Siapa yang menyangka jika takdir akan sangat mengejutkan, begitu juga dengan Viana, dia tidak menyangka jika dia sudah sah menjadi istri dari Ragarta Setyo Anam, yang tak lain adalah calon kakak iparnya. Viana tidak habis pikir kenapa Ariana bisa mendaftarkan pernikahan atas nama dirinya dan juga Ragarta.
“Apa Mbak Ariana sengaja melakukan ini agar aku tambah menderita? Benar-benar sangat menjengkelkan,” gerutu Viana.
Kini Viana tengah berada di dapur memasak, waktu baru menunjukkan pukul lima pagi, dia berniat membantu para asisten rumah tangga, meskipun sudah di larang tetapi Viana tetap saja melakukan hal itu.
“Loh, Vi? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Diandra yang sudah berada di dapur.
“Maaf, Bu. Saya hanya membantu memasak, saya terbiasa memasak,” ucap Viana.
“Vi, mulai sekarang kamu jangan terlalu formal, panggil aku Mama, dan panggil Papa pada suamiku, kamu kan sudah menjadi anak Mama, jadi jangan panggil aku Ibu lagi,” ucap Diandra.
“Maaf, Bu–,”
“Mama, Vi. Maamaaaa!” ucap Diandra.
“Iya, Ma.”
“Bagus! Bagaimana tidurmu?”
“Baik.”
“Baik?” tanya Diandra.
Viana hanya tersenyum, tidak mungkin kan dia bilang jika tadi malam dia tidur di lantai dengan kepala bersandar ke tembok, dan masih menggunakan mukena? Viana pun melanjutkan aktivitas memasak, setelah selesai memasak, Viana berpamitan kepada Diandra untuk pergi ke kostan lamanya karena dia belum memberi tahu sahabatnya soal pernikahan ini.
“Kamu tidak menunggu Ragarta bangun Vi?”
“Tidak, ,” jawab Viana.
“Vi? Maafkan Mama!” ucap Diandra lirih.
“Iya, Ma.”
“Kamu gak marah sama Mama?” tanya Diandra.
“Apa aku berhak marah kepada Mama? Seperti aku tidak punya hak, Ma,” ucap Viana.
Diandra termangu mendengar ucapan Viana, dia merasa bersalah, namun tidak di pungkiri jika Diandra sangat senang karena Viana benar-benar menjadi menantunya.
“Maafkan Mama, tapi Mama berharap kamu bisa membantu Ragarta melupakan Ariana,” ucap Diandra.
“Maaf, Ma. Tolong jangan berharap padaku untuk menjadi seperti yang Mama inginkan! Viana pergi dulu Ma, assalamualaikum.”
Diandra menatap kepergian menantunya itu, dia akan mencoba sebisa mungkin agar keduanya bisa saling menerima satu sama lain.
“Ya ampun! Tadi Viana naik apa perginya? Seharusnya kan aku suruh antar sama sopir,” gumam Diandra.
“Pagi, Ma,” sapa Ragarta.
“Pagi!” jawab Diandra jutek.
“Mama kenapa pagi-pagi mukanya jutek begitu?” tanya Danang yang juga berada di sana.
“Gar! Meskipun kamu menikah dengan Viana karena terpaksa, tapi Mama harap kamu bisa memperlakukan dia dengan baik!” ucap Diandra.
Ragarta hanya mengangguk, yang benar saja seorang Ragarta akan memperlakukan seseorang yang sudah hadir dalam hidupnya tanpa permisi, biar bagaimanapun dia masih mengharapkan kepulangan Ariana.
.
“Apaaaaa!!” pekik Rani saat Viana menceritakan tentang pernikahannya yang mengejutkan.
“Terkejut kan, kamu?”
“Gak aku sama sekali gak terkejut, tapi hampir terkena serangan jantung,” ucap Rani seraya melotot ke arah Viana.
“Aku juga terkejut, Ran. Aku ingin menolak, tapi ancaman Bu Diandra membuatku tak berkutik,” ucap Viana.
“Terus apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Dan bagaimana soal penyakit kamu?” tanya Rani khawatir.
“Aku masih bisa bekerja Ran, dan aku akan tetap melakukan pengobatan. Kamu lihat sendiri, jika kuasa Allah itu nyata, aku baik-baik saja kan?” ucap Viana.
Ya memang benar yang di katakan Viana, dia mengalami sebuah takdir yang unik, bahkan tidak akan masuk ke dalam akal, namun itulah takdir Allah, tidak akan ada yang tahu seperti apa dan bagaimana. Setelah puas bercerita kepada Rani, Viana berpamitan kepada sahabatnya itu, dan dia pun berpamitan untuk pulang, meskipun berat meninggalkan Rani, tapi Viana harus melakukan itu. Viana pulang dengan menaiki sebuah bus kota, dia kini merasakan yang namanya pulang, meskipun dalam artian pulang ke rumah orang yang tidak pernah kenal, namun kini dia sudah menjadi seorang istri. Sesampainya di rumah mertuanya, Viana berjalan masuk dengan membawa sebuah tas di tangannya yang berisikan semua pakaiannya, pakaiannya tidaklah banyak, hanya beberapa gamis serta kerudung, dan juga baju seragam kerjanya. Saat hendak mengetuk pintu ternyata seorang asisten rumah tangga sudah membukakan pintu, dan Viana pun masuk dan langsung naik menuju kamarnya.
“Non mau saya bantu?”
“Tidak perlu, Bik, terima kasih. Oh iya Mama ke mana, kok sepi?”
“Oh, Nyonya tadi sedang keluar, katanya mau cari makanan sama Tuan,” ucap sang Bibik.
“Oh, ya sudah saya permisi.”
“Mau apa kamu?” tanya seseorang dari belakang ketika Viana hendak membuka pintu kamar.
“Mau mengambil bajuku yang tadi malam,” jawabnya.
“Siapa yang menyuruhmu memasuki kamarku?” tanyanya.
“Tuan, Ragarta yang terhormat! Saya memasuki kamar Anda karena ingin mengambil baju, bukan akan mencuri sesuatu, dan saya sudah mendapatkan ijin dari Mama Anda,” jawab Viana.
“Kamu berani jawab ucapan saya?”
“Apa yang harus saya takutkan dari Anda?” tanya Viana balik.
“Kamu, jangan merasa besar kepala karena sudah menjadi menantu keluarga saya,” ucap Ragarta, seraya menunjuk ke arah Viana.
“Untuk apa saya besar kepala, tidak ada untungnya menjadi menantu keluarga Anda,” ucap Viana tak kalah.
“Kamu–.”
Ucapan Ragarta terhenti ketika Viana menerobos masuk ke dalam kamarnya, dan hal itu membuat Ragarta semakin geram.
“Beraninya kamu masuk ke sini!”
“Saya hanya mengambil ini! Permisi,” ucap Viana seraya menunjukkan baju yang dia ambil dan segera keluar dari kamar Ragarta.
“Tunggu!” ucap Ragarta. Viana hanya berbalik dan menatap Ragarta.
“Kamu mau tidur di mana?”
“Apa peduli Anda?”
“Bagaimana jika Mama, menanyakan kenapa kita tidur pisah kamar?” tanya Ragarta.
“Bukan urusan saya,” jawab Viana dan dia melanjutkan berjalan menuruni tangga, Viana ingin tidur di kamar bawah, tepatnya kamar tamu.
“Iya, bukan urusan kamu tapi aku nanti yang akan kena amukan Mama dan Papa. Atau jangan-jangan itu yang kamu inginkan?”
Viana menghela napasnya, dia berpikir apa yang ada dalam pikiran pria itu.
“Mau Anda apa? Saya tidur di kamar Anda tidak boleh, dan sekarang saya mau tidur di bawah Anda takut Bu Diandra marah. Saya harus bagaimana? Jika saya, Anda suruh tidur di kamar Anda dan tidur di lantai, maaf saya tidak mau,” ucap Viana.
“Kamu–.”
“Begini saja, Tuan. Mari kita pindah dari rumah ini, anda bisa tinggal di apartemen anda dan saya akan kembali ke kostan saya,” usul Viana.
Bukannya menjawab usul Viana dia justru menarik tangan Viana untuk masuk kedalam kamarnya.
“Baik, malam ini kamu tidur di sini, besok kita akan pindah ke apartemen, dan kita tinggal di sana, tidak tinggal terpisah,” ucap Ragarta.
Keesokan harinya mereka benar-benar pindah ke apartemen milik Ragarta, walaupun Diandra menolak awalnya atas keputusan Ragarta, namun Viana mengatakan jika mereka ingin saling mengenal dan juga ingin mencari tahu tentang satu sama lain, akhirnya Diandra menyetujui hal itu.
Kini keduanya sudah berada di sebuah apartemen bercat coklat muda dengan dua kamar, serta dapur yang terlihat jarang di pakai. Viana mengagumi apartemen milik Ragarta, walaupun entah apa yang akan terjadi kedepannya.
“Itu kamarmu,” ucap Ragarta.
Sementara Viana tidak merespons dia justru masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya, hal itu membuat Ragarta kesal, namun Viana tidak peduli, kini dia mulai menata seluruh pakaiannya kedalam lemari yang berada di sana. Setelah selesai Viana keluar dan berniat memasak, tadi mertuanya membawakan banyak bahan makanan. Setelah dia selesai makan dia berniat masuk kembali ke kamarnya, namun Ragarta memanggilnya.
“Aku ingin membuat kontak pernikahan,” ucap Ragarta.
“Tidak, perlu!” ucap Viana.
“Aku juga tidak perlu persetujuan darimu.”
“Kita tidak perlu membuat kontak. Yang kita butuhkan hanya kembali seperti semula, saat kita tidak saling mengenal, anggap saja saya tidak ada di sini, atau jika anda keberatan anggap saya sebagai pembantu anda,” ucap Viana. Ragarta nampak berpikir namun dia akhirnya menyetujui usul Viana.
“Tapi jika Anda menganggap saya sebagai pembantu, Anda harus menggaji saya, dan saya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah, tapi saya harus tetap bekerja di resto,” ucap Viana.
“Dasar matre, aku tidak akan membiarkan kamu hidup enak di sini,” ucap Ragarta.
“Jika saya matre, maka saya akan meminta uang dari Mama dan Papa Anda dan mengatakan jika Anda menyakiti saya, dan soal Anda yang akan membuat hidup saya tidak enak, Anda akan buang-buang waktu, karena saya sudah kebal dengan hal itu.”
“Kamu benar-benar membuatku kesal,” ucap Ragarta.
“Baiklah Tuan, mulai saat ini kita bersikap seolah-olah kita tidak mengenal, permisi.” Viana meninggalkan Ragarta yang masih duduk di ruang tamu.
“Kelihatannya saja kalem berhijab, tapi kelakuannya sangat mengesalkan,” gerutu Ragarta.
“Halo!” ucap Ragarta saat menerima telepon.
“...”
“Besok aku mulai bekerja Rid.”
“...”
“Nanti malam kamu antar ke apartemen.”
“Iya.”
“...”
Ragarta memutuskan sambungan teleponnya dan dia memutuskan untuk panggil teleponnya, dan dia melangkah menuju kamarnya.
“Ar, kamu kemana? Apa alasanmu menghindar dari pernikahan ini?” ucap Ragarta seraya menatap foto Ariana yang berada di ponselnya.
Malam harinya Ragarta ingin ke suatu tempat dia bahkan melupakan jika dia menyuruh Ridwan untuk mengantar dokumen ke apartemennya. Saat Ridwan datang dia tidak ada di rumah namun hanya Viana yang ada.
“Maaf Nona, Tuan Ragarta meminta saya untuk mengantarkan ini,” ucap Ridwan seraya menyerahkan sebuah map kepada Viana.
“Dia tidak ada, dan jangan terlalu formal, panggil aku Viana saja,” ucap Viana.
“Tapi, Nona nanti Tuan Ragarta akan marah,” ucap Ridwan, sebenarnya Ridwan juga tahu jika Ragarta tidak akan peduli akan hal itu.
“Dia tidak akan peduli, kamu mau masuk atau mau pulang?” tanya Viana.
“Aku pulang saja, nanti tolong sampaikan pada Ragarta.”
“Iya.”
Ridwan pun pulang, sementara Viana menaruh map itu di atas meja ruang tamu agar jika Ragarta pulang bisa melihatnya.
Ting! Tong!
Ketika Viana yang hendak masuk ke kamarnya kembali menuju pintu dan membuka pintu. Viana menautkan alisnya yang melihat Ragarta yang memencet bel apartemen.
“Di mana map dari Ridwan?”
“Atas meja.”
“Dasar gadis tidak tahu diri,” gerutu Ragarta saat mendengar jawaban Viana yang di ucapkan singkat seraya berjalan menuju kamarnya.