Lelah, itulah satu kata yang tepat di ucapkan untuk Viana, seharian bekerja dan harus mendapat lembur karena seseorang telah menyewa seluruh restoran tempatnya dan kata manajer orang itu adalah anak dari pemilik tempat ini. Viana bahkan tidak tahu siapa majikannya dan siapa anaknya, ia tidak peduli yang ia pedulikan hanya bekerja dan mengumpulkan gaji agar bisa terus menjalani pengobatannya. Meski lelah dan badannya terasa remuk redam akibat pekerjaan lembur ia tetap saja terlihat bersemangat. Ia tidak tahu tamu yang menyewa tempat ini karena ia bertugas menata makanan di belakang. Setelah jam bekerja berakhir dan berganti pakaian di loker, Viana bergegas untuk pulang dan Rani akan menjemputnya. Viana berjalan menuju parkiran pengunjung, karena Rani sudah ada di depan. Namun saat ia berjalan pandangannya bertemu dengan sosok wanita yang ia kenali, Ariana sang Kakak tiri yang tengah berdiri di samping mobil mewah bersama seorang pria muda dan tampan, Viana berpikir itu adalah kekasih sang Kakak. Langkah kaki Viana semakin dekat dengan mereka berdua.
“Mbak Ari,” sapa Viana, namun mendapatkan tatapan tajam dari Ariana.
“Siapa dia, Ar?” tanya pria di samping Ariana.
Viana menyipitkan matanya sepertinya pria ini tidak asing baginya, namun ia lupa di mana mereka bertemu.
“Bukan siapa-siapa, hanya kenalan ku saja,” jawab Ariana yang membuyarkan lamunan Viana.
“Saya pergi dulu permisi,” ucap Viana seraya melangkah pergi.
“Apa itu pacarnya Mbak Ari? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya?” ucap Viana.
“hoi, Vi!” teriak Rani yang sudah berada di pinggir jalan.
“Ya, ampun nih bocah,” gerutu Viana.
“Jalan sambil melamun, mikirin apa coba?” tanya Rani seraya menyodorkan helm pada Viana.
“Tadi aku ketemu sama Mbak Ari,” ucap Viana.
“Di mana.”
“Itu,” ucap Viana seraya menunjuk sebuah mobil mewah yang mulai melaju meninggalkan pelataran parkir.
“Dia bawa mobil?” tanya Rani.
“Bukan. Dia sama pacarnya, Cuma aku sepertinya pernah bertemu dengan pria itu, tapi di mana ya, Ran?”
“Lah, ya mana aku tahu, Vi. Oh iya kamu bilang Ariana punya pacar, kok di kampus aku tak pernah lihat,” ucap Rani.
“Entahlah. Ya sudah yuk pulang ,” ucap Viana.
“Meluncur,” ucap Rani seraya melajukan motornya.
**
Di sepanjang perjalanan pulang, Ariana hanya diam seraya menatap ke arah luar jendela mobil, pikirannya melayang saat ia bertemu dengan Viana, terlihat wajah gadis itu pucat dan tampak kelelahan.
“Sebegitu parahnya kah keadaannya?” batin Ariana.
Helaan panjang terdengar hingga Ragarta yang tengah menyetir menoleh ke arahnya.
“Kamu kenapa, Ar?” tanya Ragarta.
“Tidak kenapa-napa kok,” ucap Ariana seraya tersenyum.
“Apa kamu memikirkan ucapan ku tadi?”
“Ah, iya sedikit, tapi tidak apa-apa,” jawab Ariana, padahal dia hanya memikirkan pertemuannya dengan Viana adik tirinya.
Ada rasa kasihan ketika melihat gadis itu tadi hidupnya selalu tragis sejak sepeninggal Ayahnya, dan di tambah saat Ibunya menikah dengan pak Andika Ayah Ariana, kehidupannya semakin runyam apalagi sang Ibu sama sekali tidak peduli padanya. Entahlah apa Ariana harus bersyukur di atas penderitaan Viana, dimana ia mendapatkan kasih sayang sang Ibu yang telah lama tidak ia rasakan sejak sang Bunda meninggal, kehadiran Bu Rita membuatnya kembali merasakan kasih sayang seorang Ibu, namun ia harus melihat Viana yang notabenenya adalah anak kandung Bu Rita menderita karena Ibunya lebih menyayangi Ariana daripada Viana, tapi apa mau di kata mungkin itu sudah takdir dari Tuhan untuk mereka.
“Ar, sudah sampai,” ucapan Ragarta membuyarkan lamunan Ariana, dia menoleh ke samping ternyata benar mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Ariana.
“Kamu tidak mampir dulu, Gar?” tanya Ariana.
“Tidak, terima kasih. Besok aku jemput kamu ya? Aku antar kamu ke kampus,” ucap Ragarta seraya tersenyum.
“Tidak usah repot-repot, Gar. Aku bisa bareng Ayah,” jawab Ariana.
“Tidak apa-apa, besok aku jemput ya?”
“Baiklah terserah kamu.”
“Aku pulang dulu, selamat malam,” pamit Ragarta.
“Iya, hati-hati ya di jalan,” ucap Ariana, dan mobil Ragarta pun mulai melaju menjauhi rumah Ariana.
“Sayang kamu sudah pulang? Kok Ragarta tidak di ajak mampir dulu?” tanya Bu Rita.
“Katanya sudah malam, Bu,” jawab Ariana.
Bagaimana, Sayang acara makan malam tadi?”
“Ya, begitu lah Bu,” jawab Ariana seraya berjalan memasuki rumahnya.
“Begitu bagaimana sih?” tanya Bu Rita.
“Dia bilang kalau tertarik sama aku, Bu,” ucap Ariana.
“Ya bagus dong Sayang. Kamu harus bersyukur bisa dapatkan hatinya,” ucap Bu Rita berbinar.
“Tapi kan ini terlalu cepat, Bu. Lagian kita kan belum saling mengenal lebih dekat,” ucap Ariana.
“Soal mengenal itu soal belakangan, yang penting kamu bisa dapatkan orang seganteng Ragarta.”
“Kalian bicara apa?” tanya Pak Andika.
“Ini loh Yah, Ragarta tadi menyatakan perasaannya pada putri kita,” jawab Bu Rita.
“Terus kamu bagaimana, Ar?” tanya Pak Andika.
“Ari bingung, Yah. Soalnya ini terlalu cepat,” ucap Ariana.
“Kamu juga jangan buru-buru, pikirkan dulu dan coba saling mengenal dulu,” ucap Pak Andika.
“Tapi Yah, ini kan sangat bagus apalagi Ragarta itu kan orang terpandang, kalau Ari terlalu lama memberikan jawaban keburu lari dia,” ucap Bu Rita.
“Bu, kamu ini kenapa sih? Biarkan Ariana yang mengambil keputusan ini, Ibu jangan terlalu ikut campur lah,” ucap Pak Andika.
“Sudah-sudah, aku mau istirahat dulu, selamat malam semuanya,” ucap Ariana dan ia pun berjalan menaiki tangga. Pak Andika dan Bu Rita pun hanya mengangguk, selanjutnya mereka pun ikut pergi ke kamar untuk beristirahat.
Sementara itu, Ragarta malam ini pulang ke kediaman orang tuanya, sesampainya di rumah ia di berondong beberapa pertanyaan sang Mama, hal itu membuat sang Papa pusing sendiri karena istrinya bertanya yang aneh-aneh seperti, dimana mereka makan apa yang mereka lakukan dan bagaimana suasana saat makan malam tadi, sungguh membuat kedua pria yang ada di hadapannya berulang kali menghela napas namun keduanya juga tidak berani protes jika berminat untuk protes siap-siap saja harus menerima jeweran maut dari wanita itu.
“Jadi kalian makan malam di restoran Mama?” tanya Diandra dan diangguki oleh Ragarta.
“Kok Mama tidak tahu kalau kamu tadi sewa tempat itu,” tanya Diandra.
“Kalau aku bilang sama Mama, yang ada nanti Mama awasi kita,” jawab Ragarta.
“Ish, bukan begitu. Kan mama ingin menyiapkan suasana yang sangat romantis gitu,” ucap Diandra.
“Sudahlah, Ma. Biarkan saja toh mereka juga sudah selesai makan malamnya,” ucap Danang.
“Yah, Papa ini bagaimana sih? Ini kan makan malam pertama anak kita bersama cewek Pa,” ucap Diandra.
“Sudahlah, Ma. Tadi pegawai resto juga sudah menyiapkan dengan sangat bagus kok,” ucap Ragarta.
“Ya, memang itu pekerjaan mereka,” jawab Diandra.
“Ma, tadi aku ketemu sama salah satu pegawai di sana, sepertinya aku pernah melihat dia tapi di mana ya?” ucap Ragarta.
“Oh iya, mungkin kamu lihat, dia adalah orang yang pernah menolong kamu waktu kamu kabur dari rumah sakit dulu,” jawab Diandra.
“Benarkah? Tahu begitu tadi aku akan ucapkan terima kasih dan memberi tip padanya, dia kelihatan pucat,” ucap Ragarta.
“Mama sudah memberikan di pekerjaan, awalnya dia hanya seorang pencuci piring di sana, karena kata Asti dia sangat ulet dan telaten maka Mama meminta dia untuk jadi pramusaji, dia kelihatan baik anaknya. Dan satu lagi dia juga tidak mengenali Mama,” ucap Diandra.
“Kok bisa tidak mengenali Mama? Bukannya pas di rumah sakit Mama mengobrol lama sama dia?” tanya Danang.
“Tapi dia selalu menunduk saat mengobrol, Pa. Tapi Mama masih mengenali dia karena Mama menyuruh seseorang untuk mengikuti dia,” jawab Diandra dengan bangga.
“Sudah ku duga,” ucap Danang.
“Oh iya, tadi kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu sama Ariana?” tanya Diandra.
“Sudah, tapi dia masih belum menjawab. Dia bilang ini terlalu cepat untuk kami,” ucap Ragarta.
“Ya kalau begitu kamu harus lebih lagi usahanya,” jawab Diandra dan hanya diangguki oleh Ragarta.
“Mama mau ke kamar dulu, ngantuk,” pamit Diandra pada suami dan anaknya mereka pun mengangguk.
“Gar? Apa kamu benar-benar sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Danang sepeninggal istrinya.
“Maksud Papa?”
“Benar kata Ariana kamu terlalu buru-buru, apa benar secepat ini kamu jatuh cinta pada Ariana? Tolong pikirkan lagi,” ucap Danang menasihati putranya.
“tapi Pa, aku benar-benar merasa berhutang nyawa padanya, dan aku harus membahagiakan dia soal cinta bisa datang setelah kita selalu bersama nanti,” ucap Ragarta.
“Tapi Papa minta tolong jangan sakiti dia, dan yakinkan lagi perasaan kamu,” ucap Danang.
“iya, Pa.”
“Jangan katakan pada Ariana dulu soal operasi ini, takutnya dia akan merasa tidak enak.”
“Iya, Pa.”
“Jangan lupakan Mama, dia pasti akan terus mencari tahu secara detail tentang Ariana. Kamu tahu sendiri kan seperti apa Mama kamu?” ucap Danang.
“Pasti, Pa. Aku yakin pasti Ariana orangnya, karena alamat serta nama ayah dan ibu gadis itu tertuju pada Ariana, dan Bu Rita juga mengatakan jika Ariana adalah putri satu-satunya mereka dan dia juga pernah di rawat di rumah sakit yang sama dengan ku,” ucap Ragarta.
“semoga saja dia wanita yang baik dan bisa menerima kamu apa adanya,” ucap Danang seraya menepuk pundak anaknya.
“Papa mau istirahat dulu, kamu juga istirahat sana.”
“iya, Pa.”
Mereka pun pergi menuju kamar masing-masing dan Ragarta memutuskan untuk membersihkan diri sebelum tidur, setelah selesai dengan urusan membersihkan diri dia berbaring di atas kasur besarnya dan meraih ponsel lalu menggulir layarnya dan mencari nama Ariana, setelah ketemu ia menekan tombol panggil untuk menelepon Ariana. Cukup lama berdering namun setelah itu terdengar suara gadis menjawab teleponnya. Mereka mengobrol cukup lama dan tanpa sadar keduanya terhanyut dalam obrolan yang serius, Ariana menerima perasaan Ragarta hal itu membuat ia senang, akhirnya perasaan yang ia lontarkan tadi saat makan malam di terima oleh Ariana. Setelah panggilan telepon berakhir Ragarta tidak langsung tidur entah mengapa perasaannya pada Ariana bukanlah perasaan cinta namun seperti perasaan lain, tapi Ragarta yakin seiring berjalan waktu mereka pasti akan saling mencintai. Ragarta janji ia akan lebih serius pada Ariana dan ia juga berkeinginan untuk menikahi gadis itu secepatnya agar ia bisa menjaga Ariana.
Saat ia tengah memikirkan Ariana tiba-tiba bayangan gadis berwajah pucat yang ia temui di restoran tadi terlintas di benaknya, ya meskipun wajah gadis itu tidak terlihat jelas, tapi ia yakin bahwa gadis itu tidak baik-baik saja, besok ia akan menanyakan hal itu pada Ariana sepertinya Ariana kenal dengan gadis yang pernah menolongnya itu.
“Ya, ampun bagaimana reaksi Mama saat tahu Ariana menerima perasaan ku, pasti akan heboh dan harus begini begitu,” monolog Ragarta.
“Mama pasti bahagia juga dengan hal ini, ya semoga saja,” ucap Ragarta seraya memeluk guling dan tak berapa lama ia sudah terbuai oleh alam mimpi.