2.8

5000 Words
Shara, Intan, dan gadis-gadis lain yang menunggu pertandingan futsal selesai, mereka sedang duduk di kursi pinggir lapangan, di bawah terik panas matahari Kota Jakarta. Suara riuh penonton benar-benar memekakkan telinga. Dari tempat duduknya, Shara bisa melihat Deril berpeluh keringat berusaha merebut bola. Apakah Shara pernah bilang kadar ketampanan laki-laki itu naik seratus persen saat berada di lapangan? Jangan bilang Deril. Nanti dia kesenengan dipuji Shara. Intan beberapa kali terdengar mengoceh sendiri saat Andi disenggol oleh tim lawan membuat Shara tersenyum mengejek dan menyenggol siku teman baiknya itu. "Teriakin dong, Tan. Kasih semangat." Tapi Intan tak menggubrisnya. Hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus menonton pertandingan. Waktu kurang tiga puluh menit sebelum Shara dan yang lain mengambil alih lapangan basket. Hingga bunyi 'priiiit' dari pelatih sepak bola berbunyi, Shara baru sadar kalau Deril dan Andi sudah melangkah mendekat ke arahnya. "Udah selesai?" tanya Shara kebingungan karena Deril tiba-tiba duduk di tanah dengan kepala bersandar pada kakinya yang menggantung di kaki kursi. "Belom." jawab Deril singkat sambil menata nafasnya yang tak beraturan. Keringat di pelipis laki-laki itu membuat Shara gatal ingin mendorong kepala Deril menjauh. Tapi karena kasihan, jadi ia biarkan. Shara tak tahu apakah ini sesi istirahat atau apa karena Deril malah duduk santai dan Andi malah asik berbincang dengan Intan sedangkan teman-teman lain di timnya sedang mengerubung seperti membicarakan siasat agar bisa menang. Shara memicing melihat Agas dari kejauhan yang sedang fokus memberi arahan. Lalu tiba-tiba lagi, Deril sudah berdiri sambil minum air dari botolnya. "Kalau tim gue menang, lo kudu kasih gue hadiah." Shara mendongak menatap Deril yang berdiri di depannya. "Hah? Apaan?" "Gak mau barang pokoknya." Shara mendengus, tahu benar apa yang diminta lelaki itu. "Emang sekarang skornya berapa-berapa?" "1-5." "Lo yang satu?" "Gue yang lima." ujar Deril sambil memberikan seringainya sebelum melangkah mundur menjauh dari Shara. Dava sudah berteriak memanggil nama Deril agar segera masuk lapangan. Dengan sangat tak diduga, Deril berteriak pada Shara sambil berlari menghampiri timnya. "Satu jam, ya, Ca!" Shara melotot sejadi-jadinya. Dasar Deril sinting! * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Melihat para perempuan cantik meliukkan badan tentu saja membuat mata laki-laki betah sekalipun siang ini matahari seakan sedang mencoba melampiaskan amarahnya. Benar-benar membakar kulit.  Deril ikut berseru heboh saat di tengah-tengah tarian, Shara maju dan berada di tengah, seakan menjadi pemimpin para perempuan lainnya, lalu dengan wajah jutek perempuan itu, Shara kembali menampilkan tarian yang— gila, Amel benar-benar patut diacungi jempol karena pandai menciptakan koreografi. Lain Deril lain pula dengan Andi. Laki-laki berkulit putih itu malah berkali-kali mengumpat saat para teman-temannya sedang asik bersiul menggoda. Sesekali menoyor kepala Agas saat dengan lancangnya Agas mengomentari bentuk tubuh Intan. Deril tertawa sinis. “Bisa posesip juga lo.” Apa yang dikatakan Deril malah semakin terbukti saat penampilan para dancer berakhir. Dengan kompaknya, Deril dan Andi segera beranjak dari duduknya dan berlari kecil ke arah ruang latihan menyusul Shara dan Intan. "Tan!” panggil Andi saat ia dan Deril berjarak beberapa langkah di belakang, membuat tak hanya Intan, tapi Shara pun ikut berhenti dan menoleh. "Harus banget lo pamer puser gitu? Perasaan yang lain gak gini amat.” omel Andi tepat ketika ia berhenti di depan Intan. Intan jadi mengernyit bingung. “Eum... hah?” "Siapa bagian kostum? Masih Amel kayak tahun lalu? Biar gue tegur dia." Shara yang mengamati Andi dan Intan jadi menggaruk pipinya yang tak gatal. Kasihan banget Kak Amel mulu dari tahun kemarin yang kena. Gak Deril, gak Andi, sama aja tukang marah-marah. “Eung....” Intan menatap Andi setengah bingung setengah kesenengan. “Ini... lo kenapa ngomel-ngomel, yak?” Tak ingin menjadi nyamuk di antara kedua sejoli yang hubungannya masih dipertanyakan itu, Shara melirik Deril. “Kok elo gak ngamuk-ngamuk kayak Andi, sih, liat kostum gue juga sama kebukanya gini?” “Lo kagak tahu aja pas acara beberapa bulan lalu gue hampir gila ngeliatin lo dance pake kostum begituan. Tapi wajar, lah. Soalnya pas itu lo belom gue jadi punya gue.” Shara memutar bola matanya jengah. “Sampe sekarang gue juga bukan punya elo, kali.” “Punya gue, lah.” sela Deril cepat, tak setuju dengan kalimat sang pacar. “Luarnya aja, emang. Nanti kalau udah halal, kan, dalemnya punya gue juga.” Shara langsung menampar pipi Deril hingga laki-laki itu terkejut. Gadis itu tak habis pikir kenapa belakangan Deril suka ngomong yang aneh-aneh. Kalimatnya sering kali bikin ambigu sampai Shara jadi pusing sendiri. “Lo mau gue tendang?!” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *   Pulang sekolah. Deril tengah fokus membuka ponsel Shara entah untuk apa ketika sang pemilik ponsel masih berada di dapur. Deril memang licik, sejak ia tahu bahwa Shara akan tinggal sendirian hingga tiga hari ke depan, laki-laki itu selalu ke rumah Shara bahkan sampai tengah malam, berlagak seakan-akan ia pemilik rumah cewek itu. Seperti saat ini, padahal tadi ketika Deril mengantar kekasihnya pulang, Shara sudah menolak Deril agar tak mampir ke rumah karena gadis itu ingin tidur siang seharian. Tapi Deril tak peduli. Ia bilang akan membiarkan Shara dan bersumpah tidak akan mengganggunya. Tapi Shara mana percaya? Jadi disinilah gadis itu sekarang. Di dapur sedang berkutat dengan sirup botol karena Deril menyuruhnya membuatkan minum. Perempuan itu sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah. Hanya kaos oversize dengan celana pendek. Rambutnya ia biarkan terurai karena pagi tadi baru meng-curly. “Ngapain, sih, buka-buka ponsel gue?!” amuk Shara usai keluar dari dapur dan mendapati benda persegi panjang kesayangannya itu berada di tangan yang salah. Shara kapok membiarkan Deril membuka ponselnya. Ia trauma karena Deril pernah memposting foto mereka berdua di i********: Shara dan meng-tag akun ketua OSIS yang katanya memang sedang naksir dia. Manfaatnya apa coba? “Idih, pelit banget.” protes Deril saat tahu-tahu ponsel di genggamannya direbut dan Shara sudah duduk nyaman di sampingnya dengan kaki bersila. “Orang cuman mau main piano tiles.” “Download sendiri, kek.” “Males.” Deril memilih meraih ponselnya sendiri yang berada di belakang pinggang Shara. Lagi-lagi dengan usilnya, ia menusuk pinggang ramping itu dengan telunjuknya sampai Shara berjengit dan melotot pada Deril. “Lo mau gue gigit?” “Nih, nih, gigit.” kata Deril sambil menyerahkan wajahnya di depan Shara. Perempuan itu melengos, mendorong wajah Deril menjauh. Tapi dengan tangkas lelaki itu kembali maju dan menggigit pipi Shara keras. “Deril, jorok! Lepaaaaas!” Cowok itu menjauh sambil tertawa terbahak ketika Shara dengan sebal mengelap pipinya. Tapi tak begitu peduli karena selanjutnya Deril malah membuka group chat di ponselnya yang belum apa-apa sudah ramai saja. AGAS AND THE MONKEYS Dava katanya mingdep udah libur bukan sih puncak lah kuy Deril ide bagus berangkat cowok 4 cewek 2? nambah cewek gue maksudnya Andi yang satu? Deril Shara biar ngajak Intan Agas boljug boljug enak, bisa threesome gue sama intan apa shara ya Deril lo kalau mau gue sambit sini gas Andi (2) Dava Andi belain yang mana tuhhh Andi Gisel gak lo ajak dav? Agas *mengalihkan pembicaraan guys Dava ngajak lah yakali jadi kambing congek Agas babi dong njing gue yg jadi kamcong ini mah :( bisa-bisa kalian pesen kamar empat, pada nge-room masing-masing terus gue main solo :((( Deril Agas sampah kick aja dari grup Dava gue iya gue sekamar aja sama gisel ada pacar tp tidurnya homoan buat apa Deril aku gak baca aku lagi berak Andi hhhh Agas lo ngapain mendesah ndi Deril dia ngehela nafas goblokk otak lo mirip TPA ya gas rusuh bgt Andi lo kan bisa ngajak si fwb an lo saha sih namanya sandrina Agas SANDRINA HAHAHAHAH ANJENG lo kira sandrina yang mantan IMB Dava sabrina goblok Deril lo jgn sok pinter dap sandra njing yg bener Andi hahaha. ya udah malemnya kita cari jagung bakar aja tan, gak usah ngajak yang lain read by 3 Andi anjrit salkim Agas WADOH NGAPAIN ABANG NGAJAK INTANKU PERGI MALEM-MALEM Dava bau-bau akan melepas status single nih Deril bau-bau traktiran   “Ikat rambut lo mana?” tanya Deril tiba-tiba usai meletakkan ponselnya. “Sini gue kuncirin.” Shara mengangkat satu lengannya, membiarkan Deril mengambil karet tersebut lalu memaksa tubuh Shara untuk membelakanginya. Laki-laki itu mengumpukan rambut halus Shara menjadi satu. Walau tak secepat Shara ketika menalikan rambut karena Deril seakan sengaja berlama-lama menyisir rambutnya. “Ca?” “Hm?” “Intan sama Andi udah sampai mana progress-nya?” Shara mengedikkan bahu. “Intan udah gak pernah curhat, sih. Belakangan juga susah diajak main bareng. Tapi kayaknya emang lagi PDKT.” “Andi udah gak pernah ngechat lo?” Shara menggeleg membuat Deril langsung menangkap kepala Shara agar tak banyak bergerak. "Enggak. Udah ada semingguan kayaknya. Terakhir ngechat juga nanyain Intan suka sate apa gule.” Deril manggut-manggut. “Bagus, dah. Biar gak nempelin lo mulu.” “Ngaca.” “Udah sering. Gue makin hari makin ganteng, kan?” jawab Deril asal. “Ngaca, yang suka nempelin gue, tuh, Andi apa elo?” Deril mencebik. “Wajarlah kalau gue, mah. Mending gue nempelin cewek sendiri dari pada cewek orang.” “Nyenyenye.” Usai cowok itu memasang ikat rambut, Deril menyandarkan kepalanya di punggung Shara yang masih memunggunginya. Memainkan rambut panjang Shara. "Gabut banget enaknya ngapain, ya?” “Tidur.” “Yuk?” ajak Deril. “Ya udah, sana, pulang.” Deril memajukan bibir bawahnya. Ia kembali memberikan gigitan pada tengkuk Shara. "Ngapain, sih, anjim, jadi seneng gigit-gigit?!" “Dari pada gue sedot malah jadi merah.” Pletak! Shara menjitak kepala Deril kencang. “Otak lo kebanyakan gaul sama Agas, tuh, makin-makin!” “Oh, iya, Ca. Anak-anak ngajakin ke puncak minggu depan.” “Emangnya udah fiks libur minggu depan?” Deril mengedikkan bahunya. “Ya udah, berangkat aja.” “Gue ngajak lo, maksudnya.” “Males, ah. Pengin marathon drakor.” “Ngapain coba nontonin drakor orang oppa-nya ada disini?” ujar Deril sambil menaik turunkan alisnya tengil. Shara menutup mulut dengan tangan kirinya seperti akan muntah. “Pede gila.” “Pokoknya lo harus berangkat! Gue yang ijinin ke orang tua lo. Enak aja yang lain bawa cewek gue ngejomblo.” “Iya, iya. Gampang, dah.” Deril tersenyum senang. “Gitu, kek, dari tadi. Sini cium dulu sayangnya Deril.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Rencana para cowok untuk liburan ke puncak gagal total. Hal ini disebabkan oleh Intan, awalnya. Perempuan itu bilang tak berminat liburan ke sana karena sepekan lagi, ia memang sudah memiliki rencana untuk kesana bersama keluarga. Karena Shara teman yang baik, perempuan itu akhirnya juga menolak ikut dan menyuruh para lelaki untuk tetap merealisasikan rencana awal meskipun tanpanya dan Intan. Tapi tentu Deril yang tidak mau. Akhirnya, usai dua jam dipakai untuk berdebat dan saling melempar pendapat di grup yang mereka buat dadakan dengan nama 'JANGAN WACANA' berisi empat laki-laki dan tiga perempuan tersebut, mereka mengambil keputusan baru. Yakni mereka tetap berlibur, hanya saja tidak jauh dari kota Jakarta, masih satu wilayah. Mungkin bedanya mereka hanya menyewa tempat untuk menginap bersama-sama sekitar dua atau tiga hari disana. Untungnya semua setuju. Karena sekalipun tak punya destinasi yang bisa dikunjungi, setidaknya mereka tetap bisa mencairkan otak yang beku usai ujian sekolah. Mereka sepakat berangkat hari Jum'at malam yang berarti sudah besok. Itulah yang dijadikan alasan Deril untuk tak kunjung pulang dari rumah Shara padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Iya, memang belum terlalu larut jika Deril tak berada disana sejak pukul dua belas. Dia kira Shara tak memiliki kepetingan lain selain mengobrol dengan laki-laki itu? "Berarti enggak bawa baju banyak, kan, Ril?" "Terserah kamu, lah." Shara berdecak. "Jadinya berapa hari?" "Kayaknya cuman dua hari doang." Lalu Shara melangkah menjauh, kakinya berjalan ke arah lantai dua membuat Deril bergegas beranjak dari duduk dan mengekori Shara masuk ke dalam kamar. Deril berreaksi berlebihan karena ini kali pertamanya memasuki kamar gadis itu. Matanya menelusuri seisi ruangan. Mulai dari dinding warna peach polos dengan beberapa foto gadis itu yang terpajang rapi tepat di atas kepala ranjang, buku-buku yang tertata dengan jumlah lumayan banyak, hingga matanya terpaku menatap tiga figura kecil yang terletak di atas nakas. "Bucin juga lo." komentar Deril sambil menyeringai pada Shara yang menoleh padanya. Mata Shara beralih pada sesuatu yang dilirik Deril. Shara langsung mendengus sebelum kemudian kembali melakukan aktivitasnya mengeluarkan baju-baju. "Bucin pala lo." "Terus apa, dong, namanya kalau bukan bucin sampai majang foto sama gue di sebelah foto keluarga lo begini?" ejek Deril yang sebenarnya kesenengan menemukan foto lama mereka berdua sebelum putus, wajah Deril bahkan terlihat terpaksa disana, terpasang pada figura paling beda dari yang lain. Shara melempar kaos berwarna kuning yang ia ambil sembarangan untuk dilempar ke wajah Deril. Laki-laki itu menangkap dengan tanggap. "Lo kira gue gak tahu lo masang foto gue di dompet lo? Pake foto gue di wallpaper hape lo? Namain kontak gue as 'pacar'? Bucin mana berarti?!" Bukannya merasa malu karena ketahuan, Deril langsung tergelak. Ngakak sejadi-jadinya. "Kurang cocok apa, coba, kita? Sama-sama bucin satu sama lain." ujarnya berbangga. Mata Deril berpindah pada satu foto lagi, yang berada di samping kiri foto keluarga. Foto tersebut diambil ketika Shara masih SMP, terlihat dari rok biru yang dipakai gadis itu dan senyum malu-malu yang terukir di wajahnya. Tapi bukan itu fokus Deril, tapi foto bocah laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Shara. Deril mengernyit, mencoba mengingat-ingat apakah Shara pernah menceritakan tentang laki-laki lain yang hadir di hidup gadis itu kala SMP, tapi nihil. Deril clueless. "Ini siapa, Ca?" Shara membawa baju-baju yang tak sedikit untuk dipeluknya sembari berdiri dan menghampiri Deril. Ia menaruh di tepi ranjang sebelum mengambil figura di tangan Deril. Tak membiarkan laki-laki itu mengamati foto tersebut lebih lama. "Kepo." "Idih?!" seru Deril tak terima. "Apaan, tuh, rahasia-rahasiaan?!" "Mana ada rahasia-rahasiaan." "Ya, terus siapa?" "Temen, elah. Posesif amat." "Temen tapi demen?" "Hmm." Bukan gumaman mengiyakan itu yang ingin Deril dengar. Ia berharap Shara menggeleng atau setidaknya berkata kalau itu sahabat terbaiknya kala di masa putih biru. Jika pengakuan tersebutlah yang didapatkan, bukankah artinya Shara masih memiliki ruang di hatinya untuk sosok laki-laki tersebut? Sampai-sampai terpajang berjejer dengan orang-orang penting di hidup Shara lainnya? "Demen?" ulang Deril. "Mantanan?" Kadang Deril juga merasa bodoh. Padahal dulu ia juga pernah pacaran dengan Shara begitu lama. Kenapa hal sekecil ini saja ia tak tahu, sih? "Enggak. Temen doang. Gak sampe jadian." Lalu Deril tak menjawab, memilih diam mengamati pergerakan Shara. Entahlah. Jujur ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ingin bertanya kenapa Shara masih menyimpan foto tersebut. Ingin bertanya siapa nama lelaki itu. Sebesar apa pengaruhnya pada Shara dulu. Apakah Shara masih menyimpan rasa atau bagaimana. Tapi ia ingat pesan papa dan mamanya. Mengungkit masa lalu hanya akan memperburuk suatu hubungan. Jadi lelaki itu memilih menunduk sambil memainkan ponsel. Membuka apa saja untuk mengalihkan perhatiannya dari foto tadi. Shara tentu langsung peka mengingat biasanya Deril tak bisa diam jadi hening begini. Ia yang masih berdiri sambil memasukkan make up ke pouch jadi menghela nafas. Ia menggerakkan kedua tangannya untuk menangkup pipi Deril. Laki-laki itu otomatis mendongak, mereka berdua bertukar pandang. Karena Shara tak kunjung membuka suara, Deril jadi berdecak sebal. "Apa?" desak Deril. "Gue sama Zaki seribu persen cuman temenan, Ril." Oh, namanya Zaki? "Temen yang hampir jadian?" "Tapi, kan, udah duluuuu." gemas Shara. "Tapi foto dia masih nongkrong di kamar lo sampai sekarang." "Ril, please..." hela Shara mulai lelah menghadapi Deril yang posesif dan kekanakan seperti sekarang. Deril menepis tangan Shara dari pipinya. "Udah-udah, ah, sana." Shara jadi cemberut. Bibir bawahnya maju, kesal setengah mati melihat Deril sekarang malah mendiaminya. Deril merebahkan tubuhnya di atas kasur Shara, tak peduli kekasihnya sedang minta diperhatikan karena tak ingin Deril marah hanya karena masalah sepele. Kedua tangan Deril ia gunakan untuk menumpu di belakang kepalanya, matanya menatap langit kamar Shara. Pikirannya jadi menerawang kemana-mana. Berpikiran negatif tentang perasaan Shara saat ini. Apakah kekasihnya belum melupakan si Zaki? Atau jangan-jangan selama ini Shara tidak benar-benar menyayanginya? "Ril..." "Hm." "Demi apa, sih, lo ngambek sama hal gak penting gini?" "Iya, lah, gak penting. Mana pernah, sih, lo mentingin perasaan gue? Ya, kan?" "Lo PMS, ya?!" seloroh Shara sambil menaikkan intonasinya. Mengutarakan kekesalannya. Deril diam lagi. "Kita besok liburan, Ril. Lo mau ngambek-ngambekan sampai kapan?" Dengan brengseknya, Deril malah sengaja memejamkan mata. Pura-pura tertidur, tak mendengarkan Shara yang terus mengoceh karena kesal dikacangin Deril. "Ril..." rengek Shara sekali lagi. "Deril!" "Sayang..." Deril boleh saja memiliki tubuh tegap otot kekar besi baja tulang besi, tapi mendengar satu kata tersebut dilontarkan Shara kepadanya saja Deril langsung lembek. Bibirnya tak bisa diajak kerja sama karena malah membentuk lengkungan ke atas, gagal menahan senyum. Deril langsung terduduk, matanya menatap Shara sambil melotot. "Alah, kalau gue ngambek aja baru sayang-sayang!" protesnya tak terima. Shara tersenyum puas. "Kalau gak gini mana mau lo dengerin gue." "Gak usah senyum-senyum lo. Gue masih marah, ya." "Halah." sela Shara tak percaya. "Lo mau marah kayak gimana, gue rayu dikit juga udah leleh." "Apaan, sih, bawa-bawa ikan?" "Leleh, b**o! Leleh! Bukan lele!" sewot Shara sambil mendorong kening Deril dengan telunjuknya. Deril mencebik. "Sumpah, Ca. Punya pacar, tuh, disayang-sayang, kek! Lo, mah, apa KDRT mulu." Shara bergeser mendekat pada Deril. Tangannya terbentang lebar menyuruh Deril masuk ke dalam pelukannya. "Ututu, tayaaang. Sini peluk dulu sini biar PMS-nya ilang." Walaupun wajah Deril masih menampilkan raut wajah tak enak dipandang, laki-laki itu tetap maju, kedua tangannya melingkar pada pinggang Shara, memeluknya erat dengan hidung menempel di pundak gadis itu. "Rese' lo hari ini." ungkap Deril. Shara terkekeh kecil sambil mengusap punggung lebar laki-laki itu. "Iya, gue rese." Gadis itu bisa merasakan kecupan lembut di pundaknya diiringi pelukan makin erat di pinggang rampingnya. "Gue udah pernah kehilangan lo. Gue gak mau lagi." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Liburan tiba. "Lo beneran jadi sekamar sama Deril, Shar?" tanya Intan dengan bibir merengut, tak terima bahwa ia harus tidur sendirian selama liburan. Shara menggigit bibir bawahnya, merasa tak tega. Lalu sosok jangkung muncul dari belakang Shara, merangkul bahunya dan menyela percakapan dua gadis disana. "Udah, deh, jangan bikin cewek gue goyah." sela Deril melototi Intan. "Kapan lagi coba dia mau tidur sama gue?" Shara menepis tangan Deril di bahunya, menatap cowok itu dengan tatapan mengiba. "Ril tapi, kan, kasihan Intan tidur sendirian. Gisel juga pasti sama Dava." "Intan bisa sama Andi, kan?" celetuk Deril santai membuat Intan tak tahan untuk menabok kepala lelaki itu dari samping. Deril tak peduli. Ia menoleh ke belakang, mencari keberadaan Andi. Tangannya teracung tinggi, melambai meminta Andi menghampirinya. Agas yang  memang raja kepo langsung ngacir ikut bergabung pada lingkaran mereka. "Lo malem ini tidur sama siapa? Intan sendirian." Intan langsung kelabakan. Tak menyangka Deril bisa bicara begitu pada Andi. Andi menoleh pada gadis itu, membuat Intan langsung menggelengkan kepala cepat, tak ingin Andi salah paham mengira ia minta ditemani. "Shara tidur sama lo?" tanya Andi. Deril mengangguk semangat. "Eit, gak ada acara Andi tidur sekamar sama Intan!" cecar Agas heboh. "Andi tidur sama gue!" lanjutnya. "Ck. Diem deh, lo." Andi menghela nafas. "Tapi gue emang gak bisa sekamar sama Intan. Lo waras, kan, Ril?" jawab Andi akhirnya. Intan mengangguk setuju. "G-gue gak apa-apa tidur sendirian. Sumpah, deh!" katanya sembari memandang satu-persatu orang disana. Kepalanya mengangguk-angguk meyakinkan. "Beneran?" tanya Shara cemas. "Nanti kalau lo gak bisa tidur, telepon gue aja." putus Andi. "Gue temenin telponan sampai ketiduran." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Deril dan Shara sempat bertengkar kecil di kamar. Shara mengatai Deril tak bisa mengerti posisinya karena ia merasa tak enak dengan Intan, sedangkan cowok itu tetap tak mau merelakan Shara tidur dengan Intan. Saking sebalnya, apa lagi Deril sangat keras kepala dan tak mau mengalah, gadis itu akhirnya keluar dari kamar. Memilih menghampiri Intan di ruangannya agar Shara tak semakin emosi melihat wajah mengesalkan milik Deril. Shara berkali-kali mengucap maaf yang dibalas anggukan dan kalimat 'tak apa' dari sahabatnya. "Eh, Shar, tapi lo gak takut diapa-apain sama Deril?" tanya Intan was-was. Namun Shara menggeleng. "Sekhilaf-khilafnya Deril, dia gak pernah nyentuh gue sejauh itu." "Dan kalau malem ini adalah pengecualian?" Shara menepuk-nepuk bahu Intan, paham benar bahwa teman baiknya itu mengkhawatirkannya. "Percaya sama gue, gue bisa jaga diri." Akhirnya Intan mengangguk. "Gih, sana balik ke kamar lo. Udah jam sepuluh ini." "Ye, bilang aja lo mau teleponan sama Andi!" Intan menyengir. "Sana-sana!" Shara beranjak dari ranjang, keluar dari pintu Intan dan melewati Andi, Agas, Gisel, dan Dava yang asik berbincang di ruang tengah. Koor heboh langsung menggema. Mereka berempat langsung meledek Shara ketika gadis itu berpamitan untuk tidur lebih dahulu. "Deril suruh pakai pengaman, Shar!" teriak Agas membuat yang lain tertawa terpingkal. "Suaranya jangan kenceng-kenceng!" "Jangan lupa baca bismillah!" Shara menutupi wajahnya yang memanas. Tak mengerti mengapa semuanya heboh karena ia dan Deril tidur di satu ranjang yang sama padahal sudah jelas keduanya tidak akan melakukan apa-apa. Sedangkan Gisel dan Dava yang sudah pasti aneh-aneh malah dimaklumi begitu saja. Shara langsung mengunci pintu dari dalam dan menemukan ranjang yang kosong. Sepertinya Deril sedang di kamar mandi karena dari luar terdengar bunyi gemericik air. "Ril?!" teriak Shara berharap Deril mendengar suaranya. Deril balas berteriak. "Apa, Ca?!" "Cepetan, gue mau cuci muka!" Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Deril menampakkan diri dengan mulut berbusa sembari menyikat giginya. "Mashuk ojo." Shara memutar bola matanya, tapi tak urung menurut karena ia memang hanya berniat membersihkan wajahnya. Berhenti di depan wastafel, ia mengamati Deril yang asik menyikat gigi, rambutnya basah dan berantakan, membuat Shara harus mengakui bahwa kekasihnya memang sangaaaaat tampan. Usai laki-laki itu berkumur, ia menoleh pada Shara yang masih tak berkedip menatapnya. Deril menyeringai. "Kenapa? Baru sadar kalau pacar lo ganteng banget?" "Ew." tanggap Shara lalu mengalihkan pandangan. Ia menunduk dan membasuh wajahnya dengan air, tangan Deril bergerak menyatukan rambut Shara dari belakang agar tak ikut terkena air. "Handuk lo mana?" Shara menoleh dengan wajah penuh sabun. "Di tas. Ambilin, dong." Deril mendengus walaupun tetap mengiyakan. Ia kembali tak lama kemudian dengan handuk berwarna baby blue di tangannya, menyerahkan pada Shara yang kini wajahnya sudah bersih dari busa. "Udah cuci muka?" Deril menggeleng. "Lo habis mandi, kan?" "Iya, tapi belum cuci muka." kata Deril lalu mengambil facial wash-nya. "Sini, sini. Gue aja." ujar Shara tiba-tiba. Deril menoleh tak paham. Shara menengadahkan tangannya, meminta botol milik Deril agar diserahkan saja. Cowok itu langsung menurut, sedetik kemudian baru paham maksud Shara. Deril dengan cekatan langsung mengangkat pinggang Shara, mendudukkannya di wastafel sedangkan tubuhnya berada di antara kedua paha gadis itu. Shara mulai asik sendiri. Ia mengoleskan isi sabun di beberapa titik wajah Deril sebelum memijat lembut. Laki-laki itu otomatis memejamkan mata, menikmati setiap gerakan tangan gadisnya. "Loh, ini jerawat baru?" tanya Shara dengan telunjuk berputar di dagu Deril, merasakan benjolan kecil disana. Deril menepuk lengan Shara. "Sakit, anjir, lo gituin." "Baru?" ulang Shara. "Iya, Ca, baru kemarin." "Rasain lo. Kebanyakan makan mi instan, sih!" cerca Shara kemudian lanjut memijat wajah Deril dahinya. "Agak nunduk." Deril menurut, ia menundukkan lehernya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Shara. Yang tak pernah ia duga, tiba-tiba Shara mengecup bibirnya  kemudian tersenyum menggemaskan tanpa merasa bersalah. Deril mengerjap, terkejut sendiri karena Shara sangat jarang melakukan hal ini. Deril langsung tersenyum geli. Tangannya terangkat mengacak rambut gadis itu. "Tumben?" "Hahaha. Biarin, sih." "Sering-sering dong, Ca, mau gerak duluan." Shara mencibir, lalu melompat kecil turun dari wastafel. "Jangan loncat! Astaga, lantainya licin, Ca!" "Iya-iya, ih! Jangan teriak juga, bikin kaget!" Shara menutup botol facial wash Deril. "Udah, bilas sendiri mukanya." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * "Love you every minute every second Love you everywhere and any moment Always and forever I know I can't quit you 'Cause baby you're the one, I don't think how," Shara bersenandung pelan sembari mendudukkan dirinya di atas kursi. Tubuhnya menghadap cermin, kemudian gadis itu tiba-tiba memasang pose tersenyum di depan sana membuat Deril yang mengamati tingkahnya jadi tertawa geli. "Gak jelas abis." ejek Deril yang duduk bersandar pada kepala ranjang. "Salah lirik kamu, tuh." Cewek itu menoleh. "Hah masa?" "Iya, dih." "Yang mana?" "Yang kalimat terakhir," beri tahu cowok itu. "Itu bukannya i don't know how, ya?" "Masa sih?" pertanyaan sama terlontar dari bibir Shara. "Ya udahlah, bodo." Gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang masih setengah basah sebelum mengambil salah satu kotak skin care. Jari telunjuknya baru terangkat hendak mengoles ketika Deril tiba-tiba berseru memanggilnya. "Jangan pakai cream apa-apa, please. Aku gak bisa nyiumin." Shara menoleh, alisnya terangkat satu. "Pait, Ca." Shara mendengus tapi tetap menuruti permintaan cowok itu. Ia tidak melapisi wajahnya dengan apapun, memilih langsung naik ke atas ranjang dan bergabung dengan Deril yang sudah merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Namun yang ada Shara menggelengkan kepala, menolak Deril yang ingin memeluknya. "Aku mau baca novel." Deril langsung merengut, berdecak kesal ketika Shara benar-benar mengambil buku di atas nakas sambil menyamankan posisi duduknya di samping. "Ada pacar tapi milih novel." sindir Deril. Shara mengabaikan kalimatnya. "Ambilin kaca mata di laci itu, dong." Deril menurut walaupun masih kesal. Ia menyerahkan kaca mata milik gadis itu, mengamati Shara yang kini terlihat dua kali lebih manis jika terbingkai benda tersebut.   "Cala." "Apa?" "Beneran mau baca novel?" Shara mengangguk. Tak memperdulikan Deril yang kini memeluk tangan kirinya erat, menempelkan pipi di lengan atas gadis itu. "Terus gue ngapain kalau elo baca buku?" "Tidur?" "Ayo, bareng aja." "Idih, manja amat." Deril menggigit lengannya sebelum menjauh. Ia merebut ponsel Shara di paha gadis itu, berniat memainkan benda persegi panjang tersebut dari pada berdiam diri. Hingga jemarinya bergerak membuka fitur galeri foto, Deril menemukan sesuatu yang langsung membuatnya terkejut. "SEJAK KAPAN LO SUKA KOREA-KOREAAN, PLIS?!" Laki-laki itu melotot. Jemarinya menggulir layar terus ke bawah dan berkali-kali berdecak, menggerutu tak percaya. "Emang kenapa, sih?!" Deril menangkup kedua pipi Shara. "Yang, liat nih muka gue. Kurang ganteng apa pacar lo ini sampai lo bisa-bisanya main hati?!" Shara menabok wajah Deril dengan telapak tangannya yang terbuka. Mendorong kepala cowok itu menjauh. "Lebaaaaay." "Pantesan, ya, belakangan ini suka senyum-senyum sendiri kalau liat hape." "Cowok ganteng, tuh, gak boleh disia-siain, Ril." "Nah, itu tahu. Makanya, lo gak boleh menyia-nyiakan gue yang lagi ada di sebelah lo." cerca Deril lalu melempar novel Shara ke atas nakas. "Udah, sini. Let's cuddle." Shara menyerah. Ia balas memeluk punggung lebar Deril, membiarkan kekasihnya bertumpu dagu di atas kepalanya, mengusap-usap rambut panjang Shara dengan lembut. "Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu, deh." Shara mendongak, menunggu kelanjutan kalimat laki-laki itu. "Kalau aku ngajakin kamu nikah muda, kamu mau gak, ya?" "No waaaaay." "Kenapa?" Shara kembali menunduk. Kali ini menyerukkan kepala ke d**a bidang cowo itu, menghirup wangi di tubuh Deril sembari bergumam. "Nikah gak melulu soal seneng-seneng, Ril. Banyak yang harus disiapin. Aku gak bisa ambil keputusan serta-merta begitu." "Target nikah umur berapa emangnya?" "Eum, minimal lulus S1, deh." "Masih lima tahun lagi?" "He-em." "Lama juga, ya." "Emang kamu maunya nikah umur berapa?" Deril menyibakkan poni Shara ke atas sebelum membubuhkan kecupan di pelipisnya. "Maunya nikah muda, sih. Takut khilaf malah jadi zina. Hehe. Tapi kalau kamu maunya lulus kuliah dulu, ya enggak apa-apa." "Nungguin aku?" "Iyalah." "Kenapa?" "Hah? Kok kenapa? Kan, nikahnya sama kamu." Shara tertawa kecil. Ia mengangguk-angguk, kepalanya menjauh. Tangannya bergerak mengusap rahang cowok itu. "Jalanin pelan-pelan aja. Gak usah mikirin yang masih jauh. Kita masih terlalu muda buat ngomongin kesana, Ril." "Hmm, okay." "Yang penting sampai sana, kan?" Shara mengulas senyumnya kemudian memberi kecupan singkat di pipi Deril. Laki-laki itu jadi ikut tersenyum manis, membalas Shara dengan melabuhkan ciuman di bibirnya. Lagi pula bagi Deril, sekalipun harus menunggu bertahun-tahun untuk menikahi gadis itu tak akan jadi masalah. Selama bersama Shara, Deril rasa ia sanggup. Ciumannya berpindah ke pipi lembut gadis itu, menncium sedikit lama, membaui pipi gadis itu, sebelum turun ke leher. Tapi lagi-lagi Shara menganggu. "Jangan dijilat, Ril. Abis kena lotion." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD