Bab_7_Pertemuan

1007 Words
" Kenapa bengong Devan, ayo jalan. Sebenarnya Mama, ogah datang kesini tapi nenekmu selalu main ngancam," keselnya karena lbunya. Devan, hanya menggeleng kepala melihat Mama nya. " Sudahlah Ma, biarkan lbu melakukan sesuka hatinya dulu. Setelah itu baru kita pikirkan rencana baiknya nanti karena Papa, tidak ingin terlalu ikut campur." Hingga malah membuat istrinya cemberut. " Terserah Papa, sajalah." Ketusnya berjalan cepat, mendahului suami dan anaknya. ' Akhirnya aku kembali lagi dipanti ini dan permainan akan segera dimulai," seringai Devan. Ya, mereka sudah berada di panti kasih lbu. Untuk melihat calon Devan, yang telah dipilih oleh nek lta, sebelum mengambil keputusan mereka ingin melihat dan memastikan sendiri. ' Aku harus cari tau, anak kandung lbu panti itu dan gadis kecil di masa lalu,' batinnya tanpa sabaran. Papa dan lbu Devan, sudah masuk duluan kedalam ruang tamu. Sedangkan Devan, masih meng-lihat disekitar panti dan memastikan sesuatu. " Lumayan juga perubahan panti ini, lebih layak dari sebelumnya," gumannya manggut-manggut. " Ganteng sekali, siapa dia." Bisik anak panti. " Itu calon suamiku." " Ibu… imamku sudah datang." Dan banyak lagi bisikan mengagumi Devan, membuat Devan, risih dan pergi meninggalkan mereka untuk menyusul lbunya. " Kamu, iya.. kemari !" Tunjuknya tegas pada seorang perempuan yang ada diujung sana. " Kamu tau dimana anaknya Ibu panti, kirim kan foto nya kalau ada saya akan membayar besar nanti…. ?" Tanya Devan sampai seterusnya. Meski ragu di awal kenapa orang asing ingin mengetahui anaknya lbu panti tapi, disaat mendengar dominal yang ditawarkan oleh Devan. membuat perempuan itu, beri tau sebisanya. " Ibu panti tidak mempunyai anak perempuan, cuma Aldi saja anaknya. Cuma ada yang paling dekat dengannya na…." " Siapa namanya," potong Devan. " Biasa dipanggil Jan," jawab perempuan itu yang tak lain adalah temannya Nita. " Jan," ngulang Devan. " Maksudnya Janna," rarat perempuan itu. " Ok, baiklah. Ini uangnya jangan sampai kamu bilang pada orang lain, kalau tidak awas saja kamu! " ngancam Devan, membuat perempuan itu menelan air ludah. Devan langsung pergi meninggalkan tempat itu, menyusul kedua orang tua yang sudah duluan masuk dari tadi. " Ganteng- ganteng tpi sayang, serem." Takutnya langsung pergi. ' Ternyata tidak sia-sia aku datang kesini,' senyum smirknya. Dirgan dan Monika atau orang tua Devan, sedang berbicara dengan lbu panti, meski diawal tidak tau harus mulai dari mana pembicaraannya. Tapi, karena lbu panti sudah tau tujuan mereka. Beliau mulai basa-basi menanyakan kabar sambil menunggu Devan, datang. Setelah sesaat lbu panti, pamit kedalam sebentar. " Saya kedalam dulu ya Bu, karena ada hal penting tidak lama kok, anggap saja ini sebagai rumah sendiri meski tidak sebesar rumah, lbu." Ucapnya hanya diangguk oleh mereka. " Ibu, lihat buku aku ada di ma…." Monika menoleh melihat seorang perempuan remaja dengan penampilan asal-asalan . Membuat Monika, jengah melihat nya. Dari atas sampai bawah tidak ada bagus-bagus nya, sungguh merusak mataku saja melihat nya, cebik Monika didalam hati. " Hehe… maaf salah orang," pamit perempuan itu yang tak lain adalah Janna. Sedangkan Dirgan, hanya menggeleng kepala melihat Janna dan ketidak sukaan istrinya kepada perempuan itu. Hingga sesaat Devan, masuk dan langsung duduk disamping Dirgan. " Kamu dari mana sih, Devan? Mama udah lama menunggu, ingin rasanya cepat-cepat pergi dari sini," gerutu Monika. " Tadi ada telponan dari perusahaan Ma, Devan. Harus segera menyelesaikan perjodohan ini, biar cepat kembali ke Jakarta." " Siapa juga yang ingin berlama-lama di kampung ini, Mama juga ingin pulang ke masion kita, dan ingin melakukan perawatan…. "ngocehnya. " Sudahlah Ma, jangan marah-marah mulu, sebentar lagi kita akan pulang," ucap Dirga, lembut sambil mengusap kepala Monika. " Maaf Bu, Pak, sedikit lama tadi. " Hanya diangguk oleh Dirgan, Monika ogah-ogahan saja mendengar nya. " Ini pasti nak Devan, ya" tebak lbu panti, yang diangguk olehnya. " Permisi Tuan dan Nyonya, silahkan ini diminum dulu sirupnya," sela Nita, berjalan dengan anggun sedikit membungkuk, meletakkan minuman dan cemilan diatas meja. Sesekali matanya melirik kearah Devan, yang membuatnya terpersona dengan ketampanannya. Meski sedikit gerogi. Devan, melihat Nita. Dengan tatapan dingin nya sehingga membuat Nita, deg deg'kan salah tingkah. ' cih perempuan sama saja,' Devan, berdecih kecut didalam hatinya saat melihat Nita, yang terjebak dalam pesonanya. " Apakah itu yang namanya Janna, kenapa tingkahnya beda seperti w************n saja. Apakah dia tidak mengenal dengan ku lagi ?" batinnya . " Kenapa kamu yang antar, Nita?". Tanya lbu panti, membuat Devan mengalihkan perhatian maksud perkataan lbu panti. " Kenapa aku merasa ada yang janggal Tapi, apa ya? Apakah dia benar-benar Janna atau bukan, ya?" tanyanya dalam hati. " Karena tiba-tiba Janna, mau pipis," bohongnya. Membuat Devan, senang saat mendengar nama Janna. " Jadi, dia bukan Janna." Gumannya yang hampir tidak kedengaran. " Ya udah Bu, aku permisi dulu ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, mari Tuan, Nyonya, Pak," pamit nya undur diri, dari pada takut ketahuan. Karena kebiasaan Janna, dulu suka mengadu sehingga membuat mereka dimarahi oleh lbu panti, akan ketidak sukaan terhadap Janna. " Maaf Bu, toilet nya dimana ya?" Tanya Devan, dengan maksud tertentu. " Mau toilet depan apa belaka…." " Dibelakang saja," potong Devan, langsung. " Lurus saja nanti belok kanan, kalau lupa bisa tanya sama siapa saja kalau ada orang didapur," jawab lbu panti lagi. " Kalau begitu permisi," pamit Devan terus berjalan. Hingga sampai lah didapur, hampir saja Devan, terkejut saat melihat seseorang didapur sedang melamun, entah apa yang dipikirkan oleh orang tersebut. " Apa itu yang namanya Janna," tanyanya. Hingga disitulah ia melihat yang tak lain adalah Janna. Dari sana ia tau, saat ia tanya pada lbu panti yang ikut menyusul ke belakang. " Iya dia bernama Janna, sekaligus calon kamu yang telah dipilih oleh nenekmu, itupun kalau kamu mau dengan Janna, atau mau kamu pilih sendiri jikalau tidak suka dengan pilihan nenekmu," jawab lbu panti tadi. " Oh ya nak Devan, kedua orang tua mu sudah pamit tadi dan menunggu mu di mobil." Sambungnya lagi. Yang diangguki oleh, Devan. Dari sanalah ia mengerjai Janna, di toilet. " Itu belum seberapa yang kamu perbuat dimasa lalu, tunggu saja tanggal mainnya," sinisnya dalam hati. " Dan aku sudah mengambil keputusan dalam perjodohan ini," senyumnya dalam makna tersembunyi. Bersambung.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD