Setelah menerima surat dari sang manajer kemarin sore Viana sangat senang, siapa yang tidak senang jika dia yang hanya lulusan sekolah menengah atas bisa bekerja sebagai pramusaji atau bahasa kerennya sebagai waiter. Entah suatu keberuntungan atau sudah takdir yang Tuhan berikan pada dirinya, Viana selalu mensyukuri apa pun yang dia dapatkan di hidupnya.
Waktu menunjukkan pukul lima lebih empat puluh lima menit pagi, Viana sudah siap dengan baju rapi untuk bekerja di hari pertama sebagai pramusaji, sepatu Kets yang setia menemani dirinya di kala bekerja dan baju abu tua serta rok tutu hitam dan hijab hitam yang menutupi kepalanya, serta tas ransel yang berisikan baju seragamnya serta obat-obatan yang tidak boleh tertinggal. Setelah di rasa persiapannya sudah sempurna, Viana keluar dari kamarnya dan hendak berangkat bekerja, namun saat dia sudah keluar dari kamar pemandangan pagi yang membuatnya melotot tidak percaya, yaitu Rani yang masih terlelap dalam tidurnya di atas karpet depan televisi serta selimut yang membungkus tubuhnya ala kepompong, dan jangan lupakan tumpukan plastik bekas wadah Snack yang berserakan serta ada juga yang berada di rambut Rani. Viana segera membangunkan temannya yang pemalas itu dengan cara menarik selimut dan juga sedikit mengomel dan membereskan kekacauan yang Rani buat.
“Ya ampun, Vi! Maafkan aku, aku ketiduran semalam dan belum sempat membereskan semua kekacauan ini,” ucap Rani merasa bersalah.
“Sekarang hampir jam enam dan kamu malah enak-enakan tidur katanya kuliah masuk pagi, jam segini masih belum siap,” ucap Viana.
“Iya-iya ini sudah bangun, bawel banget,” gerutu Rani.
“hah! Apa kamu bilang? Aku bawel? Kalau aku tidak bawel pasti nanti kamu bakalan bangun jam sepuluh, Ran. Tahu begini tadi aku biarkan kamu tidur terus dengan sampah mu itu,” ucap Viana seraya menunjuk tumpukan sampah yang telah ia kumpulkan.
“he he he, maaf Sayang, nanti aku bereskan, terima kasih sudah bangunin aku,” ucap Rani.
“Ya sudah, aku mau berangkat, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah ada perdebatan kecil dengan Rani, Viana berangkat ke restoran tempatnya bekerja. Ya memang tempatnya lumayan jauh maka dari itu Viana sering berangkat pagi untuk berjalan ke restoran agar bisa menghemat pengeluaran uang nya, namun jika waktunya sangat mepet ia akan memilih untuk naik bis. Bagi Viana udara pagi sangatlah sejuk dan baik untuk pernapasannya. Setelah sampai di restoran, Viana mulai melakukan pekerjaannya, semua temannya tidak ada yang merasa iri atau tidak suka padanya, seharian ia bekerja dengan semangat meskipun terkadang nyeri di punggungnya sedikit mengganggu, ia mencoba untuk menutupi rasa sakitnya agar tidak ada yang mengetahuinya.
Di waktu istirahat Viana duduk bersama rekannya yang lain dan menikmati makan siang yang di sediakan di tempat kerjanya.
“Apa kalian tahu? Katanya pemilik restoran ini mau makan malam di sini dan meminta kita untuk menyiapkan suasana yang romantis,” ucap seseorang.
“Benarkah?”
“Iya, nanti kita akan kerja lembur untuk membantu membuat acara itu.”
“Apa mau ada acara lamaran?”
“Bisa jadi.”
“Kapan acaranya berlangsung?” tanya Viana.
“Malam ini sih, Vi,” jawab seseorang.
“Kapan pun itu kita harus siap-siap, kan yang paling penting bonusnya nanti.”
Mereka saling tersenyum seraya kembali menghabiskan makanan mereka hingga waktu istirahat usai dan mereka kembali melakukan pekerjaan masing-masing.
**
Di tempat lain tepatnya di sebuah ruangan bercat putih, terlihat Ragarta tengah berkutat dengan tumpukan file dan beberapa dokumen. Meskipun jam istirahat sudah berakhir namun dia tetap saja sibuk dengan tumpukan kertas di atas meja, Ragarta selalu melakukan pekerjaannya dengan serius meskipun tak jarang ia akan melupakan makan siangnya dan hal itu akan membuat Ridwan sang sekretaris akan marah besar dan juga tidak segan untuk memarahi Bosnya itu agar tidak melupakan makan siangnya. Seperti saat ini dia masuk ruangan tanpa mengetuk pintu dan langsung marah-marah ketika melihat kotak bekal makan siangnya masih terbungkus rapi di dalam tasnya. Dalam proses kesembuhannya Ragarta selalu membawa bekal dari rumah demi menjaga pola makannya dan juga membantu proses pemulihan dirinya paska operasi, sama dengan Ridwan, Mamanya juga sangat cerewet soal pola makan Ragarta, mereka hanya ingin agar ia bisa pulih seperti sedia kala. Usai makan siang yang di selingi oleh kebawelan Ridwan. Kini keduanya kembali di sibukkan dengan berkas serta dokumen yang entah kapan akan selesai mereka kerjakan, tapi mereka tetap harus menyelesaikannya karena Ragarta sore nanti akan mengunjungi rumah Ariana. Sejak saat itu Ragarta sering mengunjungi rumah Ariana meskipun Ragarta juga belum menanyakan perihal operasi tersebut, namun keduanya tampak sudah sangat akrab, nanti sore ia akan kembali mengunjungi rumah Ariana dan mengajaknya untuk pergi makan malam bersama.
Waktu yang di tunggu Ragarta pun tiba, sepulang jam kantor ia sudah menghubungi Ariana agar bersiap karena mereka akan pergi makan malam bersama, hal itu di sambut senang oleh Ariana. Ragarta pulang ke rumah kediaman orang tuanya. Ya, selama dirinya sakit ia tinggal bersama orang tuanya dan setelah operasi pun Mamanya juga memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka, Ragarta tidak bisa menolak itu semua, toh itu juga demi kebaikannya. Setelah selesai bersiap-siap Ragarta segera turun dari lantai atas Sesampainya di bawah ia melihat kedua orangtuanya tengah duduk di sebuah kursi.
“Sudah rapi saja yang mau kencan,” ucap Diandra Mama Ragarta.
“Ih Mama apaan sih,” ucap Ragarta.
“Sudah mau berangkat, Gar?” tanya Danang Papa Ragarta.
“Iya Pa, nanti kasihan Ariana jika menunggu lama,” jawab Ragarta.
“Sesekali bawa dia ke sini, Mama juga ingin mengenal dia,” ucap Diandra.
“Insyaallah Ma, secepatnya.”
“kalau sudah ada kecocokan sebaiknya kalian berpikir untuk ke jenjang yang lebih serius,” ucap Danang.
“Gampang Pa. Ya sudah aku berangkat dulu, Ma, Pa. Assalamualaikum,” pamit Ragarta.
“Waalaikumsalam.”
Ragarta segera melajukan mobil hitam miliknya dan meninggalkan pelataran rumahnya. Di perjalanan ia ingin segera sampai dan melihat senyum Ariana entah mengapa ia selalu ingin melihat senyuman gadis itu.
Sementara di kediaman Ariana, Bu Rita tengah sibuk mengoreksi penampilan Ariana, dia sangat bahagia karena Ariana akan di ajak makan malam oleh Ragarta, siapa yang tidak tahu Ragarta pria tampan muda dan kaya.
“Sayang, jamu terlihat sangat cantik,” ucap Bu Rita.
“Iya dong Bu. Kan mau jalan sama orang ganteng,” jawab Ariana.
“Nak, kamu juga tetap harus hati-hati terhadap Ragarta, biar bagaimanapun juga dia tetaplah orang asing yang tiba-tiba saja dekat denganmu. Ayah tidak ingin terjadi apa-apa pada mu,” ucap Pak Andika.
“Ayah, kenapa sih ngomongnya kayak gitu? Kan Ayah juga tahu siapa Ragarta, anak dari Danang Setyo Anam, apa lagi yang harus di takuti, seharusnya Ayah itu bersyukur karena Ariana di dekati oleh Ragarta, siapa tahu juga dia bisa jadi mantu kita,” ucap Bu Rita.
“Bu, jangan terlalu berharap banyak pada dia, mereka kaya sementara kita jauh berada di bawah mereka.”
“Sudah-sudah! Ayah, Ibu kenapa kalian malah berdebat sih?” ucap Ariana.
“Tidak usah mendengar ucapan Ayahmu, yang penting kamu bisa menjaga diri,” ucap Bu Rita.
Ting tong...
Suara bel pintu terdengar dan menghentikan perdebatan mereka. Bi Asri sang asisten rumah tangga berlari dan membukakan pintu dan terlihat seorang Ragarta tengah berdiri seraya tersenyum kepada Bi Asri.
“Selamat malam, Mas. Silahkan masuk, saya panggilkan dulu Mbak Ariana,” ucap Bi Asri.
“Iya Bi, terima kasih.”
Setelah kepergian Bi Asri ke belakang Ragarta duduk di sebuah sofa, namun pandangannya tak sengaja melihat foto kecil di dalam lemari dekat sofa, tampak ada empat orang di sana, ada seorang pria dan tiga orang wanita di sana namun yang membuat Ragarta bertanya sosok wanita berhijab di dalam foto tersebut, sepengetahuannya di sini hanya ada tiga orang, Ariana Bu Rita dan Pak Andika, lalu siapa gadis berhijab tersebut? Saat ia akan berdiri dan membuka lemari tersebut tiba-tiba Pak Andika datang.
“Selamat malam, Nak.”
“Selamat malam, Om. Maaf saya mengganggu,” ucap Ragarta.
“Oh tidak, sebentar lagi Ariana akan turun tadi dia sedang bersiap-siap,” ucap Pak Andika.
“ Iya, Om.”
“Nak, tolong jaga Ariana, saya tidak tahu apa dan bagaimana hubungan kalian sekedar teman atau bagaimana saya tidak tahu, namun tolong jaga putri saya itu, dia sangat ceroboh dan juga manja, jadi tolong memaklumi segala sifatnya, kalian juga belum lama mengenal,” ucap Pak Andika.
“Iya, Om. Saya akan menjaga Ariana sebisa saya,” jawab Ragarta.
“Gar, sudah lama?” tanya Ariana yang sudah berdiri di dekat tangga.
“Baru saja, Ar,” ucap Ragarta.
“Nak, jaga putri satu-satunya Ibu ini ya,” ucap Bu Rita.
“Iya, Bu. Ya sudah saya ijin mengajak Ariana keluar dulu, Pak, Bu,” pamit Ragarta.
“Iya, hati-hati kalian,” ucap Pak Andika.
“Ayah, Ibu. Ariana berangkat ya, assalamualaikum,” ucap Ariana.
“Waalaikumsalam.”
Mereka pun pergi menuju tempat yang sudah di pilih oleh Ragarta. Sesampainya di tempat tujuan Ragarta membukakan pintu mobil untuk Ariana dan mengajaknya turun.
“Gar, tempat ini indah sekali,” ucap Ariana.
“Apa kamu suka,” tanya Ragarta.
“Ya, aku suka, tapi kenapa kok sepi ya?” tanya Ariana.
“Aku sengaja menyewa tempat ini agar kita bisa nyaman saat makan malam,” ucap Ragarta seraya menuntun Ariana menuju meja yang di pesan.
“ya, ampun apa maksud Ragarta dengan semua ini? Apa dia menyukai ku hingga dia melakukan semua ini?” batin Ariana.
“ Silahkan Tuan,” ucap salah seorang pegawai.
“Yuk, duduk di situ,” ajak Ragarta pada Ariana.
Mereka pun menduduki kursi yang telah di sediakan, keduanya pun mulai menikmati hidangan yang telah di sajikan dengan tenang, hingga setelah selesai makan, tiba-tiba Ragarta memegang tangan Ariana.
“Ar, aku tidak tahu ini terlalu cepat atau apa, tapi aku mulai tertarik sama kamu, bisakah kita menjalin hubungan yang lebih serius?” tanya Ragarta.
Ariana bengong mendengar ucapan Ragarta. “Apa barusan dia nembak aku? Tapi kok kaki banget sih dia ngomongnya,” batin Ariana.
“Ar, kenapa kamu bengong? Apa aku salah ya? Atau kamu sudah memiliki seorang kekasih?” tanya Ragarta.
“Bu–bukan be–begitu,” ucap Ariana gagap.
“Lantas?” tanya Ragarta.
“Aku hanya kaget saja kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu, lagian kan kita juga baru kenal satu bulan lalu, apa tidak terlalu cepat?” ucap Ariana.
“Tidak Ar, aku benar-benar tertarik sama kamu.”
“Baiklah aku akan pikirkan hal itu ,” ucap Ariana.
“Baiklah, aku tunggu jawaban kamu secepatnya,” ucap Ragarta.
Mereka pun sudah selesai makan dan berniat untuk langsung pulang, namun saat mereka baru tiba di parkiran, Ragarta melihat bayangan seorang gadis dan sepertinya Ragarta juga pernah melihatnya tapi entah di mana. Gadis itu semakin dekan dengan mereka dan hal itu juga tak luput dari pandangan Ariana.
“Mbak Ari,” ucap Viana, ya gadis yang Ragarta lihat adalah Viana, wajahnya terlihat pucat dan tampak kelelahan.
“siapa dia, Ar?”