuat pegawai perempuan luluh seketika. Tapi, karena posisi kasta dalam kantor yang membedakan, membuat mereka tahu diri untuk tidak terlibat dengan para petinggi lebih jauh lagi.
"Bagaimana kabar ayahmu?"
Aksa menghela napas. "Dia masih bekerja, bukan? Kenapa tidak kau lihat sendiri?"
"Dia duduk untuk memantau kantor cabang, Aksa." Zura menghela napas pendek. "Seharusnya, dia duduk bersantai di rumah dan tidak banyak ikut campur masalah perusahaan kalau yang ia lakukan hanya mengacau."
Aksa memilih untuk diam. Dan membenarkan kalimat Zura dalam hati.
"Karena semua kekacauan itu, akan berakhir dengan dirimu yang membersihkan. Aku tidak mengerti, mengapa Devan Aria selalu menyalahkanmu. Dia tidak mau berkaca?"
Aksa berpura-pura tuli. Membiarkan Zura bicara sesukanya sampai dia puas. "Miris sekali melihatnya. Aku menaruh iba yang dalam pada ibumu."
Aksa tanpa sadar membanting pena di atas meja. Membuat kening Zura mengernyit tatkala menemukan pandangan mata pria itu mengarah padanya.
"Anggap saja ini hanya perasaanku, tapi sepertinya ibuku menyukai Adelia."
"Itu karena putranya akan menikah. Bukankah, ini yang dia inginkan? Dan selamat, kau berhasil mengabulkannya." Zura mengangkat bahu. Seakan-akan pernikahan Devan Aksa hanyalah mainan. Taruhan untuk masa depan.
Zura menarik napas. Mengerti dia sudah kelewat batas, dia segera menarik diri untuk menekan lidah spontannya. "Aksa, mau sampai kapan kau berdiri dengan berpura-pura menjadi Devan Taka? Kau dan kakakmu berbeda. Kau tidak perlu mengambil semua yang Taka miliki dengan menjadikan itu pribadi lain dalam dirimu."
Aksa memilih untuk diam. Dan Zura menekan tubuhnya untuk mundur, menghela napas panjang.
"Kabarkan padaku posisi yang kosong di kantor cabang. Selain yang ditinggali Devan Aria," ujar Aksa tiba-tiba.
"Untuk apa?"
Aksa menjawab tanpa melihat lawan bicaramya. "Aku akan menaruh Adelia di sana. Dia akan keluar dari perusahaan Delana Andhra, dan bekerja untukku."
"Kau ingin memeras tenaga dan pikirannya? Jangan gila!"
Aksa mengangkat alis skeptis. "Siapa bilang? Aku membantunya pergi dari neraka. Kantor cabang belum semuanya maju. Mereka masih terbelakang karena saingan bisnis semakin mencakar tajam. Badan usaha milik pemerintah sedang krisis, kita bisa menyalip itu melalui kantor cabang terlebih dulu."
Zura mengembuskan napas perlahan. "Oke. Apa pun?"
"Apa pun," Aksa menutup berkasnya. "Kabarkan saja. Biar aku urus sisanya."
"Baiklah." Zura bangun dari kursinya. Bersiap pergi setelah merapikan jas dan kemeja cokelatnya.
***
"Aku mendengar tentang pernikahanmu."
Aksa terus berjalan. Mengabaikan eksistensi kepala keluarga yang menurutnya tidak berguna dengan terus berjalan. Membiarkan Devan Aria duduk di sofa, menyesap secangkir kopi panas dengan pakaian hangat siap untuk tidur.
"Dengan siapa kau menikah?"
Aksa menghentikan langkah. Menemukan sang ibu duduk di kursi roda, ada di ujung anak tangga lantai dua. Mengintip dari pagar besi yang membentang dari balkon lantai atas.
"Kau tidak mampu menjawab pertanyaanku, bukan? Hidupmu hanya dihabiskan untuk senang-senang saja. Sekarang kenapa tiba-tiba kau ingin menikah?"
Ibunya mengirimkan isyarat agar Aksa pergi, demi menghindari pertengkaran lebih jauh. Mengingat betapa keras sifat keduanya, gelengan kepala Devan Ara nyatanya tidak berhasil membuat Aksa pergi.
"Menikah atau tidak, aku tidak membutuhkan pendapatmu."
Aria mendengus masam. Membiarkan putra satu-satunya yang masih ada berjalan pergi. Menaiki anak tangga dengan gerakan pelan, sebelum membeku karena Aksa mendengar sang ayah bicara dengan nada rendah, namun terdengar kasar.
"Semua sia-sia saja. Seleramu yang bagus hanya sering kau jadikan mainan. Istrimu akan berakhir sama seperti ibumu. Tidak berguna dan menyedihkan."
Devan Aria bangun. Membanting koran di atas meja dan berbalik, dengan sengaja menebar duri pada ulu hati putranya. Melihat reaksi Aksa yang tegang, semua ucapannya mampu membuat si pewaris tunggal meradang.
"Aku bicara fakta, Aksa. Bukan omong kosong. Lagipula, setelah kau menikah akan angkat kaki dari rumah ini, kan?"
Devan Ara menahan jeritannya tatkala melihat putranya merangsek maju, menarik pakaian sang ayah pada bagian leher dengan cengkraman kuat. Siap menantang sang kepala keluarga berkelahi. "Aksa!"
Aksa tidak menghiraukan panggilan sang ibu dari lantai atas. Mendengar bagaimana kekehan Aria mengalun, darah Aksa berdesir sampai kepala.
"Lihat dia, Ara. Putra yang dulu kau buang. Sekarang apa yang bisa kau lakukan selain mengemis-ngemis perhatian Aksa agar mau menerimamu kembali? Cintamu hanya untuk Taka, bukan anak pembawa sial ini."
Aria harus menahan nyeri ketika pukulan itu mendarat di rahang kanannya. Aksa bergerak mundur, menyadari tangannya gemetar selepas meluapkan emosinya.
"Tidak! Aksa! Berhenti. Jangan lakukan ini," gumam Ara tertahan. Mencengkram piyamanya sendiri yang kusut karena tidak bisa melerai mereka berdua di lantai bawah.
"Kalau benar kalian tidak menganggapku ada, lantas mengapa kau begitu takut padaku? Apa karena aku ini ancaman? Mengingat, bahwa keluarga besarmu sangat malu pada dirimu yang tidak berguna, ayah?"
Aria mendesis dalam suaranya.
"Aku bicara kenyataan. Kau, tanpa campur tangan ibuku bukanlah apa-apa. Hanya berandal menyedihkan yang menunggu waktu untuk menjadi gelandangan," geram Aksa marah. "Tidak masalah meski ibu membenciku sekali pun, aku tidak masalah."
Suara tangisan tertahan Ara menyapa gendang telinga Aksa yang kaku. Tubuhnya menegang keras. Mendapati kalau amarahnya belum sepenuhnya mereda, Aksa bergeser untuk mundur.
"Sudah, Aksa. Sudah, anakku. Berhenti."
Kedua mata Aksa terpejam. Tangannya mengepal keras.
"Kau hanya punya dua pilihan."
Aksa menatap wajah sang ayah dingin. "Membiarkan ibuku sendiri, atau kau pergi dari sini dengan aku yang menyeretmu paksa. Kau hanya tinggal memilih, ayah."
Membiarkan Aria menggeram keras dalam tenggorokan. Menatap marah pada putra bungsunya yang berjalan naik.
"Aksa," suara ibunya berbisik pelan. Menunduk meremas piyamanya sendiri dengan isakan lirih. "Tolong, berhenti. Jangan dilanjutkan. Sudah."
Aksa menarik napas panjang. Meremas pegangan pada kursi roda ibunya saat dia membungkuk, menatap ibunya nanar ketika dia mengulurkan tangan untuk meremas tangan sang ibu yang terlampau kurus.
"Ibu," panggil Aksa lemah.
Kepala Ara menggeleng berulang kali. Balas meremas tangan sang anak dengan gemetar yang sama. "Jangan lakukan ini, Aksa. Sudah. Berhenti. Jangan bertengkar. Kami baik-baik saja."
Tidak ada yang baik-baik saja.
"Aku minta maaf," Aksa berlutut untuk menyamakan wajahnya agar sejajar dengan sang ibu. "Aku sedang lelah. Urusan perusahaan menumpuk. Dan perkataan ayah sukses membuatku naik darah."
Ara hanya membalas dengan gumaman lirih yang tidak bisa Aksa dengar dengan jelas.
"Pergilah ke kamar, ibu. Tidurlah. Aku akan tidur."
Aksa kembali bangun. Mendorong kursi roda itu sampai ke dalam kamar. Meninggalkan sang ibu di tepi ranjang saat Devan Ara mencoba untuk berguling di atas ranjang dan menarik selimut. Aksa hanya memperhatikan dalam diam.
"Selamat malam."
"Selamat malam, ibu."
***
Adelia menurunkan ponsel dari tangannya. Melihat sang ibu yang berdiri dengan ekspresi meradang menahan kesal padanya. "Apa kau sengaja membuat ibumu marah, Adelia?"
Menghela napas, Adelia mengangkat alis selagi menjawab. "Bisa Mama jelaskan maksud aku membuatmu marah?"
Mendengus kasar, Vina melempar dirinya ke atas sofa. Membiarkan emosi menyatu menjadi satu dengan darahnya. "Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Aksa. Tidak."
Adelia membeku. Raut wajahnya yang dingin, bertambah dingin kala mata itu saling bersirobok satu sama lain.
"Mendapat restumu atau tidak, aku akan tetap menikah. Apa Mama akan menahan diriku untuk tidak menikahi dengan calon yang aku pilih sendiri? Apa Mama akan menuruti semua kata Andhra untuk membuatku berakhir bersama Dexa Daro?"
Kedua mata Vina melotot marah. "Adelia!"
"Mau sampai kapan Mama menjilat kaki Delana Andhra, hah?" Adelia bangun, suaranya sama sekali tidak terdengar naik satu oktaf pun. Membuat darah Vina mendidih mendengar putrinya yang mulai membantah.
"Apa yang Mama inginkan? Aku dan Andhra akur layaknya kakak-adik semestinya? Begitukah?"
Adelia mendengus dingin. "Kalau begitu, Mama tidak akan dapatkan apa yang Mama mau. Aku dan Andhra tidak bisa bersatu."
"Anak ini benar-benar," geram Vina kasar. "Kau pikir, kau siapa? Aku memberikanmu hidup mewah, aku memenuhi semua keinginanmu. Kau tidak akan kekurangan apa pun. Tapi, begini balasanmu? Pada ibumu sendiri?"
Adelia termangu. Diam selama beberapa saat yang mencekik. Mendengar napas sang ibu yang sama terengah-engahnya dengan dirinya, Adelia tahu dia tidak akan pernah menang melawan ibunya sendiri. Perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Aku menyayangimu, Mama. Tidakkah, Mama tahu?"
Sayang sekali, pernyataan itu hanyalah angin lalu. Adelia menunduk untuk menarik napas panjang. "Hanya saja, tidak begini. Tidak begini akhirnya. Aku tidak ingin Mama terluka."
"Kalau begitu, batalkan pernikahanmu. Tarik semua undangan yang Devan Aksa sebarkan pada publik. Berhentilah bermain-main!"
Adelia menggeleng miris. "Kalau aku harus melepas Aksa demi Daro, aku tidak bisa."
Satu tamparan melesat pada pipi kanannya. Membiarkan telapak tangan itu membekas merah dengan sempurna di pipi pucat Adelia. Merintih pelan, Adelia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menjerit di depan ibunya.
"Usiamu dua puluh tujuh, Adelia. Dan kau begitu kekanakkan!"
Vina tidak segan-segan menuding Adelia dengan telunjuknya. Menekan itu ke pelipis putrinya tanpa ampun. "Aku, kakakmu, ingin yang terbaik untukmu. Yang kau dengar hanyalah reputasi Daro yang buruk, dan kau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Jangan naif, Adelia! Devan Aksa juga punya reputasi yang buruk."
Adelia menghela napas dengan senyum getir.
"Setidaknya, Aksa sudah berjanji untuk tidak menyakitiku. Tidak seperti apa yang Daro lakukan, Mama."
Adelia menunduk, menarik napas panjang sebelum dia kembali bersuara. "Aku takut, Mama. Aku takut padanya. Aku takut pada Andhra. Tapi, tolong. Jangan lakukan ini padaku. Tolong, mengertilah."
Sia-sia semua. Karena yang Adelia dapatkan adalah kembali tamparan yang terlalu keras menghantam pipi kanannya. Membuatnya kembali limbung dengan perasaan luka.
"Masuk kamarmu, Adelia! Jangan buatku marah dengan memukulmu sekali lagi. Aku bisa saja membuatmu terluka setelah ini."
Adelia menghela napas. Mengusap pipi kanannya dengan tarikan napas panjang. Sebelum dia menatap mata ibunya yang bersinar marah, dan mengangguk.
"Selamat malam, Mama."