Bab. 15

1713 Words
Pagi hari yang sangat cerah, indah dan juga. Bagi semua orang suasana seperti ini bisa membuat semangat meningkat, namun tidak dengan Ragarta, paginya sangat menyebalkan, dimana dia harus menerima kenyataan dirinya kini tinggal dengan seorang wanita yang tidak lain adalah istrinya, seharusnya Ragarta tengah bahagia dengan Ariana, namun entah kemana wanita yang seharusnya menjadi istrinya? “Ngapain kamu?” tanya Ragarta yang tengah melihat Viana tengah memasak. “Anda tidak melihat apa yang sedang saya lakukan?” “Apa mulut kamu itu di cetak untuk menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?” ucap Ragarta kesal. Viana hanya diam tidak menjawab ucapan Ragarta, dia melanjutkan acara memasaknya. “Dasar!” gerutu Ragarta. “Saya sudah bilang, jika sebaiknya kita tidak saling menyapa, dan anggap saja kita tidak saling mengenal,” ucap Viana. “Jangan GR kamu, siapa yang mau menyapamu, aku hanya kaget saja tiba-tiba ada makhluk lain di apartemen milikku. Viana tidak menggubris ucapan Ragarta, dia justru mulai makan tanpa menawarkan pada suaminya itu. Ting! Tong! Terdengar suara seseorang memencet bel apartemen, dan Ragarta segera membukanya, ternyata Ridwan yang tengah datang untuk menjemput atasannya. “Akhirnya kamu datang juga, ayo berangkat,” ucap Ragarta. “Kamu tidak berpamitan pada istrimu?” tanya Ridwan. “Tidak penting,” jawab Ragarta. Mereka pun pergi menuju kantor dan tanpa berpamitan pada Viana, namun Viana tidak peduli akan hal itu karena dia juga akan berangkat bekerja. Entah apa yang akan di katakan oleh para teman-temannya nanti, dia libur selama lima hari, sebenarnya dia ijin libur tiga hari, namun karena insiden nikah kagetnya dengan Ragarta membuatnya harus libur beberapa hari lagi. Kini Viana tengah berada di restoran tempatnya bekerja, Viana tersenyum kala mengingat jika tempatnya bekerja adalah milik mertuanya, lucu! “Vianaaaa!!” teriak beberapa teman kerjanya seraya berlari dan ingin memeluk dirinya. “Vi, kamu kok ijinnya lama. Kemana saja?” tanya salah satu temannya. “Lebay banget sih, Mbak. Orang Cuma ijin dua hari saja,” jawab Viana. “Dua hari gundulmu kuwi! Kamu kan ijin mulai hari Kamis, dan sekarang hari rabu.” Ketika Viana akan menjawab sang manajer menegur semua yang tengah menginterogasi Viana untuk segera bekerja, karena sebentar lagi restoran akan buka. . Sementara di tempat lain, Ragarta tengah melakukan rapat bersama para rekan bisnisnya, sebagai anak dari pemilik perusahaan besar, Ragarta di tuntut harus profesional dan juga cekatan, Danang sang Ayah sudah mengangkatnya menjadi CEO meskipun demikian sang Ayah masih mengawasinya dan selalu mengikuti kegiatan penting perusahaan. Dari kecil Ragarta di didik mandiri dan juga bertanggung jawab serta menghormati orang tua, jadi Ragarta tidak pernah semena-mena terhadap para pegawainya. para pegawainya juga sangat suka pada Ragarta terutama staff wanita, siapa yang tidak menyukai seseorang Ragarta Setyo Anam? Wajah tampan dan perawakan yang atletis dengan hidung mancung serta senyum yang tak pernah luput dari bibirnya saat berpapasan dengan para pegawainya, siapapun akan terlena melihatnya. eits kecuali Viana, dia tidak akan terlena oleh senyum Ragarta, gimana mau terlena lha wong Ragarta tak pernah senyum pada Viana. he he he “Rapat kita akhiri sampai di sini, dan kalau ada yang kurang jelas bisa tanyakan pada asisten atau sekretaris saya,” ucap Ragarta menutup rapatnya. Semua orang pergi meninggalkan ruang rapat kini tinggal Ragarta dan Ridwan, mereka masih membereskan sisa rapat sebelum meninggalkan tempat itu. “Bagaimana, Rid? Apa kamu menemukan kemana Ariana pergi?” tanya Ragarta saat mereka tengah makan siang di sebuah kafe. “Sepertinya dia pergi ke luar pulau,” jawab Ridwan. “Apa kamu tahu kemana dia pergi?” “Aku belum memeriksa semua penerbangan ataupun pelabuhan, baru beberapa saja.” “Aku ingin kamu mencarinya terus.” “Bagaimana dengan Viana? Dia sudah menjadi istri sah mu,” tanya Ridwan. “Aku tidak peduli dengan dia, aku juga akan mencari tahu apakah Viana terlibat dengan kepergian Ariana,” ucap Ragarta. “Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu terhadap Viana?” “Kamu tahu sendiri, Ariana tidak mendaftarkan pernikahan kami dia malah mendaftar pernikahanku dengan Viana, menurutmu apa Ariana sengaja melakukan itu, pasti Viana telah memaksanya, kami pernah bertemu sebelum Ariana pergi, dan tatapan Viana pada Ariana terlihat seperti kebencian, kurasa karena mereka saudara tiri, jadi Viana bersikap seperti itu.” “Jangan berburuk sangka dulu, sebaiknya kamu benar-benar mencari kebenarannya dulu, tanyakan pada orang tuanya saja,” ucap Ridwan. “Aku pikirkan nanti saja,” jawab Ragarta. Mereka pun melanjutkan makan siang, setelah itu mereka kembali ke kantor dan kembali berkutat dengan berbagai map berisikan dokumen yang seperti tiada habisnya. Malam menjelang, waktu menunjuk di angka tujuh lebih lima menit, Ragarta pun memutuskan pulang. Ragarta Pov. Pulang, satu kata yang dulu aku sukai saat lelah dari segala aktivitas seharian, kini ketika aku menyebut kata pulang, rasanya aku malas untuk pulang. Kenapa? Kalian pasti tahu kan alasan aku malas untuk pulang, ya tebakan kalian benar karena sekarang ada manusia lain di apartemen milikku, dia Viana istriku. Istri pengganti tepatnya, seharusnya Ariana yang ada di sana dan menungguku pulang memeluk dan tersenyum padaku. Ah, sudahlah lupakan! Setelah Ariana pulang aku pasti akan merasakan hal itu. “Kenapa tuh muka, kayak gitu?” tanya Ridwan padaku. “Ora usah, kepo,” jawabku. “Wes kono ndang balek.” ucap Ridwan dengan nada kesal. “Iya ini juga mau pulang,” jawabku. Aku pun melangkah pergi meninggalkan Ridwan sang asistenku, dia juga sahabatku kami berteman sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, dia baik dan kompeten kadang dia juga merangkap jadi sopir pribadiku. Sesampainya di apartemen terlihat sepi, apa Viana belum pulang? Bodo amat dia pulang atau tidak. Namun sebelum aku masuk ke kamar tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. “Siapa sih? Kalau Viana kenapa gak langsung masuk, dia kan tahu sandinya,” ucapku seraya berjalan menuju pintu. “Loh, Ibu?” ucapku setelah membuka pintu dan ada sosok Bu Rita di sana. “Halo, Nak.” “Masuk Bu,” ucapku. “Maafkan, Ibu, Nak!” ucapnya lirih. “Apa Ibu meminta maaf atas nama Ariana?” tanyaku. “Iya, Ibu yakin Ariana tidak bermaksud seperti itu, pasti Viana telah mengancam Ariana,” ucapnya. “Kenapa kalian bisa tidak tahu soal itu?” tanyaku dengan nada dingin, jujur saja aku masih kecewa dengan keluarga ini, aku merasa dipermainkan oleh mereka. “Kami benar-benar tidak tahu, Nak. Ariana tidak mengatakan apapun pada kami.” “Lalu kenapa kalian, terutama Ibu, tidak pernah mengatakan jika Viana adalah anak Ibu, justru waktu pertama kali saya datang ke sana Ibu mengatakan jika Ariana adalah anak kalian satu-satunya?” tanyaku. “Itu– karena Viana tidak pernah mau menganggap ku.” ucapnya terbata. “Setidaknya Ibu katakan yang sebenarnya, aku benar-benar merasa dipermainkan di sini, terutama orang tuaku, tapi lupakan saja, itu sudah berlalu. Sebisa mungkin Ibu cari tahu di mana Ariana sekarang,” ucapku. “Sekali lagi maafkan kami!” “Sudahlah, lupakan Bu.” “Kalau begitu Ibu permisi, jika kamu mendengar berita tentang Ariana, kabari Ibu.” Aku mengangguk, dan Bu Rita pergi meninggalkan apartemenku. Aku tidak tahu apa tujuannya datang ke mari, jika hanya ingin meminta maaf kenapa malam-malam begini, kenapa tidak dari kemarin. Ragarta Pov end. Setelah kepergian Bu Rita, Ragarta masuk ke kamarnya dan membersihkan diri, setelah selesai dia berniat untuk langsung tidur namun dia mendengar suara pintu tertutup menandakan ada yang datang, dia membuka pintu kamar dan melihat Viana baru pulang, dia melihat gadis itu tampak pucat, tanpa sepengetahuan Viana Ragarta terus memperhatikan dirinya. Terlihat Viana tengah meletakkan sebuah plastik berisikan beberapa obat, dan gadis itu mengambil air lalu meminum obat tersebut. “Banyak sekali obat yang dia minum?” gumam Ragarta. Ragarta bergegas menutup pintu kamarnya ketika Viana berjalan menuju kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Setelah Viana masuk kedalam kamarnya, Ragarta memutuskan untuk keluar dan duduk di ruang tamu seraya memainkan laptop miliknya. Tak selang lama terlihat Viana keluar dari kamarnya, terlihat dia tengah sudah berganti pakaian dia menggunakan baju tidur lengan panjang dan hijab instan berwarna biru muda serasi dengan bajunya. “Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya Viana saat melihat keberadaan Ragarta. “Tidak perlu. Dan jangan panggil aku dengan sebutan ‘Anda’,” ucap Ragarta. “Baiklah.” “Dan satu lagi, jangan mencoba mencari perhatian ataupun sok perhatian di hadapanku, lakukan tugasmu sendiri dan jangan pernah campuri urusanku,” terang Ragarta. “Aku tidak mencampuri urusanmu, aku hanya menanyakan ‘apa kamu membutuhkan sesuatu?’ dan aku tidak pernah mencoba mencari perhatian darimu,” ucap Viana seraya pergi menuju arah dapur. “Dan kita harus tetap bersikap selayaknya suami istri di depan Mama dan Papa,” ucap Ragarta. “Baiklah, dan satu lagi, seburuk apapun hubungan kita, ah tepatnya pernikahan ini, ijinkan aku tetap melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri, dalam artian membersihkan rumah dan juga mencuci baju dan lainnya,” ucap Viana. “Terserah, aku tidak peduli,” jawab Ragarta seraya pergi menuju kamarnya. “Kamu pikir aku juga peduli? Tidak sama sekali. Menjadi istri yang baik? Sebenarnya ogah banget, tapi kewajiban istri jika tidak ku jalankan aku yang dosa, menyebalkan,” gerutu Viana. Dia pun berjalan menuju kamarnya dia ingin beristirahat, dia pulang malam karena dia tadi pergi menemui dokternya untuk mengambil resep obat, badannya mulai sakit lagi, untung Rani sang sahabat tahu jadwal kontrolnya jadi bisa datang tepat waktu ke rumah sakit untuk mengambil resep, Dokter Veronica selalu menyarankan agar Viana istirahat, namun Viana tetap ingin bekerja, dia tidak mau bergantung pada keluarga Ragarta, dia sadar siapa dirinya dan tempatnya, dia hanya pengganti yang sewaktu-waktu sang pemilik tempat akan datang untuk mengusirnya. “Dan untuk sekarang aku akan mencoba sebisa mungkin bertahan dan juga mencoba menjadi istri yang baik, baik dalam mengurus rumah, ya RUMAH! bukan rumah tangga, sampai Mbak Ariana kembali,” ucap Viana menyemangati dirinya sendiri. Viana bergegas tidur agar besok bisa bekerja dengan semangat, dia akan melupakan status barunya, agar dia tidak merasa terbebani. Dan kini dia sudah mulai pergi ke alam mimpi, dan melupakan urusan dunia nyata yang begitu sangat melelahkan baginya. Meski dia terlihat kuat dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidupnya, tak ada yang tahu jika Viana sering menangis saat menghadap sang Illahi dalam sujud nya. Dia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya kepada siapa pun, karena dia tidak ingin orang lain ikut bersedih karena keadaannya, hanya Rani yang sering melihatnya menangis, namun itu juga secara tidak langsung, di hadapan sahabatnya itu Viana juga berusaha kuat, meskipun Rani tahu jika dirinya sangatlah rapuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD