"Berdamailah dengan masa lalu, karena dengan itu kamu bisa mejalani masa depan dengan damai tanpa ada bayang-bayang kepedihan."
***
SMA Garuda sangat ramai, saat melihat gadis cantik bersama Akira. Bisik-bisik mulai terdengar, itu adalah Maya.
Akira berhasil membeli omongan sampah yang bicara bahwa Maya, cupu.
"Murid baru ya, cantik banget anjir."
"Dih kok mau sih, jalan sama Akira!"
"Tapi menurut gue tetep cantikab Akira."
"Tunggu kok gak asing mukanya."
Akira tersenyum congklak, meremehkan. Kebanyakan laki-laki yang berbisik memuji.
Malvin dan teman-temannya, ikut melihat. Mereka juga terkesima dengan gadis di sebelah Akira. Cantiknya melebihi Akira.
"Wah gila, murid baru ya. Cantik banget njir," ucap Boby.
"Kok, gak asing ya mukannya?" Tanya Saka.
"Heem, siapa ya?"
"Ah, jangan-jangan Maya, si cupu?!" Pekik Aldo.
"Iya bener, kan kemarin tuh cewek baru bilang kalau mau beli ucapan si Dena yang bila cupu!"
"Makannya jangan asal ceplos lo, kemakan omongan sendirikan?" Ucap Saka.
"Gak mau lo gebet Vin?"
"Gak ah, hati gue udah mentok di si murid baru."
"Namanya Akira Vin!"
Tapi ada seseorang yang terlihat marah, melihat perubahan Maya. Tangannya mengepal kuat.
Akira masuk bersama Maya kedalam kelas, semua berdecak kagum. Akira benar-benar menepati ucapannya untuk membuat Maya berubah.
"Gila, May kenapa sih lo gak dari dulu kaya gini?" Decak Nathan.
"Ada Something"
"Gila gak sih gue, jago kan gue bisa bikin Maya jadi secantik ini?" Decak Akira kagum dengan hasilnya.
"Iya, mantap lo Kir, boleh gak sih May gue narik ucapan gue yang bilang lo cupu, dekil dan segala macamnya?" Tanya Nilam.
Maya tersenyum mendengar penuturan Nilam. "Gak perlu, lo gak suka kan sama gue?"
"Kalo dibolehin sih, mau." Jawab Nilam sambil cengengesan.
"Yeu, mau nya elo itu ma!" Ucap Nathan lalu menoyor kepala Nilam.
"Yeuuu, gue bercanda kali. Lagian gue udah punya pacar kok! Emang nya lo jomblo!" Sindirnya pada Nathan.
"Besyukurlah gue jomblo, bisa deketin Maya kan!"
"Udah ah, pokok nya gak ada yang boleh deketin Maya!" Ancam Akira.
"Iya kir iya elah!"
Brak!
Akira menggebrak meja lalu berdiri dengan senyum kebanggaan, membuat kadar manisnya bertambah.
Seisi kelas yang sejak tadi melihat Maya tanpa kedip langsung tersadar karena gebrakan Akira.
"Gimana guys, terbuktikan. Gue bilang apa Maya itu cantik, lo semua aja yang buta!"
Zaki mengacungkan kedua jempolnya keudara. "Mantap Kir!"
"See, Rama bukannya ini lebih dari sekedar wonder woman bagi lo?" Sinisnya pada Rama. Rama hanya menunduk ia tidak menyangkalnya kalau ia terpesona dengan penampilan baru Maya.
"Udahlah Kir, lo berlebihan." Ucap Maya tak enak.
"Gak May, mulai sekarang lo gak usah takut lo harus berani, sekarang semua nya tau kalo lo cantik dan lo bukan Sampah!" Ucap Akira, sarkastik.
"Bahkan lo sekarang sangat cantik, dibanding Jeni yang gak ada apa-apanya." Lanjutnya dengan senyum meremehkan.
Jeni yang mendengar itu langsung melotot tajam ke arah Akira, lalu berdiri dan berjalan menghampirinya.
"Menurut lo setelah si cupu di puja seperti Ratu, sampah akan hilang? kali ini lo yang kaya Sampah!" Ucap Jeni sambil mendorong Akira.
Akira tertawa. "Lo pikir gue pantes di bilang sampah? Lebih pantes mana sama lo?"
Jeni semakin marah. "Lo pikir karena kemarin, kak Malvin belain lo gue takut gitu? Lo salah! Gue makin gak suka sama cewek tukang jual pesona kaya lo!"
Akira maju satu langkah pada Jeni, tapi Jeni tidak takut ia malah memberikan tatapan nyalang pada Akira. Tidak ada yang berniat memisahkan mereka. Karena ini adalah adegan langka Jeni di permalukan.
"Lo pikir gue merasa bangga karena di bela Malvin, lo pikir gue bakal takut kalo Malvin gak bela gue? Lo salah!" Ucap nya mendorong bahu Jeni membuat Jeni limpung, jika tidak ada dayang-dayang nya di belakan mungkin Jeni sudah jatuh.
"Gue pernah di anggap sebagai sampah sebelumnya. Jadi gue udah tau gimana di perlakukan seperti sampah, dan mungkin lo belum pernah di pandang sebagai sampah selama ini. Dan kali ini gue bakal bikin lo di pandang sebagai sampah masyarakat, kuman yang gak seharusnya ada di bumi!" Sentak Akira lalu kembali maju dua langkah lebih dekat. Menyiram Jeni dengan air yang ia bawa dari rumah.
Jeni yang hendak menampar Akira, tapi tangannya dapat Akira tahan. Akira melepaskan cengkraman dari tangan Jeni kasar. Lalu kembali maju dengan tatapan nyalang.
Akira membuka dua kancing atas seragam Jeni, membuat seisi kelas menutup mulut nya tidak percaya.
"Itu apa? Lo mau ngelak di gigit nyamuk? Semua orang udah tau bedanya kissmark sama di gigit nyamuk. Sampah Masyarakat!" Ucapnya penuh penekanan, dan lagi-lagi Akira mendorong Jeni dengan tatapan yang lebih nyalang.
Wajah Jeni memerah menahan malu, bisa-bisanya murid baru itu mempermalukannya. Jeni mendorong Akira hingga jatuh lalu pergi dengan air mata.
Akira tersenyum miring lalu bangkit, ia melihat wajah teman-temannya yang masih terkejut.
Zaki bertepuk tangan sambil menggelengkan kepala dengan gerakan slowmossion. "Gila gila gila, lo tau dari mana ada kissmark Kir?"
"Baju dia tipis, lo buta kalo gak bisa lihat!"
"Dan sekarang semua BUBAR, DUDUK DI BANGKU MASING MASING!" Lanjut Akira sedikit membentak membuat semua yang masih tidak percaya duduk dengan kekaguman mereka.
Nilam dan Nathan mengangkat kedua jempol mereka sambil menatap Akira. "Kir, mantap!"
"Kir lo gak seharusnya kaya tadi, gak liat apa muka Jeni malu gitu." Ucap Maya.
"Iya Kir, tapi gue salut sama lo, lo barusan hebat banget berani sama Jeni!" Timpal Nathan.
Akira memajukan wajah nya. "Sini sini, gue kasi tau sama kalian. Sebenernya tadi itu gue deg-deggan sekaligus takut!" Ucapnya berbisik.
Seketika tawa Nathan, Nilam dan Maya pecah. Ternyata temannya itu takut. Membuat mereka lagi-lagi menjadi perhatian.
Maya merasa pusing dengan pelajaran Matematika kali ini, ia bilang pada Akira untuk pergi ke toilet.
"Kir gue ke toilet dulu ya,"
"Mau gue anter?"
"Gak perlu." Maya maju kedepan lalu ijin pada Pak Toni sebagai guru Matematika di sekolah.
"Pak saya ijin ke toilet ya,"
"Eh, kamu murid baru ya?" Tanya pak Toni.
Maya menggeleng. "Bukan pak, saya Maya."
"Maya?"
"Hah? Maya yang pake kacamata kan? Yang rambutnya di kepang kan?"
"Iya pak, yaudah saya udah kebelet nih pak!"
"Ah iya, silahkan!"
"Kok jadi cantik ya?" Gumam pak Toni.
Sebenernya semua murid ingin tertawa tapi mereka tahan karena bagaiman killer nya Pak Toni.
Maya berjalan menyusuri koridor menuju toilet, saat ia akan berbelok menuju toitet seseorang menarik tangannya lalu membawanya ke pojokan dekat gudang.
Maya melihat orang itu menahan marah, urat leher nya sangat terlihat jelas. Tangannya yang terkepal mengurung Maya dalam kukungan laki-laki itu.
Maya tau perubahannya ini akan membuat marah laki-laki yang sedang berada dihadapannya. Sejak tadi pagi ia melihat aura kemarahan dari laki-laki ini.
"Gue udah pernah bilang sama lo, jangan berubah!" Ucapnya marah.
Maya menunduk. "Maaf"
Laki-laki itu mengangkat dagu Maya. "Gue takut semua yang pernah terjadi sama lo terjadi lagi!" Maya hanya menunduk takut.
Lagi-lagi dagu Maya diangkat agar menatapnya. "Jangan nunduk. Lihat gue!" Tegas nya. "Apa cewek baru itu yang bikin lo kaya gini?" Tanyanya dingin.
Maya menggeleng tegas. "Gak, ini bukan karena Akira kak. Ini kemauan gue, gue mau mencoba buat damai sama masa lalu, lo gak boleh nyalahin Kira, dia baik sama gue Kak!"
Tatapan laki-laki itu melembut, tangannya mengusap rambut Maya lembut. "Tapi gue khawatir sama lo dek,"
"Kalo lo khawatir lo pulang, jahat banget sih lo ninggalin gue sama mamah berdua dirumah!"
"Belum saat nya dek, nanti gue pulang kalau gue udah jadi kakak dan anak yang ngebanggain."
"Gue bangga punya kakak kayak lo, dan mamah juga bangga punya anak kayak lo. Lo pulang ya kak?"
Laki-laki itu tersenyum, dan lagi-lagi mengusap kepala Maya lembut. "Nanti gue pulang kalo udah waktunya dek, hari ini gue bakal tidur di rumah, lo mau ke toilet kan? Gih, sori karena udah marah sama lo!"
Maya mengangguk. "Serius ya lo nginep di rumah hari ini?"
"Iya, sana. Semangat belajarnya gue pantau lo terus dari jauh!" Ucapnya sambil mengacak rambut Maya.
Maya tersenyum, dan langsung memeluk laki-laki itu. "Gue sayang sama lo kak!"
"Gue juga!"