"Jika fisik menjadi penentu dalam segala hal, lalu untuk apa di ciptakan otak, hati, dan pikiran?"
***
Sudah dua minggu lebih Akira bersekolah di SMA Garuda, Dan selama itulah Malvin mengganggu nya. Seperti saat ini, Malvin mengajaknya duduk bersama teman-temannya, yang otomatis Akira mengajak Nathan, Nilam, dan Maya untuk ikut.
"Si cupu ngapain di ajak sih Kir, bikin sakit mata!" Celetuk Dena membuat Maya semakin menundukan kepalanya.
Akira menatap Dena tajam. "Yaudah kalau temen gue bikin lo semua sakit mata, gue tinggal pindah, simple."
Akira berdiri sambil menarik lengan Maya Nathan dan Nilam juga ikut berdiri, tapi tangan Akira di tahan Malvin.
"Eits, jangan pergi dong Kir." Ucap Malvin sambil menarik Akira untuk duduk.
"Den lo minta maaf sama si Maya, gak boleh gitulah!" Lanjut Malvin sambil menatap Maya.
Dena memutar bola matanya malas. "Iya iya, cupu maafin gue!"
"Lo gak ikhlas Kak." Sela Nathan.
Dena berdiri nyolot. "Heh? Apaan lo, bocil diam aja!" Sarkas Dena, marah.
"Udah ah, dari pada di sini lo semua bully temen gue, mending kita balik kelas. Makan di kelas!" Ucap Akira lalu pergi, Malvin sempat menahannya namun dengan cepat Akira menepisnya.
"Lo sih!" Tunjuk Malvin pada Dena.
"Dih, nyalahin. Lagian ngapain sih lo nyuruh si cewek baru itu duduk disini?!"
"Gue lagi proses pdkt, Den!"
"Najis lo, biasanya juga mepet tembak jadi. Kagak perlu pdkt-pdktan segala!"
"Yang ini beda, agak sulit Bro!"
"Bagus deh, akhirnya ada cewek yang berhasil nolak pesona seorang Malvin!" Ucap Saka, sambil terkekeh.
"Mana ada, gak akan ada cewek yang nolak pesona gue. Tuh cewek lagi jual pesona aja sama gue, biar keliatan di kejar orang ganteng!" Balas Malvin, penuh percaya diri.
Saka mendesis. "Najis, gak usah berharap dapetin tuh cewek!"
"Tuh kan tuh! Lo sensi lagi kalo gue ngomongin tuh cewek!" Ujar Malvin pada Saka.
"Iya Ka, sensi mulu lo!" Timpal Dena.
"Cemburu lo ya!" Tuduh Aldo.
"PGT lo Ka!" Ujar Boby.
Malvin melihat kearah Boby. "PGT apaan deh Bob, baru denger gue!"
"PENIKUNG GEBETAN TEMEN!" Jawab Boby, Aldo, Dena dengan kompak.
"Kok lo pada tau bahasa begituan sih?" Tanya Malvin, lagi.
"Tau lah, seluruh dunia juga tau kali, lo aja yang kurang up to date!"
"Ah, masa? Emang lo tau Ka?" Tanya Malvin pada Saka.
Saka mengangguk. "Tau"
"NAH KAN!"
"Lo semua jahat banget, gak ngasih tau gue!"
"Kebanyakan nyusu sama pacar, jadi lupa ngopi sama temen sih lo!" Ucap Boby, frontal.
"Language, lo Bob. Mulut tuh sekolahin!" Ucap Dena.
"Belum pernah nyobain di perawanin bibir sama Popo bohay lo Bob?!"
"Iya iya maaf, gue salah. Gue suci kalian penuh dosa!"
"KEBALIK g****k!" mereka kompak memaki dan membully Boby dengan tindak kekerasan antar teman. Membuat mereka yang memang sering menjadi pusat perhatian semakin menjadi.
Akira yang masih saja terus emosi karena ucapan Dena pada Maya, sulit di tenangkan. Padahal Maya nya saja sudah bilang tidak apa-apa, tapi tetap Saja Akira emosi.
Nathan dan Nilam saja sudah kewalahan. Mereka bingung bagaimana meredakan emosi Akira.
"Liat aja ya May, gue bakal bikin lo berubah gak cupu lagi, biar mereka mingkem. Gak bisa ngomong lagi!" Ucap Akira menggebu-gebu.
"Iya Kir, sekarang lo tenang ya jangan emosi terus nanti cepet tua. Lagian gue udah biasa kok dengar olokan mereka buat gue!"
Brak!
Akira menggebrak meja sambil berdiri, membuat semua yang berada di kelas memperhatikannya.
"Gak bisa gitu dong May, lo temen gue dan gue gak suka ada yang bully ataupun hina temen gue. Lagian lo harus berani kali May, jangan cuman diem ini tuh gak baik buat kesehatan fisik dan mental lo!" Ucap Akira tidak terima.
"Gue tau lo cewek kuat, tapi kalo dihina atau di bully lo jangan diem dong May lawan! Gue gak mau lo kaya gue dulu, jadi bahan bullyan temen sekelas dan gue cuman bisa diem doang. Gue mau lo bisa kaya gue, walaupun gue cantik. Tapi gue dulu tetep di Bulky jadi salah satu cara biar gue gak di Bully ya harus berani, dan terbukti akhirnya semua temen-temen yang bully gue, gak ada yang berani lagi sama gue!" Lanjutnya masih dengan emosi yang menggebu.
"Iya makasih ya lo udah mau bela gue, baru sekarang gue punya temen. Dan gue gak nyangka gue punya temen gue se-care lo Kir, thanks." Maya menangis, setelah sekian lama ia akhirnya mempeelihatkan titik lemahnya, sejak dulu walaupun menjadi bahan olokan orang ia tidak pernah menangis sama sekali.
Akira langsung memeluk Maya. "Lo jangan nangis dong, gue ikut sedih nih!"
Maya melepas pelukan Akira, mengusap air matanya dan tersenyum. "Gue gak pernah nangis Kir walaupun orang-orang bully gue, baru kali ini gue nangis karena punya temen kaya lo. Gue benci ngeliatin sisi lemah gue di depan orang lain, dan lo berhasil buat gue nunjukin sisi lemah gue."
"Gue tau May, di luar lo itu kuat tapi hati lo rapuh May. Gue tau lo gak bisa nangis karena gak tau apa yang harus lo tangisin, gue janji sama lo May, besok lo bakal jadi pusat perhatian orang-orang di SMA Garuda. Gue mau beli omongan sampah orang yang udah bully lo, asal lo tau gue ahli dalam merubah penampilan seseorang." Ucap Akira lalu kembali memeluk Maya.
"Thanks Kir, thanks." Jawab Maya sambil membalas pelukan Akira.
"Udah dong, kok jadi kaya acara termehek-mehek sih!" Ujar Nathan, ikut sedih.
"Apaan sih lo Nath, ganggu suasana aja!" Ketus Akira lalu melepaskan pelukannya pada Maya.
"Yeh, jujur nih gue ikut sedih tau. Mau nangis tapi malu!"
"Alay lo!" Sindir Nilam. "Bye the way, sori May gue gak tau di balik diem nya Lo, lo serapuh ini. Gue minta maaf sebagai orang yang pernah ikut bully lo, gue sebenernya ikut-ikut aja sih." Lanjutnya sambil tersenyum pada Maya.
"Gue juga May, gue minta maaf ya sering bully lo. Janji deh sekarang gue gak akan ada bully-bullyan lagi, gue sama Nilam bakal jadi temen yang baik dan jagain lo berdua." Ucap Nathan.
"Halah, so-soan lo jagain, di gibeng Kak Malvin aja kalah lo Nath!"
"Lam, gue telen lo mentah-mentah nih. Kesel gue!"
Akira, Maya, dan Nilam tertawa melihat ekspresi kesal seorang Nathan.
***
Seluruh murid SMA Garuda berhamburan keluar kelas setelah mendengar bel pulang sekolah. Termasuk Akira, Maya, Nilam, dan Nathan.
Mereka berjalan beriringan, gelak tawa mereka berempat tidak berhenti karena Nathan yang selalu melempar lelucon tidak jelas.
"Udah udah, mau pipis nih gue!" Ucap Akira masih di sela tawanya.
"Eh, Kir May. Lo berdua pulang naik apa?" Tanya Nilam.
"Em, gue pake angkot deh," jawab Kira.
"Gue di jemput."
"Oh, bagus deh. Lo mau bareng gak Kir dari pada naik Angkot?" Tanya Nathan.
"Heem Kir, ngirit ongkos gitu."
"Enggak deh Than Lam, gue pulang sendiri aja, thanks tawarannya."
"Bener nih?"
"Iya."
"Yaudah kalau gitu kita berdua duluan ya, bye!"
"Iya, hati-hati!" Nilam dan Nathan mengacungkan jempolnya.
"Eh Kir, gue udah di jemput, gimana gak apa-apa?"
"Em, May. Gue sih pengen main ke rumah lo, kalau boleh"
"Boleh kok, ya udah yu!"
"Yu!"
Akira tidak menyangka jika Maya di jemput oleh mobil mewah di halte.
"May serius ini jemputan lo?"
"Iya, kenapa gak percaya ya?" Maya sadar diri, dengan penampilan dan kesederhanaannya pasti tidak akan ada yang percaya kalau Maya adalah anak dari orang Kaya.
"Sedikit, tapi udah lah yu."
Akira dan Maya memasuki mobil. Selama di perjalanan mereka banyak berbincang Akira yang menanyakan siapa Malvin dan Bagaimana Malvin, Maya yang menjawab setaunya.
"Eh May, lo sedikit pasti tau lah tentang Malvin, emang dia itu siapa sih?"
"Gue sering denger sih, dia itu playboy. Hampir semua cewek di SMA Garuda pernah jadi pacar kak Malvin, kecuali gue tentunya. Karena mantan-mantan kak Malvin itu cantik semua." Ujar Maya.
Akira mengangguk. "Terus sekarang dia punya pacar?"
"Banyak, kenapa lo suka sama dia?"
"Dih apaan, gue cuman kepo aja masa playboy macem dia mukanya kelatan cool sih?"
"Lo juga bakal melting kali, kalo di gombalin Palyboy cool kaya Kak Malvin." Ujar Maya sambil terkekeh.
"Jujur sih, di tatap dia aja gue melting."
"Masa, tapi kok lo jutek banget sama kak Malvin?"
"Gak tau lah, sensi mulu gue kalo udah ngomong sama dia!"
Maya hanya terkekeh pelan. Sesampainya di rumah Maya, Akira melebarkan matanya tak percaya, ternyata Maya adalah Anak orang Kaya. Rumah nya saja mewah seperti ini.
"Assalamualaikum, Maya pulang."
"Waalaikumsalam, eh ini siapa May?" Akira tersenyum, lalu salam pada Dewi-ibu Maya.
"Saya Akira tante, teman Maya."
"Oalah, akhirnya kamu punya temen juga May,"
"Iya Mah, cuman dia yang mau temenan sama Maya."
"Yaampun, Akira makasih ya. Kamu tau gak selama sekolah Maya itu gak pernah punya temen, dan baru kali ini bawa teman kerumah.”
"Iya tante sama-sama, lagian Maya itu baik. Masa sih gak ada temen?"
"Mungkin karena penampilan Maya kali ya? Karena Kak-"
"Mah!" Ucapan Dewi terpotong saat Maya menegurnya.
"Hehe, iya mamah lupa yaudah masuk yu!"
"Maya langsung kekamar ya Mah."
"Iya Mamah buatin minum dulu,"
"Saya ikut Maya ya tente, maaf merepotkan."
"Ah, enggak kok."
Akira masuk ke dalam kamar Maya, untuk sesaat Akira takjub dengan dekorasi kamar Maya yang dominan dengan accecoris serba pink.
"Kamar lo bagus juga ya May." Ucap Akira sambil menidurkan tubuh nya di atas kasur Maya tanpa malu.
"Hm, biasa aja sih," Maya mengambil baju ganti lalu melenggang ke Kamar mandi. "Gue bersih-bersih dulu."
"Iya."
Tidak lama Maya keluar dengan baju santai, rambut tanpa kepang, dan tanpa kacamata. Akira sempat kagum, ternyata Maya sebenarnya sangat cantik.
"Wah, May gila gila. Lo cantik banget deh sama penampilan lo kaya sekarang, Kenapa di sekolah dekil dah?"
"Hm, makasih."
Akira membenarkan posisinya menjadi duduk tegap. "Serius deh May, kalo lo kaya gini ke sekolah setiap hari semua orang pasti gak nyangka ini elo!"
"Gue gak mau!"
"Kenapa?"
"Gapapa, gue gak suka aja jadi pusat perhatian."
"No! Lo tinggal poles dikit beuh mantap!"
"Gak!"
"Fix, malem ini gue nginep di rumah lo, gapapa kan?"
Maya mengangguk lalu ikut duduk di sebelah Akira. "Iya gapapa"
"Oke, gue chat abang gue dulu,"
"Lo punya abang?" Akira hanya mengangguk.
Akira mencari nama sang Kakak. Lalu mengetik chatnya.
akiralrst : Bang gue nginep di rumah Maya ya, mamah papah belum plg kan?
Tidak lama balasa dari Saka muncul.
Bang Saka : Iya, Blm.
Akira tidak berniat membalas, ia memasukan handphone nya ke dalam tas. Lalu menoleh pada Maya. "May lo punya make up?"
Maya mengangguk. "Punya, tapi sedikit."
"Its oke, besok lo siapin Make up sama seragam yang nggak kucel. Punya kan?"
Maya mengangguk, lagi. "Punya."
"Oke bagus. Besok bangunin gue subuh, dan sekarang gue pinjem baju lo. Gue ikut mandi ya!"
"Iya, lo pilih aja di lemari."
Setelah selesai Mandi Akia duduk di kursi yang ada di kamar Maya. "May, kok gue gak liat bokap lo sih, ada di rumah? Atau kerja?"
Maya menutup Novelnya. "Bokap gue udah meninggal satu tahun yang lalu"
"Sori, gue gak tau."
"Gak apa-apa"
"Terus lo sekarang tinggal berdua doang?"
"Bertiga sama kakak gue."
"Terus kakak lo mana?"
"Semenjak ayah meninggal dia milih tinggal sendiri, katanya mau belajar mandiri."