"Ril, ya Allah lepas, kek!"
Shara menggeliat berusaha melepaskan tubuhnya dari kungkungan Deril yang menindihnya di atas sofa. "Kelakuan lo, nih, gak mencerminkan seorang pelajar, tahu, gak?!" Kata Shara sengit yang malah dibalas dengan kekehan oleh laki-laki di atasnya.
"Ini konsekuensi lo karena gak mau gue temuin seminggu."
"Alah, alesan mulu. Lo tiap ada kesempatan juga pasti demen banget nemplok kayak cicak."
"Stop ngomel, deh. Lo juga seneng, kan, gue templokin?"
"Hidih, geer?"
Deril menumpukan kedua tangannya di samping kepala Shara, menjauh agar tak kembali menindih tubuh kekasihnya. Posisinya yang seperti sedang push up itu membuat Deril bisa puas memandangi Shara.
"Gak usah liat-liat!"
"Kenapa? Salting, ya, diliatin cowok ganteng?"
Deril menurunkan tubuhnya untuk memberi kecupan di bibir Shara. Hanya satu detik sebelum kembali mengangkat beban tubuhnya sendiri. "Duh, Caaaa, kenapa, sih, gue kok malah makin kangen sama loooo?"
Shara terbahak. Sedikit tidak menyangka Deril bisa sealay ini. "Hayo, ngaku, ini bukan Deril, ya? Atau Deril punya dua kepribadian? Alay banget gini sekarang."
Deril merengut dan Shara yang melihat kekasihnya bisa semenggemaskan itu jadi memilih melingkarkan tangannya di leher Deril. "Mau apa mau apa?"
Ditawari begitu, jelas Deril langsung menyeringai.
"Mau......"
Tapi Sharalah sekarang yang jadi tidak sabaran menunggu jawaban Deril. Wajah tengil laki-laki yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya itu membuat Shara menggigiti bibirnya sendiri.
"Hayo, Shara lagi pengen dicium, ya?" Goda Deril.
Dan dengan itu Shara langsung menarik tengkuk Deril mendekat, mengecup sudut bibirnya sebelum memagut mesra milik Deril.
"Gue juga kangen lo banget, Bego."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ini hampir ke empat kalinya Deril menelepon ulang Shara karena perempuan itu tak kunjung mengangkatnya. Saking jengkelnya, Deril bahkan sampai teriak-teriak tidak jelas dikamarnya. Dan akibat pintu kamar Deril yang terbuka lebar, tentu suara Deril terdengar sampai kamar Cinta, sang adik.
"BAAAAAANG SUMPAH YA LO BERISIK BANGET ANJIM?!?!?!"
Tapi Deril yang ditegur malah balik marah. "BACOT!"
"ELO YANG BACOT!"
Bayangkan saja. Dua manusia yang saling balas berteriak padahal beda kamar itu membuat kepala Adam pening seketika. Ia melirik malas ke arah Hanin yang malah enak-enakan mendengarkan lagu dengan telinga tertutup head phone padahal sang suami sedang sibuk merevisi laporan keuangan sendirian.
Jadi sambil berdecak, ia beranjak dari kursinya dan keluar kamar guna menghampiri kamar putranya. Di ambang pintu, ia berkacak pinggang, meniru kelakuan istrinya jika sedang memarahi anak-anak. "Ril, ngapain, sih, teriak-teriak!"
Deril yang sedang menenggelamkan wajah ke bantal jadi mengangkat kepala. Wajahnya yang kusut semakin kusut karena dimarahi sang papa. "Iya, iya, maaf."
"Maaf-maaf mulu." judes Adam tapi segera berlalu dari sana dan kembali ke kamarnya.
"Pa, tutupin pintunya!"
"Punya kaki, kan?"
Deril langsung melengos keras. Menghiraukan segala yang terjadi di rumahnya, ia kembali menatap benda persegi panjang yang layarnya sudah hidup kembali. Kali ini dengan notifikasi panggilan masuk dari sang kekasih.
Jemarinya langsung bergerak cepat menekan tombol hijau. Belum sempat Shara menyapa, Deril sudah mendahuluinya sambil marah-marah.
"Ca, sumpah, dah, kemana aja, sih, ditelepon dari jaman Soekarno gak diangkat-angkat?!"
Dari seberang sana, Deril mendengar Shara yang mencebik kesal. "Apa, sih, lebay amat!"
"Dari mana?"
"Gak dari mana-mana."
"Hapenya ditaruh dimana, tadi? Lo silent?"
"Iya!"
Shara yang tiba-tiba ngegas membuat Deril berjengit kaget dan menjauhkan telepon dari telinga. "Heh, kenapa tiba-tiba ngegas, sih?!"
"Duh, gigi gue sakiiiiit! Huhuhuhu." tiba-tiba lagi Shara merengek kencang membuat Deril semakin mengernyit dahi dalam-dalam.
Deril menghela nafas lirih. "Sakit gigi?"
"Iya!"
Laki-laki itu menggaruk hidungnya yang tak gatal. Bingung sendiri harus apa. Memang kalau sakit gigi, tuh, jadi mirip kayak lagi PMS, ya?
"Sakit banget, tahu, Ril.... huhuhu."
"Iya, iya, jangan banyak ngomong makanya kalau sakit."
"Ya, elo yang nelpon. Gimana sih?!"
Afzbagajk?! Salah mulu.
"Ya udah, gue kesana, deh. Tungguin sepuluh menit nyampe."
"Gak mau. Jangan kesini, males banget malahan ngeliat lo bikin gigi gue makin cenat-cenut."
Deril langsung terbahak. Apa-apaan, sih, Shara ini?
"Gak jelas banget, lo? Cepetan, deh, mau dibeliin apa."
"Jangan kesini, Ril, gue lagi gak mau ngomong. Sakit banget buat ngomong giginya."
"Mau dibeliin apa, sayang?" ulang Deril lebih lembut kali ini. Haha, Deril sudah bisa menebak pasti Shara sekarang sedang merona tiba-tiba.
"Ck. Ya udah, bawain martabak manis isi coklat."
"Lah, gimana, sih, katanya sakit gigi tapi minta coklat?!"
"MAU KESINI APA GAK?!"
Deril menjauhkan ponsel dari telinganya lagi karena suara Shara berteriak terdengar seperti gadis itu benar-benar ada di sampingnya. Deril bahkan merasa telinganya langsung berdering.
Mentang-mentang lagi di rumah sendirian, si Shara demen banget dari tadi neriakin Deril.
"Iya, iya. Astaghfirullah. Awas aja kalau besok pas class meet lo ngeluh makin sakit, ya!"
"Iye."
"Gue ketawain kalau sampai lo ompong."
"Bacoooooot."
* * * * * *
Pukul setengah tujuh malam, Deril dengan satu bungkus martabak manis sudah menghentikan motor besarnya di depan rumah Shara. Ia menekan klakson motornya, menyuruh Shara agar cepat keluar dan membukakan pagar.
Tak puas membuat Shara sebal, Deril sengaja menekan klakson berkali-kali padahal Shara sudah terlihat membuka pintu rumahnya. "SABAR!"
Deril tertawa puas di balik helmnya. Shara mendorong pagar rumah dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya ia gunakan untuk memegangi pipinya.
Deril segera memasukkan motor dan memarkirkan di samping mobil milik Shara yang jarang digunakan perempuan itu.
Usai melepas helm, laki-laki itu langsung menyerahkan kantung plastiknya di depan wajah Shara. Membuat gadia itu mampu mencium harum wangi dari martabak coklat yang dibawa kekasihnya.
Shara menerimanya dengan senang hati. Ia mengambil alih plastik tersebut ke tangannya sambil mengucap terimakasih dan tersenyum lebar. Deril baru akan menjawab sama-sama namun seketika fokusnya teralihkan pada wajah Shara yang terlihat berbeda. Ia amati lekat-lekat sampai akhirnya Deril tahu apa penyebabnya.
"Hahahahaha. Pipi lo bengkak, ya?!"
Shara yang merasakan Deril tertawa sangat menyebalkan membuat permepuan itu langsung menyikut perut berototnya. "Lo rese, gue usir sekarang."
"Dih, lucu banget pipinya chubby sebelah."
"Deril!"
Laki-laki itu tertawa tak peduli. Ia melingkarkan satu tangannya ke bahu Shara, merangkul.gadisnya kemudian mengajak masuk ke rumah. "Lo masih sendirian di rumah?"
"Menurut lo aja."
"Menurut gue sih, iya. Menurut lo gimana?" ujarnya dengan ekspresi menyebalkan.
Shara mendengus keras-keras. "Lo bisa gak, sih, ngomongin sesuatu yang lebih bermutu buat dibahas?!"
Tanpa mempedulikan keberadaan laki-laki tidak waras itu, Shara langsung melepaskan diri dari rangkulan Deril dan meninggalkannya di ruang tengah. Gadis yang malam ini memakai piyama bermotif garis-garis dan rambut yang dikuncir tinggi itu berlalu ke arah dapur untuk mengambil piring dan garpu lalu kembali menghampiri Deril yang dengan tidak sopannya sudah duduk bersila di sofa dengan mengunyah roti selai bekas Shara.
"Gigi lo gak sakit buat makan?" tanya Deril saat dilihatnya sang kekasih sedang membuka bungkusan martabak.
"Sakitlah. Lo pikir kenapa gue ninggalin roti tinggal setengah di piring yang akhirnya lo makan itu?"
"Gak abis?"
Shara mengangguk sambil memotong martabak yang padahal bentuknya sudah kecil jadi semakin kecil.
"Jangan banyak ngajak ngomong."
Deril mendengus lagi. "Ya, terus gue ngapain kesini kalau gak ngajak ngomong?"
"Diem aja. Bukannya dulu lo bilang ngeliat muka gue aja udah seneng?"
"Hhhh. Serah."
* * * * * *
"Kayak kemaleman, gak, sih, Ca, kalau gue pulang sekarang?"
Shara melirik sekilas pada Deril yang menempelkan kepala pada lengan atas Shara sebelum ia kembali fokus menonton film layar lebar yang sedang tayang pada salah satu stasiun televisi. Tak berniat menanggapi kalimat Deril sama sekali. Ia tahu benar maksud terselebung laki-laki seperti kekasihnya.
"Kira-kira kalau gue nginep sini boleh, gak?"
"Kecuali lo mau dikeroyok orang sekampung." jawab Shara malas.
"Nginep, doang, Ca. Nggak ngapa-ngapain."
"Siapa yang bisa jamin lo gak bakal ngapa-ngapain gue padahal di rumah cuman berdua, ha?"
Deril mendengus sebelum menegakkan kepalanya, menyandarkan punggungnya pada sofa dan menjauh dari bahu Shara. "Emang lo berani tidur sendirian di rumah?"
"Kemarin-kemarin gue juga sendirian, kali."
"Ini malem jumat. Biasanya kalau malem jumat, tuh, ada---"
"Stop it."
"Hantu berkeliaran--"
"Deril, stop."
"Ada yang ngetuk--"
"Deril!"
"Hahahahahaha."
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemberut Shara. Apa lagi saat perempuan tersebut mencoba memukuli paha Deril namun tak berhasil.
"Jujur, deh." tiba-tiba alis Shara menukik tajam ke arah Deril. Tatapannya mencurigai laki-laki itu. "Lo punya niat gak baik, kan, ke gue?!"
"Niat gak baik apa?"
Deril bisa saja berusaha menggunakan nada sebiasa mungkin. Tapi seringai jahil lelaki itu membuat Shara semakin sebal.
"Alah, ngaku, deh, lo!"
"Jelasin dulu, maksud dari niat gak baik itu kayak gimana."
"Ya, gitu."
"Gitu apa?"
Shara berdecak dan memilih diam tak menanggapi. Ia meminum botol kemasannya nelalui sedotan sedangkan Deril jelas belum lega mengusili Shara.
"Kayak gimana, Ca? Kayak gini, bukan?" tanya Deril sambil maju dan mengecup pipi Shara yang tidak bengkak. Lalu kecupannya berpindah bergeser ke telinga gadis itu. "Atau begini?"
Shara masih diam bahkan ketika Deril sudah asik menghirup wanginya di ceruk leher yang terpampang jelas karena Sgara mengikat rambutnya jadi satu. "Kamu pakai minyak telon, ya?"
"Hmm."
"Gemes banget, Ca, baunya. Pakai ini aja tiap hari."
Saat dirasakan gigi laki-laki itu ikut bermain alias menggigitnya kecil membuat Shara langsung berjengit kaget dan memukul pundak Deril yang miring menghadapnya. "Jangan aneh-aneh, deh. Kalau ada setan bisa gawat."
Tapi laki-laki itu malah memperbaiki posisinya agar lebih nyaman berada di antara titik sensitif Shara. Hingga satu hisapan kuat kemudian datang membuat Shara makin menengadahkan kepala namun mendorong kepala pacarnya menjauh.
Deril benar-benar menjauh akhirnya. Ditatapnya Shara kemudian memberi kecupan singkat pada bawah dagu gadisnya.
"Kamu bahayain banget."
Shara menunduk, menatap Deril yang kini memilih merebahkan kepala di pahanya dengan wajah terpendam di perut. Ia bisa merasakan laki-laki tersebut mengeratkan kedua lengan di pinggangnya.
"Kamu, Ril, yang bahayain."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Oke, Shara tahu mulai hari ini, sekolahnya tak akan mengetatkan peraturan bel masuk lagi mengingat sekarang sudah classmeet. Tapi bukan berarti Deril bisa jadi seenaknya menjemput Shara pukul delapan, kan?
Shara langsung menatap tajam pada kekasihnya yang sedang membuka kaca helm itu, baru memberhentikan motor di depan rumah Shara. Gadis cantik dengan rambut diikat setengah itu jelas ingin melampiaskan kejengkelannya karena Deril baru menjemput. Intan bahkan sudah mengirimi pesan berkali-kali bahwa pelatih dance mereka sudah menyuruh mereka berkumpul.
"Duh, pagi-pagi dah merengut aja si neng." ujar Deril sambil meraup wajah Shara dengan tangan kirinya sedangkan satu tangannya yang lain masih memegang setir motornya.
"Bodo!" semprot Shara begitu saja, lalu naik ke atas motor dengan wajah masih suram.
Hari ini mereka berdua sama-sama memiliki jadwal mengisi classmeet. Shara dan Intan tentu saja masih seperti semester-semester lalu, mengisi classmeet dengan ekstrakulikuler dance nya yang selalu dibangga-banggakan sekolah. Sedangkan Deril sendiri tanding futsal bersama kawanan sekelasnya.
Tak butuh waktu lama hingga ninja merah lelaki itu berhenti di tempat parkir lalu memasuki gerbang depan. Deril sempat-sempatnya merapikan anak rambut Shara yang berantakan karena helm ketika mereka berdua berjalan melewati lapangan basket membuat beberapa teman Deril dari kelas lain jadi bersiul menggoda.
Shara menepis tangan Deril. "Malu, duh, diliatin."
"Halah." ujar Deril sambil mengikuti langkah Shara dari belakang. Laki-laki itu tahu bahwa gadisnya sedang buru-buru ke ruang latihan. "Lo tampil jam berapa?"
"Jam setengah sepuluh, kali. Abis lo tanding, kan?"
Deril manggut-manggut.
Shara memasuki pintu ruang latihan yang ternyata memang sudah ramai. Deril ikut melongokkan kepala ke dalam ruangan, lalu mengangkat satu tangannya menyapa Intan yang menangkap keberadaannya.
Amel, senior kelas 12 yang sudah jadi alumni ekstrakulikuler dance menghampiri Shara dengan membawa kostum untuk tampil. Deril yang jaraknya memang tak dekat tentu tak bisa mendengar dengan jelas percakapannya, tapi dari wajah Amel yang sedikit tak enak dilihat sedangkan Shara sendiri malah memunggunginya, Deril punya firasat bahwa Amel sedang memarahi Shara.
Jadi, tanpa melepas sepatu padahal sudah jelas peraturan tertulis di pintu untuk telanjang kaki jika memasuki ruangan, Deril melangkah masuk.
"....kumpul setengah tujuh, Shar."
"Iya, Kak, maaf banget. Soalnya ini tadi gue-"
"Ada apaan, nih?" potong Deril yang tahu-tahu sudah berada di antara keduanya. Intan yang tadi hanya duduk mengamati jadi ikut berdiri dan menghampiri.
Tapi tak ada yang merespon pertanyaan laki-laki itu. Shara malah kembali melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong. "Tadi gue bangun kesiangan terus-"
Oh, Deril paham.
"Gue yang telat nyusul dia, Mel." potongnya lagi, tak membiarkan kekasihnya berbohong. "Gue bangun kesiangan terus baru jemput dia jam delapan."
Amel mengernyit bingung. "Lo berdua bangun kesiangan? Kemarin... tidur bareng?"
"Loh, bukan gitu maksudnya." Shara jadi panik sendiri, bingung kenapa seniornya malah salah paham.
"Kepo lo." kata Deril malah membuat Amel curiga berkali-kali lipat. Padahal sudah jelas bahwa Deril dan Shara tidak tinggal seatap.
Amel berdecak. "Ck, serahlah. Nih, cepet ganti baju terus balik kesini lagi, kita harus latian satu kali sebelum perform." katanya sambil menyerahkan kostum yang langsung diangguki Shara dengan cepat.
"Gue anter, Sha?" tawar Intan.
"Gak usah. Gue aja yang nganter." serobot Deril sambil membawa Shara keluar dari ruangan membuat Intan langsung melengos kesal. Shara menyikut perut Deril keras. "Gara-gara lo, nih!"
"Iya, iya, maaf."
"Lo ngapain, sih, ngikutin gue? Bukannya lo bentar lagi tanding?"
"Santai gue, mah. Kalau gue belum muncul pasti juga ditungguin sama coach, gak bakal digantiin posisi gue." kata Deril sombong. "Dah, sana masuk. Gue tungguin disini."
"Apaan masa' lo mau berdiri di depan toilet cewek gini?!"
"Emang kenapa?"
Kenapa, katanya?
Saking kesalnya, Shara sampai tak bisa berkata-kata. Ia hanya mendengus dan langsung berbalik badan, mamasuki kamar mandi dan mengganti kostum. Sebenarnya Deril sendiri juga tak paham kenapa ia malah mengikuti Shara sedari tadi padahal sudah jelas ponsel di saku celananya bergetar berkali-kali yang ia tebak berasal dari grupnya, menyuruh Deril segera ke lapangan basket. Ia hanya ingin. Titik.
Tak butuh waktu lama, Shara keluar dari kamar mandi dengan kostum yang- Deril sangat bersyukur karena kali ini kostum Shara tidak separah acara bulan lalu yang jelas buka-bukaan. Kali ini gadis itu hanya memakai celana legging hitam panjang dengan kemeja kotak-kotak yang digunakan untuk melingkari pinggangnya serta atasan crop top.
"Udah?" tanya Deril. "Gak make up dulu?"
"Make up-nya di ruang latihan aja." jawab Shara sambil menalikan kemeja di pinggangnya.
Deril mengamati penampilan Shara dari atas sampai bawah dalam diam, hingga matanya langsung terpaku pada satu titik. Ia jadi terkekeh geli. "Ca."
Shara hanya bergumam menjawab. Tapi karena Deril tak kunjung melanjutkan bicaranya, gadis itu jadi mengangkat kepala. "Apa?"
"Ini." kata Deril sambil bergerak mengangkat kerah kaos Shara agar naik menutupi tulang selangka perempuan itu. "Kemarin perasaan gue cuman gigit doang. Kok sampe ada bekasnya, sih?"
Shara cepat-cepat menunduk memastikan, menyingkirkan tangan Deril dari kulitnya, lalu melotot.
"Lo!" tunjuknya ke wajah Deril. "Kemarin sengaja, kan, pasti?!"
"Yeee, gue mana tahu kalau bakalan ningalin bekas. Lo juga kerasa sendiri, kan, kalau gue kemarin cuman gigit?!"
"Gigit gak ada yang pake lidah, bego."
Melihat Shara yang masih terlihat panik, laki-laki itu kembali bersuara. "Gak keliatan jelas, kok. Kecuali kalau emang dari deket gini."
"Tau, ah, males banget sama lo."
"Ngambek mulu perasaan dari tadi. Kemarin aja nempel-nempel gelendotan."
"Y."
"Pacarnya mau tanding ini. Jangan ngambek dulu."
"Bodo amat, sih?"
Deril menghela nafas, tubuh sampingnya masih bersandar di dinding. "Untung lagi di sekolah, ya. Kalau lagi di rumah abis lo sama gue."
"Nye nye nye." ejek Shara tak peduli. "Dah, bye."
Deril meraih sepatu hitam Shara di tangan gadis itu, membawakannya kembali ke ruang latihan dan mengikuti Shara dari belakang.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *