2.9

5000 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Malamnya, ketika angin mulai terasa kencang membuat seisi manusia di villa tersebut merasa kedinginan, Intan pun merasakan hal yang sama. t*i untungnya, dia sudah terbiasa dengan Ac di rumahnya yang selalu ia tetapkan suhu rendah, tidak normal seperti orang-orang lain. Beda cerita kalau Gisel yang kedinginan sedikit, kulitnya akan memerah dan terdapat beberapa ruam di spot kulitnya. Katanya, sih, cewek itu punya alergi dingin. Maka dari itu, sang kekasih alias Dava Garda Erlangga selalu jaga-jaga setiap kali mengajak Gisel menginap di perbukitan seperti ini. Cuacanya tidak main-main. Omong-omong, di malam yang seharusnya bikin Intan lebih mengantuk karena hawanya, kali ini perempuan itu malah tidak bisa tidur. Intan benar-benar tidak bisa tidur. Padahal ada sedikit rasa kantuk yang hinggap dan ia ingin terlelap sekarang. Tapi sayangnya, Intan terbiasa tidur dengan maminya. Biasanya, kala di rumah, Gadis akan tidur ditemani sang ibu sampai ia benar-benar tertidur, baru ibunya akan meninggalkan dia sendirian di kamar. Jadi jelas, malam ini, ia membuka mata lebar-lebar, lampu kamarnya hidup terang benderang, dan beberapa kali matanya melirik cepat ke sudut dinding atau jendela. "Duh, mama..." rengek Intan bermonolog. Boleh saja orang selalu menganggap Intan pemberani, nyalinya besar, tapi gadis itu selalu menciut jika sudah membicarakan makhluk halus. Di usianya yang bukan lagi anak kecil, ia masih saja mempercayai tahayul. Padahal sebenarnya, matanya sudah sangat berat. Ia mengantuk tapi tak mau tidur. Bagaimana jika tengah malam nanti tiba-tiba ada yang mengetuk jendelanya, atau tiba-tiba kran kamar mandi mengucur, atau bagaimana jika nanti ada yang menggelayuti kakinya, bagaimana jika nanti ada yang mengelus kepalanya, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Segala macam bayangan buruk muncul satu persatu di kepalanya membuat Intan semakin merengek sendirian. ia jadi ketakutan sendiri. Suara hatinya sedikit memerotes karena Shara malah dipaksa tidur satu kamar dengan Deril. Kalau Gisel, sih, dia sudah hafal kelakuan Dava. Tapi masalahnya, sekarang dia harus gimana?  Beruntung beberapa detik kemudian ia ingat tawaran Andi. Yap, tak ada pilihan lain selain menghubungi cowok itu. Jemarinya bergerak cepat mencari kontak nama Andi lalu menekan tombol hijau. Gadis itu bersyukur tak butuh waktu lama hingga Andi mengangkat telepon darinya. "Halo, Intan?" Baru juga mendengar suaranya, namun Intan bisa merasakan hatinya sedikit tenang. "Intan?" panggil Andi sekali lagi. "Kenapa? Gak bisa tidur?" Bibir bawah Intan mengerucut. Andi menebaknya tepat sasaran. "Iya..." Disana, Andi tertawa kecil. "Gue temenin ngobrol kalau gitu." "Eum- lo udah mau tidur, ya, sebenernya?" "Enggaklah. Mana bisa tidur jam segini, Agas berisik banget." "Gue gangg gak, sih, minta temenin telepon gini?" "Gue seneng-seneng aja lo gangguin." Intan mencomooh. "Halah." Andi tertawa. "Udah makan malem belum?" "Tadi, kan, makan pizza bareng-bareng." "Sekarang gak laper? Makan pizza-nya jam tujuh, sekarang udah jam sebelas." "Enggak, tuh. Kenapa? Lo laper?" "Enggak juga. Cuman cari alasan biar bisa ngajakin lo keluar. Hehe." "Ih?" Intan tertawa lagi. Pipinya bersemu merah. "Ya udah, hayuk." "Eh, serius? Mau?" "He-em. Mau kemana, tapi?" "Banyak warung kopi di jalan raya. Kesana aja gimana?" "Boleh." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Usai berdebat dengan Agas karena cowok itu memaksa ikut keluar—yang syukurnya Agas kalah dan Andi tersenyum kemenangan, ia bergegas menutup pintu kamar dan mendapati Intan dengan piyama pendek merah muda serta jaket hitam yang membalut tubuhnya berada tak jauh dari jarak pandang. "Hai." sapa Andi yang dibalas senyuman oleh Intan. "Gak ganti celana dulu? Ini dingin. Pake celana panjang aja." Intan menggeleng. "Gak apa-apa. Males ganti lagi." Andi mengangguk. Mereka keluar rumah dan berjalan kaki hanya berdua. Angin yang berhembus, dinginnya malam, ditambah beberapa pengendara motor yang lewat menjadi peneman keduanya. "Jauh, enggak?" Andi menoleh dan menggeleng. "Deket, kok. Udah capek?" "Enggak, lah. Baru juga jalan." Andi tertawa. "Kirain." Mereka berdua membahas seluruh topik random. Semuanya dibahas untuk mengisi perbincangan tengah malam itu. Jangan kira hanya Intan yang bahagia kali ini, Andi juga. Gemercik rasa nyaman tumbuh kian besar di antara keduanya. Andi tak bisa menampik lagi karena ia selalu suka berada di dekat Intan. Gadis itu menyenangkan juga menenangkan. Intan dewasa tapi juga masih seperti bocah. Segala yang ada pada diri gadis itu, wataknya, karakternya, semuanya, selalu membuat Andi mampu terkagum karena Intan menghabiskan waktu dengan berpikir positif. ".... tadi Shara bilang kalau besok pagi kita—“ Intan tak jadi melanjutkan kalimatnya ketika Andi tiba-tiba meraih tangannya, menelusupkan jemari mereka berdua agar saling berkaitan. "Besok pagi kenapa?" tanya Andi, pura-pura tak tahu bahwa gadis di sampingnya sedang terkejut. Intan menunduk, menyembunyikan senyumnya. "Eum, katanya kita mau jogging bareng." "Emangnya bisa bangun pagi? Orang jam segini aja kita belum tidur." Intan ingin sekali menampar pipi Andi yang belagak santai sedangkan degup jantung Intan tak karuan. Lihat saja sekarang, dengan wajah datar, Andi berbicara namun jemarinya mengusap pelan punggung tangan Intan. "Ini... kenapa kita harus gandengan, sih? Kan, gak lagi mau nyebrang jalan?" Andi mengangkat kedua tangan mereka. "Dingin." alibi cowok itu. Intan mendengus. Ngeles aja, lu! "Tadinya mau ngerangkul bahu lo aja langsung, tapi takut lo-nya gak nyaman." Tenggelamkan Intan sekarang. Bahagia itu sederhana Hanya dengan melihat senyummu Ketika dunia seakan mau hancur Kita bercanda, tertawa bersama SederhanaBahagia itu milik kita Aku raja dan engkau ratunya Walau cuma kita berdua yang tahu Aku dan kamu, kita berdua bahagia Sederhana * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Keduanya mengambil duduk di kursi kayu paling ujung usai menyebutkan merk minuman hangat yang mereka pesan. Malam semakin larut namun warung pinggir jalan malah semakin ramai. Andi melepas jaket yang ia pakai, lalu menaruhnya di paha Intan. Gadis itu otomatis mengangkat kepala, dahinya mengernyit. "Kan gue udah bilang, pakai celana panjang aja tadi." Intan meringis. Langsung paham maksud Andi. "Tapi lo-nya jadi kedinginan." "Bentar lagi kopi gue udah dateng. Jadi gak dingin lagi." "Makasih, ya?" Andi tersenyum manis. Tangannya terangkat mengusap rambut gadis itu. "Sama-sama, ya?" jawabnya membuat Intan terkekeh. "Kata Shara, Deril sering ngerokok kalau lagi kedinginan." Andi menoleh. "Terus?" "Lo kalau mau ngerokok, ngerokok aja. Gue gak punya asma, kok." "Gue gak bawa rokok." "Itu abangnya jualan rokok." Andi tetap menggeleng. "Any way, Ndi. Gue pernah nyobain rokok, loh!" ujar Intan bercerita. Gadis itu terlihat bangga menceritakannya. Tapi jelas, Andi bahkan langsung tersedak ludah sendiri. "Hah?!" Intan mengangguk. "Iya! Dulu ceritanya, temen cewek gue bawa rokok menthol, terus dia ngerokok. Gue tanya, dong, rasanya ngerokok gimana sih? terus dia bilang, enak, kok. Yang punya gue ini rasa mint. Jadi adem di lidah. Karena gue penasaran, gue cobain, deh." "Terus ketagihan, gak?" tanya Andi was-was. Intan menggeleng. "Pertama coba aja langsung batuk-batuk. Asapnya masuk semua ke tenggorokan. Jadinya gak mau nerusin." Bahu Andi langsung melemas, lega luar biasa. Laki-laki itu bahkan langsung menyandarkan punggung. "Lain kali jangan diulang kayak gitu." Intan menoleh. "Hm?" "Gue gak suka punya cewek doyan rokok." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Keesokan harinya. Tak seperti biasa, pagi ini para laki-lakilah yang bangun lebih dulu daripada para perempuan. Di antara Andi, Agas, dan Dava, nyatanya Deril yang terakhir keluar dari kamar. Laki-laki dengan celana tebal rumahan dan kaos oblong putih bergambar metallica itu menguap lebar. Kakinya melangkah menghampiri meja makan yang dimana sudah ada tiga laki-laki sibuk disana menyiapkan sarapan. Jelas bukan hasil tangan mereka sendiri. Agas, Dava, dan Andi hanya kebetulan ingin jalan pagi lalu sekalian membeli nasi di warung depan. "Cewek lo belum bangun?" tanya Dava usai ekor matanya melirik Deril yang mengambil air mineral. Yang ditanya menggeleng. "Lo apain semalem? Biasanya dia gak kebo," julid Agas yang dibalas seringai Deril. "Anak kecil gak boleh kepo." Agas melotot tak terima. "Idih?! Yang lo katain anak kecil ini lebih menguasai banyak teknik b******a dari pada lo." "Bodo amat?" Baru Agas akan membalas lagi, Andi mendapati Intan keluar dari kamar. Gadis dengan piyama merah muda itu mengucek matanya menggemaskan, jadi Andi cepat-cepat memberitahu para temannya. "Jangan ngomongin 18++ di depan Intan." Agas malah mengangkat alisnya tinggi. "Mau bahas aja, ah, biar seru..." "Gue sikat pala lo." "Ugh, takut banget." jawab Agas dengan ekspresi menyebalkan. Percakapan di dapur semakin ramai dengan adanya Intan disana. Mereka berlima mengisi pagi dengan banyak canda dan tawa. Mengiringi matahari yang semakin naik ke atas. Ini sudah pukul sembilan. "Katanya mau ke jogging pagi-pagi sama Shara?" ledek Andi sambil menyenggol siku Intan yang sedang mengoles roti. Intan meringis. "Jogging, kok. Di mimpi." Andi langsung tertawa. Receh banget. "Makanya jangan tidur malem-malem." "Kan, tidurnya pagi? Orang udah jam satu baru bisa tidur." "Oh iya, ya." "Tapi sejam lagi aku mau keluar sama Shara, kok." Andi yang duduk di kursi meja makan sedangkan Intan berdiri di sampingnya itu masih setia mengamati gadis tersebut yang telaten menyiapkan roti untuk semua orang. "Hm? Mau kemana?" "Mau nemenin dia ke rumah temen lamanya yang deket sini." "Lah, cewek gue gak diajak?" Dava tiba-tiba nimbrung dalam percakapan. "Loh? Bukannya kata Gisel kalian mau ke air terjun berdua?" Lalu Dava berhenti mengunyah. Baru ingat akan hal satu itu. "Iya, lupa gue." "Sama Cala, Tan?" tanya Deril, bertanya ulang atas kalimat yang ia tangkap samar-samar dari percakapan kedua manusia di hadapannya ini. "Iya, budek." Ini Andi yang jawab. Deril tak meladeninya. Cowok itu buru-buru mengelap tangan lalu berbalik badan. "Ini kalau dia gak dibangunin sekarang pasti gue yang dimarahin, dah." Mendengar itu, Intan tertawa. "Shara selalu benar soalnya, Ril." Deril mengangguk. "Dan Deril selalu jadi b***k cintanya Shara." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Baru membuka pintu kamar, melihat Shara yang masih bergelung dengan selimut dan terlelap nyenyak, niat Deril untuk membangunkan gadis itu langsung turun sampai nol persen. Yang ada Deril langsung melompat ke ranjang dan memeluk gadis itu erat-erat. Shara jadi mengernyit dalam tidurnya. Masih sambil terpejam, gadis itu mendorong Deril menjauh. "Jangan ganggu." Deril tertawa kecil. Kini berangsur duduk di samping Shara yang menaikkan selinut sampai ke leher dan kembali menyamankan posisi tidurnya. Cowok itu menunduk, memberikan kecupan di pipi kiri Shara berkali-kali. "Wake up, Ca." "..." "Udah siang banget ini." Shara menggeliat ketika merasa ada jemari yang memainkan bulu matanya. "Cala." Shara menggeleng, benar-benar tidak mau bangun dari tidurnya. "Katanya mau keluar sama Intan? Ini udah jam sembilan." Tapi Shara masihlah Shara Fressia yang keras kepala sekalipun berada di alam bawah sadar. Gadis itu tak mau bangun sekalipun Deril sudah berusaha menggelitiki lehernya. Tak kehabisan cara, Deril turun dari ranjang, berdiri di samping tubuh Shara lalu menarik kedua tangan cewek itu agar terduduk. "Bangun, gak?!" Dengan mata yang masih menyipit, Shara mulai membuka kedua kelopaknya. Menatap bayangan Deril yang samar-samar mulai terlihat jelas. Gadis itu berdecak lagi. Ia menepis tangan Deril yang masih memegangi kedua tangannya, berganti memeluk pinggang Deril yang berdiri di hadapannya. "Loh, loh." Deril terkejut, tapi bibirnya mengeluarkan kekehan kecil, gemas sendiri. "Apa, nih, pagi-pagi manja banget?" "Diem, deh. Masih ngantuk juga." Deril mengusap lembut kepala gadis itu, merapikan rambutnya. "Jangan merem lagi, makin pingin tidur nanti." "Hmm." "Kata Intan mau ke rumah temen lama?" "Iya." "Kok gak ngajak gue, sih?" Shara mendongak. Matanya sudah terbuka penuh, kantuknya perlahan hilang. "Intan maksa ikut. Masa' gue ngajakin lo juga?" "Kenapa emang?" "Intan mana mau jadi nyamuk." "Intin mini mii jidi nyimik." ejek Deril membuat Shara tak segan langsung mencubit perutnya. Gadis itu lalu beranjak dari ranjang. Ia menggulung rambutnya ke atas, menjepitnya asal, lalu pergi ke kamar mandi. "Ca, Ca." "Apa lagi?" "Mau mandi, kan?" Shara mengangguk. "Pake sabun gue aja. Ada di dalem, kok." "Hah? Kenapa?" "Ya, gak papa. Biar wangi gue aja." "Gak jelas lo." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Shara terlihat cantik pagi ini. Gadis dengan rambut yang lebih sering digerai itu kali ini memakai setelan sederhana; hanya atasan garis-garis yang memiliki rumbai di sekitar leher dan lengan, dipadukan dengan celana jeans yang membentuk indah kaki jenjangnya, gadis itu mampu menyita perhatian Deril yang sedang berjemur di tepi kolam renang. "Rambutnya perlu gue catok dulu gak, sih, Ril?" kata Shara sambil merapikan poni. "Kayak jelek banget rambut gue hari ini." Deril berdiri menghampiri gadis itu. Lalu menggeleng. "Gak usah. Katanya udah kesiangan?" "Emang. Janjiannya aja jam sepuluh, sekarang udah jam setengah dua belas." "Ya udah gih, berangkat. Aku anter apa gimana?" Shara menggeleng. "Intan, kan, bisa nyetir mobil." "Jangan lupa mampir pom bensin dulu, bensinnya mau abis itu." Shara menengadahkan tangannya. "Uang?" Laki-laki itu mendengus, tapi tak urung merogoh celana pendeknya dan membuka dompet. Mengeluarkan lembar uang berwarna merah berjumlah enam. "Baliknya nitip rokok, sisanya beliin jajan aja buat anak-anak di villa." Shara mengangguk mengerti. Hendak menarik lembaran tersebut tapi Deril langsung menghindar. "Cium dulu, gak?" Gadis itu berjinjit, menaruh tangan di bahu Deril, menyuruh laki-laki itu sedikit menunduk lalu memberi kecupan di pipi. "Udah. Mana?" "Intan suruh ati-ati kalau nyetir." pesan Deril sekali lagi sembari menyerahkan uang. Lalu tangannya bergerak menarik kepala Shara mendekat, memberikan kecupan singkat di dahinya. "Jangan lama-lama mainnya." "Iya, bawel!" * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah beberapa jam kemudian usai dua gadis cantik menyelesaikan kegiatannya di luar, kini Intan dan Shara saling bertatapan. Bingung ketika masuk ke villa namun tidak menemukan siapapun. Benar-benar sepi dan berantakan. Intan bahkan langsung merapat pada Shara, pikirannya sudah negatif kemana-mana. "Yang lain kemana, sih?" tanya Intan sebal sendiri. Ia benci sendirian dan dirundung rasa takut begini. "Ngapain tanya gue, dah. Orang gue dari tadi sama lo." Intan mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi Andi namun ia urungkan karena detik berikutnya lelaki itu lebih dulu menelepon. "Halo?" "Belum pulang?" tanya Andi di seberang sana. "Ih, apaan, orang gue udah di villa. Udah di ruang tamu ini." "Lah? Oke, oke." Kemudian telepon diputuskan begitu saja. Shara bertanya dengan alis terangkat, tapi Intan tak sempat menjawab ketika kemudian Andi keluar dari kamarnya. Berpakaian rapi dan terlihat tampan. "Loh, gue kira gak ada orang di villa?" tanya Shara, mengingat tadi ia dan Intan membuka pintu dan mengucap salam saja tak ada yang menanggapi. "Gue di kamar, gak denger kalian balik," jawab Andi. "Dava Gisel cabut." "Mereka jadi ke air terjun?" Andi mengangguk. "Deril?" tanya Shara. "Renang di belakang kayaknya," Andi menoleh pada Intan. "Capek, gak?" Dahi Intan mengernyit. "Hah? Enggak. Kenapa?" "Keluar lagi, yuk? Berdua." Shara langsung tersenyum geli, ia menyenggol siku Intan sambil pura-pura terbatuk. "Kencan sana, kencan." "Mau, gak?" ulang Andi. "Tapi kalau lo capek—“ "Enggak, enggak. Gak capek. Ayo." jawab Intan cepat membuat Andi langsung tertawa kecil. Ia rebut kunci mobil di tangan Intan kemudian menggenggam tangan gadis itu. "Ayo." "Jangan pulang malem-malem!" pesan Shara menyindir yang dibalas Intan dengan pelototan tajam. "Elo, tuh, yang harusnya diingetin. Jangan aneh-aneh di villa berduaan. Banyak setan!" seloroh Andi membela Intan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Suara langkah kaki membuat Deril menoleh ke belakang di tengah asiknya ia berenang sore ini. Sebenarnya tanpa menoleh, Deril sudah tahu itu Shara. Gadis itu memakai parfum miliknya tadi, jadi Deril bisa langsung mengenali. Shara jadi heran. Disini dingin, cuacanya selalu mampu membuat kulit Shara meremang saking dinginnya. Tapi lihat apa yang Deril lakukan sekarang. Malah asik-asikan berenang. Shara jongkok di tepi kolam renang, bibirnya mengerucut. "Kok gak pake baju aja, sih?" "Lah, kan renang?" "Kan bisa pake baju." "Ya kenapa sih?" "Risih ngeliatnya." Deril mendekat ke tepi kolam. Shara jadi was-was sendiri. "Ngapain mundur-mundur?" tanya Deril dengan alis terangkat. Bingung. "Gak apa-apa." "Sini." "Gak mau. Mau nyeburin gue kan lo?" "Astaga, enggak. Orang lo masih pake heels juga, masa mau gue ceburin?" Shara menurut, ia mendekat masih dengan berjongkok. Tangannya terulur menyentuh air kolam. "Eh, gak terlalu dingin, ya?" "Kalau dingin, mah, gue juga gak nyebur, Ca." Melihat sang gadis terlihat antusias. Deril membuka suara lagi. "Kalau mau renang, ganti baju dulu." Shara mengangguk sebelum berdiri dan melangkah ke kamarnya. Gadis itu cepat-cepat mengganti pakaian dengan celana kain pendek yang tertutupi dengan besarnya kaos oblong milik Deril. Rambutnya ia cepol tinggi dan tidak rapi. Kembalinya Shara ke kolam renang membuat Deril langsung memerotes. "Kok pake kaos gue, sih, Ca?!" "Gue gak bawa kaos oblong, tau!" "Kaos gue tinggal dua doang, ya elah. Pakai yang kotor aja." "Masa gue pake kaos bekas lo? Ogah banget." Deril masih menggerutu tak jelas tapi Shara tak peduli. Gadis itu melepas sandal rumahnya lalu mendekat. Deril otomatis mengangkat pinggang Shara membuat gadis itu langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Deril. Begitu pula tangannya yang melingkar di leher sang kekasih. Keduanya terendam air kolam renang kini. "Udah, turun." ujar Deril ketika keduanya sudah sampai di tengah kolam. Shara menggeleng, malah mengeratkan pelukannya. "Gini aja, deh." "Lah? Gue mau renang, Ca." "Ya udah, sih, renang aja. Sambil gendong gue tapi." "Mana bisa, Sayaaaang?" Shara tak menjawab lagi. Ia hanya menurunkan kakinya, tapi tak melepas pelukannya. Deril jadi menghela nafas lirih. Ia balas peluk gadis itu, tangan kirinya mengusap lembut pinggang Shara seiring tangan kanannya jahil memasukkan air lewat lubang leher kaos gadis itu. "Kenapa, sih, hari ini manja banget? Gak biasanya." Shara menggeleng. Hembusan nafas Shara di leher Deril sebenarnya cukup meresahkan. Deril sampai merinding sendiri. "Kenapa, Ca?" "Gak papa, Deril. Emang lagi pengen aja." "Aneh juga ternyata kalau lo-nya pake parfum gue gini." ujar Deril sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang Shara, erat. Kepalanya turun mencium bahu gadis itu. "Berasa meluk diri sendiri." Shara tertawa. "Gitu aja lo tadi sok nyuruh gue pake sabun lo." "Ya mana tahu kalau rasanya jadi aneh." Masih dengan menghirup bau gadis itu di pundaknya, mengingat bagian pundak Shara memang tak sebasah kaos bawahnya karena Shara yang tinggi dan kolam yang tak terlalu dalam, Deril kembali berujar. "Eh, Ca. Inget gak lusa hari apa?" "Hari Selasa." Deril langsung menggigit pundaknya. "Ah elah. Lupa ya, lo?" "Hah? Apa sih?" Deril melepaskan rengkuhannya. Ia mundur selangkah. Dengan wajah sebal, ia mendorong kening gadis itu. "Annive kita, tau!" "...Hah?" Shara mengingat-ingat tanggalnya. "Lah, iya dong! Eh, tapi masa tanggal annive nya tetep? Kan kita sempet putus." "Ya bodo gak usah diitung putus lah." "Jadi kita ngerayain aja lusa?" "Mau apa?" tanya Deril. "Lagi kepingin apa?" Tapi Shara menggeleng. "Enggak?" tanya Deril bingung. "Gak mau apa-apa?" "Enggak. Pokoknya ngehabisin waktu berdua ajalah." Deril makin terheran-heran. Shara sangat jarang begini. Ia tak pernah manja. Yang ada malah suka cuek dan marah-marah. Tapi karena tak ingin merusak suasana, ia akhirnya mengulas senyum. Ditangkupnya kedua pipi Shara dengan tangan lebar Deril. Ia membubuhkan kecupan singkat di bibir gadis itu. "Lo aneh hari ini tapi gue suka." Shara memukul lengannya. "Aneh lo bilang?!" protes Shara tak terima. Deril kembali mengecupnya. "Udah, gak boleh marah-marah. Gue lagi mood sayang-sayangan sama lo." "Hidih, alay banget bahasa lo." "Mau cium lama, dong, Ca." ujar Deril dengan mata sok merayu. Shara mengernyit geli. "Cium aja ikan di akuarium." "Maleslah, kalau ikan gak bisa ngebales. Gak enak." Deril semakin merapatkan tubuhnya pada gadis di depannya. Satu tangannya sudah bertengger manis di pinggang Shara. "Emangnya kalau sama gue enak?" tanya Shara setengah menggoda. Deril menyeringai. "Gak tahu, lupa. Sini deketan gue cobain dulu biar bisa tahu." Shara langsung tertawa seiring tangannya menangkup pipi bayi besar miliknya itu. Kemudian menciumnya dengan penuh perasaan. Memberikan seluruh rasa sayangnya pada Deril lewat gerakan bibirnya. Membuat Deril kini jadi makin mendorong wajah Shara, menekan ciumannya, memperdalamnya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * "Anterin gue dulu, Dap." kata Andi begitu ia duduk di jok mobil paling belakang. Iya, kini mereka bertujuh sudah hendak pulang ke ruamh masing-masing. Sudah selesai liburan dan kembali menghadapi panas macetnya Ibu Kota Jakarta. Deril di sampingnya melotot tak terima. "Gak, gak. Gue dululah, njing." "Eh, yang tua dulu dong! Yang paling tua siapa?" tanya Agas songong. "Gue! Jadi gue duluan yang harus dianterin." Mereka bertiga memang tidak ada yang tahu diuntung. Sudah nebeng mobil Dava, malah berisik sendiri hanya karena minta diantar pulang lebih dulu. Sore ini mereka semua memang sudah memutuskan untuk pulang usai dua hari berlibur di kota orang. Karena memang dari awal mereka hanya membawa satu mobil, yakni mobil milik Dava— yang untungnya cowok itu berinisiatif membawa mobil keluarga jadi cukup-cukup saja untuk orang banyak. Mungkin Deril, Andi, dan Agas memang sama-sama capek dan ingin segera pulang. Tapi yang benar saja sampai harus berrebutan seperti bocah TK hiingga saling dorong kepala? "Bacot sekali lagi gue suruh turun, ya, lo-lo pada." ancam Dava sambil melirik kaca spion tengah ke arah belakang. Intan langsung menarik lengan Andi agar tidak lagi meladeni Agas dengan tingkah kekanakannya. Andi langsung menurut. Posisi di mobil cukup strategis. Dava dan Gisel tentu saja berada di depan karena cowok itu menyetir. Sedangkan di belakangnya ada Deril dan Shara, dan di jok belakang, ada Agas, Intan, dan Andi yang duduk bersempit-sempitan. Gisel menoleh ke belakang sambil memegang poselnya. Ia membaca maps sekali lagi kemudian menatap yang lain. "Biar gak muter-muter karena Dava juga pasti capek, jadi nganterinnya dari yang paling deket." Shara mengangguk. "Iyalah. Ya, kali nurutin cowok-cowok hompimpa dulu." Gisel tertawa. "Gue nurunin lo dulu ya, Shar, berarti." "Iya." "Baru gue nurunin Agas di urutan kedua." Agas yang merasa namanya disebut langsung melongokkan kepala. "Eh, eh, gue nginep di rumah Andi aja." "Apa-apaan lo?!" sewot Andi karena keputusan Agas yang mendadak. "Gak ada, gak ada. Lo punya apart sendiri napa suka banget, sih, ke rumah gue?!" "Gak ada makanan di apart gue, bajing. Lo mau gue mati kelaparan?" Andi dengan polosnya mengangguk. "Mau." Agas langsung mendengus. "Pokoknya gue turun di rumah Andi, ya, Dap!" Dava mengangguk saja. "Berarti yang turun kedua si Intan?" "Iya." Deril yang matanya sudah mulai berat itu memilih bungkam saja. Sudah lelah tak punya energi untuk menimbrung percakapan teman-temannya. Ia menoleh pada Shara yang asik bermain ponsel. Jadi Deril mendekat, ia langsung menyandarkan kepala ke pundak gadis itu. Shara baru akan memerotes ketika Deril mendahuluinya. "Mau tidur." ujar Deril. Jadi Shara memilih membiarkan cowok itu. Tangan Deril bersedekap, dengan badan miring karena kepalanya menyandar. "Sel, minta tolong AC-nya kecilin, dong." Gisel mengangguk menuruti. "Tidurnya jangan lama-lama, Ril. Pundak gue nanti ikut pegel." Deril bergumam saja. Tapi kemudian ia kembali membuka mata. "Eh, Ca. Gue, kan, turun di rumah lo, ya?" "Hah? Ngapain?" "Motor gue di rumah lo, pikun." "Oh, iya. Langsung pulang tapi, gak usah mampir-mampir." Deril tersenyum mengejek. "Bodo, ah, mau istirahat di rumah lo dulu pokoknya." "Ada mama di rumah." "Loh, masa? Bukannya ini jadwal nyokap lo arisan?" "Kemarin, kali, Ril. Orang sekarang hari apa juga." Deril jadi merengut sedih. "Yah, gak jadi nidurin lo, dong." Tabokan di pipi langsung hadir di pipi cowok itu dengan keras. "Ngomong sekali lagi gue tendang lo ke neraka." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Mata Deril sangat berat untuk terbuka, ia tidak berbohong. Mereka berdua langsung membuka pagar usai mobil Dava berhenti di depan rumah cewek itu. Deril dengan malas-malasan membawakan tas Shara masuk ke rumah. Mengikuti cewek itu dari belakang yang sedang memasukkan kunci ke lubang pintu. Tapi karena pergerakan Shara itulah, Deril malah langsung membuka mata lebar-lebar. Ia melotot pada Shara. "Elo bilang ada nyokap di rumah!" "Belum pulang ternyata. Kayaknya keluar sama Papa." Deril tertawa riang. "Yeyeye!" "Gak, ya. Gak ada mampir-mampir." ujar Shara menolak. "Gue beneran mau langsung tidur, Ril. Gak ada waktu buat nemenin lo ngobrol apa lagi leha-leha." "Orang gue juga mau tidur?" jawab Deril santai. Cowok itu masuk rumah lebih dulu, membiarkan Shara berdecak jengkel. "Beneran tidur, Ca. Lo gak liat ini mata gue gak bisa melek? Tega lo ngebiarin gue balik sekarang? Kalau gue kenapa-kenapa di jalan gimana?" Deril malah mengoceh. Mereka berdua langsung menaiki tangga ke lantai atas usai Shara kembali mengunci pintu depan. Deril masuk kamar Shara, membuka pintu kamar gadis itu lebar-lebar membuat Deril bisa menghirup parfum kesukaan Shara yang selama ini gadis itu pakai. Cowok itu langsung melemparkan badan ke ranjang sambil bernapas lega. "Sumpah, badan gue rasanya mau copot semua." keluh Deril. "Udah, gak usah ngeluh. Langsung tidur biar nanti bangunnya segeran." Shara meletakkan tasnya di karpet. "Ril, tidur yang bener. Kalau lo tidur begini, gue tidur dimana, ogeb?" Deril dengan ogah-ogahan membenarkan posisi tidurnya. Tangannya menarik Shara agar bergabung tidur bersamanya. "Bangunin sejam lagi, ya." gumam Deril usai Shara ikut melingkarkan tangan di pinggang cowok itu. "Iya." Deril mengecup pipi Shara sebelum kembali memejamkan mata dengan senyum tidak jelas di bibirnya. "Good night." katanya. "Ini masih jam empat, sinting." * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Beruntungnya, bahkan setelah Deril dan Shara bangun, lalu gadis itu bergegas mandi agar badannya tidak lengket lagi, Deril sudah berada di ruang tengah duduk manis dengan segelas cokelat hangat buatan Shara-- Papa Mama Shara baru datang. Deril tak bisa membayangkan jika orang tua kekasihnya datang ketika sang putri sedang dipeluk erat oleh Deril di atas ranjang berduaan. "Udah pulang?" tanya Mama usai ia menemukan sang anak ada di dapur sedangkan sang calon menantu duduk tenang di ruang tengah. "Belum. Masih di jalan." jawab Shara asal. "Mama, nih, aneh deh. Udah tahu anaknya di rumah masih nanya." Papa Shara langsung mencubit pipi Shara. "Sewot banget ini mulutnya. Habis liburan, kok, malah merengut." "Siapa yang merengut?" "Papa." jawab Papa ikut aneh. Tak peduli dengan anak dan suaminya yang malah seperti tikus dan kucing, wanita cantik itu menoleh lagi pada Deril. "Nak Deril makan malem disini aja sekalian. Udah jam enam juga ini." "Katanya Mama mau ngajakin makan di luar?" tanya Papa Shara sambil berlalu menaiki tangga, melangkah ke kamarnya. "Masak sendiri aja, deh. Males keluar. Ada Shara yang bantuin lagian. Gimana, Ril, mau?" Deril melirik ke arah Shara, lalu mengangguk. "Mau dong, Te." "Ya udah, tunggu disini, ya. Tante sama Shara masak dulu. Cepet, kok, masaknya." Deril mengangguk lagi dengan senyum sopan di bibirnya. "Eh, aku bantuin aja, deh, Te." "Loh, gak usah—" "SHARA, NIH HAPE KAMU DI KAMAR BUNYI TERUS!" teriak papanya dari lantai dua. Deril menoleh pada sang gadis. "Siapa, Ca?" "Gak tahu, dong? Kan, hapenya di ada di atas." jawab Shara sembari berjalan menjauh ke atas. "SHAR, INI NIH TEMENMU NELFON MULU NAMANYA—" "IYA, PA, BENTAR!" * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD