Sejarah masa lalu

975 Words
" Yaudah gak apa-apa Vin, kamu sama Sisil aja. Aku sama Theo tinggal nyari 2 orang lagi ". Ucap Tiwi tersenyum walaupun sedikit kecewa. Vina mengangguk meski saat ini ia jadi ragu harus 1 kelompok dengan Rendra. Semuanya gara-gara Theo yang asal saja membuat gosip. Kalau saja tadi dikantin Theo tidak bicara seperti itu, mungkin perasaan Vina tidak akan seperti ini sekarang. Ia merasa ragu walaupun sebenarnya menganggap ucapan Theo itu tidak dapat dipercaya. " Sudah bikin kelompoknya?" ucap Pak Hidayat beberapa saat. " Kalau sudah, langsung duduk berdasarkan kelompoknya masing- masing ya " sambung Pak Hidayat. Beberapa Siswa terlihat memindahkan beberapa kursi. Vina lalu datang menghampiri bangku Sisil dan Dita. Disusul Rendra ikut menghampiri mereka juga. Vina berusaha bersikap biasa, dia terus meyakinkan diri sendiri agar bisa berbicara santai dengan Rendra. "Gue duduk dimana" tanya Rendra kepada Dita. " Disitu aja " menunjuk satu kursi didepannya. Vina Masih berdiri disamping kursi Sisil. Dan melihat kursi disamping Rendra kosong. Sisil melihat sahabatnya sedikit ragu. " Vin mau duduk dikursi aku?atau mau disitu?" tanya Sisil menunjuk kursi kosong didepannya. Yang notabene kursi itu disamping Rendra. " Eh iya, gak apa-apa aku disini aja" Vina lalu menduduki kursi disamping Rendra dan mencoba bersikap normal. Pak Hidayat lalu memanggil ketua dari setiap kelompok untuk kedepan mengambil materi yang akan disampaikan oleh masing-masing kelompok. Kelompok Revina semua setuju menjadikan Dita sebagai ketua karna Dita memang yang paling pintar diantara mereka. Setelah semuanya mendapatkan materi, Dita kembali ke bangku kelompoknya. " Kita bahas apa Dit?" tanya Sisil penasaran Dita membuka gulungan kertas. Membuat teks cerita yang mengandung unsur sejarah. " Ooh " kata Dita. Yang lain hanya bengong, belum paham seperti apa mengerjakan tugas kelompok ini. " Jadi gini, misalkan dulu itu kan gunung krakatau meletus, yang katanya membuat gelap pulau-pulau yang berdekatan dengan gunung tersebut. Nah kita tinggal tambahin cerita apa aja bebas. Misal pas gunung itu meletus kamu masih kecil terus bla bla bla " Dita menjelaskan berusaha agar kelompoknya bisa mengerti penjelasannya. "Hmmmm..aku udah paham banget, pahaaammm banget" ucap Sisil antusias. "Coba gimana Sil?" tanya Vina tersenyum sedikit mengejek. " Soalnya ya, waktu itu kakakku pernah cerita, dulu ada gunung meletus terus kakak aku kan masih disekolah tuh waktu itu dia masih SMP, pas pulang sekolah kaget didepan rumah udah banyak abu gitu bekas gunung meletusnya " Sisil bercerita. " Eh, emang kamu tinggal dimana?terus emang SMP kakak kamu jauh dari rumah?" tanya Dita penasaran. " Jadi rumah aku lumayan agak deket dari gunung itu kan, nah SMP kakak aku jaraknya setengah jaman dari rumah, kebetulan aku juga sekolah di SMP yang sama sama kakakku" Sisil menjelaskan. "Ooh kakak kamu di SMP 2 juga Sil?" tanya Vina " Iya ih sama kaya kita?" Sisil tersenyum. " Ooh, kamu juga di SMP 2 kan ya Ren?" tanya Dita. Rendra mengangguk. " Tapi kok kalian kayak gak saling kenal sih sama Rendra?" tanya Dita kepada Sisil. " Rendra beda kelas, eh tapi kayaknya pernah sekelas sama kamu ya Vin?" " Iya waktu kelas 3" kata Vina. " Tapi kok gak akrab pas ketemu lagi di SMA?" tanya Dita penasaran sambil tersenyum. " SMP Aku gak pernah akrab sama temen cowok" Vina tersenyum sedikit melirik ke arah Rendra yang terlihat sedang menyimak ia bicara. Revina memang agak pemilih untuk berteman. Terlebih kepada laki-laki. Jadi ketika ia bertemu lagi dengan Rendra di SMA sewaktu kelas 1 dulu, ia sama sekali tidak menyapanya. Tapi Vina tidak tahu bahwa Rendra sudah memperhatikannya sejak ia pertama kali satu kelas di SMP dulu. "Ren, kamu udah paham tugasnya?" tanya Dita. Rendra mengangguk lagi. Jam pelajaranpun usai dan waktunya pulang. Vina kembali ketempat duduknya semula. Vina berpikir sepertinya Rendra tidak ada perasaaan apa-apa kepadanya seperti yang Theo katakan. Iapun akhirnya tidak lagi memikirkan kata-kata itu lagi. Ketika Vina masih membereskan bukunya kedalam tas, Sisil datang menghampiri. " Vin, pulang sekolah anterin dulu ke ATM ya" " Siap non" Vina nyengir. Tiba-tiba ada seseorang berteriak di luar pintu kelas. " Revinaaa kata Angga ditunggu disamping kantiiiin" . Entah suara siapa itu, hanya terdengar teriakannya saja yang bisa didengar oleh teman-teman Vina yang masih ada dikelas, karena beberapa orang sudah keluar. Vina merasa malu sendiri, karena beberapa temannya terlihat menertawakan suara tadi. " Gak usah didenger Vin, langsung cabut aja yuk " ucap Sisil. " Iya ayo " kata Vina cepat-cepat ingin meninggalkan kelas. *** Setelah Vina mengantar ke ATM, Sisil langsung pamit pulang kemudian naik angkot. Sementara Vina berjalan kaki menuju rumah karna memang jarak dari sekolah kerumah Vina lumayan dekat, sekitar 10 menit berjalan kaki. Cuaca hari ini sangat terik, jadi Revina hanya menunduk dan mempercepat langkahnya agar cepat sampai rumahnya. Tiba-tiba seseorang dari belakang memanggil namanya. Revina menoleh, dan sedikit terkejut melihat orang yang memanggilnya itu Angga teman kelas sebelah. Lebih terkejut lagi melihat Angga ternyata tidak sendiri, dia datang bersama Rendra. " Vina, kamu kok malah pulang aku tadi nunggu kamu di deket kantin " Ucap Angga menghampiri Revina. " Ih iya, tadi Sisil minta anter ke ATM " Vina sedikit menutupi bagian atas matanya dengan tangan karena silau dengan cahaya matahari yang terik. "Aku mau bilang sesuatu " Angga sedikit malu Rendra diam saja berdiri dibelakang Angga dan wajahnya tampak tidak ada ekspresi apapun. " Yaudah ah cepetan, ini panas berdiri terus disini ". Vina sedikit tergesa. " Ayo kita cari tempat teduh biar enak ngobrolnya " ajak Angga. " Enggak ah, bilang disini aja cepatan, aku pengen cepet-cepet pulang " " Yaudah dengerin ya, aku to the point aja. Aku sebenernya suka sama kamu Vin, mau gak jadi pacar aku?" Angga tidak teprgagap sama sekali ketika mengutarakannya. Revina bengong, sebenernya dia sudah ada firasat Angga bakal bilang itu. Karena entah kenapa ketika berpapasan sama Angga di koridor kelas, Angga langsung terlihat suka senyum-senyum sendiri. Tapi tetap aja mendengar pengakuan seperti ini Vina merasa syok dan tiba-tiba blank tidak tahu harus bilang apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD