The Queen [4]

1057 Words
Selamat membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤️ ***** AUREL sibuk memperhatikan ponselnya sambil menunggu kedatangan dua orang yang sudah membuat Salsha dan Audy heboh sejak tadi. Dua gadis itu seperti akan bertemu dengan artis terkenal melihat tingkah laku keduanya yang super heboh dibandingkan Aurel yang duduk diam menunggu. "Mohon perhatian, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA717 Melbourne-Jakarta akan segera mendarat!" Ketiganya segera berdiri dengan cepat saat mendengar pengumuman Salsha sudah semakin heboh mendengar pengumuman tersebut. "Hua bentar lagi Sherren ama Rakha dateng, ga sabar deh," ucap Audy dengan hebohnya, "Oleh-olehnya pasti cakep nih," tambah Salsha. Aurel hanya menggeleng pelan, namun tak berapa lama ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. "Gue angkat panggilan dulu, lo berdua jemput mereka duluan," ucap Aurel, "Jangan lama ya Queen!" Teriak Audy saat Aurel mulai menjauh dari keduanya. Salsha dan Audy memekik senang saat mata keduanya melihat dua orang yang berjalan keluar dari dalam pesawat. Terlihat seorang laki-laki dengan Hoodie abunya berjalan berdampingan dengan gadis yang memakai dress santai berwarna peach. Dua orang itu berjalan sambil membawa koper masing-masing. "SHERREN!!!RAKHA!!" Dua orang itu menoleh kearah sumber suara, Sherren yang menarik kopernya langsung melepaskannya begitu saja lalu berlari memeluk Audy dan Salsha dengan semangat. "Dasar cewek," gerutu Rakha menarik koper milik Sherren dengan paksaan. "Uwa gue kangen banget sama lo," teriak Salsha dengan antusias, "Iya, Sherren kelamaan di Melbourne sih. Jadi ga ingat lagi buat balik," sahut Audy. Sherren hanya tersenyum, "Gak, kan gue disana belajar bukan liburan ya jadinya lama. Lagian gue nunggu si Rakha kelar juga, jadi bisa barengan balik ke Indo nya," ucap Sherren menjelaskan. "Anjir Rakha, Udy kangen," pekiknya memeluk Rakha sebentar. "Gue juga," sahut Rakha datar. Audy yang hanya mendapat sahutan singkat langsung memukul lengan laki-laki itu dengan keras, "Nyebelin banget, kalo ama Queen aja ga ada dater-daternya," gerutunya kesal. "Gue peduli?" Tanya balik Rakha dengan wajah meremehkannya. "Gak ada berubah sama sekali tuh anak," celetuk Salsha, "Iya, dari dulu udah kek gitu. Selama gue ama dia di Melbourne juga ga terlalu terbuka ama orang lain. Emang cuma Queen yang bisa narik perhatian tuh anak," sahut Sherren. "Eh mana Queen?" Lanjutnya bertanya, melihat batang hidung satu sahabatnya itu tidak kelihatan, "Jangan bilang dia ga ikut jemput?" "Gue disini," Suara Aurel membuat semuanya menoleh, Rakha yang awalnya berwajah datar langsung tersenyum tipis menghampiri gadis kesayangannya. Entah karena apa pertama kali bertemu Aurel, gadis itu sudah membuat Rakha nyaman sendiri walaupun Rakha tau bahwa Aurel tipe gadis yang cuek dan irit berbicara jika tidak penting. "Hai," sapa Rakha dengan senyum tulusnya, yang hanya ia berikan untuk Aurel dan itu sangat tergolong langka melihat senyum tulus Rakha. Aurel menatapnya sekilas dan hanya mengangguk datar, lain dengan halnya Rakha. Laki-laki itu langsung menarik Aurel ke dalam pelukannya dengan cepat, membuat Aurel terkejut. "Weh apaan peluk-peluk, ga boleh!" Teriak Salsha heboh, sedangkan Sherren dan Audy hanya terkejut tak percaya. "Gue kangen banget sama lo," bisik Rakha tepat di telingat Aurel, "Lepasin, malu," balas Aurel tajam. Rakha tak memperdulikan, lalu laki-laki itu kembali menatap Aurel dengan tatapan memuja. "Gak ada yang berubah, lo tetep cantik dengan kecuekan lo itu," kekeh Rakha menarik hidung Aurel, membuat Aurel menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh gue!" ucap Aurel kesal. "Malah mesra-mesraan," cibir Sherren melihat kedua anak Adam itu. ***** Mata laki-laki itu memicing saat melihat foto seorang gadis yang baru saja diserahkan oleh tangan kanannya dan beberapa berkas. Laki-laki itu terlihat tampan dengan balutan jas hitamnya dan tatapan elangnya yang menusuk. "Aurel Alqenisha Mackenzie, dia anak dari pasangan Marteus Mackenzie dan Liona Mackenzie. Kedua pasangan itu sudah meninggal karena perjalanan bisnis ke Denmark menggunakan pesawat, gadis itu anak tunggal. Dan informasi yang saya dapat sekarang gadis itu bersekolah di Indonesia tepatnya SMA Bintara Jaya dan memimpin sebuah perusahaan," ucap Rion menjelaskan panjang lebar. Laki-laki itu mendongak, "Dia memimpin sebuah perusahaan? Apa nama perusahaannya?" Tanyanya meminta penjelasan, "Tidak ada yang tau, tuan. Semua informasi mengenai akses perusahaannya seperti disembunyikan dan belum ada sama sekali yang tau nama perusahaan gadis itu, sedangkan perusahaan kedua orang tuanya dikabarkan sudah bangkrut dan ditutup oleh pihak setelah meninggalnya pasangan itu," Laki-laki itu terdiam sejenak, awalnya dia mencari tau gadis ini dikarenakan nama belakang gadis itu. Ada hal yang menarik dirinya untuk mencari tau, padahal nama belakang seperti itu banyak dipergunakan, namun gadis ini berbeda. Gadis ini terkait dengan hal masa lalunya yang membuatnya harus mencari tau, dan dia ingin segera bertemu. "Tuan Daren sepertinya rapat dengan Haren's Corp akan segera dimulai, sebaiknya tuan bersiap," ucap Rion sopan. Daren mengangguk. Dia akan mengurusi semuanya nanti setelah ini, ada banyak hal yang harus dia perbaiki. Daren Alkanata Alfenson, anak dari pasangan Dion Alfenson dan Mariana Alfenson. Daren mempunyai adik laki-laki yang berusia 2 tahun bernama Sakha. Daren sebenarnya tidak terlalu paham seluk-beluk keluarganya, bukan karena Daren tidak ingin mencari tau. Tapi ada hal yang membuat Daren merasa aneh dengan keluarganya sendiri, sejak dia beranjak remaja dia merasakannya. Pernah pertama kali Daren menemukan data aslinya di sebuah berkas lama yang berdebu dan nama belakang Daren bukanlah Alfenson, melainkan Mackenzie. Maka dari itu mengapa Daren sangat ingin mencari tau tentang Aurel. Karena Daren yakin bahwa dia bukanlah anak dari pasangan Alfenson, tapi bukan sekarang rencananya akan berjalan. Dia akan menunggu beberapa waktu hingga saat itu tiba, dia harus mencari tau semua hal tentang Aurel. ***** "Kak, lusa kamu jemput Angkasa ya di bandara. Dia balik ke Indonesia lusa soalnya," Athala yang sedang mengunyah sandwich menu sarapannya langsung menoleh ke sang mamah. "Lah dadakan banget, bukannya masih lama? Om Arnold sama Tante Viola kan masih banyak kerjaan katanya di Spanyol?" Tanya Athala bingung. Bella menatap anaknya dengan senyuman, "Katanya mereka udah selesai lebih cepat bisnisnya jadi nyuruh Angkasa ke Indonesia duluan, sementara waktu Angkasa tinggal sama kita dulu. Nunggu Om sama Tante kamu itu terbang kesini, cuma 2 Minggu kok," jelas sang mamah membuat Athala mengangguk mengiyakan. Athala menyelesaikan sarapannya dan menghampiri adik perempuannya, Fenny. "Hai, main apa sih seneng banget nih adeknya kakak," ucap Athala memainkan kedua pipi adiknya. "Eny main masak-masak, Kak Thala ga usah gangguin Eny," ucap sang adik membuat Athala gemas sendiri. Laki-laki itu memilih menghabiskan waktu liburnya hari ini untuk bermain bersama adiknya. Jarang-jarang dia mempunyai waktu luang seperti ini, karena hari-harinya dihabiskan dengan OSIS setiap saat dan tentunya Aurel. "Hari ini ga ada OSIS lagi kak? Biasanya weekend kamu ngurus kegiatan-kegiatan sekolah?" Tanya Bella menatap anak sulungnya, Athala hanya menggeleng sebagai jawaban. "Yaudah nanti mamah titip Fenny sama kamu ya, mamah sama papah mau jenguk nenek di rumah sakit. Nanti mamah siapin keperluannya Fenny," ucap Bella, "Iya mah," balas Athala mengiyakan. Athala kembali bermain bersama adiknya, hari ini dia akan menghabiskan waktu bersamanya sampai puas. Dan Athala berencana akan mengajak Fenny ke rumah Aurel. Hitung-hitung perkenalan Fenny sama calon kakak iparnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD