Bab. 10

1714 Words
Sesuai dengan keinginan Diandra, ia menyuruh Ridwan mencari tahu tentang hal yang berhubungan dengan Bu Rita calon besannya, tentunya tanpa sepengetahuan Ragarta, ia tidak ingin sang anak merasa di awasi. Sebenarnya Diandra juga kurang setuju dengan pertunangan Ragarta dan Ariana, namun mau bagaimana lagi karena Ariana nyawa Ragarta bisa tertolong. “Tante, aku menemukan suatu yang sangat mengejutkan,” ucap Ridwan saat menemui Diandra. “Katakan saja, Rid.” “Ternyata Ariana bukanlah anak kandung Bu Rita, dia adalah anak tirinya,” ucap Ridwan “Benarkah?” tanya Diandra sedikit terkejut. “Iya tante, aku tahu itu dari salah satu temannya di kampus,” jawab Ridwan. “Apa Ragarta tau?” “Sepertinya tau.” “Kenapa dia tidak mengatakan padaku,” ucap Diandra. “Karena Ragarta tidak mempermasalahkan hal itu, Tante. Dia hanya ingin membalas budi pada Ariana.” “Sepertinya mereka juga belum saling cinta,” ucap Diandra. “Itu urusan mereka tante. Ya sudah Tan, aku mau ke kantor dulu, sebelum jam istirahat habis,” pamit Ridwan. “Ya, pergilah. Dan kabari aku apapun yang kamu tau tentang keluarga Ariana.” “Baik Tan.” Ridwan pun kembali ke kantor saat waktu makan siang hampir habis, sementara Diandra berencana akan pergi ke restoran miliknya, sudah beberapa hari ia tidak ke sana. Sepeninggalan Ridwan Diandra pun pergi di antar sopir keluarga. ** “Vi, tolong antar ini ke meja nomor sebelas.” “Iya, Mbak.” Hari ini Viana kembali ke rutinitas biasa, ia bekerja dengan penuh semangat. Dengan langkahnya ia mulai berjalan menuju meja yang di tuju dan menyajikan hidangan kepada pengunjung, rasa sakit yang ia derita seakan hilang dan menguap begitu saja saat melihat senyum di wajah para pengunjung restoran ini. Sebuah mobil berwarna hitam tengah terparkir di depan restoran. Setelah pintu mobil terbuka tampak sosok wanita paruh baya tengah keluar dari dalam mobil, langkahnya yang begitu anggun mulai berjalan memasuki restoran, senyum selalu mengembang saat beberapa pegawai menyapanya, langkahnya semakin masuk ke dalam dan ia menemui sosok gadis berhijab hitam yang sedang sibuk menjalankan pekerjaannya. “Selamat pagi, Bu.” ucap beberapa pegawai di sana. “Pagi, bagaimana pekerjaan kalian?” “Alhamdulillah, lancar Bu.” “Oh iya, tolong kamu beri tahu Viana, untuk menemui ku di ruang kerja. Dan suruh dia membawa teh madu dua cangkir,” titahnya. “Baik, Bu.” “Viana!” “Iya, Mbak.” “Kamu di panggil Bu Diandra, suruh ke ruang kerjanya dan bawakan dia teh madu dua cangkir.” “Baik, mbak,” ucap Viana. Viana pergi ke dapur untuk membuat teh pesanan Bu Diandra, dia takut jika Bosnya itu akan menanyakan hal tentang hubungannya dengan Bu Rita ibunya, dia harus menjawab apa, jika jujur pasti ibunya akan marah karena sudah jelas jika tadi malam Bu Rita mengatakan jika tidak mengenalnya. Dengan nampan berisi dua cangkir berisi teh madu, Viana berjalan menuju ruang kerja Diandra. Tok! Tok! Tok! “Masuk.” “Maaf, Bu. Apa anda memanggil saya?” tanya Viana. “Ah iya, Vi. Duduk sini.” Viana duduk di hadapan Diandra setelah meletakkan tehnya. “Ini buatmu, minumlah,” ucap Diandra menyodorkan satu cangkir teh kepada Viana. “Terima kasih, Bu.” “Oh iya, bagaimana kabar kamu?” “Alhamdulillah, Baik,” jawab Viana. “Tidak usah takut, aku tidak semenyeram kan itu,” ucap Diandra seraya tersenyum melihat gelagat tidak nyaman Viana. “Maaf sebelumnya, ada perlu apa Ibu memanggil saya?” tanya Viana. “Apa kamu mengenal Bu Rita?” tanya Diandra langsung. Viana sudah menduga jika Diandra akan menanyakan hal itu, dia sedikit berpikir akan menjawab apa. “Vi, apa pertanyaan itu sangat membuatmu tidak nyaman?” tanya Diandra membuat Viana tersentak. “Tidak, Bu. Saya tidak kenal, hanya saja saya mengenal Mbak Ariana karena dia teman sahabat saya,” ucap Viana. Namun Diandra melihat sebuah kebohongan dalam ucapan Viana, biar bagaimanapun Diandra bukan orang biasa, sebenarnya dia seorang psikolog, hanya saja semenjak menikah dengan Danang ia tidak bekerja lagi, karena sang suami tidak mengizinkannya. “Oh, anaknya Maya itu sahabatmu?” “Iya, Bu.” “Baiklah, kamu boleh kembali bekerja,” ucap Diandra. “Terima kasih Bu, saya permisi dulu,” pamit Viana. “Oh iya, tolong panggilkan manajer kesini.” “Baik, Bu.” Viana pun pergi dari ruang kerja Diandra. “Aku tahu kamu bohong, Vi. Aku akan mencari tahu tentang keluarga Ariana,” ucap Diandra. “Permisi, Bu. Apa Anda memerlukan bantuan saya?” tanya seseorang pada Diandra. “Iya, tolong kamu bawakan, data para pegawai di sini,” ucap Diandra. “Baik, Bu.” Tak lama kemudian Diandra sudah mendapatkan semua data para pegawai restoran miliknya, namun dia hanya penasaran dengan data diri Viana, setelah dia membaca data diri Viana, dia sangat terkejut saat mengetahui nama orang tua kandung Viana, ternyata dia anak kandung Bu Rita. “Ada, yang tidak beres, sebenarnya apa yang membuat Bu Rita tidak mengakui Viana? Aku harus menyelidiki semua ini,” ucap Diandra dan tak lama kemudian dia menelepon seseorang. Diandra tidaklah sepenuhnya setuju dengan pertunangan antara Ragarta dan Ariana selain karena alasan balas budi, Ragarta seperti dibutakan oleh hal itu, dan melupakan hal lain yaitu mencari tahu tentang kebenaran. Di sela-sela pemikirannya Diandra merasa curiga tentang Viana, apa dia pendonor yang sebenarnya? Suara deringan ponsel mengagetkan lamunan dari lamunannya. “...” “Waalaikumsalam. Ada apa Sayang?” “...” “Benarkah? Baiklah, Mama akan pulang sebelum jam tiga.” “...” “Waalaikumsalam.” Diandra mematikan sambungan telepon dari Ragarta. Anaknya itu mengatakan akan membawa Ariana untuk makan malam di rumahnya, Diandra pun mengiyakan hal itu dan dia juga mengabari suaminya agar pulang tidak terlalu sore. Waktu beranjak berganti sore, Diandra pun segera pulang karena harus memasak untuk calon menantunya nanti, sebenarnya dia punya asisten rumah tangga, namun kali ini dia berniat memasak makanan sendiri. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” “Ma, Papa sudah pulang?” tanya Ragarta. “Sudah.” “Assalamualaikum, Tante,” sapa Ariana dan mencium punggung tangan Diandra. “Sayang, kok panggil Tante? Panggilannya Mama dong, kayak aku gini. Kan kita akan segera menikah,” ucap Ragarta. “Iya, Ar. Kamu panggil Mama ya jangan tante, nanti orang mengira jika aku ini calon mertua yang jahat loh,” ucap Diandra. “I–iya Ma.” “Nah gitu dong,” ucap Ragarta seraya mengacak rambut Ariana. Mereka pun makan malam bersama dengan suasana yang menyenangkan, Diandra menanyakan beberapa pertanyaan kepada Ariana, jujur Diandra hanya ingin tahu tentang kehidupan Ariana. Terkadang Ariana tampak bingung saat Diandra menanyakan soal saudara dan juga tentang masalah pendonoran dulu. “Apa yang kamu pikirkan dulu, Ar?” tanya Diandra. “Maksud, Mama?” “Kenapa kamu, mau mendonorkan ginjal pada Ragarta? Apa seseorang memaksamu?” Ariana gelagapan ia harus menjawab apa, pertanyaan ini sangat membuatnya cemas, dia takut jika kebohongannya dan Bu Rita akan di ketahui oleh keluarga Ragarta. Namun sebelum dia menjawab seseorang datang menghampiri mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Ragarta. “Hanya urusan wanita, kamu tidak perlu tahu. Benar kan Sayang?” “I–iya,” ucap Ariana terbata. “Ma, aku mau antar Ariana pulang, ini sudah malam,” ucap Ragarta. “Baiklah. Hati-hati menyetirnya, Gar.” Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Ragarta, Ariana dan Ragarta segera pergi. Di sepanjang perjalanan Ariana hanya diam dia memikirkan pertanyaan Diandra, dia juga merasa Diandra tidak begitu menyukainya. “Apa Mama Diandra sudah tahu yang sebenarnya?” batin Ariana. Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya, dia juga takut apa yang akan terjadi jika Ragarta mengetahui siapa pendonor itu yang sebenarnya? Apa dia akan kehilangan Ragarta dan apa dia akan di benci oleh keluarga Ragarta? “Apa yang kamu pikirkan, Ar?” tanya Ragarta saat melihat Ariana tengah diam. “Tidak ada,” jawab Ariana. “Apa Mama menanyakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” “Ah, tidak. Aku hanya berpikir keluarga kalian sangat hangat,” jawab Ariana namun dia bohong. Bukan itu yang dari tadi mengganjal di pikirannya hanya saja dia tidak mau Ragarta mengetahuinya. “Baguslah kalau begitu. Oh iya, apa kamu punya saudara? Saudara tiri mungkin?” Ariana tersentak saat Ragarta menanyakan hal itu, dia bingung harus menjawab apa. “Ar?” panggil Ragarta. “Iya, aku punya,” Ariana menjawab dengan rasa takut, takut jika Ragarta bertanya lebih, atau meminta bertemu dengan saudaranya itu. “Apa dia tidak tinggal bersama kalian?” “Tidak, dia ikut Ayahnya.” Ragarta hanya ber’oh’ria. Selanjutnya tidak ada obrolan mengenai silsilah keluarga Ariana lagi, Ragarta tahu jika itu adalah hal yang sangat tidak nyaman bagi Ariana, dia akan mencari tahu setelah menikah, meskipun dia tahu sang Mama sudah pasti lebih dulu mencari tahu soal keluarga tunangannya itu, namun selama sang Mama tidak heboh, pasti semua tengah baik-baik saja. “Bu! Mama Diandra menanyakan soal operasi itu,” ucap Ariana saat dia sudah sampai di rumahnya. “Ya kamu jawab aja sesuai dengan keinginan dia,” ucap Bu Rita. “Maksud Ibu?” “Jika dia bertanya kenapa kamu mau mendonor, ya kamu jawab saja jika kamu hanya ingin menolong sesama,” jawab Bu Rita. “Tapi, Bu, bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya? Aku pasti akan malu, Bu!” ucap Ariana. “Makanya sekarang kamu buat Ragarta segera jatuh cinta sama kamu, dan segera menikahi kamu, dan nanti jangan menunda momongan, jika itu sudah terjadi pasti Ragarta tidak akan bisa meninggalkan kamu, kalau si Viana, biar Ibu yang mengurusnya,” ucap Bu Rita. “Baiklah Bu, kalau soal itu aku bisa melakukannya, karena Ragarta sudah mulai tergila-gila kepadaku,” ucap Ariana seraya tersenyum licik. “Bagus, pokoknya kamu harus segera menikah dengan Ragarta, soal kuliah kamu bisa menjalankannya meskipun setelah menikah.” “Bagaimana jika Ayah, mengetahui hal ini, Bu? Apa yang akan terjadi jika Ayah mengetahui hal ini?” tanya Ariana khawatir. “Tidak usah menghawatirkan Ayahmu, dia sangat menyayangimu jadi lupakan dulu soal Ayahmu, yang terpenting sekarang ini kebahagiaan kamu Sayang,” ucap Bu Rita seraya memeluk anak tirinya tersebut. "Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha membuat Ragarta mencintai aku, dan bukan karena rasa balas budinya itu,” ucap Ariana. “Maafkan aku, Vi. Karena Ariana yang berhak mendapatkan kebahagiaan ini, aku berharap kamu tidak merusak kebahagiaanku ini, jika itu terjadi aku sendiri yang akan menyingkirkan mu,” batin Bu Rita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD