Selamat membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤
~ Selamat menikmati ~
*****
LANGKAH sepatu terdengar mendekati lapangan, dimana para calon siswa baru berkumpul membentuk barisan rapi sesuai intruksi panitia OSIS.
Awalnya ada yang protes bahkan malah tak mendengarkan, namun ketika tau bahwa Ketos yang kemarin tidak hadir sudah datang lalu semuanya baris dengan rapi walaupun terpaksa. Demi menjaga citra mereka.
"Gue dari kemaren kepo ama Ketos nya anjir, siapa tau cogan kayak di w*****d-w*****d yang sering gue baca gitu,"
"Ketosnya kelamaan anjer, lama-lama kabur juga nih gue,"
"Gila, baru abis upacara disuruh jemuran disini. Ini OSIS kayak gimana si?"
"Sumpah gue mau pingsan rasanya, gue mau ke kantin,"
"Engap gue disini cuk,"
"Ngapain disuruh baris panas-panas gini, dasar panitia OSIS sampah!"
"Ulang perkataan lo!"
Suara teriakan seseorang membuat semua menoleh kearah kanan barisan. Disana Aurel dan beberapa panitia melangkah menuju kearah barisan, wajah Aurel terlihat dingin.
Seketika suasana yang sedikit ribut hening, tak ada yang berani berkutik setelah mendengar perkataan Aurel, ada yang menunduk bahkan gemetaran.
"Mati, ada Queen,"
"Duh gila,"
Aurel berdiri di depan barisan paling tengah, matanya meneliti setiap peserta PLS yang menunduk takut. Tak ada lagi gunjingan seperti yang dia dengar tadi.
"Kenapa nunduk? angkat kepala lo semua!"
Aurel tidak membentak, namun semuanya serentak mengangkat kepala mendengar suara Aurel.
"Lo!" Aurel menunjuk kearah laki-laki yang memakai atribut tidak lengkap dan seragam keluaran, point pentingnya dia paling tampan di antara peserta laki-laki lainnya.
Semua menoleh kearah laki-laki itu, laki-laki itu hanya tersenyum remeh seolah menantang. "Apa? lo ngefans sama gue?"
"Maju," intruksi Aurel, "Kalo gue ga mau gimana? Queen Queen ga semua orang tunduk sama aturan lo termasuk gue!" jawab laki-laki itu enteng seolah mengejek.
Aurel hanya menatap datar lalu kakinya melangkah maju, barisan bagian depan sontak membuka jalan untuk Aurel. Tanpa aba-aba Aurel langsung menerjang wajah laki-laki itu dengan cepat.
Bahkan semua kaget dan terpekik tak menyangka, Aurel menarik kerah baju laki-laki itu dengan kasar dan kembali melayangkan pukulannya hingga sudut bibir laki-laki itu berdarah.
"b******k!" maki laki-laki itu dan membalas serangan Aurel namun dengan cepat Aurel menahannya dan memelintir tangan itu tanpa belas kasihan.
Krek
Aurel makin kuat hingga erangan kesakitan laki-laki itu terdengar, "Aaarghhh!!!"
Dengan sekali pukulan, laki-laki itu tersengkur di depan kaki Aurel. Aurel hanya berdecih melihatnya.
Terlalu besar kepala batin Aurel menghina.
"Gimana rasanya? coba ngomong lagi dari awal lo menghina panitia OSIS dan menghina gue," suara Aurel rendah namun sangat dingin.
"Kata siapa ga ada yang bisa tunduk sama gue hm? lo belum kenal gue Armada Januar Rendra," bisik Aurel ke telinga Armada saat dia berjongkok dan menarik kerah leher Armada untuk menatap dirinya.
Setelah itu Aurel menghempaskannya begitu saja dan kembali ke tempat sebelumnya.
"Saya rasa peserta angkatan tahun ini lebih sampah dan tidak pantas masuk ke sekolah bergengsi ini, jiwa kalian tidak pernah ada satu pun yang masuk dalam kriteria anak SMA Bintara Jaya. Mungkin kalian masuk dengan uang orang tua kalian, menjijikan!" decih Aurel.
Semua diam tak bersuara, ada yang sudah mengepal tangan karena menahan amarah.
"Kenapa? tidak terima dengan perkataan saya? silahkan maju ke depan, saya tidak masalah mengambil waktu sedikit untuk bermain-main. Jangan pernah kalian berpikir dengan sudah lolos administrasi dan daftar ulang berarti kalian sudah berhasil menjadi siswa disini. Karena pemikiran itu salah!"
"Sekolah ini hanya menerima siswa yang berattitude, mempunyai pola pikir dewasa dibanding kekanakan seperti kalian. Ditambah sekolah ini tidak menerima siswa sampah dan tidak bermoral seperti tadi,"
Aurel menahan gejolak amarahnya, baru kali ini peserta yang masih belum resmi menjadi siswa SMA Bintara Jaya bertindak seolah senior atau siswa resmi SMA Bintara Jaya.
"Kalau tidak suka peraturan disini, silahkan keluar! Sekolah ini tidak akan rugi jika tidak menerima siswa seperti kalian. Kalian ini bibit yang akan menghancurkan nama SMA Bintara Jaya, jangan bertindak seperti siswa yang tidak bermoral," ketusnya.
"Dari kemarin tingkah kalian itu sudah kelewatan, sudah merasa hebat dengan cara menghina panitia OSIS hah? Setinggi apa derajat kalian semua disini hingga mengatakan OSIS sampah!"
"Kalian itu berada di bawah aturan saya selama saya masih menjadi Ketua OSIS disini, jangan pernah bermain-main dengan api jika tidak ingin terbakar," peringat Aurel.
Aurel segera berbisik kearah Farel sebagai ketua panitia kegiatan, setelah itu dia melirik sekilas para peserta lalu pergi. Ada hal yang akan dia lakukan untuk menjinakkan para peserta seperti mereka.
*****
Aurel sudah duduk manis di podium aula yang memang disediakan jika ada acara penting atau sebagainya. Dia menunggu para panitia membawa peserta masuk ke dalam.
Ponsel Aurel bergetar saat satu pesan masuk.
From : Uknown
Rpt plg sklh, bscmp. Jgn tlt!
Aurel tak memperdulikannya, dia memilih fokus kearah pintu masuk. Aurel tersenyum tipis melihat wajah kesal setiap peserta yang masuk ke dalam.
Kursi-kursi yang berjejer di aula sudah disingkirkan keluar, dia akan sedikit bermain dengan para bibit perusak seperti mereka.
"Atribut tidak lengkap memisahkan diri dan jangan jadi orang pengecut!" suara Aurel lantang mengejutkan peserta yang masuk.
Aurel berdiri diatas panggung aula, tangannya terlipat di d**a. Wajahnya datar, tatapannya pun dingin bak silet yang tajam.
"Gak ada yang nyuruh duduk," seketika peserta yang berniat untuk duduk langsung berdiri, tak berani melawan.
Farel mendekat kearah Aurel, "Queen, semuanya udah siap," Aurel mengangguk mengiyakan.
"Gue ga tahan bahasa formal, jadi gue cuman minta ikuti arahan panitia disini. Kalo ga mau nurut silahkan ajukan alasan langsung sama gue dari sekarang," suara Aurel menggema ditengah keheningan.
"Oke, kita minta kalian semua bentuk kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 10 orang dan langsung tunjuk ketuanya. Diberi waktu 2 menit dari sekarang," intruksi Farel membuat aula heboh seketika.
"Gila ya lo, 2 men--"
"GUE BILANG IKUTI ARAHAN!" teriak Aurel ditengah kehebohan peserta.
"Ga usah ngelunjak atau protes, kalo ga mau silahkan ajukan alasan ke hadapan gue Aluna," ucap Aurel dingin.
Sebenarnya prosedur PLS ini diluar rancangan seluruh panitia. Tapi karena Aurel ingin bermain, jadi dia akan membuat calon adik barunya ini jera dan tidak lagi merasa tinggi.
Mereka harus ditekan untuk menghargai setiap orang, baik yang tua maupun muda, jika mereka tidak diarahkan bisa saja setelah angkatan Aurel lulus nanti bibit perusak makin merajalela di Bintara Jaya dan menghilangkan julukan Bintara Jaya yang terkenal dengan sebutan sekolah terpandang dan terunggul.
Masuk ke dalamnya bukan hal yang mudah, harus menggunakan otak yang cerdas agar bisa masuk. Kecuali ada yang diam-diam memakai uang tapi itu tak akan bertahan lama karena Aurel dengan pikirannya akan membuat orang itu keluar dengan sendirinya. Entah karena tidak nyaman maupun merasa minder karena kalangan disini kalangan orang-orang yang dilahirkan bisa menjadi generasi emas nantinya.
Bukan malah mengandalkan jabatan orang tua, pamor, bahkan fisik yang mengagumkan. Tapi bukan berarti orang-orang yang masuk disana monoton, tidak. Singkirkan pikiran itu.
Mereka sama seperti siswa sekolah lainnya, tapi dijamin dengan masuk ke Bintara Jaya kalian akan benar-benar mendapatkan surga pendidikan sesungguhnya. Tidak ada kelompok, bully, dan sebagainya.
Prinsip Aurel adalah ingin menjadikan satu sekolah disini keluarga, keluarga yang saling bahu membahu membantu bukan hanya sekedar teman-teman, teman-guru, maupun guru-guru dengan menanamkan prinsip menghargai.
Farel bernafas lega, belum sampai 2 menit barisan kelompok sudah terbentuk dan dominan ketuanya adalah laki-laki.
"Kita semua kasih kalian 25 menit waktu istirahat terlebih dahulu dan setelah itu harus kembali kesini tepat waktu. Buat ketua kelompok bisa maju ke depan sekarang, sisanya silahkan istirahat," intruksi Farel.
Seketika Aula hanya menyisakan beberapa panitia dan ketua kelompok. Semuanya membentuk melingkar dan Farel segera memberitau tujuan mereka dikumpulkan.
Farel menjelaskan secara rinci apa saja kegiatan yang akan dilakukan selesai istirahat, Aurel mengawasi dan mencermati penjelasan Farel.
"Jadi sistemnya kalian sebagai ketua harus berpikir bagaimana kelompok kalian harus berhasil ke tahap selanjutnya, ingat gunain waktu dengan baik. Sekarang lo semua bisa istirahat, jangan bicarain ini dulu selama diluar," pesan Farel yang dibalas anggukan.
Farel menghembuskan nafas, akhirnya semuanya bisa terkoordinasi dengan baik dibanding kemarin. Dia lelah mengarahkan para peserta yang bebal, jika tidak ada Aurel mungkin semuanya tidak akan berjalan dengan baik.
"Nih konsumsinya," ucap Paula menyerahkan konsumsi kepada Farel dan Aurel, Aurel menggeleng pelan.
"Loh kenapa Queen? lo belum sarapan kan tadi pagi?" tanya Farel bingung ketika Aurel menolak konsumsi yang diberikan.
"Kenyang," jawab Aurel singkat. Mata Aurel mengamati kembali proposal yang tadi diserahkan Zura kepadanya tadi.
"Queen, OSIS dari Taruna Jaya udah dateng," lapor Abri memberitahukan kepada Aurel setelah tadi panitia menghubunginya dengan HT.
Aurel mengangguk dan segera melangkah pergi setelah pamit dengan yang lainnya, dia memang mengundang OSIS dari Taruna Jaya untuk berkolaborasi di acara party nanti.
Aurel masuk ke dalam ruangannya, disana sudah ada beberapa perwakilan OSIS Taruna Jaya yang sudah duduk dengan menggunakan almamater biru dongker kebanggaan mereka.
"Sorry telat," ucap Aurel singkat lalu duduk di kursi yang disiapkan.
Bentuk kursi dibuat melingkar, jadi Ketua OSIS Bintara Jaya dan Taruna Jaya akan duduk bersebelahan diikuti inti OSIS lainnya.
"Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua yang hadir dalam rapat kecil ini," salam Aurel membuka rapat.
Setelah itu dilanjutkan pembahasan inti oleh kedua sekolah itu, tapi ada satu orang yang sebenarnya hanyut dalam wajah manis Aurel yang sedang menjelaskan.
Dia Athala Abrizam Malik, Ketua Osis Taruna Jaya yang memang sudah lama memiliki perasaan dengan partner OSIS tetangga sekolahnya ini. Semua orang juga tau betapa besarnya perasaan Athala dengan Aurel namun Aurel tak pernah peduli bahkan seperti acuh tak acuh.
Senyum Athala terus mengembang melihat jiwa kepemimpinan Aurel walaupun dia seorang gadis yang dimana kebanyakan seorang pemimpin adalah laki-laki.
"Tolong silahkan serius dengan rapat ini, karena ini rapat penting," teguran Aurel tanpa melihat kearah Athala, gadis itu fokus ke lembaran kertas yang dia baca. Tapi dia tau Athala terus menatapnya.
Aurel bukan risih, hanya saja seharusnya Athala tau tempat dan waktu dimana dia bisa melamun dan senyum-senyum tidak jelas seperti orang gila tadi.
Mereka sedang serius, dan Athala malah bermain-main membuat Aurel hanya mendengus kasar.