Selamat membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤
~ Selamat menikmati ~
*****
AUREL berjalan pelan keluar dari ruang OSIS. Dia baru saja selesai mengerjakan beberapa hal bersama Zita, sekretaris OSIS. Aurel menghembuskan nafasnya pelan.
Tubuhnya sangat sakit semua, mengingat hari ini terlalu banyak pekerjaan yang hilir mudik harus dia urus. Padahal seharusnya acara pengenalan kepada para peserta didik baru dia hanya sebagai pengawas bukan terjun ke lapangan, tapi mau bagaimana lagi. Para calon adik kelasnya ingin selalu bermain-main.
"Queen!"
Panggilan seseorang membuat Aurel terdiam sejenak namun kembali berjalan, tapi dengan langkah agak pelan agar si pemanggil bisa menyamakan langkahnya.
Dua orang gadis menghampiri Aurel, siapa lagi kalau bukan Audy dan Salsha. Kedua sahabatnya yang selalu menempel padanya.
"Akhirnya lo keluar juga dari ruangan laknat, lama amat lo disana. Ngapain? Gak lagi hibernasi kan lo?" Tanya Audy membuat Salsha mendengus, "Lo kalo ngomong jangan nge-rap dong. Gimana si Queen mau jawab," ketus Salsha.
Audy hanya terkekeh, "Maaf-maaf, udah dari asalnya kek gini kalo ngomong," ucapnya.
Aurel hanya menggeleng, "Pulang naik apa?" Tanya Aurel menatap Salsha, biasanya gadis itu selalu nebeng bersamanya saat jadwal pulang sekolah karena Salsha selalu diantar jemput oleh kakaknya.
Dan biasanya pula kakaknya itu tidak sempat menjemputnya jika pulang sekolah, alhasil Aurel lah yang dengan sukarela mengantarnya pulang. Dia tidak mungkin meninggalkan gadis itu sendiri di sekolah, lagipula secuek apapun Aurel dengan dua tengil di kiri-kanannya ini.
Mereka tetap sahabat Aurel yang sudah lama bersamanya bukan sehari dua hari.
"Gue hari ini dijemput sama kakak gue, tadi dia bilang udah di depan. Jadi gak usah nganter kek biasa," jawab Salsha dibalas anggukan Aurel.
"Oh iya, tadi Audy di titipin ama Athala katanya suruh ngasih ini ke Queen. Nih!" Audy menjulurkan paper bag berwarna pastel itu kearah Aurel.
Aurel hanya meliriknya lalu kembali menatap kearah depan, sudah terlalu sering Athala memberikan hal-hal seperti itu jika dia berkunjung ke sekolah Aurel.
Dan sudah terlalu sering Aurel mengabaikannya bahkan menyuruh Audy menyimpannya sendiri.
"Ih Queen ambil dong, tangan Audy capek nih," keluh Audy membuat Salsha menyentil keningnya, "Lo tuh ya gak bosen-bosen aja nerima suruhan si cowok k*****t. Udah tau sahabat lo ini gak bakal mau nerima," cerocos Salsha.
"Ih tapi kan---"
"Berisik!"
Aurel melontarkan kalimatnya, membuat keduanya terdiam sambil meringis. Aurel mengambil paperbag dari tangan Audy lalu membuangnya ke tong sampah yang sedikit jauh dari dia berjalan dan gotcha! Paperbag itu masuk ke dalam tong sampah dengan mulus.
"Oh iya, nanti malam Sherren ama Rakha udah landing di bandara. Jadi jemput kan kita?" Tanya Audy dengan semangat.
"Iye-iye," balas Salsha dan Aurel hanya mengangguk tanpa bicara.
*****
Aurel membuka pintu rumahnya dengan pelan lalu menutup pintunya kembali, rumah mewah dengan warna putih dan abu ini terlihat minimalis dan nyaman. Walaupun besar dan mewah, hanya Aurel dan beberapa pekerja dirumah ini yang tinggal.
Orang tua? mereka sudah meninggalkan Aurel sejak Aurel menduduki bangku kelas 8 SMP. Keduanya meninggal saat melakukan penerbangan bisnis ke Denmark. Hari itu adalah masa paling sulit bagi Aurel untuk melewatinya.
Aurel bahkan mengurung dirinya hampir 2 Minggu di kamar tanpa keluar kamar sama sekali, kerap kali bibi dirumahnya hanya meletakkan makanan di depan pintu dan Aurel akan mengambilnya dengan membuka pintu sedikit.
Aurel yang sekarang bukanlah kemauan Aurel, Aurel dulu sama seperti Audy dan Salsha ah jangan lupakan Sherren yang juga menjadi sahabat Aurel sejak sekolah dasar namun gadis itu melanjutkan pendidikan SMP nya di luar negeri bersama orang tua dan kakaknya.
Aurel tumbuh dengan baik, kasih sayang dan keceriaan selalu berhasil menjadi bumbu manis dalam hidupnya. Sampai kecelakaan itu membawa kabar duka baginya dan merubah segalanya.
Wajar jika Aurel berubah sedemikian rupanya, karena Aurel trauma dan masih belum bisa berdamai dengan kecelakaan itu. Walaupun Aurel terlihat baik-baik saja namun jauh di lubuk hatinya, luka itu masih menganga lebar bahkan tak bisa disembuhkan oleh Aurel sendiri.
Aurel anak tunggal di keluarganya, jadi jangan salahkan Aurel semakin terpuruk. Tak ada yang bisa menjadi sandarannya saat dia benar-benar sendiri seperti ini. Semenjak hampir sebulan masih suasana berduka, akhirnya Aurel perlahan bangkit dari keterpurukannya walaupun dengan Aurel yang berbeda.
Diusia Aurel yang belum genap 15 tahun sudah harus belajar tentang dunia bisnis oleh kaki tangan kepercayaan papahnya. Gadis itu belajar dengan giat walaupun usianya belum cukup untuk menerimanya tapi mau bagaimana lagi. Dia satu-satunya pewaris sah perusahaan papah, mamahnya dan kakeknya.
Dan sekarang Aurel berdiri sebagai CEO wanita termuda walaupun Aurel belum membuka dirinya secara langsung ke publik karena dia akan memperlihatkan dirinya saat kelulusan SMA nya nanti. Aurel banyak belajar dan berusaha keras untuk bisa melakukan semuanya sendiri.
Tidak peduli apapun, Aurel akan lakukan semuanya dengan baik hanya untuk membunuh kenangan manis bersama orang tuanya. Aurel berusaha sesibuk mungkin agar tidak kembali dalam suasana keterpurukannya.
"Non udah pulang, bibi udah masakin ayam kecap kesukaan non. Sudah bibi siapin di dapur non," ucap seorang wanita dengan memakai daster menghampiri Aurel.
Aurel tersenyum tipis, mengangguk. "Rere ganti baju dulu bi," jawabnya sopan. Bibi Arum pun hanya mengangguk mendengar jawaban nona mudanya.
Aurel hanya bertingkah sopan kepada orang yang tua dan Aurel sangat menyayangi Bibi Arum, pembantunya yang sudah merawatnya sejak bayi. Jadi Aurel menganggap Bibi Arum pengganti ibunya sendiri.
Setelah memilih pakaian santai, Aurel kembali lagi ke meja makan untuk makan. Dia juga membawa laptop miliknya, hari ini ada beberapa E-mail masuk dari perusahaan kedua orang tuanya yang sekarang pindah tangan menjadi miliknya.
Aurel memakai wireless earphone miliknya ke telinga, laptopnya sudah menghubungi tangan kanan kepercayaannya dan sebuah tablet juga berada di tangannya.
"Bisa jelaskan mengenai keuntungan kerja sama dengan naungan perusahaan Artheli Corp? Saya lihat tidak ada penjelasan mengenai hal itu melalui E-mail yang mereka kirim,"
Selagi Aurel berbicara masalah pekerjaannya, Salsha dan Audy sudah berjalan masuk ke dalam rumahnya. Keduanya juga membawa ransel kecil berisi baju mereka, karena rencananya mereka akan menginap di rumah Aurel
"Eh eh eh, Queen lagi Video Call sama siapa tuh? Keliatan mukanya udah dewasa banget tapi ga kek om-om si," tanya Audy dan Salsha pun hanya mengendikkan bahunya.
"Gak tau gue, samperin aja ayo!"
Keduanya melangkah pelan menuju Aurel yang masih fokus berbicara, tak ingin mengganggu maka Audy dan Salsha hanya menyapa lewat tepukan di bahunya.
Aurel menatap keduanya dengan datar tapi masih melanjutkan pembicaraannya sedikit lagi. Salsha sudah duduk manis di meja makan bersama Audy, Bi Arum juga menghampiri mereka membawakan minuman dan makanan cemilan.
"Pas banget kita dateng, orang Queen lagi makan gini," cengir Salsha tanpa malu lalu ikut menyendokkan nasi ke piringnya.
"Ih Salsha, harusnya kita izin dulu sama Queen. Jangan asal ambil aja," gerutu Audy memperingatkan namun Salsha tak peduli dan juga Aurel masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tolong rapatkan ini kembali dan data keuangan yang baru minta Sekretaris membuatnya dan berikan ke saya paling lambat besok pagi sudah ada di ruangan saya. Besok saya akan datang,"
Itu kalimat terakhir yang Aurel utarakan sebelum mematikan sambungan keduanya. Aurel merapikan kembali semuanya dan menaruhnya di pinggir.
"Ngapain?" Tanya Aurel to the point melihat kedatangan kedua sahabatnya ke rumahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Ya makanlah, emang kita ngapain?" Tanya balik Salsha dengan acuh, membuat Aurel ingin memiting leher Salsha sekarang juga.
"b**o,"
Audy pun hanya fokus dengan makanan yang ia tata untuk dia makan sendiri dengan senandung kecil di bibirnya.
"Audy..." panggil Aurel.
"Yes, Queen!" ucap Audy dengan cepat menatap Aurel yang kini juga menatapnya, "Kita hari ini mau nginap di rumah Queen dan besok pulang, soalnya maminya Salsha sama kakaknya hari ini pergi keluar kota dan baru pulang besok. Audy cuma diajakin Salsha," jawab Audy dengan jujur.
Aurel hanya mengangguk, jika bertanya dengan Audy maka gadis itu akan cepat tanggap menjawab dengan kepolosannya.
"Tadi lo ngobrol ama siapa? Gue perkirain si umurnya lebih tua dari kita tapi bukan om-om ya soalnya mukanya kek anak kuliahan gitu," komentar Salsha.
"Kepo,"
Aurel melanjutkan makanannya daripada menjawab pertanyaan Salsha yang tidak penting. Sembari makan pun otak Aurel terus bekerja memikirkan apa saja yang akan dilakukannya nanti.