Hari ini aku akan menuju ke kamar bang Aldi, kerena dari kemarin tidak tampak batang hidungnya sama sekali, sehingga membuat ku khawatir akan keadaannya.
Atau bisa jadi, ada sesuatu yang disembunyikan. apakah itu menyangkut masalah perjodohan aku atau masalah panti.
Tanpa mengetuk pintu aku langsung masuk, dan melihat bang Al, dalam keadaan tidak seperti biasa, lalu ia melihat ku.
"Abang, dari kemarin kemana saja sih! Kenapa tidak kelihatan?" Tanyaku, saat melihat bang Aldi, sedang melamun dan langsung merubah raut mukanya.
'Pasti ada sesuatu yang disembunyikan nya,' batinku.
" Kenapa kamu datang ke kamar, Abang. Pasti kangen ya ?" Lalu aku duduk didekat bang Al.
" Iya kangen sekaligus jawab dulu pertanyaan aku itu." Membuatnya diam untuk sesaat.
" Sini Abang, peluk kamu sambil menceritakan sebuah cerita yang penting," membuat ku mendekat dalam pelukan hangatnya.
" Aku senang bisa peluk Abang. Tapi, lebih membuat ku sedih jikalau Abang, tidak menceritakan kan apa yang mengganggu pikiran Abang, dan aku tidak mau mendengar cerita lain selain masalah ini." Kataku.
Sambil menatap wajah bang Al, dengan inten. Bisa kulihat kegelisahan diwajahnya.
Hingga hanya ada keheningan sesaat.
Bang Aldi, menghela nafas sesaat, seakan-akan sulit untuk mengatakan.
"Karena Abang, ingin menghindari dari masa lalu," katanya pelan.
Apa maksudnya karena bang Al, tidak mempunyai musuh ataupun dendam dimasa lalu atau sekarang kecuali, jikalau anak kecil di masa lalu ingin membalas dendam nya.
" Siapa yang Abang, maksud. Sedangkan Abang, tidak mempunyai musuh ataupun dendam dimasa lalu. Kecuali yang satu itu, dimasa lalu." Membuat ku berpikir siapa dia yang berani membuat masalah dengan bang Al.
" Iya Jan, kemaren kelihatan nya dia mencari tahu tentang aku dan kamu. Apakah itu untuk membalas dendam atau apa? Aku tidak tau maksud selubungnya," pasrahnya pelan.
" Apakah ini, ada hubungannya dengan tamu kemarin?" Tanyaku membuat nya mengangguk dan ragu menggeleng kepala.
" Sepertinya tidak ada hubungannya dengan tamu kemarin," elaknya cepat, membuat ku curiga saja.
' Biarkan ini menjadi urusan Abang, Jan. Karena Abang, tidak ingin mempersulit keadaan mu nantinya disana, sudah cukup kamu selama ini menyelesaikan masalahku, sekarang biarkan ini menjadi urusan ku tanpa kamu,' batin Aldi.
' Dan maafkan Abang, tidak ingin menceritakan sepenuhnya padamu. Ini demi kebaikan kamu nanti nya,' lanjut didalam hati nya.
" Apa yang Abang, pikirkan. Apakah ini ada hubungannya dengan perjodohan itu? Atau jangan-jangan dia yang Abang maksud." ucapku pelan diakhir kalimat yang tidak kedengaran olehnya.
" Gak ada hubungannya Jan, kamu ada bilang apa tadi, Jangan-jangan apa?" Tanyanya dengan alis terangkat.
Gelengku, tanda tidak ada. Membuat bang Al, menghela nafas.
Hanya ada satu kemungkinan didalam hati dan pikiran ku meski ragu, akan ku buktikan sendiri, tanpa kamu beri tahu Bang. Yakinku.
****
Hanya keheningan yang ada, disebuah rumah besar dalam kebersamaan dua keluarga. Yang sedang makan bersama dengan senyuman dan tatapan yang berbeda akan makna tertentu.
" Bang, kenapa melamun hem, awas loh kesurupan nanti," tegurku sedikit becanda. Karena kegelisahan yang membuat nya melamun.
" Hah, tidak ada kok," bantahnya, melanjutkan makannya.
Sedangkan Nita, senyum-senyum sendiri seperti orang mabuk dalam cinta.
Sesekali ia mengejekku dari tatapannya akan kepercayaan diri dalam melirik seseorang.
Orang yang Nita, lirik tidak memperdulikan. Apa lagi lirik dilihat saja tidak.
Ibu dan Nita sangat menikmati makan malam bersama, tanpa ada gangguan. Nita, merasa dirinya yang akan dipilih dalam perjodohan ini.
Kami sekeluarga besar makan malam bersama keluarga nek lta, dirumahnya. Sambil mengambil keputusan perjodohan yang telah ditentukan oleh dirinya dan cucunya.
Aku pura-pura cuek seakan-akan aku tidak tahu, bahwa ada seseorang yang melihat kearah ku, meski tidak sering.
Seakan-akan dalam arti cara melihat nya mempunyai maksud yang tersembunyi, yang jelas bukan maksud baik.
Dan aku tahu kegelisahan bang Al, akan lelaki diseberang meja sana.
Hingga semuanya sudah selesai makan, untuk sesaat hanya ada keheningan, sambil melihat ekspresi mereka semua yang berbeda.
" Baik semua nya, saya berterima kasih kepada sekeluarga yang telah hadir di acara makan malam bersama. Sekaligus untuk menyambung silaturahmi," ucap nek lta, yang memulai pembicaraan.
Jujur ingin rasanya aku pergi dari sini, tanpa embel-embel, kalau perlu nikahkan saja dengan Nita, tanpa membuat ku berpikiran.
" Baiklah saya langsung saja, maksud mengundang kalian kesini untuk mengambil keputusan perjodohan ini yang telah kami tentukan antara Janna, atau Nita, yang akan menjadi pendamping cucu saya." Katanya lagi sambil melihat semua orang.
Membuat Nita, harap-harap cemas ketidak sabaran nya siapa yang dipilih.
'lngin rasanya aku ketawa, melihat ekspresi Nita'.
Apa lagi lbu, yang sudah deg deg'kan, dan bang Al, seperti orang pingsan.
Sedangkan aku hanya membuang kesedihan dengan melihat ekspresi mereka, membuat mood ku sedikit baiklah.
" Yang dipilih nya adalah….," Jeda nek lta.
Membuat ku hampir kenapa melihat Nita, yang tidak sabarannya.
" Kenapa Jan?" Tanya nek lta.
" Kerasukan jin, kali," decih Nita, pelan.
" Awas kamu Nita, kalau aku yang terpilih maka kamu jangan melanggar perjanjian itu, atau masuk penjara,"ngancamku di hati saat melihat kearah, Nita.
Sehingga membuat nya mengalihkan muka.
"Ehem," dehemku. " Tidak apa-apa Nek, maaf sudah membuat Nenek, berhenti. Silahkan dilanjutkan Nek," hanya dianggukinya.
Membuat seorang lelaki mengejekku, saat melihat ku hampir ketawa sendiri tadi.
' Awas kamu ya? Sudah berani mengejekku,' keselku dalam hati.
" Yang terpilih adalah…. Janna…," Huh riuh nya, senang dan ada yang tidak senang.
Ibu panti menangis, sedangkan bang Al, merasa was-was.
Apa lagi aku, bengong. Tidak tahu apa-apa.
" Apa a-ku tidak salah dengar?"
"Tidak! Janna. Yang menjadi pendamping cucu lelaki ku," jawab nek lta.
' Hem, sudah kuduga,' tekadku.
Setelah itu ada yang pingsan.
"Tida-k mungkin !"
" Nita… !" Teriak mereka.
Alamak drama apa ini.
"Huh, apa perlu aku ikutan pingsan, siapa tahu mimpi?" Pikirku.
Bersambung.