Musuh Bebuyutan

801 Words
Malamnya, Gendis duduk di tepi tempat tidur di dalam kamar pengantin yang sudah dihias dengan bunga bunga yang indah itu. Mulai malam ini kamar mewah itu akan menjadi kamarnya bersama Satrio. Ia menghela napas panjang ia tak menyangka bahwa hidupnya kini tak akan bisa bebas seperti biasanya. Sekarang ia hanya terdiam dan duduk saja karena ia harus terjaga. Jika ia tertidur ia khawatir Satrio akan masuk ke kamar mereka dan melakukan sesuatu yang pastinya tak akan ia sukai. Jadi meskipun rasanya sekarang matanya sudah berat sudah mulai mengantuk namun Gendis tetap akan terjaga kalau bisa sampai pagi nanti. Gendis tampak waspada ketika ia melihat Satrio, si pemuda yang usianya masih belasan tahun yang kini sudah menjadi suaminya itu masuk ke kamar mereka dengan gaya arogannya yang menyebalkan. "Ngapain lu belum tidur? Gua kirain lu udah ngimpi saking nyamannya tidur di kasur yang empuk dan di kamar yang mewah ini," cibir Satrio. Gendis menoleh ke arah Satrio lalu ia menatap suaminya itu dengan tatapan yang tajam menusuk namun Satrio makan tertawa menyebalkan. "Mendingan aku tidur di lantai daripada harus tidur di kasur mahal dan mewah ini!" ucap Gendis dengan kesal. Satrio tertawa terbahak-bahak lalu ia berjalan menghampiri Gendis kemudian ia mendorongnya dengan pelan hingga Istrinya itu terbaring di atas ranjang dengan terkejut. "Lu yakin mau tidur di lantai yang dingin itu, hm?" bisik Satrio yang saat ini ia sudah naik ke atas ranjang dan ia berada di atas tubuh Gendis dengan kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri kepala istrinya itu. "Kamu mau ngapain sih? Minggir nggak!" bentak Gendis yang panik itu. Satrio terkekeh melihat ekspresi Gendis persis seperti yang ia harapkan, panik dan takut. Ia menyukai ekspresi istrinya itu, lain dari biasanya yang selalu berani menantangnya. Satrio mendekatkan wajahnya ke wajah Gendis dan ia tersenyum licik saat istrinya itu malah menoleh ke arah samping. Cantik, ya ia menyadari kecantikan istrinya itu hidung yang mancung, bibir yang pink dan montok dan matanya yang cantik. Gendis sangat cantik, tanpa sadar ia pun mengakuinya sekarang. Tanpa sadar Satrio mengelus sisi wajah Gendis dengan lembut dan membuat istrinya itu menoleh ke arahnya. Dan ketika ia berniat untuk mencium bibirnya istrinya itu malah terbelalak panik ketakutan lalu malah menampar pipinya membuatnya marah. "Lu tuh kenapa sih? Kenapa lu malah nampar gua!" bentak Satrio setelah ia turun dari tempat tidur dan berdiri di depan Gendis yang juga sudah duduk itu. Gendis hanya diam saja dan ekspresi wajahnya masih tampak ketakutan. Satrio yang marah itu pun ia segera berlalu pergi, ia juga tak mungkin membalas istrinya itu. Ia pergi ke kamar tamu dan ia melampiaskan amarahnya di sana dengan melempar vas bunga ke lantai hingga pecah berantakan, ia lalu berteriak marah. "Kurang ajar banget tuh cewek, beraninya dia nampar gua," geram Satrio. "Lagian gua juga heran sama orang tua gua, kenapa juga gua harus nikah sama cewek kasar kayak dia." Sementara itu Di sebuah kafe, terlihat dua orang wanita cantik tampak anggun duduk di meja paling ujung. Aura menyeruput minumannya dengan anggun lalu ia tersenyum licik. "Gimana, Jeng Claudia? Saya udah menuruti perintah anda dengan menikahkan anak kesayangan saya Satrio dengan si gadis miskin itu. Jadi sekarang saya udah bisa dapat hadiahnya kan? Dan perlu anda tau ya, Jeng Claudia, sebenarnya menikahkan anak saya dengan gadis itu adalah keputusan yang sangat berat jadi tentu saja imbalannya besar dong ya," ucap Aura dengan lirih. Claudia tersenyum tipis lalu ia mengangguk. "Oke. Kalau begitu apa yang kamu mau? Bisa kamu sebutkan sekarang juga," katanya. "Nah gitu dong, dengerinnya kan enak. Saya mau Jeng Claudia ngasih salah satu perusahaan milik anda untuk keluarga saya, gimana nggak susah kan? Ingat loh saya ini udah berkorban untuk menjaga nama baik keluarga besar Jeng Claudia." Claudia mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun dan tentu saja itu membuat Aura merasa senang. Di saat yang sama Satrio pergi menemui teman-teman satu tongkrongannya itu untuk menghilangkan rasa marahnya pada Gendis. Ia mengajak mereka semua tanding balap liar di jalan yang sepi itu. Mereka semua setuju, Satrio berada di depan menggunakan motor sport terbarunya itu, ia sementara memimpin diikuti oleh temannya yang lain di belakangnya. Balapan itu sengit karena Satrio tak mau mengalah, temannya juga tak kalah hebat dalam balapan motor. Akhirnya setelah Satrio menenangkan balapan ia pun menginap di rumah temannya karena malam ini ia tak ingin melihat wajah Gendis di rumahnya. *** Gendis yang baru saja pulang dari bekerja itu berjalan sendirian melewati jalanan yang sepi. Tiba-tiba saja ia dihadang oleh pria bertopeng dan bertubuh tinggi kurus yang membuatnya berteriak ketakutan sehingga plastik kresek yang dibawanya itu terjatuh di rerumputan. Ia ingin berlari kabur dari pria itu namun pria itu menghalangi jalannya sambil tertawa jahat. "Kamu mau pergi ke mana, sayang?" tanya pria jahat itu yang membuat Gendis mundur ketakutan. "Pergi kamu!" teriak Gendis histeris. Pria itu malah tertawa jahat dan ia terus maju mendekati Gendis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD