Air mata menetes di pipi seorang gadis yang sedari tadi berdiri di balik tembok belakang dua orang yang tengah berbincang. Ya gadis itu adalah, Ariana. Tanpa sengaja saat akan mengambil air ke dapur, dia mendengar semua pembicara antara Diandra dan Ragarta. Dia merasa senang karena Diandra menginginkan pernikahannya dengan Ragarta di percepat, namun di sisi lain saat Diandra mengatakan akan membenci kebohongan saat tahu jika Ariana berbohong soal pendonoran itu, Ariana sangat takut jika suatu hari mereka tahu yang sebenarnya. Meskipun Ragarta membelanya, dia masih merasa takut. Kini dia menangis dan berlari menuju kamar yang ditempatinya, Ariana memang belum mencintai Ragarta, dan dia juga tahu Ragarta juga belum sepenuhnya mencintai dirinya, namun keinginan sang Ibu yang ingin melihatnya bahagia membuatnya rela melakukan keinginannya, meskipun bukan Ibu kandung tapi Bu Rita sangat menyayangi Ariana daripada Viana yang putri kandungnya sendiri, maka dari itu Ariana rela melakukan hal yang tidak baik seperti membohongi keluarga Ragarta, dia bingung dan takut jika mengatakan kepada Bu Rita, maka ibunya itu akan selalu mendukungnya agar tetap melanjutkan semua rencana menikah dengan Ragarta, namun jika tidak mengatakan pada ibunya maka dia takut suatu hari saat dia sudah meraih kebahagiaannya, akan terungkap semua rahasia besar itu dan hal itu akan menghancurkan semuanya. Malam kian larut dan Ariana masih belum bisa memejamkan mata, pikirannya melayang kemana-mana, hatinya gundah dan benar-benar tidak tenang.
Pagi harinya, Ariana keluar dari kamar dengan wajah yang agak sembab, mata sedikit bengkak akibat menangis meratapi kegundahannya.
“Kamu kenapa, Ar?” tanya Diandra.
“Tidak apa-apa, Ma. Tadi ke bangun malam-malam dan tidak bisa tidur.”
“Kenapa mata kamu bengkak? Kamu habis nangis? Apa Ragarta yang membuatmu menangis?” cerca Diandra.
“Bukan, Ma. Tadi malam aku nonton drama dan adegannya sedih banget jadi aku nangis, sampai lupa jika aku menginap di sini,” jelas Ariana.
“Oh, begitu. Ya sudah, Ayo kita sarapan dulu,” ajak Diandra.
“Ragarta mana, Ma?”
“Ganti baju kayak ya. Lah itu dia,” ucap Diandra seraya menunjuk ke arah tangga yang menampilkan sosok Ragarta yang tengah menuruni tangga dengan kemeja berwarna Navi serta celana kain dan jas yang dia letakkan di bahu kirinya, jangan lupa rambutnya yang masih basah membuat ketampanan pemuda itu berkali-kali lipat lebih menawan di mata siapa pun.
“Sampai segitunya sih Sayang lihatin aku,” tegur Ragarta pada Ariana.
“Hah!” Ariana merasa malu atas ucapan Ragarta apalagi ada Diandra di sana.
“Sudah tidak usah malu-malu, yuk sarapan,” ucap Diandra.
Mereka sarapan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar, sementara Ariana terlihat enggan untuk sarapan dia seperti kehilangan selera makan, hal itu juga tak luput dari pandangan Ragarta, namun Ragarta enggan untuk menegur Ariana, dan akhirnya dia melanjutkan sarapannya.
.
“Sayang, nanti Mama sama Papa mau ke rumah kamu,” ucap Ragarta pada Ariana saat mereka sudah di perjalanan menuju kampus Ariana.
“Mau apa?”
“Entahlah, mungkin membicarakan tentang pernikahan kita,” jawab Ragarta seraya tersenyum tipis, Ariana hanya berdehem.
Ariana melihat senyum tipis Ragarta, namun dia justru melihat ada yang salah, Ariana merasa jika Ragarta belum siap menikahi dirinya, lagi-lagi Ariana di buat bingung, entah dia sendiri juga tidak tahu apakah dia siap menikah dengan Ragarta atau tidak.
“Apa, kamu siap jika orang tua kita meminta kita segera menikah?” tanya Ariana.
“Aku siap kok Sayang, apa kamu mau aku nikahin besok?” ucap Ragarta menggodanya
“Benarkah kamu sudah siap?” Ragarta menepikan mobilnya saat Ariana bertanya demikian dan dia menoleh ke arah Ariana.
“Apa kamu ragu sama aku? Apa yang membuatmu ragu padaku?” tanya Ragarta seraya menggenggam tangan Ariana.
“Aku takut, jika kamu kecewa sama aku. Kita kan belum lama kenal dan kita menikah bukan karena cinta namun kita menikah karena sesuatu,” ucap Ariana.
“Hei, lihat aku! Apa aku terlihat seperti pria yang suka mengecewakan wanita? Aku tidak seperti itu Sayang. Apa pun alasan kita menikah aku yakin itu yang terbaik untuk kita, jadi aku mohon sama kamu singkirkan jauh-jauh pikiran itu, Oke?” Ariana hanya mengangguk.
Sore harinya sesampainya di rumah, Ariana mengatakan pada orang tuanya jika calon mertuanya akan datang, Bu Rita sangat antusias mendengar hal itu dia segera memasak beberapa makanan untuk menjamu calon besannya itu. Sementara Ariana kini sedang berada di kamarnya dia masih merasa cemas, dia benar-benar takut jika kebohongan yang dia dan Bu Rita lakukan akan ketahuan oleh keluarga Ragarta, di tengah kecemasan tiba-tiba dia mengingat Viana. Setelah beberapa saat dia memutuskan untuk menghubungi Viana.
“Waalaikumsalam.” Jawab Ariana saat Viana mengangkat telepon darinya.
“...”
“Apa kamu besok ada waktu?”
“...”
“Aku ingin membicarakan sesuatu padamu, nanti aku kirim alamatnya, jangan coba-coba menghindar jika kamu besok tidak datang aku akan memberimu perhitungan, ingat itu,” ucap Ariana dan langsung menutup sambungan teleponnya sebelum Viana mengatakan apa pun.
Malam pun tiba, orang tua Ragarta bertamu ke kediaman Ariana.
“Maaf, Mbak jika kami datang mendadak,” ucap Diandra.
“Tidak apa-apa, malah kami senang jika kalian mau datang berkunjung,” ucap Bu Rita.
“Langsung saja, kedatangan kami kemari ingin membahas pernikahan anak-anak kita,” ucap Danang.
“Ada apa ya, kok tiba-tiba kalian membahas tentang pernikahan mereka?” tanya Pak Andika.
“Begini Pak, bagaimana jika pernikahan mereka di laksanakan minggu depan?” ucap Diandra.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Bu Rita.
“Kami hanya ingin segera meresmikan mereka, agar tidak mengundang fitnah,” ucap Diandra.
“Bagaimana Pak Andika?” tanya Danang.
“Bagaimana dengan kalian?” tanya Pak Andika pada Ragarta dan Ariana.
“Aku sih siap, Yah,” jawab Ragarta.
“Kalau kamu, Ar?”
“Saya siap tapi bolehkan jika minggu depan kita hanya melaksanakan ijab kabul saja, tanpa ada pesta atau apa dan tolong yang menghadiri hanya keluarga dekat saja,” ucap Ariana.
“Kenapa begitu Sayang?” tanya Ragarta.
“Aku hanya belum siap, ini terlalu mendadak, soal resepsi bisa di lakukan kapan saja kan?” ucap Ariana.
“Ya sudah kami setuju, dengan ucapan Ariana,” ucap Pak Andika.
“Baiklah kita akan melakukan pernikahan minggu depan,”
“Untuk surat-surat biar aku yang mengurus sendiri,” ucap Ariana.
“Loh kenapa begitu?” tanya Diandra.
“Bukan apa-apa, Ma. Bukanya besok Ragarta akan ke Jombang selama empat hari, jadi tidak mungkin sempat mengurus semua itu,” ucap Ariana.
“Kan ada Ridwan,” ucap Ragarta.
“Gak enak lah, masa kita yang akan menikah malah Ridwan yang mengurus semuanya,” ucap Ariana.
Semua orang pun mengangguk mendengar penuturan Ariana, dan mereka melanjutkan perbincangan hingga malam.
“Bu, aku ingin Viana menginap di sini sebelum aku menikah,” ucap Ariana pada Bu Rita.
“Loh kenapa kamu mau menyuruhnya menginap di sini? Tidak! Ibu tidak setuju,” ucap Bu Rita.
“Jika Ibu tidak setuju aku akan membatalkan pernikahan ini,” ancaman Ariana membuat Bu Rita diam.
“Tapi apa kamu akan mengatakan dia siapa pada mertuamu?”
“Sudahlah Bu, aku ingin istirahat,” ucap Ariana. Bu Rita pun pergi meninggalkan kamar Ariana.
Viana kini tengah duduk di sebuah kafe yang di beritahukan oleh Ariana, dia menunggu kedatangan Ariana. Tak berselang lama sosok yang dia tunggu pun datang, namun dia datang bersama seorang pria yang tidak lain adalah Ragarta.
“Sudah lama, Vi?” tanya Ariana.
“Belum,” jawab Viana singkat.
“Gar, kenalkan dia Viana adik tiri aku.” Ucapan Ariana sontak membuat Viana dan juga Ragarta kaget, Ragarta berpikir jika gadis yang berada di depannya itu adalah adik tiri Ariana, dia adalah salah satu pegawai restoran milik Mamanya. Sementara Viana berpikir kenapa Ariana memperkenalkan dirinya dengan Ragarta sebagai adik tirinya, Viana takut jika Bu Rita akan marah.
“Viana,” ucap Viana seraya menerima uluran tangan Ragarta.
“Ragarta,” ucap Ragarta.
“Vi, hari minggu kami akan menikah, dan aku memintamu untuk pulang di hari Kamis atau Jumat, aku ingin berpesta lajang dengan saudariku,” ucap Ariana, namun Viana hanya menatap Ariana dengan tatapan tak percaya, Ragarta melihat tatapan Viana merasa jika Viana tidak menyukai Ariana.
“Kamu tenang saja aku sudah bilang sama Ayah dan Ibu, jadi kamu harus pulang. Ya sudah kami pamit dulu ya, soal Ragarta mau berangkat keluar kota,” ucap Ariana dan segera pergi meninggalkan Viana.
“Sayang, sepertinya Viana tidak menyukaimu?” tanya Ragarta setelah mereka menjauh dari Viana. Ariana hanya mengangkat bahunya.
Hari ini dengan berat hati Viana pulang ke kediaman Pak Andika atas permintaan Ariana, ya, meskipun Rani sang sahabat sudah ngoceh-ngoceh ndak karuan tetap saja pulang. Ah pulang! Apa kata itu cocok untuk Viana? Mungkin lebih cocok berkunjung ya daripada pulang. Skip aja.
(ngoceh-ngoceh ndak karuan= ngomong tidak jelas)
Dengan di antar oleh Rani, Viana kini sudah sampai di rumah Ariana, langkahnya terhenti saat melihat Ibunya, miris saat mengatakan wanita itu Ibunya, sudahlah lupakan anggap saja Viana sebagai tamu VVIP di sini.
“Assalamualaikum,” Viana mengucap salam.
“Waalaikumsalam,” balas Bu Rita.
“Kamu datang juga? Berani kamu datang?” cerca Bu Rita.
“Kenapa harus takut, Bu. Kan aku yang menyuruhnya,” ucap Ariana yang sudah berada di depan pintu.
Akhirnya Viana pun masuk dan berjalan menuju kamarnya, namun tak berapa lama setelah dia selesai membersihkan diri, dia tersentak mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.
“Ada apa?” tanya Viana.
“Aku ingin bicara,” jawab Ariana.
“Masuk.”
“Apa kamu bahagia melihatku akan menikah?” Viana hanya bergumam.
“Aku menikah dengan orang yang menerima ginjal mu, dan dia mengira jika aku adalah pendonor tersebut,” jelas Ariana. Viana cukup kaget mendengar hal itu, dia tidak mengira jika Ragarta adalah penerima ginjalnya. Sebenarnya tujuannya mendonorkan ginjal, karena dia berpikir hidupnya tidak akan lama lagi, namun Allah, berkata lain setelah donor dia masih baik-baik saja.
“Lalu?” tanya Viana dia menyembunyikan rasa keterkejutannya.
“Apa kamu tidak iri padaku?” tanya Ariana seraya tersenyum mengejek.
“Buat apa aku iri dengan hal seperti itu? Nikmati saja kebahagiaan kamu, aku lebih bahagia jika kamu menikah dengan seorang yang bisa membuatmu berjalan di jalan yang benar, dan aku berharap suamimu nanti bisa membuat pikiranmu terbuka. Baiklah jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, silakan keluar, aku mau istirahat.”
“Hei kamu mengusir ku?”
Viana hanya diam tidak jawab diam malah naik ke atas ranjang dan menarik selimut sampai menutupi seluruh kepalanya. Dengan kesal Ariana keluar dari kamar Viana dan menutup pintu dengan keras.
“Kenapa Sayang?” tanya Bu Rita yang melihat wajah kesal Ariana.
“Tidak apa-apa.”
“Apa anak itu membuatmu kesal?”
“Tidak, Bu. Sudahlah aku mau naik istirahat.”
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Andika.
“Itu Ariana keluar dari kamar Viana malah cemberut, pasti Viana sudah membuatnya kesal,” ucap Bu Rita.
“Sudahlah Bu, jangan di buat ramai, kita tidur biarkan mereka istirahat,” ucap Pak Andika.
Mereka pun pergi ke kamar dan beristirahat.