Bab. 11

1936 Words
Hari yang sangat melelahkan, hari ini Viana harus melakukan jadwal pemeriksaan kesehatannya, obat yang selalu dia konsumsi tinggal sedikit. Jam kerjanya kini bertambah karena ada beberapa acara yang di adakan oleh para penyewa di restoran tempatnya bekerja, membuatnya bekerja lebih ekstra lagi. Dia memiliki janji temu dengan dokternya namun sepertinya akan sedikit telat, karena bis yang dia tunggu tidak kunjung datang. Beberapa kali Viana menerima telepon dari sang Dokter, namun dia mengatakan jika dia sedang menunggu kendaraan umum, Sang Dokter pun memaklumi keadaan itu. “Kenapa lama sekali bis, ini? Biasanya sudah lewat ini hampir satu jam kok tidak ada yang lewat, menyebalkan,” gerutu Viana. Dia merasa bosan menunggu di halte, sebenarnya dia bisa saja naik taksi atau ojek, namun lagi-lagi dia harus sebisa mungkin untuk berhemat. Mungkin jika lima menit lagi tidak ada bis yang lewat dia terpaksa menggunakan jasa taksi. Di tengah kebosanannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama sahabatnya Rani. “Iya, Ran?” “...” “Belum, aku masih menunggu bis.” “...” “Tidak usah, ini aku mau memesan taksi saja, nanti kalau mau jemput di rumah sakit saja ya.” “...” “Oke, daaa,” Viana menutup sambungan teleponnya, sahabatnya itu berniat untuk menjemputnya karena dia tak kunjung datang ke rumah sakit, ternyata dokternya menelepon Rani tadi. Saat Viana hendak memesan taksi, dia kaget dengan suara klakson mobil yang berhenti tepat depan halte tempatnya duduk, setelah kaca mobil terbuka Viana tersenyum mengetahui siapa yang berada di dalam mobil tersebut. “Kamu belum pulang, Vi?” “Belum, Bu. Masih menunggu bis lewat,” ucap Viana. “Ayo masuk, saya antar kamu pulang, ini sudah hampir magrib.” Viana menggigit bibir bawahnya, dia ingin ke rumah sakit sebelum pulang, ingin menolak tapi takut menyakiti ajakan bosnya. Ya orang itu adalah Diandra sang atasan Viana. “Ayo, Vi. Tunggu apa lagi?” ucap Diandra. “Maaf, Bu. Saya masih ada urusan sebelum pulang,” ucap Viana merasa tidak enak. Diandra keluar dari dalam mobilnya dan menarik paksa tangan Viana, dan Viana hanya bisa pasrah atas apa yang di lakukan oleh atasannya itu, akhirnya mau tidak mau dia hanya menurut. “Katakan, kamu mau kemana?” tanya Diandra. “Saya mau ke rumah sakit, Bu,” jawab Viana. Diandra sontak menoleh ke arah Viana, dengan menaikkan satu alisnya,”Rumah sakit? Ngapain kamu ke sana?” tanya Diandra. “Saya ada keperluan Bu.” “Apa kami sakit karena kelelahan bekerja di tempatku?” “ Bukan, Bu. Saya hanya akan mengambil obat,” terang Viana. “Jika kamu sakit atau tidak enak badan sebaiknya kamu ijin sama Nita, jangan membuat restoran ku di cap sebagai restoran yang tidak peduli kepada para pegawainya, Vi,” ucap Diandra. “Bukan, Bu. Saya benar-benar tidak apa-apa, hanya akan melakukan pemeriksaan kesehatan saja,” ucap Viana. “Baiklah, di rumah sakit mana?” Viana pun memberikan alamat rumah sakit yang akan dia tuju. Tiga puluh menit perjalanan akhirnya, mobil Diandra sampai di depan pelataran rumah sakit, Viana tidak menyangka jika Diandra juga tengah menunggu putranya untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang sama dan mereka pun berpisah, Viana akan ke ruangan dokternya sementara Diandra akan menunggu putranya. Ketika Viana berada di depan sebuah ruangan dokter spesialis, dia melihat Ariana tengah menggandeng tangan Ragarta dan berjalan menuju arahnya, Viana menunduk dan memainkan ponsel berpura-pura tidak mengetahui Ariana. “Loh, Vi! Kamu di sini?” Viana mendongakkan kepalanya mendengar namanya di sebut. “I–iya, Bu,” jawab Viana gagap, dia sekilas memandang Ariana namun hanya sekilas. “Kamu ngapain di depan ruangan ini?” “Tidak ap–“ ucapan Viana terpotong saat pintu ruangan terbuka. “Masuk, Vi,” ucap Sang Dokter. “Saya permisi, Bu.” Diandra melihat Viana masuk ke ruangan tersebut dengan wajah heran dan penuh tanda tanya, setahunya itu ruangan temannya Veronica, dia adalah Dokter spesialis bedah saraf. “Apa penyakit, Viana separah ini sehingga dia harus mendatangi Veronica di jam seperti ini?” batin Diandra. “Ayo, Ma!” ucap Ragarta membuyarkan lamunan Diandra. “Ayo.” Sesampainya di ruangan dokter, Diandra dan Ariana menunggu Ragarta melakukan pemeriksaan. Setelah selesai dengan berbagai pemeriksaan Ragarta kembali duduk di hadapan Dokter bersama Diandra dan juga Ariana. “Bagaimana Dok, keadaan saya?” tanya Ragarta. “Keadaan anda sangat baik, Tuan. Anda hanya perlu menghindari kafein dulu.” Ragarta pun hanya mengangguk. “Ah iya! Bagaimana dengan sang pendonor itu? Apa anda sudah bertemu dengan dia?” pertanyaan dokter tersebut bagaikan sebuah godam yang menghantam d**a Ariana, bibirnya terasa kelu dan keringat dingin serasa mengalir dengan derasnya, dia sangat takut jika Diandra akan mengetahui hal yang sebenarnya. “Dia ada di sini, Dok. Dan dia adalah calon menantu saya,” ucap Diandra. “Tapi–.” “Maaf, Dok. Tapi saya baik-baik saja, dan hanya perlu sedikit istirahat,” ucap Ariana memotong ucapan Dokter tersebut. Diandra dan juga Ragarta keheranan menatap tingkah Ariana, kenapa dia memotong ucapan Dokter. “Kamu kenapa, Sayang?” tanya Ragarta. “Aku hanya takut, akan ruang operasi itu, jadi saat Dokter mengatakan hal tersebut aku panik,” jawab Ariana. “Ya, sudah Dok, sepertinya tunangan saya merasa tidak nyaman, kalau begitu kami permisi dulu,” ucap Ragarta. Mereka pun berdiri dan keluar dari ruangan Dokter itu, Ariana sedikit merasa lega bisa segera keluar dari ruangan itu, jantungnya sudah bertalu dengan kencang sejak Dokter itu menanyakan hal tadi, dia merasa hampir mati di dalam sana tadi. “Mama, mau bareng kita?” tanya Ragarta saat mereka sudah ada di pelataran rumah sakit. “Tidak, Mama sama sopir tadi. Oh iya Ariana kamu malam ini menginap di rumah ya?” “Aku tidak bisa, Ma. Kan belum ijin sama Ayah dan Ibu,” ucap Ariana. “Gampang, lah sayang nanti aku telepon, Ayah,” ucap Ragarta. “Iya benar, kalau mereka tetap tidak memberi ijin nanti aku yang akan ngomong sama mereka,” ucap Diandra. “Baiklah.” “Ayo kita pulang, Ma.” “Kalian duluan saja, Mama masih harus mampir ke suatu tempat, kamu beli makanan saja ya. Mama malas masak sore ini tadi juga lupa tidak bawa dari resto.” “Beres, Bos.” Setelah mobil Ragarta pergi, kembali masuk ke dalam rumah sakit dia berniat menemui Veronica, dia benar-benar penasaran pada keadaan Viana, entah mengapa Diandra seperti begitu tertarik akan keadaan gadis itu. Dia juga merasa jika Viana ada hubungannya dengan Ariana, melihat tadi saat mereka bertemu, Ariana terlihat sangat tidak menyukai Viana, sementara Viana terlihat seperti enggan memandang Ariana. “Ve!” ucap Diandra menyapa Veronica. “Ah, kamu, Di. Ada keperluan apa kamu di sini?” tanya Veronica. “Apa, kamu sudah habis jam kerjanya?” “Sebenarnya sudah dari tadi tapi aku masih harus menunggu satu pasien sepesial,” ucap Veronica seraya tersenyum. “Boleh kan jika aku mentraktir mu segelas minuman?” tawar Diandra. “Kamu pelit sekali, masa pemilik restoran hanya mau mentraktir segelas minuman,” ucap Veronica seraya cemberut. “Ya ampun, apa seperti ini sikap dokter spesialis?” tanya Diandra seraya menarik tangan Veronica. “Bagaimana kabar kamu, Ve?” tanya Diandra saat mereka sudah ada di sebuah kafe dekat rumah sakit. “Baik, kamu sendiri?” “Alhamdulillah, seperti yang kami lihat. Bagaimana kamu sudah berapa anak dan sejak kapan bertugas di rumah sakit ini?” “Ya ampun, Di! Satu-satu tanyanya! Aku sudah punya cucu satu baru berusia lima bulan, dan anak aku dua, cewek sama cowok anak pertama itu yang sudah punya anak, yang kedua baru lulus kuliah, untuk pekerjaan aku baru tiga tahun ada di sini,” terang Veronica. “Oh iya, kamu tadi nanganin pasien yang terakhir, pas ketemu aku di depan ruangan mu tadi?” “Hah! Kapan kamu ada di depan ruangan aku?” tanya Veronica pasalnya dia memang tidak mengetahui keberadaan Diandra saat tadi memanggil Viana. “Tadi ada, kamu sih fokus sama tuh anak saja,” ucap Diandra. “Maaf, Di.” “Tadi pasien terakhir kamu?” “Iya, kenapa?” tanya Veronica. “Tidak ada tadi kaget saja pas ketemu tahu kamu kerja di rumah sakit ini, dan tadi itu adalah salah satu karyawan ku.” “Yang, mana?” “Viana.” “Oh, dia. Ya dia memang pasienku, kamu kejam banget memperkerjakan dia, aku titip ya jangan buat dia terlalu capek, kasihan dia satu penyakit saja sudah membuatku ketar ketir di tambah lagi dia baru saja melakukan operasi gin–. Ops maaf aku hampir keceplosan, itu privasi Viana,” ucap Veronica hampir saja keceplosan soal Viana. “Operasi apa?” tanya Diandra semakin penasaran. “Sudahlah lagian tidak ada hubungannya denganmu, yuk makan saja,” ucap Veronica mengalihkan pembicaraan. “Dia gadis yang baik, aku sangat salut pada semangatnya,” ucap Diandra. “Benar hidupnya sangat tragis, tidak diakui oleh keluarga dan harus bekerja keras untuk membiayai pengobatannya sendiri, aku kasihan padanya.” Diandra hanya mengangguk, namun dia merasa jika Veronica menyembunyikan sesuatu, dan tadi dia juga sempat mengatakan operasi, apakah itu operasi ginjal? Dan tadi Veronica juga mengatakan bahwa Viana tidak diakui oleh keluarganya? Diandra menghela napas dan kembali melanjutkan makan bersama Veronica. “Mama, kok baru pulang sih?” tanya Ragarta saat Diandra sampai di rumah. “Tadi Mama ketemu sama teman sekolah dulu, makanya lam kan Mama juga lama gak ketemu sama dia,” jelas Diandra. “Papa ke mana, Ma? Kok gak ada di rumah? Aku tadi telepon juga gak di angkat,” tanya Ragarta. “Lah, kamu ini seharian ke mana saja? Bukannya Papamu sekarang lagi ada di Jombang?” “Oh iya, aku lupa Ma,” ucap Ragarta seraya tertawa. “Ariana mana? Kamu tidak macam-macam kan?” tanya Diandra. “Ya ampun, Ma! Mama pikir aku ini apa? Ariana sudah tidur dari tadi di kamar tamu, Mama sih pulang sampai jam sepuluh, tadi saja meminta Ariana menginap tapi sekarang malah Mama baru pulang.” “Maafkan Mama. Oh iya Mama mau bicara sama kamu, bisa kita ke taman belakang sebentar?” “Oke.” Mereka berdua pun berjalan ke belakang rumah di sana terdapat sebuah kursi santai yang menghadap ke sebuah taman dengan berbagai macam jenis bunga, dan disinari oleh lampu-lampu yang terang sehingga suasananya sangat indah meskipun malam hari. “Ada apa, Ma?” “Nak, apa kamu benar-benar mencintai Ariana?” “Maksud Mama?” “Jika kamu benar-benar mencintai Ariana, sebaiknya pernikahan kamu di lakukan minggu depan saja.” “Hah! Ma, ya gak segitunya juga. Itu terlalu cepat,” ucap Ragarta. “Apa yang kamu tunggu?” “Aku butuh sedikit waktu lagi,” ucap Ragarta lirih. “Waktu buat apa lagi? Kamu jangan mempermainkan perasaan anak orang, biar bagaimana pun wanita itu butuh kepastian.” “Aku akan menikahi Ariana, tapi tidak minggu depan juga. Mama kan tahu aku menikahi dia untuk membalas budi aku karena dia sudah mendonorkan ginjal untukku, tapi Mama tenang saja aku akan mencoba untuk mencintai dia,” jelas Ragarta. “Bagaimana jika bukan Ariana yang mendonorkan ginjal padamu? Apa kamu akan tetap menikahi Ariana atau kamu akan menikahi wanita lain?” “Maksud Mama apa? Aku gak ngerti.” “Mama tidak yakin jika Ariana yang mendonorkan ginjal kepadamu, namun jika benar-benar Ariana yang mendonorkan ginjal itu, Mama senang tapi jika Ariana berbohong jangan salahkan Mama jika nanti Mama tidak menyukai dia,” ucap Diandra. “Ma, aku sangat yakin jika Ariana yang mendonorkan ginjal padaku, anak Ayah Andika hanya Ariana, Ma. Tidak ada lagi.” “Terserah kamu Gar, yang Mama inginkan jangan menyesal nantinya. Mama akan membicarakan pernikahan kamu dan Ariana agar dipercepat,” ucap Diandra lalu berdiri meninggalkan Ragarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD