Punya Pacar

1094 Words
Matahari semakin terik, membuat rambut Revina sudah terasa hangat. Revina masih berfikir kata-kata apa yang sebaiknya ia katakan kepada Angga. Ia tidak mau langsung menolak karna khawatir nantinya Angga akan kecewa lantas melakukan hal aneh. Dan ia juga tidak mau menerimanya karna sudah tentu Vina tidak punya perasaan apa-apa pada Angga. " Bisa gak jawabannya nanti aja?aku gak bisa mikir sekarang " akhirnya kalimat itu yang keluar. Angga terdiam menatap Vina. " Yaudah, besok ya aku tunggu jawaban kamu Vin ". Wajah Angga menampakkan senyum yang dipaksakan. " Iya, aku pulang sekarang ya " Vina hendak melanjutkan perjalanan pulangnya, lalu terhenti karna Rendra tiba-tiba menarik tangan Vina. " Vin" Revina terpaksa berbalik lagi. " Apa lagi?" Vina sedikit kesal. " Kamu jangan ngasih harapan palsu sama Angga, kalau nantinya kamu tolak" Ucap Rendra. Mendengar ucapan itu Angga langsung menghampiri Rendra yang masih memegang tangan kanan Vina dengan wajah bingung campur kesal. " Maksud loe apa Ren? "kok loe bilang gitu?" Dahi Angga mengkerut. " Kok jadi kamu yang sewot sih Ren, emang kamu tahu apa sama perasaan aku? " tanya Vina sedikit berteriak kepada Rendra. Angga menarik tangan Rendra yang masih memegang tangan Vina dan bersiap melayangkan bogem mentah ke arah Rendra. " EEehhh jangan kaya gitu" Vina meraih tangan Angga yang hendak meninju Rendra dan menarik Angga mundur. " Jangan-jangan loe...." " Ehh udah udah,,Angga iya udah aku terima aja deh, udah ya sekarang pulang jangan pada berantem disini.." Vina kelabakan malu campur khawatir kalau Angga dan Rendra bakal berantem disitu. Dan juga orang - orang disekitar mereka sudah mulai memperhatikan karena terdengar sedang ribut. Mendengar kata terima dari Revina, Angga terlihat sumringah, sedangkan Rendra merasa terkejut. " Udah kan, sekarang aku mau pulang ya , pokoknya kalian jangan berantem disini " Setelah mengucapkan itu, Vina segera bergegas lari untuk pulang meninggalkan dua orang yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing. *** Cuaca pagi ini masih sama seperti kemarin. Sangat cerah, tapi entah kenapa terasa mendung bagi Revina. Dia masih belum percaya dengan kejadian kemarin. Dia berharap itu hanya mimpi dan tidak akan terjadi apa-apa hari ini. Tapi Vina juga punya banyak sekali pertanyaan untuk Rendra. Kenapa sikapnya seperti itu kemarin. Ketika ia mulai berjalan menuju kelas, terlihat Angga sedang berdiri didepan pintu. Langkah Vina terhenti sejenak. Bagaimanapun ia harus menghadapinya. Toh cuma pacaran. Revina mungkin bisa pacaran dengan Angga seperti Rendra dan Dita yang kelihatannya cuma status saja. Kali ini Revina melanjutkan langkahnya dengan santai. Seperti biasa ketika Angga melihat kedatangan Vina, ia mulai senyum-senyum sendiri. Sedangkan wajah Vina terlihat tanpa ekspresi. Vina berjalan melewati Angga tanpa menyapanya, Angga yang merasa dicuekin menyusul Vina kedalam kelas perempuan yang sudah ia anggap pacarnya. " Vin, gimana kabarnya " sambil nyengir sebenernya bingung harus bilang apa dulu. " Yaelah, kalau sakit mah gak bakal masuk sekolah kali " Vina sedikit ketus. Angga masih nyengir. " Vin, kan ini hari pertama nih, kita mau ngapain hari ini?" tanya Angga Revina diam, tidak buru-buru menjawab. Dia menyimpan tas dan duduk dikursinya. Vina malah celingukan mencari Sisil dan mengabaikan Angga. " Vin, kok kamu gak jawab?" tanya Angga lagi sambil manyun. " Nanti deh ya, istirahat kita ngobrolnya " Vina menjawab asal. " Hmm..yaudah nanti istirahat aku kesini jemput kamu ya kita ke kantin bareng " Angga menjadi bersemangat. " Iya..iya " tangan Vina memberi isyarat kepada Angga untuk menyuruhnya pergi. Angga pergi ke kelasnya yang berada disebelah kelas Revina dengan hati yang senang. Sedangkan Vina malah tertunduk dimeja menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Revina tidak sadar dari tadi Rendra sudah memperhatikannya begitu ia memasuki kelas bersama Angga. Selang beberapa menit ada seseorang datang menghampiri meja Vina. Ternyata Sisil yang terlihat bingung melihat Vina sedang tertunduk. " Vin, kamu sakit? " Sisil menepuk tangan Vina pelan. Vina mengangkat kepalanya menatap Sisil dengan wajah yang kusut penuh kegalauan. " Sisiiilll " ucap vina pura-pura menangis seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya. Sisil terkejut dan langsung duduk di kursi Tiwi yang masih kosong karena yang punya belum datang. " kenapa Vin? " Sisil tampak cemas. Kemudian Vina menceritakan kejadian sepulang sekolah kemarin setelah ia mengantar Sisil dari ATM. Sambil bercerita Vina melirik ke arah bangku Rendra dan ternyata cowok itu sudah ada disana sedang menulis sesuatu. Jadi Vina sedikit berbisik kepada Sisil ketika bercerita tentang Angga dan Rendra kemarin. Sisil yang tidak menyangka kemarin ada kejadian seheboh itu menimpa sahabatnya lantas menutup mulutnya terkejut dan tidak tahu harus bilang apa. Setelah mendengar cerita itu Sisil menatap sahabatnya dengan tatapan iba. " Aku ya harusnya seneng sahabat aku ternyata tiba-tiba udah punya pacar, tapi kenapa aku malah prihatin ya? " Ucap Sisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Vina pura-pura nangis lagi dan menundukan kepalanya kembali ke meja. " Yaudah langsung putusin aja Vin, gimana?" Sisil memberi ide agar Vina cepat memutuskan hubungan dengan cowok yang tidak dicintai sahabatnya itu. " Ya gak bisa Sil, nanti gimana perasaan Angga? aku bukannya kasian sama dia tapi aku takut dia malah ngelakuin hal-hal aneh nantinya "Ucap Vina yang masih tertunduk. " Hal aneh gimana sih Vin?" Sisil bingung. Sisil kembali mengangkat kepalanya, kali ini langsung duduk tegap menghadap Sisil. " Nih gini Sil, Angga itu ya kata aku sih type cowok yang sembrono, bukan type yang mikir dulu sebelum bertindak. Aku takutnya ketika aku nolak dia, dia malah terus-terusan ngejar aku. Atau aku lebih takut lagi kalau dia bakal nyebarin ke orang-orang kalau aku tuh udah nolak dia terus malah sebar-sebarin kejelekan aku juga Sil ". Vina menjelaskan dengan suara pelan. Sisil diam sejenak. " Tapi gimana kalau itu cuma prasangka kamu aja Vin?" tanya Sisil. Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Revina baru sadar ternyata Tiwi sepertinya tidak masuk sekolah. Dan akhirnya meminta Sisil duduk menemaninya disitu. Sisilpun menghampiri Dita untuk pamit ijin duduk sehari dengan Vina karena Tiwi tidak masuk ditambah Vina sedang ada masalah. Mendengar itu Dita mengerti dan memperbolehkan Sisil menemani Vina walaupun Dita harus duduk sendiri, tapi ia merasa tidak masalah. Sisil kemudian mengambil tasnya yang semula ia simpan dikursinya, kemudian membawanya ke kursi disamping Vina. Melihat Dita duduk sendiri, tiba-tiba Rendra membawa tasnya dan lantas menyimpannya disamping kursi Dita yang kosong. Lalu seisi kelas jadi riuh melihat pasangan itu duduk bersama. " Cieee,, berasa pelaminan niih" Ucap salah seorang teman. " Belajar loh ya, jangan malah pacaran " Teman lain ikut bicara. Revina dan Sisil hanya tersenyum melihat ke arah teman-teman yang menggoda Dita dan Rendra. Lalu tanpa sengaja mata Vina melihat ke arah Rendra dan tiba-tiba Rendrapun melihat ke arah Vina. Jleb Dua pasang mata kembali beradu pandang dan ada sesuatu yang sama-sama mereka rasakan. Hanya saja...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD