Bab. 17

1526 Words
Saat Viana masuk ke dalam apartemen, terlihat lampu masih menyala, dan memperlihatkan sosok Ragarta yang memangku laptop tengah duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tamu, seperti tengah mengerjakan sesuatu dan tampak serius. "Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Viana. "Tidak usah sok, baik deh! Sebaiknya kamu urusi saja diri kamu sendiri," ucap Ragarta. "Baiklah," jawab Viana dia lantas pergi menuju kamarnya. "Apa kamu tidak ingin meminta maaf?" tanya Ragarta. Viana menghentikan langkahnya dan menoleh. " Meminta maaf? Apa aku mempunyai kesalahan?" "Kamu pulang sampai jam segini, dan tadi kamu pulang sama siapa?" ucap Ragarta. "Apa pedulimu?" "Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaan ku?" "Aku hanya akan menjawab pertanyaan mu jika itu berhubungan dengan kewajiban ku," jawab Viana. "Kam–." "Sudah simpan saja amarahmu, jangan pedulikan aku, begitu juga denganku," ucap Viana. "Jika Ariana yang menjadi istriku, aku akan bahagia, karena dia tidak sepertimu." "Nyatanya dia tidak mau menikah denganmu, dan memilih untuk pergi meninggalkanmu, mungkin kamu berpikir akan bahagia bersama Mbak Ariana, tapi Mbak Ariana tidak merasa bahagia denganmu, makanya dia meninggalkanmu," ucap Viana. "Jaga ucapan mu! Atau sebenarnya kamu yang meminta Ariana pergi agar bisa menjadi menantu keluargaku!" tuduh Ragarta. Ingin rasanya Viana memukul mulut laknat Ragarta, tapi dia tidak melakukannya karena dia tidak mau menjadi istri durhaka, yah sebenarnya dia sudah durhaka pada suaminya tapi setidaknya dia tak ingin main tangan. Cukup makan hati saja, eehhh main hati saja. Ehem! Skip... "Maaf, Tuan Ragarta yang terhormat, jika anda benar-benar orang yang terhormat maka berpikirlah seperti orang terhormat, jika aku ingin menikah tentu dengan orang yang aku cintai, bukan dengan orang seperti Anda yang suka menuduh tanpa bukti," ucap Viana. "Ingat ya aku akan segera–." "Menceraikan ku setelah Mbak Ariana datang? Kelamaan Tuan, bagaimana kalau sekarang Anda talak saya? Dan besok saya akan memberi tahu Mama, ah Bu Diandra, dan mengatakan jika saya mencintai pria lain," ucap Viana menantang Ragarta. "Kamu!" geram Ragarta. "Saya memang berbeda dengan Mbak Ariana, dia bisa lepas dari Anda sementara saya, astagfirullah banget. Ya sudah, saya mau ke kamar dulu, pikirkan baik-baik ucapan saya." Arrgggghh!!!! Ragarta mengacak rambutnya, dia frustasi mendengar ucapan Viana, bisa-bisanya gadis itu mengatakan hal dengan begitu mudah apa yang ada dalam pikirannya? Memang Ragarta ingin bercerai dari Viana saat Ariana kembali, tapi tidak sekarang juga, pernikahan mereka belum ada satu bulan, dan jika itu terjadi, maka Mamanya akan mencincang habis Ragarta. "Apa tadi dia bilang Astagfirullah? Dia pikir dia siapa? Benar-benar membuatku pusing," ucap Ragarta. Dan dia menutup laptopnya lalu memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras. Sementara Viana, dia menangis di dalam kamarnya, bukan menangis karena Ragarta akan kembali pada Ariana tapi dia menangis karena dituduh sebagai penyebab kepergian Ariana, jangankan meminta Ariana pergi, berbicara saja mereka pasti bertengkar beda pendapat. Entah apa yang dipikirkan oleh Ragarta dan Ibunya, kenapa mereka bisa menuduh Viana seperti itu? Ingin rasanya Viana marah dan meraung kepada Ibunya dan Ragarta saat mereka menuduh nya, tapi entah mengapa hal itu tidak dilakukannya. Rani sang sahabat juga sering mengompori agar Viana bisa marah pada orang yang telah menyakiti hatinya, namun Viana tak pernah melakukannya. Setelah puas menangis Viana pergi kekamar mandi dan mulai membersihkan diri sebelum dia bersujud kepada yang Khalid. Viana selalu berdoa agar dia bisa mendapatkan kesabaran dan juga rasa kuat dalam hati dan dirinya, Viana juga berharap suatu saat Ibunya akan menyayangi dirinya seperti seorang ibu lainnya. Setelah selesai dengan sesi curhatnya, Viana merasa lapar dan dia memutuskan untuk ke dapur dan mengambil makanan dalam lemari pendingin dan memanaskannya sebelum dia santap. Viana melihat jam di dinding dan waktu hampir tengah malam, namun Viana tak peduli dia sangat lapar dan ingin makan meskipun ini sudah malam. Jam di nakas menunjukkan angka dua puluh tiga, namun Ragarta belum juga memejamkan mata, dia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Namun yang pasti pikirannya terasa begitu gelisah, apalagi saat bayangan Ariana yang tengah tertawa namun dengan cepat tergantikan oleh wajah jutek Viana. "Tuh gadis kenapa sih muncul di otakku? Menyebalkan," gerutu Ragarta. Ragarta memutuskan keluar kamar dan berniat mengambil air, namun saat keluar Ragarta melihat lampu dapur sedang menyala dan terlihat Viana tengah makan seraya memainkan ponselnya. Ragarta tidak peduli dia terus berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil air di sana. Viana menghentikan suapannya saat menyadari jika Ragarta tengah mengambil air, namun hanya sekejap setelahnya Viana tidak peduli dia melanjutkan makannya dengan nikmat. Melihat Viana makan di jam seperti ini Ragarta sedikit heran, setahunya setiap wanita itu antipati dengan yang namanya makan di saat malam namun ini, Viana malah asyik makan dan makan nasi pula. "Apa lihat-lihat? Mau?" tanya Viana saat menyadari jika Ragarta memperhatikan dirinya. "Ogah!" ucap Ragarta seraya pergi meninggalkan Viana. "Lagian aku cuma menawarkan, gak mau ngasih juga," gerutu Viana. Setelah kenyang Viana mencuci piring kotornya dan setelahnya dia kembali ke kamar untuk istirahat. Saat sampai di kamarnya dia ingin beristirahat, namun terdengar suara pintu kamarnya diketuk, dia yakin itu pasti Ragarta. Siapa lagi Viana di sana hanya tinggal berdua saja dengan pria itu. "Ada apa?" tanya Viana saat sudah membuka pintu kamarnya. "Mama tadi menelpon katanya besok kita disuruh ke sana pagi-pagi, karena Mama ingin sarapan bareng kita," ucap Ragarta. "Hah, ini kan sudah malam kenapa Beliau menelpon di jam segini?" "Mama teleponnya tadi, dan karena kamu pulang malam dan tadi mengajakku berdebat, jadi aku lupa mengatakan padamu," ucap Ragarta. "Iya." Ragarta lantas meninggalkan kamar Viana dan kembali ke kamarnya sendiri. . "Akhirnya kalian datang juga," ucap Diandra. "Maaf, Ma, baru mengunjungi Mama sekarang," ucap Viana seraya mencium kedua pipi mertuanya itu. "Gak apa-apa Sayang, seharusnya yang meminta maaf itu dia bukan kamu," ucap Diandra seraya menunjuk ke arah Ragarta yang tengah duduk bersama Papanya. "Kok jadi aku yang disalahkan sih, Ma?" ucap Ragarta tak terima. "Memang kamu yang salah kok!" "Dimana letak salahku, Ma?" "Letak kesalahanmu itu, tidak pernah mengunjungi Mamamu, gar," ucap Danang. "Ya, itu karena kita sibuk, Pa!" ucap Ragarta. "Sibuk bikin cucu buat kami ya?" ledek Diandra. Padahal dia tahu seperti apa hubungan keduanya. "Mama, apaan, sih?" jawab Viana. "Sudah-sudah, ayo kita sarapan, kalian pasti belum makan kan?" ucap Danang. "Belum, Pa," jawab Ragarta. Mereka pun berjalan menuju meja makan dan menikmati sarapan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. "Papa berangkat bareng kamu ya, Gar?" tanya Danang. "Loh, mobil Papa kenapa?" "Apa Papa tidak boleh bareng kamu?" "Boleh sih, Pa!" ucap Ragarta. "Ya Sudah." "Sayang kamu hari ini mau kemana?" tanya Diandra pada Viana. "Mau ke restoran, Ma," jawab Viana. "Gak usah ya? Kita belanja saja hari ini habiskan uang suami kita," ucap Diandra dengan menaik turunkan alisnya. Ragarta melotot ke arah Mamanya, sementara Viana merasa tidak enak mendengar ajakan Diandra. "Tidak usah, Ma," tolak Viana. "Kenapa? Apa suamimu itu tidak memberikanmu uang belanja?" "Bukan Ma, dia memberiku kartu ATM malahan, ini kalau Mama tidak percaya," jawab Viana seraya memperlihatkan sebuah kartu berwarna abu-abu kepada Diandra. "Ya, sudah buat belanja yuk, Mama sudah lama nih, tidak belanja." "Tapi, Ma!" "Sudah ikuti saja kemauan Mama mu sebelum dia menyeret mu dengan paksa," ucap Danang. Viana melirik ke arah Ragarta, dan Ragarta mengangguk. "Baiklah, Ma," ucap Viana. "Nah gitu dong." "Ya sudah, kami berdua berangkat dulu," pamit Danang. Pletak!! "Aduh apaan sih, Ma?" tanya Ragarta yang heran karena sang Mama tiba-tiba menjitak kepalanya. "Kamu gak lihat yang kami lakukan?" "Maksud Mama?" "Biarkan istrimu salim, lalu cium kening dia!" ucap Diandra. "Tidak perlu Ma," ucap Ragarta seraya berlalu. "Dasar." "Sudahlah, Ma. Jangan paksa mereka," ucap Danang. Setelah Danang dan Ragarta kini tinggallah Diandra dan Viana, mereka duduk di teras setelah mengantarkan suami mereka. "Vi, apa kamu tertekan dengan pernikahan ini?" tanya Diandra. "Jika jawab, Iya, kenapa Ma?" "Maafkan Mama," ucap Diandra. "Ma, jika nanti Mbak Ariana pulang, ijinkan kami berpisah, dan biarkan Ragarta dan Mbak Ariana kembali bersama," ucap Viana. "Apa itu yang kamu inginkan?" "Iya, Ma!" jawab Ariana. "Kenapa?" "Karena tempatku bukan disini, Ma." "Sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi menantu Mama, jangan membantah lagi," ucap Diandra. "Tapi itu tidak mungkin, Ma." "Lupakan Vi, jangan membicarakan hal itu, ayo kita berangkat." "Baik, Ma." "Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Ragarta menceraikan mu, Vi, meskipun Ariana kembali," batin Diandra. Mereka pun berangkat berbelanja ke pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Di sepanjang perjalanan Diandra bercerita banyak hal tentang masa kecil Ragarta, Viana hanya tersenyum mendengar cerita mertuanya. Sebenarnya Viana merasa nyaman saat bersama Diandra, namun dia tidak ingin terus berharap karena dia tahu jika itu tidak akan lama, meskipun tadi Diandra sudah mengatakan jika sampai kapanpun dia akan jadi menantunya, Viana tetap saja tidak mau berharap. Lagi pula Viana juga sama sekali tidak tertarik dengan Ragarta, dia juga ingin bahagia bersama orang yang dia cintai dan juga mencintai dirinya kelak. "Sayang, kita sudah sampai, Ayo turun." ucapan Diandra membuyarkan lamunan Viana, namun Viana pun turun dan berjalan di samping Diandra. "Kamu mau beli apa sayang?" tanya Diandra. "Aku tidak ingin membeli apapun, Ma," jawab Diandra. "Gak mau tahu, pokoknya kamu harus membeli sesuatu agar uang suami kamu itu berkurang," ucap Diandra. Viana menghela nafasnya, mertuanya ini ternyata keras kepala sekali, meskipun Viana menolak, namun ujung-ujungnya tetap saja dia harus menuruti kemauan mertuanya itu. "Ya, ampun, punya mertua gini amat ya? Anak dan Mama sama-sama sak karepe dewe." batin Viana. . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD