Apa yang membuatku merasa bahagia? Jawabanku adalah, selalu merasa bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Dan memberikan hak kepada yang lebih berhak mendapatkan sebuah hak."
Emak Ilyas
Pagi terlihat sedikit terlihat mendung, udara dingin menyeruak masuk kedalam pori-pori kulit, hembusan angin yang semilir menambah dingin di pagi ini. kicauan burung-burung yang merdu terdengar begitu indah di telinga siapapun yang mendengarnya, ditambah gemericik air sungai yang mengalir menerpa setiap bebatuan kecil yang menghalangi alirannya, sungguh nikmat Tuhan yang sangat indah dan tiada tara, tak kan ada yang bisa menyerupai keindahan ciptaanNYA.
Suasana Desa yang sangat menenangkan membuat seorang gadis cantik tersenyum dan melupakan segala yang selama ini menjadi beban pikirannya, rambutnya yang hitam sebahunya dibiarkan tergerai dan berterbangan mengikuti angin yang menerpanya, sesekali dia menyibakkan ke belakang telinganya, dia duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai kecil seraya menatap indahnya suasana Desa. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya, sejauh ini tidak ada yang mengetahui keberadaan dirinya.
"Nak, kamu kenapa ada di sini? Ayo pulang," ucap seorang wanita paruh baya.
"Bude! Mengagetkan saja," ucap gadis itu.
"Ayo pulang."
"Sebentar lagi, Bude."
"Selama ini kamu sering melamun, jika pikiranmu sudah jernih, kembalilah ke rumahmu, agar kamu bisa menyelesaikan segala kekacauan yang telah kamu buat."
"Sebentar lagi Bude. Aku hanya ingin melihat dia bahagia," jawab gadis itu.
"Apa kamu benar-benar merelakan dia bersama orang lain?"
"Sebenarnya sejak awal aku sadar dia bukanlah takdirku, hanya saja waktu itu egoku lebih besar daripada rasa kemanusiaan ku, namun setelah aku membuka mata dan melihat bahwa dia bukan takdirku, aku memilih mengalah, ah, bukan mengalah, tepatnya memberikan tempat kepada yang berhak," ucap gadis itu.
"Bagaimana jika dia benar-benar mencintai kamu?"
"Tidak, Bude. Dia tidak mencintaiku, aku yakin itu, begitu juga denganku aku juga sama sekali tidak mencintai dia,"
"Jika itu yang membuatmu senang aku selalu mendukungmu, dan tolong jangan melukai hati siapapun, hentikan sebisa mungkin setiap kebencian."
"Iya, Bude. Aku akan pulang dan mencoba menempatkan semua pada tempatnya, dengan sedikit drama, mungkin?" ucap gadis itu seraya tertawa.
Kedua wanita beda usia itu kini berdiri dan pergi meninggalkan sungai dan kembali ke rumah mereka.
.
"Mama? Kenapa ada di sini?" tanya Ragarta saat Diandra tiba-tiba bertamu ke apartemennya.
"Lah, Mama ada di sini ya untuk mengunjungi anak dan mantu Mama lah," jawab Diandra.
"Maksud aku kenapa Mama gak telpon dulu."
"Memang kenapa kalau Mama telpon dulu?"
"Ya kan kita bisa menyiapkan sesuatu untuk Mama," ucap Ragarta.
Sebenarnya bukan itu yang dimaksud Ragarta, dia hanya takut jika sang Mama akan marah saat tahu jika dia dan Viana tidur pisah kamar.
"Tidak perlu. Mana mantu Mama?"
"Dia ke kostan lamanya, Ma," jawab Ragarta.
"Kok gak kamu antar?"
"Tadi mau aku antar tapi di–."
"Assalamualaikum!" ucap Viana yang baru datang.
"Waalaikumsalam."
"Dari mana Sayang?" tanya Diandra.
"Ketemu Rani, Ma."
"Rani anaknya Maya?" tanya Diandra.
"Iya. Oh iya kapan Mama sampai? Mau aku buatkan makanan, Ma?" tanya Viana.
"Tidak perlu Sayang, Mama hanya ingin berbicara kepada kalian berdua," ucap Diandra.
Ragarta dan juga Viana tanpa sadar saling pandang mendengar ucapan Diandra, namun segera memalingkan wajah masing-masing.
"Baik, Ma. Aku mau ganti baju dulu, soalnya tadi ketumpahan jus," ucap Viana.
"Iya Sayang."
Viana pun masuk ke kamarnya dan segera berganti baju. Sedangkan Ragarta kini tengah duduk di ruang tamu bersama Mamanya.
"Bagaimana, Gar?" tanya Diandra.
"Apanya, Ma?"
Pletak!!
"Aw! sakit, Ma!" ucap Ragarta seraya mengelus jidatnya yang mendapat jitakan dari sang Mama.
"Bagaimana hubunganmu dengan Viana?"
"Yang Mama mau kita harus seperti apa?" tanya Ragarta.
"Apa kamu tidak bisa membuka hatimu untuk Viana?"
"Tolonglah, Ma. Jangan paksa Ragarta."
Ceklek!!
Terdengar Viana tengah membuka pintu, tampak dia sudah berganti baju, namun Viana tidak langsung duduk bergabung bersama Ragarta dan Diandra, namun dia berjalan menuju dapur dan mengambil minuman.
"Ma, silahkan diminum. Maaf Viana hanya punya teh madu saja," ucap Viana.
"Tidak apa-apa sayang, sini duduk."
"Iya, Ma."
"Maafkan Mama sebelumnya, atas paksaan Mama, kalian harus menikah, tapi apapun alasan kalian menikah, Mama berharap kalian bisa menerima satu sama lain," ucap Diandra.
"Ma–."
"Mama mohon, Nak," ucap Diandra.
"Ma, maafkan Viana. Mama bisa paksa kita untuk menikah, tapi Mama tidak bisa paksa hati kita. Aku minta doa dari Mama, agar kita berdua baik-baik saja," ucap Viana.
"Mama berharap kalian bisa bersatu untuk selamanya," doa Diandra.
"Amiiinnn!" Ragarta terbelalak mendengar Viana mengaminkan doa Diandra.
"Apa maunya anak ini? Bisa-bisanya dia mengaminkan ucapan Mama, apa dia benar-benar berharap pernikahan ini akan berjalan selamanya? Aku tidak sudi, jika terjebak pernikahan selamanya denganmu," batin Ragarta.
Setelah beberapa lama, Diandra pun berpamitan untuk pulang.
"Maksud kamu mengaminkan ucapan Mama apa?" tanya Ragarta pada Viana saat Diandra sudah pulang.
"Sesuai keinginan kamu! Bukannya kamu meminta agar kita bersikap layaknya suami istri? Lalu apa aku salah hanya mengaminkan sebuah doa? Dan aku juga sama sekali tidak tulus dalam mengucapkan doa tersebut," jawab Viana.
"Jangan macam-macam kamu dan jangan mencoba mencari perhatian, apalagi pada Mama," ucap Ragarta.
Bukannya takut atau merasa tidak enak hati atas ucapan Ragarta, Viana malah biasa saja. Justru dia berlalu menuju dapur menaruh gelas dan langsung masuk ke kamarnya, tanpa mempedulikan Ragarta. Hal itu membuat Ragarta kesal karena Viana selalu mengabaikan ucapannya.
"Kenapa dia itu selalu mengabaikan setiap ucapanku?" gumam Ragarta.
Dan Ragarta juga masuk ke kamarnya berniat untuk tidur siang, sebenarnya di hari libur seperti ini, Ragarta akan pergi ke rumah orang tuanya, namun entah mengapa hari ini dia sangat malas untuk pergi ke sana. Setelah menikah dengan Viana, Ragarta berniat membuat gadis itu sengsara ataupun tidak nyaman, tapi sepertinya hal itu akan sulit, karena Viana orangnya sangat cuek, tegas dan juga tidak mudah diintimidasi, meskipun Ragarta bersikap dingin ataupun ketus, Viana seperti tidak peduli, entah apa yang ada dalam pikiran Viana, di saat wanita lain tergila-gila kepada Ragarta dan ingin menjadi pasangannya, Viana justru bersikap sebaliknya, seperti tidak peduli akan keberadaan Ragarta. Setelah berselancar dengan pikirannya, Ragarta akhirnya tertidur cukup lama dan dia terbangun saat mendengar ada orang yang tengah berbincang di luar.
"Kenapa tidak kamu bangunkan saja dia, Rid?" tanya Viana pada Ridwan.
"Tidak perlu, biarkan saja dia bangun dengan sendirinya, aku hanya ingin bertemu denganmu dan berbincang sebentar saja," ucap Ridwan pada Viana, Ridwan sengaja berbicara seperti itu karena dia melihat sosok Ragarta yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Untuk apa kamu menemui ku?" tanya Viana.
"Hanya ingin mengenal istri dari sahabatku saja."
"Begitu ya? Ya sudah kamu tunggu saja dia bangun, aku akan ke restoran dulu," ucap Viana.
"Ini sudah jam tiga sore, lagi pula ini kan hari libur, kenapa kamu harus ke restoran?'
"Hari ini restoran tengah disewa seorang pria untuk melamar kekasihnya, jadi aku di minta untuk ke sana dan membantu mempersiapkan beberapa keperluannya," jawab Viana.
"Segitu dibutuhkannya kah kamu di sana?" tanya Ridwan lagi.
"Sebenarnya tidak, tapi aku di minta ke sana jadi aku menurut, jika tidak aku akan dipecat," jawab Viana seraya terkekeh.
"Apa perlu aku antar?"
"Tidak, terima kasih."
Viana pun pergi meninggalkan Ridwan dan dia segera keluar dari area apartemen dan berangkat menuju restoran milik mertuanya itu.
"Apa kamu tertarik pada gadis itu?" tanya Ragarta pada Ridwan.
"Ah, kamu sudah bangun ternyata! Ya dia sangat menyenangkan, dan lihat tadi senyumannya sangat manis. Aku jadi ingin punya istri seperti dia," jawab Ridwan.
"Ambil saja jika mau," ucap Ragarta ketus.
"Wah, apa Anda ikhlas Tuan Ragarta?" goda Ridwan.
"Aku tidak peduli! Katakan ada perlu apa kamu datang kemari?"
"Ada perlu apa katamu? Coba kamu ingat-ingat!"
"Gak usah ber tele-tele kalau ngomong," ucap Ragarta.
"Tukar mobil lah, nih mobil kamu ada di bawah, dan sekarang mana kunci mobil aku?"
"Tuh, di belakang pintu," ucap Ragarta.
"Ya sudah aku permisi dulu kalau gitu," Ridwan pun pamit untuk pergi.
"Pergi sana!" usir Ragarta.
Sepeninggalan Ridwan, Ragarta menuju dapur dan ingin minum namun urung saat melihat makan yang tersaji di atas meja.
"Dasar penjilat, katanya tidak peduli tapi masih saja seperti ini, apa coba tujuannya memasak seperti ini?" cibir Ragarta seraya pergi ke kamar dan membersihkan diri sore ini Ragarta berniat jalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya.
Sementara Viana dia sudah sampai di restoran dan mulai mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan.
"Wah, selesai juga! Tinggal tunggu sang pemeran utama datang," ucap salah satu teman Viana.
"Acaranya jam berapa, Mbak?" tanya Viana.
"Katanya jam tujuh, sekarang masih jam setengah tujuh."
"Syukurlah semua sudah selesai, Mbak," ucap Viana.
Viana pun duduk beristirahat sejenak seraya menunggu sang penyewa restoran datang. Dan waktu yang ditunggu pun tiba, acara lamaran pun dilangsungkan, Viana menatap kedua pasangan kekasih itu dengan bahagia, terlihat pancaran kebahagiaan di wajah sang wanita ketika kekasihnya menyatakan keinginan untuk menikahinya.
"Vi, kapan ya kita bisa seperti itu?"
"Setelah kamu punya pacar lah," jawab Viana seraya tertawa.
"Ih dasar kamu ini!" ucap temannya seraya cemberut.
Mereka biasa bercanda seperti itu dan hal itu yang membuat Viana sangat senang bekerja di tempat ini, orang-orang di sana sangat menghargai setiap temannya, tidak saling menindas, dan juga saling menghargai satu sama lain.
Setelah acara selesai, Viana pun akan pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dia mendesah pelan saat sadar di jam seperti ini angkutan umum sudah pasti jarang yang beroperasi.
"Vi, apa kamu mau pulang?"
"Iya, Mbak. Memangnya kenapa?"
"Ini kan sudah malam, bagaimana jika kita menginap saja di sini?" ucap temannya itu.
"Aku tidak bisa Mbak, jawab Viana.
"Ya sayang sekali, padahal hampir semua teman kita menginap, kecuali yg sudah menikah mereka tidak akan mau meninggalkan pasangannya." Viana hanya tersenyum mendengar ucapan temannya tersebut.
Viana ingin memesan taksi namun handphone miliknya mati karena kehabisan daya, akhirnya mau tidak mau dia menunggu di depan restoran berharap ada taksi yang lewat. Setelah tiga puluh menit tidak ada tanda-tanda taksi yang lewat.
"Apa aku menginap di restoran? Tapi besok kan aku sif siang, tapi ini apa? Tidak ada kendaraan umum yang lewat," gerutu Viana.
Tin! Tin!
Viana melihat sebuah mobil yang tengah berhenti di depannya, setelah sang pemilik mobil membuka kaca, Viana tersenyum.
"Vi, ayo masuk aku antar pulang."
Viana pun masuk kedalam mobil itu.
"Terima Kasih atas tumpangannya, Rid," ucap Viana pada Ridwan.
"Biasa saja, hanya tumpangan saja, lagi pula kita satu arah."
"Kamu dari mana, Rid," tanya Viana saat mobil Ridwan mulai melaju.
"Dari rumah saudara Mama."
Viana hanya ber oh ria.
"Vi, maaf jika aku lancang, tapi apa kamu benar-benar akan bertahan dengan Ragarta?" tanya Ridwan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Viana.
"Sebenarnya dia itu baik dan juga bertanggung jawab, apalagi saat dia mengenal Ariana, dia seperti menemukan kehidupan baru," ucap Ridwan.
"Benarkah? tapi aku tidak peduli." jawaban Viana itu sukses membuat Ridwan membelalakkan matanya.
"Ya, Allah! Kenapa kamu saja dengan si Ragarta itu, kalian cuek banget. Pantas saja kalian bisa menikah sifat dan kelakuan kalian sama! Sama-sama menyebalkan!" gerutu Ridwan.
"Heiii, jangan samakan aku dengan manusia itu! Enak saja," ucap Viana.
"Sudahlah, bagiku kalian sama saja!'
"Kam– ."
"Turun, kita sudah sampai di apartemen mu," ucap Ridwan memotong ucapan Viana, saat mobilnya tengah berhenti di area apartemen Ragarta.
"Apartemen Ra-Gar-Ta! Bukan punyaku!' ucap Viana mengoreksi ucapan Ridwan.
"Terserah kamu saja, Bu Bos!" ucap Ridwan seraya terkekeh, dan segera meninggalkan Viana yang tengah kesal pada kelakuan Ridwan.