Braak!!
Suara gebrakan menggema di seluruh ruangan bercat putih tersebut, dengan wajah merah padam Ragarta mengamuk mendengar jika Ariana menghilang sejak kemarin sore.
“Ridwan!”
“Iya, Tuan.”
“Siapkan mobil kita pulang sekarang juga!” perintah Ragarta.
“Ada apa, Tuan?”
“Jangan banyak tanya, sekarang siapkan mobil cepat,” bentaknya.
Ridwan pun bergegas menyiapkan mobil Ragarta, entah mengapa bos sekaligus sahabatnya itu tiba-tiba marah gak jelas. Ridwan tidak berani bertanya takut jika kena amukan.
Kini keduanya telah sampai di kediaman Setyo Anam, yaitu kediaman orang tua Ragarta, sebenarnya waktu pulang Ragarta masih nanti sore, namun ada hal yang sangat mendesak yang mengharuskan dirinya pulang.
“Ma, bagaimana bisa Ariana pergi dari rumah?” tanya Ragarta dengan napas memburu.
“Bisa kamu duduk dulu,” ucap Danang.
“Kenapa bisa seperti ini, Pa?”
“Kami juga tidak tahu, Gar. Sepertinya kita harus meminta penjelasan mereka sekarang,” ucap Diandra.
“Kita ke sana sekarang,” ucap Ragarta dan di angguki oleh kedua orangtuanya.
.
“Bagaimana bisa, Ariana pergi meninggalkan rumah, Bu Rita?” tanya Diandra dengan nada sedikit tinggi.
“Kami tidak tahu alasannya tiba-tiba saja dia tidak pulang waktu pamit ingin pergi membeli sesuatu, setelah sore harinya adiknya menemukan surat di kamar Ariana,” ucap Pak Andika.
“Adik?” ucap Danang.
“Adik tiri tepatnya, dia anak saya dengan suami saya yang dulu, tapi dia tidak tinggal di sini dan kemarin lusa menginap di sini, sebelum kepergian Ariana dia bertengkar dengan adiknya,” ucap Bu Rita.
“Maksud anda Viana?” tanya Diandra langsung. Bu Rita dan Pak Andika saling pandang, Pak Andika kaget darimana Diandra tahu jika anak tirinya bernama Viana? Apa Ariana yang bercerita. Sementara Bu Rita bingung harus menjawab apa.
“Aku ingin melihat isi surat yang ditinggalkan oleh Ariana,” ucap Ragarta.
“Ini suratnya,” ucap Pak Andika seraya menyerahkan kertas berwarna coklat muda kepada Ragarta.
Dear semuanya.
Aku minta maaf atas kekacauan ini, aku harus pergi, tolong kalian jangan mencari aku, untuk ayah dan, maafkan atas sikap kekanak-kanakan ku ini, aku belum siap untuk menikah, jadi aku memutuskan untuk pergi karena aku tidak sanggup mengatakan pada Ragarta. Dan untuk Ragarta aku benar-benar minta maaf jika telah mempermainkan perasaanmu, aku tidak bermaksud demikian namun aku benar-benar merasa belum siap, alasan utama aku pergi karena seseorang, jadi aku mohon maafkan aku.
Ariana.
Ragarta meremas kertas tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah. Diandra mengambil surat itu dan membacanya.
“Apa dia mempunyai kekasih selama ini?” tanya Ragarta.
“Dia tidak memiliki kekasih Nak,” ucap Pak Andika.
“Lalu bagaimana ini?” tanya Bu Rita.
“Apa Bu Rita ingin anak saya menunggu Ariana pulang? Jelas-jelas di surat itu Ariana meninggalkan anak saya karena seseorang,” ucap Danang.
“Baiklah saya minta maaf atas semua ini, sebaiknya pernikahan ini kita batalkan,” ucap Pak Andika.
“Tidak! Pernikahan besok harus tetap di lanjutkan,” ucap Diandra.
“Aku akan menunggu Ariana,” ucap Ragarta.
“Tidak, kamu besok harus tetap menikah, tapi dengan Viana!” ucapan Diandra sontak membuat semua orang yang ada di sana menoleh menatap Diandra.
“Ma! Bagaimana bisa aku menikah dengan Viana, sementara aku maunya Ariana!” ucap Ragarta.
“Semua surat-surat yang di daftarkan oleh Ariana adalah namamu dan Viana Salsabila,” ucap Diandra.
“Bagaimana bisa?” ucap Ragarta dan Bu Rita serempak.
“Sebaiknya kamu tanyakan hal itu pada Ariana.”
“Nggak mungkin Mbak Ariana seperti itu,” ucap Viana saat dia keluar kamar, sedari tadi Viana hanya diam di dalam kamar.
“Apa kamu tidak tahu soal ini, Vi?” tanya Diandra.
“Aku tidak tahu apa-apa, jadi saya mohon maaf saya tidak bisa menikah dengan calon suami Mbak Ariana."
“Lagi pula siapa juga yang mau menikah dengan kamu!” ucap Ragarta.
“Jika kalian tidak setuju maka aku akan menuntut ganti rugi pada kalian, dan aku akan meminta suamiku untuk memboikot toko Anda,” ucap Diandra.
“Dan untuk kamu, Gar. Jika kamu menolak, silakan keluar dari kartu keluarga dan kamu cari pekerjaan sendiri, tanpa semua ijazah kamu. Dan kamu, Vi! Jika kamu menolak, aku akan memecat mu dan memasukkan kamu dalam daftar hitam agar kamu tidak bisa bekerja dimana pun,” ucap Diandra lagi.
“Tapi, Mbak–.”
“Jika kalian masih menolak silakan menuruti kemauan kedua saya, karena saya tidak mau menanggung malu, meskipun pernikahan ini tertutup tapi semua kolega kami sudah tahu, jadi jika kalian semua menolak terserak kalian, saya tunggu keputusan kalian nanti malam sampai jam sebelas, karena besok adalah hari pernikahan itu. Permisi,” ucap Diandra seraya berdiri dan pergi meninggalkan rumah Pak Andika.
Viana masuk ke dalam kamarnya dan dia berniat untuk datang ke rumah Diandra untuk membatalkan pernikahan itu besok, dia berpikir biarkan saja di pecat atau di masukkan ke daftar hitam, toh hidupnya juga gak akan lama lagi, dia memutuskan untuk pergi sekarang sebelum terlalu malam, namun saat Viana membuka pintu kamarnya terlihat Bu Rita yang tengah menahan emosi.
Plaakkkk!!
Satu tamparan mendarat di pipi Viana.
“Pasti kamu sengaja kan, Vi? Kamu sengaja mengusir Ariana dari rumah ini? Dan kamu pasti yang menyuruh Ariana mendaftarkan pernikahan atas namamu kan? Jawab!!” tuduh Bu Rita.
“Bu! Apa-apaan kamu,” ucap Pak Andika.
“Sebaiknya Ayah jangan ikut campur dulu,” ucap Viana pada pak Andika dan Pak Andika pun hanya diam.
“Maksud Ibu aku yang meminta Mbak Ariana begitu? Semua tuduhan yang Ibu katakan tidak ada yang benar! Aku sam–.”
“Aku sama sekali tidak percaya, Vi!” teriak Bu Rita memotong ucapan Viana.
“Terserah Ibu, mau percaya atau tidak, tapi aku benar-benar tidak tahu akan hal ini, dan sekarang aku akan ke rumah mereka dan meminta membatalkan pernikahan ini,” ucap Viana.
“Iya, dan kamu akan menyusahkan usaha suamiku? Dan kami akan hancur! Itu mau mu kan Vi! Apa ini tujuanmu melakukan semua ini?”
“Cukup, Bu!! Jangan sekali-kali Ibu menuduhku seperti itu, apa untungnya aku melakukan itu? Jika aku ingin melakukan itu sebaiknya aku melakukannya saat aku sakit di rumah sakit beberapa bulan lalu! Apa Ibu tidak bisa melihat seperti apa aku? Aku ini sebenarnya anak Ibu atau bukan?” ucap Viana tak kalah.
“Kamu memang memang anak kandungku, aku melahirkan mu tapi kamu selalu membuatku menderita, kamu memang seperti–.”
“Seperti apa? Seperti almarhum Bapak? Iya Bu, aku memang seperti Bapak, dan jika aku membuat Ibu menderita, kenapa ibu tidak membuang ku saja saat aku bayi, dan ibu juga kenapa dulu waktu masih bersama Bapak bisa hamil aku, seharusnya Ibu bisa mencegah kehamilan kan? Jadi berhenti menangguhkan segala kebencian terhadap Bapak kepadaku!” teriak Viana dengan penuh emosi dan air matanya pun sudah mengalir deras di pipinya.
“Kamu–!” Viana memegang tangan Ibunya saat akan kembali mendaratkan pada pipinya.
“Berhenti menyakiti fisik dan hatiku, Bu. Karena mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam, dan soal Mbak Ariana aku benar-benar tidak tahu, jika Ibu berpikir bahwa aku yang memaksa dia untuk melakukan semua ini. Tidak ada untungnya buatku,” ucap Viana dan dia melangkah keluar hendak pergi ke rumah Diandra.
“Berhenti, Vi!” teriak Pak Andika.
“Jika kamu berani melangkah melalui pintu itu, jangan harap kamu akan menemui siapa pun, karena aku sudah menghubungi keluarga Ragarta dan menyetujui pernikahanmu besok,” ucap Pak Andika.
Dan hal itu sukses membuat Viana dan juga Bu Rita terkejut.
“Yah! Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada Ariana? Ragarta itu calon suami putrimu!” ucap Bu Rita.
“Viana! Kembali ke kamar mu, jangan membantah!” ucap Pak Andika, dan Viana tidak bisa menolak pasalnya Ayah tirinya itu tidak pernah marah, dan baru kali ini dia melihatnya marah.
“Dan kamu, Bu! Aku tidak mendidik anakku menjadi pengecut dan mempermalukan orang tuanya seperti ini, jadi jika kamu tidak terima atas keputusan ku ini, silakan keluar dari rumahku!” ucap Pak Andika dan Bu Rita hanya bisa menahan segala perasaannya.
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!”
Sah! Kata itu terucap dengan lantang di ruangan bercat putih, dan di sana tengah di langsungkan pernikahan antara Viana dan Ragarta. Kini keduanya tengah ‘Sah’ menjadi suami istri.
“Silahkan bawa keluar pengantin wanitanya,” ucap penghulu di sana.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan gamis berwarna putih yang sangat pas dengan tubuhnya, diapit oleh Diandra Viana berjalan mendekati suaminya, ah suami! Viana enggan menyebutnya sebagai suami, dia benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini, namun entah takdir atau apa dia harus bisa menjalani semua ini.
Kini Viana tengah duduk di samping Ragarta, mencium punggung tangannya dan juga mendapatkan sekilas kecupan di keningnya, setelah itu mereka berdua sama-sama diam dan tidak ada yang mau saling melihat walau sekilas, sementara Bu Rita sudah sangat kesal dengan Viana, namun ancaman dari suaminya membuatnya diam tak berkutik. Lain halnya dengan Diandra dia bahagia akhirnya Viana yang jadi menantunya, sebenarnya Diandra sudah mengetahui hal-hal besar di keluarga Viana.
Acara telah usai, kini Viana di bawa ke kediaman Danang Setyo Anam, dia langsung di bawa pulang oleh Diandra, karena Diandra tahu hal apa yang akan terjadi pada Viana jika menginap di rumah orang tuanya.
“Gar, bawa istrimu ke dalam kamar dan biarkan dia istirahat,” ucap Diandra.
“Tidak perlu, Ma. Dia bisa jalan sendiri,” ucap Ragarta ketus.
“Maaf, Bu. Saya juga tidak mau di antar oleh dia, saya bisa ke kamar sendiri,” ucap Viana.
“Dasar anak tidak sopan!” ucap Diandra pada Ragarta.
“Ayo, Vi aku antar ke kamar,” ucap Diandra dan menuntun Viana ke kamarnya, kamar Ragarta tepatnya.
Sementara Ragarta tengah mendapatkan ceramah gratis dari sang Papa hingga larut malam, setelah selesai dengan acara ceramah Ragarta naik ke lantai atas dan menuju kamarnya. Namun setelah dia masuk ke kamarnya dia melihat sosok gadis tengah tertidur bersandar di tembok dengan menggunakan mukena yang lengkap.
“Dasar gadis tidak tahu diri! Awas saja aku akan membuatmu menderita, berani-beraninya kamu masuk dalam kehidupanku tanpa seijin ku!” ucap Ragarta lirih.