Bab_10_Kembali ke Jakarta

1264 Words
"Gimana Bu, keadaan Nita apakah ia baik-baik saja?" " Nita baik-baik saja, hanya kata dokter Nita, kebanyakan pikiran sehingga membuat nya lelah dan pingsan," jawabnya, meski ku lihat ada sedikit khawatiran pada lbu, karena Nita, belum bangun dari pingsannya. Aku memperhatikan Nita, aku pikir ia sudah mau bangun, karena aku melihat ia seperti sedang mengintip dari sedikit terbuka matanya. " Oho, kau membuat drama lagi dan ingin membuat lbu, khawatir tidak akan aku biarkan," gumanku, menghampiri Nita. Aku mendekati muka ke telinga nya. "Mau bangun sendiri atau mau aku bangun dengan surat perjanjian kita pada…." Bisikku belum habis, karena Nita sudah menggerakkan tangan nya. " Janna, lihat Nita menggerakkan jarinya..," senang lbu, lalu menghampiri Nita . Hingga secara perlahan Nita, mulai membuka mata nya. Dia melihat ke kiri dan kanan. " Apakah kamu merindukan ku, Nita?" Begitu mendengar suara ku, Nita melihat kedepan. Membuat sedikit melotot ke arah ku. " Alhamdulillah Nita, kamu bangun juga. Apa kamu butuhkan sesuatu Nak? Atau air minum." Yang hanya di angguki oleh Nita. " A-ir," sedikit batanya. Tiba-tiba…. "Jan, ikut dengan ku," aku sedikit aneh melihat bang Al, menarik tanganku keluar dari kamar Nita. " Ada apa, membawa aku kesini," lihat sedikit jauh, dekat dengan pohon-pohonan disekitar panti. " Kamu melihat Devan, datang kesini untuk menjemput mu, membawa pergi dari sini ke Jakarta," jelanya sedikit khawatir. Deg. ' Secepat itu kah, aku harus pergi dan pisah dengan semuanya? Apakah mereka tidak memberi aku kesempatan dalam perpisahan ini selama dua hari atau satu hari kalau boleh.' sedihku didalam hati. " Gimana Jan, kenapa bengong? Apakah kamu harus pura-pura sakit atau kita pikirkan rencana untuk menunda keberangkatan nya?" Membuat ku menggeleng dan menghela nafas dengan kasar. " Tidak perlu bang, mungkin sudah saatnya aku pergi bagaimana pun suamiku pasti banyak pekerjaan disana dan tidak ada banyak waktu lagi setelah semua ini," jelas ku, membuat bang Al, tidak sangka dengan jawabanku. " Abang, tidak mau kehilangan mu ataupun jauh darimu, karena aku belum menghabiskan banyak waktu dengan mu Jan, begitu juga dengan lbu. Ini begitu mendadak. Jan." Ucap nya, sedikit mencekram bahuku. " Sudah terlambat, Bang. Biarkan aku ikut dengan suamiku karena Abang tidak pantas ikut untuk sekarang atau sampai nanti karena status lah yang telah merubah kan semua nya," aku melihat sekitar. " Seperti suami ku sedang mencari ku bang," lihat ku ada beberapa orang sedang mencari seseorang sambil tanya pada orang panti sekitar. " Sembunyi Jan," bang Al, menarik ku agar tidak terlihat oleh mereka aku dibalik pohon mangga. Kenapa sih bang ! Disaat aku sendiri kamu tidak peduli disaat aku mulai menjauh dari kehidupan mu. Kamu khawatir akan keadaan ku disana, tapi … disaat aku sudah pasrah dengan keadaan, kamu mulai merencanakan sesuatu, ini sudah terlambat. Sedih ku di dalam hati, sambil melihat bang, beberapa saat. " Ini salah, jangan mempuruk keadaan bang, aku tidak apa-apa jangan khawatir, aku janji akan mengabari Abang, setiap saat ." Janjiku padanya. Meski untuk sementara waktu dia tidak mau, aku terus menyakinkannya. " Aku baik-baik saja bang, kalau tidak aku akan mencari pekerjaan untuk Abang, disana biar bisa menjaga ku meski bukan melalui jarak dekat," tawar ku. Membuat nya berpikir sejenak. " Baiklah Jan, kamu harus berjanji untuk selalu mengabari Abang, dalam keadaan apapun itu, untuk pekerjaan tidak perlu pikir kan, jika perlu biar Abang saja yang mencari nya," ucap nya sedikit semangat dicampur tidak rela aku pergi. ' Tidak apa -apa lah yang penting bang Al, sudah melepas kan ku pergi tapi, aku berharap mudah-mudahan jangan susul aku kesana, aku tidak mau Abang dapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan Abang,' harap sedihku dalam hati. Untuk sesaat aku memeluk nya sebagai perpisahan. " Jaga diri mu baik-baik, jangan nakal. Jikalau ada yang jahatin kamu lawan terus atau bilang sama Abang, biar aku yang hadapi." Katanya menghapus kan sisa air mata ku. Dan membuat ku sedikit tertawa. " Siap bos," hormat ku. " Abang juga, jangan terlalu pikirkan aku. Jaga kesehatan dan aku titip lbu, jika ada sesuatu akan aku bilang sama Abang," lanjut ku. " Boleh lah Abang mencium mu Jan, sebagai perpisahan?" Deg. ' oh jantung ku kau tidak mengenal tempat kalau lagi bermusik,' membuat ku mengangguk. Bang Al, tersenyum lalu. Cup.. Satu kali dipipi, tanpa sadar bang Al, menyentuh bibir ku denga lbu jarinya mengusap perlahan. Deg deg. Apa ini, kenapa aku tidak bisa bergerak. " Kenapa kamu seperti ini bang, disaat aku sudah berubah status istri orang kamu baru memperlakukan aku begini, membuat ku tidak sedikit nyaman," tangis ku dalam hati. Membuat ku refleks memeluknya daripada terjadi hal yang tidak diinginkan oleh syetan. " Maafkan Abang…" sadar nya. Membuat ku lega. ' huh, hampir saja.' " Aldi, Janna. Apa yang kalian lakukan disini sambil berpelukan?" Kaget lbu melihat kami, membuat ku mendorong bang Al, untung tidak jatuh. Dan Yap! Ada pak tua De-van juga dibelakang lbu, batinku sedikit was-was melihat tatapan tajamnya. Tanpa mendengar penjelasan bang Aldi. Devan berjalan kearah ku dan dia menarik tanganku menjauh dari sana tanpa berbicara. " Kau sedikit kasar, menarik tangan mulus ku," kesalku hampir tidak kedengaran. "Masuk ! " Perintah nya, menyuruh aku masuk kedalam mobil, membuat ku bingung. " Kau membuat saya membuang waktu berharga saya, yang sedang enak mesra-mesraan rupanya ! " Marahnya yang terus mendekat…. Apakah dia juga sok-sok-an, mencari ku cih ! Sok-an tidak ada waktu lagi, kesel ku dalam hati. Brak. " Aduhh.. " rintihku sedikit sakit bokongku akibat didorong kedalam mobil dan menutup pintu secara kasar. " Apakah dia tidak bisa memperlakukan perempuan dengan lembut apa?". Ketusku. Membuat ku tersadar karena belum pamit pada lbu dan yang lainnya, dan aku juga mempersiapkan semuanya. Oh tidak, ini terlalu mendadak. Benar apa yang dibilang bang Al. Apa yang harus aku lakukan?. Pikirku. Terpaksa aku keluar dari mobil, meski susah payah aku membuka pintu mobilnya. " Akhirnya bisa juga," lega ku sudah terbuka pintunya, lalu… " Mau kemana kamu, masuk !" Terdengar suara bariton yang menyebalkan. Lalu dia mencekel tangan ku. Brak ! Ah aku dikurung lagi dimobil ini. " Jaga dia, jangan sampai keluar lagi !" Perintah nya pada supir mobilnya sendiri. " Baik Pak," sahutnya, lalu mengunci pintu mobil. " Jangan kunci mobilnya… " Kesel ku, tanpa dihiraukan oleh nya. " Dasar tukang culik, aku kan belum pamit pada lbu dan yang lainnya. Barang ku masih didalam, apakah aku harus telpon poli…," membuat ku tidak melanjutkan ocehan ku, disaat dia masuk kedalam mobil. Nyaliku ciut melihat ekspresi nya. " Mau telpon polisi ya, sadar status anda," sambungnya membuat ku menggeleng. " Ah ya, status menghalangi tapi kan kasus yang jadi kompliknya ." Gumanku. " Emang siapa percaya akan kasus yang aneh, belum mendengar sudah ditolak duluan saat mendengar nama saya," sombongnya, membuat ku jengah. Ah sudahlah, kamu yang menang ujung-ujungnya. " Mari berangkat sekarang, Pak!" " Ah, jangan ." Bantahku jangan berangkat sekarang. Membuat Devan, mengangkat satu alisnya. " Ah a-nu, gimana ya ?" Bingung ku harus berkata apa. " Jalan Pak, jangan pedulikan dia yang aneh !" Dan secara tidak sengaja. Puu…t " Apa yang kamu buang ! Kamu kentut !" Membuatku mengangguk. " Berhenti Pak !" " Keluar !!" Membuat ku cepat keluar atas tidak kesengajaan aku kentut akibat tidak tahan ingin bertemu dengan toilet akan pup ku, hehe.. Dengan muka yang sangat merah padam, Devan menyuruh ku ke toilet. Dan menyuruh anak buahnya atau supirnya menunggu aku didepan toilet. Wkwkwk. Akibat takut aku akan kabur . " Oh mobil ku, kau harus diservis secepatnya akibat bau busuk tak menentu dari orang gila, aaak… !" Keselnya meski ditahan, Dari pada dilihat orang panti dan yang lain. " Awas kau !" Geramnya mengacak rambut nya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD