Mimpi Buruk Itu Lagi
"Kamu memang cantik dan juga anggun, sayang," ucap seorang pria yang memakai topeng itu sambil berniat untuk menyentuh wajah Gendis.
"Kamu harus jadi milikku seutuhnya."
Gendis tampak ketakutan dan keringat dingin mengalir di wajahnya yang cantik. Dan saat pria jahat itu berniat akan membuka jaketnya ia menjerit ketakutan dan ia akhirnya ia pun terbangun dari mimpinya itu.
Gendis tersengal-sengal setelah ia bangun dari tidurnya, mimpi buruk itu lagi! batinnya. Ia tampak frustasi karena mimpi itu masih saja menghantuinya meski kejadian buruk itu sudah lima bulan lalu berlalu. Ya, lima bulan yang lalu saat ia baru saja pulang dari kerja ia hampir saja dilecehkan oleh pria bertopeng saat ia melewati jalan yang sepi. Beruntung ada orang lewat jadi pelaku yang hampir saja memperk*sa dirinya itu langsung kabur lari tunggang langgang.
Meski tak terjadi apapun pada tubuhnya namun kejadian buruk tersebut tak akan pernah bisa Gendis lupakan. Bahkan gadis cantik yang usianya dua puluh tiga tahun itu akan menuntut pelaku tersebut jika suatu saat bertemu lagi. Ia bertekad akan menjebloskan pria itu ke dalam penjara agar hidupnya tenang. Ya, sejak hari itu hidupnya memang tak pernah tenang karena ia selalu terbayang-bayang pria bertopeng itu. Membuat hidupnya serasa hancur karena ia selalu diliputi oleh rasa was-was setiap harinya.
"Gendis bangun! Ini udah hampir jam enam loh nanti kamu malah telat berangkat kerjanya!" seru ibunya, Linda namanya. Ibunya itu berteriak dari dapur, sedang memasak.
Gendis pun bangun lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia harus pergi ke pasar untuk belanja sayuran setelah ini seperti biasanya.
Selang beberapa jam Gendis pun sudah pulang dari pasar, ibunya memangilnya dan ia pun memenuhi panggilan ibunya itu.
Gendis duduk di depan ibunya di ruang tamu. Ia heran melihat raut wajah ibunya yang tampak serius itu. Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi, pikirnya.
"Ada apa, Ma? Mama mau ngomong apa sama aku?"
Linda terdiam sejenak. "Jadi gini, kemarin Mama ketemu sama temen lama Mama waktu di sekolah SMP, dia itu punya anak cowok yang umurnya lebih muda dari kamu dan katanya dia mau jodohkan dengan kamu, Gendis," ujarnya hati-hati.
Gendis terkejut bukan main. Ibunya mengatakan apa? Ibunya ingin menjodohkannya dengan anak teman ibunya dan anak itu berondong? Yang benar saja! Apa ia sedang bermimpi sekarang? Karena ia baru saja mendengar sesuatu yang tak masuk akal!
"Apa? Aku nggak salah denger? Mama mau jodohin aku sama bocah? Mama pasti lagi bercanda ya?" ujar Gendis.
"Gendis, tapi Mama nggak lagi becanda, Mama serius soal perjodohan itu," tegas Linda dengan tampang yang sangat meyakinkan.
Gendis terdiam sejenak lalu ia menghela napas panjang.
"Dan aku juga serius, Ma. Aku nggak mau aku nolak perjodohan konyol itu. Lagian aku ini udah umur dua puluh empat tahun loh, masa iya suamiku masih piyik yang pasti umurnya itu jauh lebih muda dari aku."
"Tapi, Gendis..."
Gendis pun bangkit berdiri lalu ia beranjak pergi.
"Kamu nggak boleh egois, Mama nggak mau hidup susah terus. Temen Mama itu dia orang kaya raya jadi kalau Mama besanan sama dia udah pasti kita bakalan kecipratan kaya," ucap Linda tanpa ekspresi.
Mendengar hal tersebut malah membuat Gendis semakin tak ingin setuju untuk menikah dengan anak teman ibunya tersebut. Ia merasa dirinya akan dijual demi uang oleh ibunya sendiri. Maka dari itulah ia pun pamit berangkat kerja setelah ia mencium tangan sang ibu.
Linda menghela napas panjang, ia berharap anaknya itu akan setuju pada akhirnya.
Gendis menghadang angkutan umum yang lewat lalu ia pun masuk. Di dalam perjalanan ia terus memikirkan apa kata ibunya tadi yang menyuruhnya untuk menikah dengan berondong yang pastinya ia tak akan pernah setuju.
Namun meskipun Gendis tak setuju ia justru kini telah berada di ruang pengantin sedang didandani. Ya, tadi sepulang dari bekerja ia langsung dibawa pergi oleh sekelompok pria bertubuh besar berjas hitam dan di sini lah ia sekarang. Ia terdiam hanya menatap kosong pantulan wajahnya di cermin, di mana ia tampak cantik dalam balutan kebaya warna putih.
Beberapa menit kemudian ia sudah duduk di samping calon suaminya yang tak pernah ia sangka. Ya, ternyata ia akan segera dinikahkan dengan Satrio, mahasiswa yang sangat ia kenal namun juga paling ia benci itu. Siswa yang terkenal arogan dan tukang bully di kampus yang sama dengan tempat ia bekerja selama setahun ini. Setahun ini ia memang bekerja di warung kantin kampus.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Sekar Larasati dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Satrio dengan lantang.
Gendis memejamkan matanya dan air matanya menetes, bukan karena ia menangis terharu tapi justru ia sangatlah sedih karena mulai hari ini ia sudah resmi terikat dengan Satrio, pemuda tampan bertubuh tinggi atletis yang usianya lima tahun lebih muda darinya itu kini sudah resmi menjadi suaminya. Padahal mereka sebelumnya seperti kucing dan tikus yang tak pernah akrab, hanya ada rasa benci di antara mereka.
Gendis terpaksa mencium tangan Satrio dan ia memejamkan matanya erat saat keningnya dicium oleh suaminya itu.
"Malam ini lu bakalan gua bales," bisik Satrio membuat Gendis terbelalak kaget.