8

968 Words
"Kau bisa taruh ini di mejaku nanti, Hana. Aku akan pergi untuk membeli kopi sebentar." "Baik, Nona Adelia." Adelia berjalan ke kedai kopi yang ada di lantai satu gedung perusahaan. Kedai terlihat sepi karena beberapa pegawai memilih untuk meminum kopi setelah pekerjaan mereka selesai. Dan Adelia membutuhkan kafein untuk membuat sel-sel otaknya kembali lancar. "Buatkan satu Vanilla Latte dalam ukuran besar. Tanpa gula dan es normal." "Tunggu sebentar," salah satu dari mereka meracik minuman pesanan Adelia dengan cepat. Adelia menunggu. Menatap pada kitkat di atas meja dan mengambil tiga bungkusan sekaligus. Dia tersenyum kecil, meminta kasir menghitung belanjaannya dan dia membuka dompet untuk membayar. "Terima kasih." Suasana hatinya membaik kala mendapat segelas kopi dingin bersama tiga cokelat di tangan. Adelia kembali berjalan menuju lift direksi. Menatap beberapa pegawai yang berlalu-lalang, menyapanya ramah. Dan Adelia balas menyapa mereka hangat. Membuka satu bungkusan kitkat itu dan masuk ke dalam lift, ia harus menahan napasnya tatkala menemukan Dexa Daro merangsek masuk. Membuat Adelia yang ingin mundur, langsung tertahan karena pria itu mencekal tangannya. Menarik Adelia untuk bergabung bersama di dalam lift. "Teriak saja sepuasmu. Tidak akan ada yang peduli. Lagipula, aku di sini karenw Andhra memintaku datang," kata Daro dengan seringai sinis. Adelia menepis tangan itu dari lengannya. Mengusapnya kasar dengan geraman tertahan. Menemukan pintu lift masih terbuka lebar, Adelia tersentak menemukan siapa orang terakhir yang masuk ke dalam lift bersama mereka. Ekspresi yang melumuri Daro benar-benar pekat saat ini. Bibir pria itu menipis. Dan Adelia berjalan mundur, meremas gelas kopi dan cokelatnya untuk menghindari konfrontasi di antara mereka. "Mau apa kau di sini, Devan?" "Kau lupa? Aku juga menyebar undangan padamu. Kau tidak membakar undangan itu, kan?" Daro menggeram dalam tenggorokannya. Sedangkan, Aksa menahan agar pintu itu tidak menutup. Adelia mengintip ke luar, menemukan beberapa pandangan mata ke arah mereka dengan tatapan bertanya. "Kalau kau ingin kita bicara, mari kita bicara di luar." Aksa meliriknya tajam. "Kau tidak menjawab pesan dan panggilanku. Kemana ponselmu!?" Aksa tanpa sengaja membentak gadis itu dan Adelia melotot tak percaya. "Baterai ponselku habis," Adelia mencari-cari ponsel di dalam saku jasnya dan menghela napas. Kembali, Aksa beralih pada Daro yang menatapnya sinis. Dia sama sekali tidak gentar terhadap pria yang bisanya menggunakan koneksi untuk mendekati perempuan. "Ini tidak akan menjadi yang terakhir, Daro. Hanya karena kau dekat dengan Delana Andhra, kau tidak bisa berbuat semaumu." Daro mendengus masam. "Kau belum menikah dengannya, Aksa. Tidak ada hak apa pun walau kau dan Adelia berpacaran sekali pun." Adelia memutar mata. Hendak berjalan maju saat dia kembali tertahan karena lengan kokoh itu menahan tubuhnya agar tidak bergerak. "Tetap diam di sana." Adelia meringis. Merasakan nada suara pria itu benar-benar mengancam. Ada apa sebenarnya? Kenapa Aksa terlihat semarah ini? "Aku mengerti sekarang." Tidak ada perdebatan lagi setelah Aksa menekan tombol dan dia berjalan masuk untuk keluar, disusul Adelia yang berlari mengejarnya. Membuat Dexa Daro kehilangan jejak mereka berdua karena pintu lift terlanjur menutup. "Sebentar." Adelia menarik napas jengkel. Mencoba mengejar langkah lebar pria itu saat sampai ke teras gedung, menemukan mereka menjadi pusat perhatian sekarang. "Kau dengar aku? Berhenti." Manik teduh Adelia menangkap sosok Arion Zura yang melambai polos dari samping mobil Audi SUV milik Aksa. Senyumnya melebar, seakan mereka sudah mengenal lama. "Jangan sampai aku melemparmu dengan hak ini, Aksa!" Jeritan kesal Adelia berhasil membuat langkah pria itu terhenti. Begitu pula dengan senyum lebar Zura yang lenyap. Petugas keamanan berjaga kalau-kalau pemimpin mereka mengamuk di depan kantor. "Kau ingin mengatakan terima kasih padaku?" Adelia berjalan mendekat. Menarik napas panjang saat dia menyedot separuh kopi dinginnya dengan geraman kesal. "Aku benar-benar tidak mengerti denganmu." Pandangan mata Aksa turun menatap gadis itu terengah-engah. Menyedot kasar kopinya sendiri dan berdecak penuh cela. Seharusnya, Adelia tersanjung karena dia membantunya, kan? "Aku rasa kau berlebihan," Adelia bicara sembari mengunyah kitkat. "Kenapa kau terlihat seperti pria pencemburu? Calon suami yang posesif," gerutu Adelia tanpa henti mengunyah kitkat di dalam mulutnya. Iris kelam itu memaku pada tiga bungkusan kitkat yang Adelia genggam, bersama gelas kopi di tangan lain. "Kau bisa bicara padahal sedang makan?" "Aku bisa berkelahi sembari makan," balasnya ketus. Aksa menghela napas. "Seharusnya, kau berterima kasih. Aku datang untuk bicara, tapi ponselmu tidak aktif. Jadi, lupakan saja." Adelia terdiam. Menahan kunyahan di dalam mulutnya. "Bagaimana kalau makan malam?" Alis Aksa tertaut. "Di rumahmu?" Aksa masih diam. "Aku yang membeli makan malamnya. Bagaimana?" "Akan kupikirkan," Aksa tiba-tiba menjulurkan tangan, mencuri satu cokelat dari tangan Adelia dan mendengus. "Aku mengambil ini darimu." Adelia cemberut. Kesukaannya! "Aku bisa bersikap lebih dari itu setelah kita menikah nanti." Lalu, berjalan pergi menuruni tangga dengan santai. Menghampiri Zura yang tampak cemas dan gelisah. Takut jika Aksa berkelahi, atau Adelia benar-benar melempar hak sepatunya pada sang sahabat dan berakhir kacau. "Aksa?" Zura mencoba memanggilnya. "Aku lapar." Aksa mengambil alih kemudi. Menginjak pedal gas untuk berjalan pergi melewati parkiran gedung yang sepi. Membiarkan Adelia yang mematung dalam diam. Mencerna kalimat ambigu pria itu lekat-lekat di dalam kepala. "Ah, sudahlah." Adelia mencari kitkat barunya. Menyantapnya dalam diam dan seketika termenung. Daro masih ada di dalam. Dan dia tidak bisa kembali di saat ketakutannya masih tertinggal. Sebelum dia benar-benar mundur, Adelia mencari tempat untuk menarik napas. Mencoba bertarung dengan rasa cemasnya sendiri. Memilih untuk berpikir lain, Adelia memberanikan diri masuk ke dalam. Melintasi lobi yang cukup ramai dalam diam. Kekacauan yang Aksa berikan perlahan-lahan memudar. Saat Adelia memencet tombol lift, berpura-pura dingin pada sekitarnya. Beberapa mata memandangnya datar. Sekaligus bertanya-tanya apa yang terjadi. Hubungan Adelia dengan para pria tidak pernah terendus siapa pun. Dan Aksa datang untuk mengacaukan segalanya. Membuat Adelia kebingungan. Meski aksi heroiknya berhasil menjauhkannya dari Daro untuk sementara.  Pintu lift berdenting. Adelia masuk dengan kunyahan lemah di dalam mulutnya sendiri. Saat dia memandang lurus pada pintu besi yang tertutup. Meninggalkan kesan mendalam yang membuat napas Adelia berembus berat. Pikirannya kini terbagi. Terbelah menjadi dua. Antara dirinya sendiri dan Aksa, calon suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD