Bab. 18

1803 Words
Setelah pulang dari berbelanja menghabiskan uang suaminya, Diandra mengajak Viana ke restoran miliknya ingin makan siang di sana. “Ma, aku merasa tidak enak jika ke restoran hanya untuk makan,” ucap Viana. “Kamu ini apaan, sih? Kan kamu menantu Mama, jadi sama saja kamu juga bos di sana!” ucap Diandra. “Tapi, Ma! Mereka semua tidak ada yang tahu jika aku sudah menjadi menantu Mama,” ucap Viana. “Ya, lalu kenapa?” tanya Diandra. “Ya, kan gak enak, Ma. Aku belum siap bertemu dengan mereka sebagai menantu Mama!” lirih Viana. “Nanti Mama kenalkan dengan mereka,” ucap Diandra enteng. “Jika Mama melakukan itu, sebaiknya kita tidak jadi ke sana, Ma,” ucap Viana. “Pokoknya kamu harus nurut sama Mama, ikut ya ikut!” ucap Diandra. “Apa aku masih kurang nurut, Ma? Sepertinya aku memang harus menuruti semua kemauan Mama,” ucap Viana dengan nada dingin. Diandra tercengang melihat Viana seperti itu, dan baru sekarang dia melihat gadis yang menolaknya, biasanya para gadis akan menuruti semua kemauannya, demi mendapatkan Ragarta, namun Viana berbeda. Dia sama sekali tidak tertarik pada Ragarta ataupun soal harta, terbukti saat belanja tadi, Viana sama sekali tidak tertarik akan baju ataupun tas mahal, Viana justru membeli bahan dapur dan menolak jika Diandra menawarkan gamis ataupun tas untuknya, itulah yang Diandra suka dari menantunya itu. “Ya, Mama kan ingin mengenalkan kamu sebagai menantu Mama, supaya mereka bisa menghargai kamu,” ucap Diandra. “selama ini mereka semua sudah menghargai diriku, Ma. Mereka tidak pernah mem beda-bedakan antara satu dan yang lainnya, dan yang mereka tahu calon istri Ragarta adalah Mbak Ariana, bukannya aku. Apa kata mereka jika tahu sekarang yang menjadi istri Ragarta adalah aku?” ucap Viana. “Jangan pedulikan omongan orang, Sayang. Pokoknya Mama tidak mau tahu mereka harus tahu jika kamu sekarang adalah menantu Mama, titik,” ucap Diandra. “Terserah, Mama. Asal Mama bahagia aku rela menderita untuk ke sekian kalinya,” ucap Viana dingin. “Vi, maksud Mama bukan seperti itu, Mama hanya ingin semua orang tahu jika kamu menantu keluarga Setyo Anam sekarang.” “Biarkan semua tahu jika aku hanya pengantin pengganti di keluarga Setyo Anam, dan apakah Mama senang setelah lama aku bekerja di restoran dengan penuh cinta dan kasih sayang di sana, tiba-tiba mereka membenciku ketika tahu siapa aku,” ucap Viana. Diandra terdiam, dia baru sadar jika Viana lebih keras kepala di bandingkan dengan dirinya, dan satu lagi yang baru Diandra sadari, Viana tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya jadi Viana menganggap semua yang ada di restoran itu adalah keluarga. Diandra menghela nafas dan mengalah pada menantunya tersebut, namun mereka tetap datang ke restoran. “Baiklah, tapi kita akan tetap ke restoran,” ucap Diandra dan diangguki Viana. Sementara sopir Diandra, merasa heran juga dengan sikap menantu keluarga majikannya itu, pasalnya sebelum-sebelumnya setiap gadis yang di bawa Diandra selalu mencari perhatian dan menuruti apa pun kemauan nyonya nya itu, namun kali ini berbeda justru gadis itu malah mendebat setiap ucapan Diandra, dan malah Diandra menuruti setiap ucapan gadis itu. “Ada apa geleng-geleng Pak?” tanya Diandra yang melihat sopirnya menggelengkan kepala. “Tidak ada, Nyonya, maaf jika mengganggu!” ucap sopir itu. “Tidak mengganggu hanya saja aku takut Bapak, sakit,” ucap Diandra. “Tidak, Nyonya.” “Ya sudah.” Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di restoran milik Diandra. Viana turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Diandra, Diandra menyipitkan matanya melihat Viana membukakan pintu untuk dirinya, namun dia tidak protes tahu jika menantunya itu tidak ingin di ketahui identitasnya. Aneh dan unik menurut Diandra, jika gadis lain yang menjadi menantunya mungkin akan besar kepala dan memposting di media sosial. Namun Viana justru tidak ingin statusnya di ketahui oleh orang lain. “Selamat siang, Bu!” sapa seorang pegawai restoran. “Siang!” ucap Diandra membalas sapaan para pegawainya. Diandra terus berjalan menuju ruang kerjanya seraya tersenyum kepada setiap pegawai yang menyapanya, begitu juga dengan Viana dia langsung pergi ke lokernya dan berganti pakaian untuk bekerja. “Vi? Kamu di ajak ke mana sama Bu Bos?” “Tadi tidak sengaja bertemu di jalan dan Beliau meminta untuk di temani ke toko,” jawab Viana. “Sepertinya, Bu Bos, sangat menyukaimu, Vi!” ucap temannya yang lain. “Mungkin karena hal itu ya, kamu di rekomendasikan untuk jadi waiters? “Bisa jadi, itu,” jawab yang lainnya. Viana merasa tidak enak mendengar ucapan temannya itu, namun itu juga di luar kemauannya. “Vi, kamu kenapa?” “Tidak apa-apa, maaf!” ucap Viana lirih. “Jangan meminta maaf, Vi! Kamu jangan merasa tidak enak, lagi pula, Bu Bos memilihmu karena Beliau tahu kinerja mu sangat bagus. Jadi jangan merasa tidak enak!” “Terima kasih!” ucap Viana. Mereka pun kembali bekerja. . Di kantor SA Grub, kini sedang di adakan rapat antar direksi, dan Ragarta sebagai pemimpin rapat kali ini, rapat kali ini membahas tentang perencanaan memasuki pasar luar negeri. Rapat berjalan dengan lancar, kini Ragarta di ajak makan oleh Ayahnya dan juga Ridwan. “Bagaimana, Rid?” tanya Danang pada Ridwan. “Apanya yang bagaimana, Om?” tanya balik Ridwan, karena jam kantor sudah berakhir Ridwan memanggil Danang dengan sebutan Om. “Ya, kamu kapan nikah. Ragarta aja sudah nikah loh.” “Aku sedang menunggu seseorang, menjadi janda,” jawab Ridwan asal. Danang terkekeh mendengar jawaban asal dari Ridwan, sementara Ragarta mendelik ke arahnya. “Kenapa kamu mendelik, Gar?” tanya Danang pada putranya. “Heran aja, apa Ridwan saat ini sedang berkencan sama istri orang?” ucap Ragarta. “Apa itu benar, Rid?” tanya Danang. “Tidak kok, kalian tenang saja. Hanya saja aku sedang kasihan sama seseorang, dia sama sekali tidak di inginkan oleh suaminya, sepertinya dia akan di ceraikan, Om, sama suaminya, jadi aku menunggunya,” ucap Ridwan. “Siapa yang kamu maksud?” tanya Ragarta dengan nada sinis. “Adalah, kamu mana tau,” ucap Ridwan. “Sudah-sudah ayo makan, habis ini kita pulang,” ucap Danang, dan mereka pun mulai menyantap makanan yang telah tersaji di hadapan mereka. Danang tahu siapa yang di maksud Ridwan, sahabat anak itu pasti tengah memanas-manasi Ragarta. Dan Danang juga tahu reaksi Ragarta tadi sedikit ada rasa cemburu, tapi entah anaknya itu sadar atau tidak dengan perasaannya. “Gar, kamu mau jemput, Viana atau tidak?” tanya Danang saat mereka selesai makan. “Tidak, Pa. Sepertinya dia akan pulang bareng Mama!” jawab Ragarta. “Loh, tapi Mamamu bilang sudah pulang ke rumah, dan Viana masih di restoran. Tadi saat Mama menawarkan mengantar dia menolak dan berkata mau kamu jemput,” ucap Ragarta. “Oh, ya? Sebentar!’ Ragarta pura-pura melihat ponselnya. Pasalnya dia sama sekali tidak tahu soal hal itu, dan tidak mungkin kan jika dia bilang pada Papanya, kalau Ragarta tidak punya kontaknya Viana. “Oh iya, Pa. Viana minta jemput,” ucap Ragarta. “Baiklah kalau begitu Papa, mau pulang dulu jemputan sudah ada di depan. Kalau kamu Rid?” “Mau jemput calon istri, Om!” jawabnya. “Jangan terlalu dekat sama istri orang, nanti yang punya marah,” goda Danang. “Aman, Om. Yang punya istri juga tidak peduli kok,” ucap Ridwan. “Ya sudah aku pulang dulu,” pamit Danang pada keduanya. “Hati-hati, Pa!” “Hati-hati, Om.” Danang pun pergi meninggalkan kedua pemuda itu dan berjalan menuju parkiran. “Kamu mau aku antar apa bawa mobil sendiri?” tanya Ridwan. “Antar kan aku menjemput, Viana!” “Apa, menjemput Viana? Tidak salah?” “Kenapa? Apa kamu mau menjemputnya?” tanya Ragarta. “Iya, kenapa?” “Apa kamu sadar apa yang kamu katakan di depan Papa tadi?” “Yang mana? Yang aku bilang mau jemput calon istri atau yang bilang aku sedang menunggu seseorang menjadi janda?” tanya Ridwan. “Lupakan, sana jemput Viana sendiri, aku mau pulang,” ucap Ragarta ketus dan langsung pergi meninggalkan Ridwan sendiri. “Bilang saja cemburu! Dasar maruk. Masih suka sama Ariana tapi tidak mau lepasin Viana,” gerutu Ridwan dan dia langsung pergi dan berniat menjemput, Viana di restoran milik Diandra. “Viana!” “Eh, Ridwan?” ucap Viana saat mengetahui Ridwan tengah berada di area parkir restoran. “Naik!” ucap Ridwan. Tanpa pikir panjang Viana membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah Ridwan. “Ngapain kamu ada di sini?” tanya Viana. “Di suruh Ragarta jemput kamu?” ucap Ridwan bohong. “Hah!” Viana menganga mendengar ucapan Ridwan. “Tidak usah kaget begitu! Biasa saja. Kamu tahu kan jika kami bersama Papa mertuamu, jadi Ragarta memintaku menjemputmu,” jelas Ridwan. “Oh, begitu! Terima kasih.” Ridwan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik ke arah Viana, yang tengah sibuk bermain ponselnya. Sebenarnya Ridwan kasihan dengan Viana, gadis baik namun keras kepala itu harus terjebak pernikahan dengan sahabatnya yang sedikit tidak pintar dalam memahami arti kata cinta. Dan Ridwan juga tahu kehidupan Viana seperti apa, karena dia telah melakukan pencarian soal Viana atas perintah Diandra, jadi sedikit banyak Ridwan tahu kehidupan Viana. “Sudah sampai, silakan turun,” ucap Ridwan. “Ah, iya. Terima kasih, Rid,” ucap Viana seraya membuka pintu mobil. “Sama-sama, aku pergi dulu,” ucap Ridwan. Viana pun berjalan memasuki area apartemen Ragarta, sesampainya di depan pintu dia memasukkan kode di pintu dan setelah terbuka barulah dia masuk. “Bagus ya, magrib belum pulang dan sekarang baru pulang!” ucap Ragarta yang tengah berdiri bersandar di dinding depan pintu masuk. “Maaf!” ucap Viana. “Apa kamu lupa statusmu sekarang?” “Saya masih ingat, status saya hanya sebagai pengantin pengganti,” ucap Viana. “kamu!” “Maaf, saya harus membersihkan apartemen ini, permisi,” ucap Viana dan meninggalkan Ragarta yang tengah kesal. Namun belum juga Viana masuk kamarnya, tiba-tiba Ragarta mencekal pergelangan tangannya, dan menariknya hingga menabrak bagian depan tubuh Ragarta. “Mau apa Anda? Lepaskan tangan saya,” Viana mencoba berontak, namun badannya kalah besar dengan Ragarta. “Kenapa? Apa kamu tahu hukum menolak suami? Bukannya kamu sudah sering di sentuh oleh Ridwan?” ucap Ragarta, dan hal itu membuat Viana marah dan geram. Buggh!! Viana menendang perut Ragarta dan berhasil melepas cengkeraman di tangannya. Tidak berhenti di situ Viana menghajar Ragarta dengan membabi buta. Karena dia sangat tersinggung dengan ucapan Ragarta. “Ampun, Vi! Hentikan!” teriak Ragarta. “Aku lebih suka masuk penjara karena menghajar mu daripada diam dan masuk dalam fitnah mu!” ucap Viana pada Ragarta. Ragarta hanya diam seraya mengusap pipinya akibat mendapatkan tendangan dari Viana. “Sekali lagi kamu, menyebutku seperti itu jangankan pipimu, seluruh wajahmu akan aku hancurkan, dan aku tidak takut meskipun kamu anak orang kaya,” ucap Viana tegas. Braakk!! Viana membanting pintu dengan keras meninggalkan Ragarta yang tengah menahan rasa sakit di pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD