" Maafkan lbu, Janna. Jikalau kamu tidak bahagia dalam perjodohan ini lbu…."
Aku meletakkan jari telunjuk ku dibibir lbu.
" Ibu, seharusnya aku yang meminta maaf karena belum bisa membahagiakan lbu, dan aku belum bisa menjadi anak yang sukses, seperti keinginan lbu," ucapku, membuat lbu, menggeleng kepala.
" Tidak Jan. Ibu, bahagia bersama mu selama ini dan lbu, yang telah merusak impian mu juga," sedihnya, merasa bersalah.
" Ibu, tidak bersalah. Tenang saja Bu, aku akan mencoba menerima perjodohan ini, selama itu bisa membahagiakan lbu, dan anak-anak yang lain". Ucapku mengusap punggung lbu, biar tidak menyalahkan diri atau merasa bersalah.
" Tapi Jan, nek lta. Ingin menikahi kamu dengan cucunya langsung besok. Karena mereka ingin cepat balik ke Jakarta, setelah akad. Dan hanya perwakilan keluarga saja yang hadiri tanpa ada orang lain yang boleh tahu, ini atas keinginan cucunya."
Membuat ku hancur sehancur hati yang tidak tahu arah akan kesakitan yang ada didepan mata saat mendengar perkataan lbu, barusan.
Secepat itu kah? Aku harus berpisah dengan lbu dan bang Aldi. Itu, terlalu mendadak.
" Apakah kamu keberatan, Jan. Maaf kan lbu, telah mengambil keputusan sebelum bicara dulu denganmu," katanya mengeluarkan air mata.
Membuat ku menggeleng kepala, karena aku tidak ingin lbu, menyalahkan diri atau merasa bersalah atas semua ini. Sebagai mana lbu, telah merawat dan menjaga ku selama ini sampai sekarang. Oleh karena itu aku tidak ingin menyakiti nya sedikit pun, batinku.
" Tapi Bu, kenapa tidak bilang dulu sebelum mengambil keputusan, ini menyangkut masa depan Janna, apa lagi pernikahan itu bukan main-main," kata Aldi, dengan sedikit kesal, lalu menghampiri kami.
" Diam Bang, jangan bicara lagi. Biarkan ini menjadi urusan ku," jawab ku, sambil mengkode nya kepada lbu, yang sudah menangis.
" Dan ini demi kebaikan kita bersama," lanjut ku, meninggalkan nya dan membawa lbu, untuk istirahat di kamarnya.
" Tidurlah Bu, biarkan aku beri pengertian kepada bang Aldi, atas kesalah pahaman tadi," kataku lembut.
" Makasih Jan, lbu berharap Aldi, tidak marah dengan keputusan lbu." Setelah menyelimuti lbu.
" Selamat malam Bu, mimpi yang indah." Gumanku, sebelum itu aku sempat mencium kening lbu.
Aku pergi ketempat tadi, untuk bicara dengan bang Al, aku tahu dia pasti tidak menerima pernikahan ku dengan orang lain.
" Kemana bang Al, kenapa tidak ditempat ini lagi?" Gumanku bingung kemana perginya.
" Kakak cari bang Aldi ya?" Tanya lca, berumur 10 tahun.
" Iya, kamu tahu dimana …."
" Tadi, bang Aldi. Nitip pesan padaku untuk kakak Janna, katanya pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan masalah penting," potongnya.
"Makasih, lca." Aku langsung pergi dari sana sebelum menunggu lca, bicara lagi.
Entah kenapa perasaan ku sedikit tidak enak atas maksud perginya bang Al, kemana.
Meski begitu aku tetap mencari nya sebelum ia membuat masalah yang tidak kuinginkan nantinya.
Disaat dijalan aku tidak sengaja bertemu dengan lbu-lbu yang ingin berbelanja sayuran. Aku hanya menyapa sebagai basa basi.
" Tadi saya melihat Aldi, menuju ke rumah nek lta. Kelihatannya terburu-buru, apakah ada masalah atau sesuatu ?" Tanya salah satu diantaranya.
" Tidak ada Bu, aku permisi dulu ingin menyusul bang Aldi," pamitku meninggalkan lbu-lbu itu.
" Jangan - jangan … oh tidak! Ini tidak bisa dibiarkan, ku mohon Bang, jangan membuat keributan," khawatir ku.
Sungguh menglelah kan, akhirnya ketemu juga. Awas kalau berani membuat masalah Bang,keselku dalam hati.
Sudah kuduga.
Aku melihat bang Al, sedang bicara serius dengan cucu Nek lta sekaligus calonku.
Mereka hanya berdua saja, didekat taman yang ada disekitar rumah nek lta.
Aku menghampiri nya. " Disini kamu rupanya Bang, ingin menyelesaikan masalah yang penting ya?" Sindir ku, membuat nya kaget.
" Kena-pa kam-u ada disini, Janna?" Tanya nya gugup, seperti tertangkap sama polisi saja.
" Ikut aku pulang !" Tegasku.
Mulanya bang Al, tidak mau pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.
" Jan, ini tidak bisa dibiarkan. Pernikahan ini tidak bisa terjadi begitu saja atau setidaknya bisa ditunda dulu, dia lebih cocoknya dengan Nita, bukan dengan kamu. Atau kita bisa merencanakan sesuatu agar Nita dan dia bisa menikah. Nita, pasti setuju." Ngocehnya mencoba mempengaruhi ku.
Tapi, aku tidak perduli. Aku langsung menarik tangannya tanpa mendengar kan ocehannya.
Tadi aku sempat melirik sekilas kearah lelaki itu, dia hanya sedikit tersenyum akan maknanya tersendiri.
" Sudah selesai bicara nya, ingat Bang! Nek lta ingin aku menikah dengan cucunya bukannya dengan Nita. Lagi pula kamu tahu seberapa kuasa nek lta dan kekayaan nya yang tidak terhitung kan.
" Apa lagi menolak pernikahannya, menunda saja sangat tipis kalau tanpa alasan, inilah yang ditunggu selama ini."
" Maksud kamu, sudahlah. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu Jan, karena Abang, memiliki firasat akan niat Dev-an (cucu Nek lta) seperti nya tidak baik," katanya curiga.
' Aku pikir juga begitu bang, tapi aku tidak ingin membuat Abang, khawatir. Karena aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menghadapi sendiri tanpa ada campuran Abang, lagi. Batinku sedih.
" Itu menjadi urusan ku Bang, jangan pikir yang negatif, itu sama saja kamu berharap begitu bang. Lagian itu tidak mungkin terjadi," ngelakku yang tidak ingin bang Al, bertambah pikiran dalam ketenangan nya.
" Tap-i Jan …."
" Sudahlah Bang," potong ku.
" Aku ini lelaki dan aku tahu …."
" Ya, aku tahu kalau Abang adalah lelaki bukan setengah b*****g," potong ku lagi membuat nya cemberut.
" Aku serius …."
" Aku juga serius Bang." Sela ku.
"Kam-mu," geramnya kesel.
" Sudahlah Bang, aku tidak mau membuat lbu dan nek lta, sedih. Ini demi kejayaan panti juga kalau aku sudah menikah dengan Devan, sesuai dengan perkataan nek lta."
" Lagi pula sudah lama mereka merencanakan perjodohan ini, aku tahu kalau Abang, sudah tahu duluan. Aku mohon bang.. jangan membuat keributan dipernikahan aku besok nanti, yang aku butuhkan restu bukan penolakan."
Setelah itu aku meninggalkan bang Al, yang diam ditempat. Tanpa menunggu nya angkat bicara lagi.
' Maafkan aku Bang,' sedihku.
***
Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu oleh dua pihak keluarga, akan berubah nya status. Sekaligus perpisahan.
" Janna, udah siap hem. Ayo keluar nak Devan, sudah mengucap ijab kabul dari tadi. Apakah kamu menginginkan sesuatu pada, lbu ?"Tanyanya membuat ku menggeleng.
"Apakah ini, keputusan yang tepat? Ya ini adalah keputusan yang tepat," yakinku dalam hati.
Ibu, hanya tersenyum dan menuntunku menuju ke seseorang yang sudah menunggu kehadiran ku, yang sudah berubah status hari ini.
Pas sudah duduk disamping suami. " Salam tangannya Jan," bisik lbu, sesaat.
' Haruskah?' bingung ku yang di angguki oleh lbu.
Baiklah anggap saja hari ini aku berbakti padanya, tapi tidak untuk besok.
Hingga sesaat dia ingin mencium keningku.
Dekat, semakin mendekat.
Membuat ku was-was saja, batinku.
Dan.
" Tidak ! Jangan…. !" Teriak seseorang.
" Seperti kenal suaranya?" Gumanku.
Pingsan. "Nita…!" Panik mereka semua.
Pengen ketawa melihat Nita, seperti orang gila yang baru kabur dari RJ, kelihatannya seperti baru bangun tidur .
"Untung ada drama mu Nit, karena keningku tidak ternodai oleh bibir nya," senang ku lega.
Bersambung.