Meja makan terasa lebih dingin. Malam-malam sebelumnya, Andhra selalu melewatkan makan malam. Selepas setelah Devan Aksa bertamu, mengutarakan maksud dan tujuannya datang. Nyatanya, sekelas Vina tidak mampu membuat ego Andhra membaik.
Adelia melewatinya dengan acuh. Dia sendiri tidak terlalu peduli dengan dinginnya neraka dalam bentuk rumah yang sedang ia tempati. Sebentar lagi, dia akan pergi. Dan Adelia menawarkan diri untuk ikut kemana pun suaminya pergi.
Aksa tidak memberi kabar. Adelia beranggapan memang mereka tidak akan bicara untuk makan malam. Adelia akan menunggu esok pagi, kalau Aksa memberi kabar ingin bertemu dan bicara. Undangan sudah tersebar, tidak ada jalan untuk kembali.
Seperti yang Aksa katakan, dia hanya perlu duduk manis dan menerima semua dengan baik. Segala perlengkapan pernikahan, Adelia tidak tahu sampai mana. Bahkan, gaun kemarin yang sepakat Adelia dan Devan Ara pilihkan, entah bagaimana akhirnya.
"Siapa yang mencakarmu, Andhra?"
Kepala Andhra menengadah. Mendengar suara sang ibu yang mengalun cemas. "Bukan siapa-siapa. Aku mabuk di bar, dan seorang gadis mencakarku."
Alis Vina tertaut. "Apa kau tidak sengaja menyentuhnya?"
"Mungkin," Andhra balas melirik Adelia sekilas. "Aku mabuk. Tidak tahu apa yang aku lakukan di sana. Aku sadar saat sampai di hotel paginya."
"Ah, ini alasan mengapa kau tidak kembali ke rumah?"
Andhra mengangguk skeptis. "Jangan cemas. Aku baik-baik saja."
"Baiklah." Vina kembali melanjutkan makan malamnya.
Adelia menaruh sendok dan garpu di atas piring. Meraih gelas minumnya, menegaknya dalam dua kali tegukan panjang. "Aku sudah selesai. Selamat malam."
"Aku belum selesai, Adelia. Duduk dulu."
Adelia menatap dingin pada sang kakak. Memilih untuk tidak berdebat di saat suasana hatinya buruk, Adelia kembali duduk di kursi.
"Aku mengundang Daro siang tadi. Kau sudah bertemu?"
"Sudah," balas Adelia datar. "Dia menahanku di lift dengan tidak sopan."
Andhra menghela napas panjang. "Dia belum bisa menerima pernikahanmu. Seharusnya, kau tahu benar kalau dia benar-benar punya perasaan lebih padamu."
"Lantas, bagaimana denganku? Aku tidak mencintainya. Aku membencinya. Sangat. Apa aku harus menikahi orang yang kubenci?"
Nada suara Adelia biasa saja. Terkesan rendah, namun menikam jantung Andhra.
"Adelia! Apa-apaan nada bicaramu? Kau tidak sopan sekali. Apa begitu Mama mengajarkanmu?"
Adelia mendengus kasar. Memutar bola mata bosan sembari berdecak. "Aku bosan mendengar alasan yang sama berulang kali."
"Cinta datang karena terbiasa. Apa kau memilih untuk tetap bersama Devan tanpa tahu bagaimana latar belakangnya?"
Rupanya, Delana Andhra belum menyerah. Entah, ikatan apa yang membuat Andhra dan Daro yang terlampau erat. Sampai-sampai, sang kakak rela kembali membujuknya hanya demi bersama pria b******n yang ingin Adelia ludahi wajahnya.
"Kenapa tidak kau saja?"
Vina tersedak air minumnya sendiri.
"Kalau kau bersikeras menikahkanku, kenapa tidak kau saja? Kau dan Daro terlihat dekat. Mana tahu kalian punya hubungan, bukan?"
"Sialan!" Andhra memukul meja dengan keras. Sama sekali tidak membuat Adelia gentar. Terkejut pun tidak. Adelia terlalu terbiasa menghadapi sikap sang kakak yang tempramental. "Hati-hati kalau kau bicara, Adelia."
Manik hijau Adelia memaku pada bekas cakaran di pipi kiri sang kakak. Luka itu belum sepenuhnya mengering. Andhra pastilah merasa kesakitan.
"Jangan sampai aku kembali menamparmu, anak kurang ajar."
Adelia bangun dari kursinya. Membuat keduanya terdiam dalam lamunan. Menatap Adelia yang menunduk, kemudian mengangkat tangan guna menyelipkan anak rambut panjangnya ke belakang telinga.
"Aku rasa, tidak ada yang perlu kukatakan lagi. Semua sudah selesai sampai di sini. Ibuku, tampak asing. Dia membenci putrinya sendiri demi putra tirinya. Wah, luar biasa."
Andhra terkesiap. Begitu pula dengan Vina yang mematung.
"Kalian memberikan restu atau tidak, aku akan tetap menikah. Keputusanku sudah matang. Aku bukan anak usia lima tahun yang bisa kau setir semaumu, Mama."
Adelia menghela napas panjang. Melempar tatapan sinisnya pada sang kakak yang sama sekali tidak pernah menganggapnya ada, malah terkesan baik di depan banyak orang. Andhra jelas terlihat sebagai pria busuk dengan topeng tebal bermuka dua.
"Selamat malam."
Bergegas pergi dari ruang makan sebelum emosinya meledak. Dan Adelia harus kalah di kamarnya sendiri. Menangis tertahan bersama bantal sampai jatuh tertidur.
***
"Kalau yang kau takutkan Aksa itu suka bermain tangan, kau salah. Aksa tidak seperti itu." Celoteh Aqilla Dira, saat mereka berjalan untuk mencari gaun.
Adelia bersedia menemani Dira berjalan-jalan. Sampai sahabatnya menemui gaun yang cocok untuk ia pakai di pesta pernikahannya. Adelia meminta Dira agar tidak berlebihan, dan Dira menolak dengan alasan klasik; sekali seumur hidup.
Cih. Seperti pernikahan mereka berlangsung selamanya saja.
Adelia menghela napas. Memilih untuk pergi dan mencari minuman pelepas dahaga. Saat Dira masuk ke dalam toko ternama, mencari-cari gaun mahal yang sesuai dengan dompetnya. Dan membiarkan Adelia mencari camilan kesukaan untuk melepas bosan.
"Berikan aku keju dan cokelatnya juga, tolong."
Adelia meminta pada penjual minuman aneka rasa di dalam mall untuk menambahkan dua topping kesukaannya. "Terima kasih," membayar dalam bentuk tunai dan mencari tempat duduk.
Lambaian kecil pada tangannya meminta Dira untuk mendekat. Gadis pirang itu duduk, menyilangkan kaki sembari menaruh barang belanjaannya di atas lantai. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?"
Kepala itu terangguk puas. "Kau hanya perlu melihat, cantik. Sayangnya, aku tidak akan memberitahu sekarang. Karena itu kejutan. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Karena apa? Karena aku tidak akan menjadi pusat perhatian. Aku membiarkan pengantin cantik nanti ini menjadi bintangnya," ulas Dira dengan tawa manis.
Adelia balas mendengus. Kepalanya sedikit lebih miring ke kanan untuk menatap ekspresi puas Dira dari dekat. "Kau berlebihan."
"Aku serius, ya Tuhan," gerutunya.
Adelia hanya menggeleng dengan senyum.
"Adelia, kalau aku boleh jujur padamu, di antara perempuan yang pernah Aksa tiduri, semua cantik. Tapi, kelas mereka rendah. Karena apa? Karena mereka tidur bersama hanya untuk uang. Tidak peduli siapa yang akan memeluk mereka setiap malam. Pria muda, tua, asalkan kaya."
Adelia termenung.
"Aksa selalu membuang mainannya. Reputasi dia memang tidak terlalu bagus. Saat dia mengumumkan pernikahan dan menyebar undangan, banyak perempuan patah hati. Mereka juga terkejut. Semua terasa tiba-tiba dan mendadak."
"Karena Aksa tidak mau berkomitmen sebelumnya?" Adelia bertanya spontan. Diamnya Dira, Adelia artikan sebagai kebenaran.
"Dia punya ketakutan," bisik Dira lemah. "Kalau saja dia menikah, akankah perempuan yang hidup bersamanya akan berakhir seperti Devan Ara atau tidak. Klasik sebenarnya, tapi setiap manusia memiliki masalah dan ketakutannya sendiri."
"Apa mereka menduga kalau aku hamil?"
Dira mendengus geli. "Beberapa. Tapi, sebagian lebih menuduh kalau Delana Adelia hanya dilingkupi keberuntungan. Kebanyakan dari mereka, tidak peduli pada pria rusak asalkan tampang sempurna. Aksa termasuk ke salah satunya. Kategori pria yang jauh di dalam rusak, tetapi rupa yang menawan menyelamatkannya."
Adelia menghela napas. Mengaduk minumannya dalam diam. Membiarkan rasa asin keju bercampur dengan cokelat tawar. "Aksa tidak tahu bagaimana aku. Dan aku berharap, dia tidak akan pernah tahu."
"Lambat laun, dia akan mengerti. Kalau Ak—Aile Adelia, sebenarnya secerah matahari."
Ekspresi itu tergambar sedih.
"Aku tidak akan bicara tentangmu pada Aksa. Kalau pun aku tahu, aku ingin menjagamu. Aku tidak akan membocorkan apa pun, meski Aksa membunuhku nanti karena tetap diam."
Adelia menoleh dengan tatapan pias. "Aku percaya padamu."
Dira tersenyum hangat. Mengulurkan tangan untuk meremas tangan sahabatnya yang dingin. "Dengar, Adelia. Ini mungkin terdengar klise, tapi suatu saat nanti patah hatimu akan sembuh. Rasa sakit yang bertahun-tahun bercokol, akan pudar. Akan ada cinta yang baru, langit yang baru setelah mendung membentang. Kau akan sembuh. Kau akan baik-baik saja."
Adelia menahan napas untuk beberapa detik setelahnya. Meremas gelas minumannya sendiri dengan pandangan ragu. Sebelum dia menoleh, mencoba menahan pandangan matanya agar tidak membayang buram.
"Kali ini, aku yakin semesta meragu menuliskan suratan takdir untukku. Di saat aku sendiri belum benar-benar bisa bangun, seseorang mencoba menahan dadaku untuk tetap berbaring sampai aku mati."
Dira berdecak pelan. Memundurkan kepalanya untuk menatap Adelia lebih jauh. Tidak ada ekspresi apa pun yang tergambar seperti sebelumnya. Sedih yang melumuri wajah sahabatnya, sudah pudar.
"Kau tidak akan mati sebelum kau bahagia. Percayalah. Kalau kau tidak ingin hidup karena terlalu lelah, masih banyak manusia yang ingin bernapas lebih lama hanya karena orang-orang sekitar mencintai mereka dengan tulus."
Adelia membuang pandangannya ke arah lain. Mereka bisa bicara hal sensitif di tempat umum. Meski, pusat perbelanjaan ini sepi karena jam kerja dan bukan akhir pekan.
"Genggam tanganku nanti saat berjalan menuju altar. Kau mau?"
Dira mendengus menahan geli. "Tentu. Kenapa tidak?"
Adelia menunduk menahan tawa.
***
"Terima kasih. Kami akan mempersiapkannya sebaik mungkin."
Setelah melepas pekerja di bidang WO sesuai arahan Zura, Aksa berjalan mendekati Adelia yang mematung di tengah aula. Menatap betapa luasnya aula ini sama sekali tidak membuatnya terkesan.
"Ada komplain yang ingin kau ajukan?"
Adelia menghela napas berat. Menyentuh taplak meja berbahan dasar sutra dengan vas bunga cantik berisikan bunga plastik yang selalu dijaga ketahanan dan harumnya.
"Tidak ada."
Aksa mengangkat alis. Menatap gedung aula yang ia pilih sebagai lokasi pernikahan mereka. Undangan telah disebar. Dan Aksa benar-benar tidak ingin pesta pernikahan yang dia susun sebaik mungkin, hancur berantakan.
"Apa ini pernikahan yang kau impikan? Dihadiri banyak orang, mereka mengucapkan selamat padamu dan berbasa-basi mengatakan semoga kalian bahagia sampai tua?"
Adelia menoleh. Menatap mata kelam pria itu datar. "Kalau aku tidak pernah bermimpi sejauh ini. Aku bahkan tidak menginginkan ada pesta di hari pernikahanku sendiri."
"Tapi, karena kau yang mengatur semuanya dan aku hanya duduk manis, aku tidak akan berkata apa-apa sebagai bentuk komplain," lanjutnya datar. Memainkan kelopak bunga di atas vas dengan ekspresi dingin.
Aksa berdeham singkat. "Aku sebenarnya merasa kalau ini tidak perlu. Tetapi, aku lakukan ini bukan untuk kita berdua. Untuk ibuku."
"Ah," Adelia menarik napas. "Demi ibumu, kau akan lakukan apa pun? Sesayang itu kau pada ibumu?"
Aksa tidak menjawab. Dan Adelia mengartikan diamnya pria itu sebagai kebenaran.
"Ibumu orang baik. Aku tidak tahu apa yang sudah dia lewati selama ini. Sepanjang hidupnya, dan cobaan apa yang membuatnya tegar. Tapi, dia orang baik. Dia terlihat bangga denganmu."
Aksa menghela napas. Memandang sekitar aula saat dia kembali menatap gadis itu.
"Sebelumnya, dia membenciku. Sangat."
Adelia terpaku. Mengangkat alis saat kepalanya menoleh untuk memandang sepasang manik gelap yang terlihat tak memiliki ujung. "Aku rasa, itu hanya dugaanmu saja. Kau tahu, prasangka buruk karena mungkin—,"
"Tidak, aku serius. Dia membenciku."
Aksa menarik napas panjang, sebelum mengembuskannya perlahan. "Dan aku tidak punya alasan untuk balas membencinya. Semarah apa pun aku padanya."
Adelia termangu. Menatap pria itu lekat, dan mengangguk singkat. Menghela napas dengan senyum tipis. "Semua sudah membaik, bukan? Dia tidak lagi membencimu. Dia menyayangimu."
Aksa meliriknya sekilas. Kemudian, mendengus kecil. Membuang pandangannya ke arah lain. Apa yang baru saja ia katakan?
"Kalau kau merasa menyesal karena baru saja menceritakan hal itu padaku, bukan masalah."
Adelia menatapnya dengan kerlingan menahan geli. "Aku penjaga rahasia yang baik."
Melihat ekspresi Aksa sekarang, membuatnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Sesekali menghela napas, kembali menatap kaku ke arah meja-meja yang tersedia dan menunduk untuk menarik napas panjang.
Yang kesekian kali.