* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kemarin malam, setelah Shara memberitahunya bahwa hari ini ia di rumah sendirian, mengingat setiap hari Selasa adalah jadwal menjenguk nenek dan kakek, akhirnya Deril mengubah rencana. Awalnya cowok itu ingin mengajak Shara untuk jalan-jalan keliling Jakarta di malam hari. Ide itu ia dapatkan dari Intan usai Intan bilang bahwa Shara suka mengendarai motor malam-malam. Tapi usai membaca pesan Shara, Deril memutuskan menghabiskan malam di rumah gadis itu saja.
Tidak, jangan berpikir aneh-aneh. Otak Deril sedang tidak menjurus kesana.
"Mau kemana ini malem-malem rapi banget?"
Langkah kaki Deril terhenti ketika dari belakang punggungnya, Hanin dan Adam berjalan mendekat dari lantai dua. Deril mencibir melihat papanya yang merangkul pinggang sang mama padahal mereka berdua hanya jalan dari kamar ke ruang tengah.
"Rapi apa, sih? Orang cuman pakai jaket sama celanaan gini dibilang rapi."
Hanin mendekat pada sang anak, ia mengamati wajah Deril membuat cowok itu terheran-heran. "Apa, sih, Ma?"
"Muka kamu, kok, berseri-seri begitu. Kenapa?"
"Hah? Mana ada? Ngarang, nih, Mama."
"Kamu mau keluar sama Sarah?"
"Shara, Ma, Shara. Jangan kayak Papa, deh, suka ganti-ganti nama orang. Kemarin aja Papa manggil Shara pakai nama Siti, coba. Aneh banget."
Adam meringis. "Udah tua, Ril. Suka lupa nama pacar kamu."
"Alah, bohong." balas Deril. "Ngaku aja, selingkuhan Papa namanya Siti, kan?"
Mendengar itu, Adam langsung melotot sejadi-jadinya. Ia menatap Hanin yang memicing ke arahnya. "Duh Gusti Nu Agung, ngomongnya ngawur banget! Enggak, Ma, astaga. Ya kali Siti siapa coba? Ini anak emang bener-bener."
Deril tertawa puas melihat raut panik papanya. Ia mengejek dari arah belakang punggung sang ibu lalu menjuluran lidah.
"Marahin aja, Ma, si Papa. Jangan sampai lolos." ujar Deril sembari menggulung lengan jaketnya hingga siku. "Deril berangkat, ya."
Hanin mengangguk. Ia mengusap kepala sang anak usai Deril mencium pipinya.
"Assalamualaikum!"
"Gak waalaikumsalam!" balas Papanya sambil berteriak kencang membuat tawa Deril langsung mengudara.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Beruntung malam ini Deril membawa mobil bukan motor besar seperti biasanya. Malam ini Jakarta sangat dingin padahal tadi siang panasnya bukan main. Cowok itu menyempatkan mampir ke toko bunga, membeli buket bunga berukuran besar. Bahkan cowok itu turun tangan sendiri dalam memilih jenis bunga apa saja yang akan digabungkan. Tak lupa menambahkan bunga Freesia, untuk hari spesial Shara Fressia-nya.
Tak butuh waktu lama hingga mobilnya berhenti di pekarangan rumah Shara. Ia mengambil plastik merah muda berisi kotak kecil yang ia beli minggu lalu. Dengan senyum yang masih berseri-seri, Deril melangkahkan kakinya memasuki pagar yang tak tertutup. Pintu rumah Shara sudah terbuka membuat cowok itu semakin mengembangkan senyumnya. Sepertinya Shara sudah tahu bahwa Deril akan datang.
Ingatkan Deril bahwa ini bukan pertama kalinya ia dan Shara akan berkencan. Mengapa juga Deril harus sebahagia ini? Hatinya berbunga-bunga semenjak bangun tidur tadi pagi.
Dengan senyum yang masih terbentuk lebar, cowok itu memelankan kakinya, berniat memberikan kejutan atas dua benda yang ia bawa untuk Shara malam ini sebelum melangkah melewati pintu rumahnya. Bukan lagi memelan, detik berikutnya Deril sudah berhenti melangkah. Kakinya terpaku di tempat ketika yang ia lihat di ruang tamu adalah Shara yang sedang berada dalam rengkuhan laki-laki lain.
Dengan bibir saling bersentuhan.
Bukan bentuk sentuhan fisik seperti sedang mengucapkan perpisahan, atau sedang menghibur salah satu suasana hati dua orang disana seperti alasan klasik yang biasa terjadi di film. Shara terlihat nyaman dan menikmatinya. Tangannya melemas saat kemudian ia ingat siapa laki-laki berkacamata itu. Deril pernah melihat wajahnya dari pajangan foto di kamar Shara.
Itu Zaki.
"Ril?"
Shara cepat-cepat berdiri. Entah apa maksudnya tapi Zaki tidak menunjukkan wajah terkejut. Seolah sudah tahu bahwa akan ada tamu malam ini. Shara sudah panik. Raut wajahnya gelisah bukan main. Seiring langkah Shara mendekat dengan tangan hendak menggapai lengan Deril, buket bunganya jatuh ke lantai, tangannya melemas.
"Ril, aku bisa jelasin."
Deril tak berniat menepis tangan Shara yang memegangi lengannya. Ia masih diam dengan pikiran berkecamuk. Apa ini? Mengapa begini? Semua tanda tanya besar berdesakan muncul dari kepalanya. Kenapa semuanya tiba-tiba?
Angin Jakarta malam ini sepertinya memang terlalu dingin. Deril bisa merasakan dadanya sesak karena itu. Ia hanya tak tahu. Ia bingung. Ia kecewa.
Patah hati yang ia rasakan membuatnya tak memiliki alasan lain selain kemudian ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap Shara. Cowok itu mengulas senyum, tapi matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Happy annive, Ca."
"Annive apa—s**t,” Shara langsung ingat hal itu. “Ril, maaf, ya Tuhan."
Apa? Lupa?
Namun Deril mengangguk paham. Ia membungkuk untuk mengambil bunganya, menyerahkan pada Shara. Memaksa tangan perempuan itu agar menerimanya. "Gak apa-apa. Gak apa. Gue..." Deril melirik ke arah laki-laki di belakang Zaki yang sepertinya betah menjadi penonton. "Gue ngerti."
"Ril, bentar. Gue mau jelasin." Shara menghadang Deril yang hendak membalikkan badan. "Ini enggak kayak—"
"Enggak kayak yang gue pikirin?" potong Deril. " Basi, Ca."
"Ril, Zaki itu sahabat gue. Lo tahu itu. Kita tadi.. kita cuman..."
Deril menyeringai kecil. "See, Ca? Lo bahkan gak bisa ngejelasin apapun, kan?"
"Enggak gitu, Deril!" Shara mendesah frustasi. "Dua minggu yang lalu, Zaki balik ke Bandung, dia—"
"Tunggu." sela Deril cepat. "Jangan bilang kemarin lusa, pas elo pamitan pergi sama Intan, sebenernya lo nemuin dia?"
Satu tetes air mata sudah terjatuh ke pipi Shara. "Ril..."
"Iya, Ca?"
Shara semakin menunduk dalam. Tangisnya sudah sesenggukan. Deril menyeringai penuh. Ia tertawa. Menertawakan patah hatinya di hari perayaan mereka berdua.
"Serius, Ca? Serius lo tega kayak gini di belakang gue? Hm?"
"Deril, enggak gitu..."
"Iya terus gimana?!" Deril berteriak. Bahkan Shara sampai terkejut. Zaki maju, membawa Shara mundur di belakangnya tapi Deril mencegah.
"Diem. Lo diem disana, Bangsat."
"Gak bisa. Shara itu cewek dan lo gak berhak bentak-bentak."
"Diem disana atau gue robek mulut lo?"
Tahu definisi banci? Itu Zaki. Dengan gertakan Deril, cowok berkacamata itu mundur perlahan.
Shara masih terus menangis dan Deril sudah kehilangan akal. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana untuk menghadapi ini.
"Gue sayang lo, Ca. Gue sesayang itu sama lo. Kenapa lo gak bisa ngerti?"
"Gue ngerti, Ril! Gue tahu dan gue juga!"
"Bullshit!" sentak Deril. "Lo gak bakal ciuman sama cowok lain di belakang gue sampai lupa hari perayaan kita!"
Nafas Deril tersengal. Ia menyugar rambutnya kasar. Hingga detik berikutnya ia berlutut di hadapan Shara, kepalanya menunduk dalam. "Bilang sama gue, Ca. Bilang gue harus apa? Demi Tuhan gue sayang lo."
Shara menggeleng dengan tangisnya yang semakin menjadi. Ia memeluk kepala Deril untuk bersandar di perutnya. Shara terus terisak. "Gue yang salah. Maaf, Ril. Gue gak tahu kenapa bisa gini. Gue sepenuhnya sadar tapi gue gue gak bisa berhenti. Zaki bikin gue ngerasain hal yang beda—"
Deril melepas pelukan Shara, kembali berdiri. Ia hanya butuh kalimat itu keluar dari bibir Shara, sebelum Deril kembali mengangguk dan menatap Shara lemah. "Gue paham."
Dengan suara lirih itu, Shara malah semakin panik. Tangannya menggapai tangan Deril dengan cepat, menggenggamnya erat. "Ril, enggak. Please, enggak."
"Lo bener, Ca. Sampai kapanpun, kita emang gak bisa bersatu."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Keesokan harinya, Deril terbangun dengan kepala berat. Ia baru hendak memejamkan mata namun bayang ruangan terasa berkunang-kunang. Ia mengurungkan niat untuk bangun sekarang, memilih kembali meletakkan kepalanya di atas bantal. Tangannya masih setia memegangi sisi kepala, benar-benar pusing.
Gila. Ini Gila.
Seumur hidupnya, baru tadi malam ia berani menyentuh botol minuman keras, meneguknya hingga tandas. Ia bahkan tidak berani pulang ke rumah. Bayangan sang Mama yang akan memarahinya membuat cowok itu memilih menginap di apartemen Agas. Ia cukup bersyukur karena sekolah masih diliburkan, yang artinya ia masih punya dua hari sebelum kembali masuk sekolah dengan status baru sebagai siswa semester 2.
Pintu kamar terbuka, Deril mau tak mau jadi menoleh. Agas datang membawa gelas yang Deril tebak berisi air kelapa untuknya. Deril beranjak dari tidurnya, kini duduk bersandar.
"Nih, minum." ujar Agas lalu menyerahkan gelas.
"Thanks, bro," Deril memukul-mukul kepalanya kecil, berusaha menghilangkan rasa pusing disana. "Sori banget kemarin ngerepotin."
"Santai, lah. Bentar lagi yang lain juga pada kesini nyemperin."
Deril menoleh. "Lo ngasih tahu Dava sama Andi?"
"Iya."
"Anjing, ngapain, sih?"
"Ya emang kenapa?" balas Agas bingung. "Temen ini."
"Gue males ditanya-tanya,” Deril lalu berdeham. "Gue juga lagi males banget bahas dia."
Siapa lagi dia yang dimaksud kalau bukan Shara Fressia?
Agas mengangguk paham, tangannya terulur ke bahu Deril, menepuk-nepuknya. Lewat gerakan kecil itu, Agas hanya ingin Deril tahu bahwa ia tak sendirian. Bahwa Dava, Agas, dan Andi akan selelalu menyediakan telinga untuknya. Bukankah itu gunanya teman?
Beruntung sekitar lima belas menit kemudian, setelah menandaskan air kelapa pemberian Agas, pusingnya membaik. Jadi Deril segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meminjam pakaian Agas, lalu membersihkan kamar yang ia tiduri semalam sebagai bentuk permintaan maaf. Jangan tanya usai Deril kemarin mabuk apa saja yang terjadi, karena ia jelas tak ingat. Hanya saja Agas bilang Deril sibuk meracau.
Shara dan penghianatan yang ia lakukan adalah dua kata topik utama.
Sekitar pukul 10 siang, Deril yang hendak mengirimi pesan kepada mamanya bahwa ia akan pulang malam hari nanti— mendapati notifikasi banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Shara, yang ia acuhkan begitu saja. Setelahnya Deril turun ke lantai satu, menemui Agas dan yang lain yang sudah berkumpul di ruang tengah.
"Oh, ini anaknya Tante Hanin yang udah berani mabok?" ujar Dava bergurau. Yang lain terkekeh. Begitu pula dengan Deril yang memasang cengiran di bibirnya. "Taik, lo." balasnya singkat. Ia duduk bergabung di sofa dengan yang lain. Badan dan pikirannya sudah lebih segar usai ia mandi air dingin. Walaupun dadanya masih akan kembali sesak setip teringat apa yang terjadi kemarin.
"Kok ga ngajak-ngajak, sih, lo?" tanya Dava, mengingat Deril kemarin memang hanya mengajak Agas saja. Sedangkan Andi jelas bukan anak kelab malam.
"Ya sori. Gak inget."
"Ye, anjing."
Deril tertawa.
Kemudian suasana sunyi senyap. Deril tahu benar banyak pertanyaan yang muncul di kepala teman-temannya, mengingat Agas katanya juga sudah menceritakan alasan Deril kemarin sampai berani menginjak kelab malam. Sudah pasti ketiga temannya saat ini ikut berkecamuk. Patah hati yang dirasakan salah satu dari mereka, pasti sudah jadi patah hati satu golongan. Apa lagi selama ini mereka juga kenal dekat dengan Shara.
Dava melirik ke Agas yang duduk di atas karpet, seperti menyuruh agar pemilik rumah itu memulai pembicaraan karena Dava takut menyinggung. Emosi Deril jelas belum stabil saat ini. Agas, Andi, dan Dava hanya saling berpandangan satu sama lain, tak berani mengganggu Deril yang kini matanya malah menatap televisi mati di hadapan mereka, pikirannya sedang tak disini. Jauh melayang entah kemana.
Deril menunduk, tiba-tiba tertawa kecil. Kepalanya kemudian menoleh pada Dava, lalu ke Andi, kemudian ke Agas. Masih dengan senyum kecil di bibirnya, ia menggeleng. "Gue... gue masih gak percaya, anjir." ia tertawa lagi. "Lo ngerti gak, sih, kayak... kemarennya, tuh, kita masih baik-baik aja. Gue sama dia masih kayak biasanya, masih chatting, masih telepon, masih mesra. Gue..."
Dava menepuk-nepuk bahu Deril. "It's okay, man. Gak perlu dijelasin. Kita ngerti."
Agas turut duduk di samping Deril. Mengambilkan air putih untuk temannya. Agas kalau sedang di situasi begini, sifat malaikatnya memang tiba-tiba hadir.
Andi berdeham membenahi duduknya. "Lo yakin dia selingkuh? I mean, ini beneran bukan salah paham aja?"
"Kalau pacar sendiri ciuman sama cowok lain, tuh, namanya apa, sih, kalau bukan selingkuh?"
"Lo udah dengerin penjelasan dari Shara? Bisa aja dia yang dicium dan belum sempet ngehindar?" tanya Andi sekali lagi. Ia hanya berusaha mencari jalan keluar atas masalah sahabatnya dengan berpikir dingin. Karena kepala Deril jelas masih panas.
"f**k, man. Ini bukan sinetron, kali,” balas Deril. "Udahlah, emang udah gak bisa bareng-bareng."
Dava menghela nafas keras, ia menyugar rambutnya, benar-benar tak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada hubungan Deril dan Shara. Ini terlalu tiba-tiba.
"Lo udah mutusin dia?" tanya Dava.
"Gue bilang ke dia kalau kita udah gak bisa bareng. Dia harusnya cukup ngerti, kan, kalau itu artinya gue minta udahan?"
Agas mengangguk-angguk. "Bener. Keputusan lo udah bener, Ril. Sebangat-bangsatnya elo dulu sama Shara, elo gak pernah main cewek di belakang dia. Tapi ini... anjinglah, gue aja sampe speechless, njir. Gak pernah kebayang sama sekali cewek kayak Shara bisa selingkuh."
"Keputusan ada di tangan lo, Ril. Kita cuman bisa dukung, apapun pilihan lo." ujar Andi menenangkan.
Dava merangkul bahu Deril sok asik. "Lo punya kita-kita. No girlfriend no problem."
"Gue bantuin cari cewek lain." ujar Agas tiba-tiba.
Semuanya langsung menoleh pada Agas.
Agas menyeringai. "Apa? Bener, kan? Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Cewek baru bisa bantu Deril move on, sekalian balas dendam ke Shara."
Deril membiarkan ketiga temannya menyampaikan pro dan kontra atas ide gila barusan. Cowok itu sudah tida bisa fokus memikirkan hal-hal seperti itu. Tangannya meraih ponsel di samping pahanya, iseng membuka i********: hanya untuk menyegarkan pikiran. Tapi yang pertama ia lihat malah akun Shara yang baru membuat insta story. Jemari Deril bergerak membukanya.
Shara Fressia listening to Everytime – Britney Spears on Spotify
Deril menghembuskan nafas lirih. Bayangan kenangan mereka berdua selama ini dan apa yang terjadi semalam berputar lagi dalam benaknya, berebut mengisi kekosongannya.
Shar, gue harus apa? Lo mau apa?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
And every time I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And every time I see
You in my dreams
I see your face
It's haunting me
I guess I need you baby
I make-believe
That you are here
It's the only way
That I see clear
What have I done?
You seem to move on easy
I may have made it rain
Please forgive me
My weakness caused you pain
And this song's my sorry
At night I pray
That soon your face will fade away
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Deril bukan tipe siswa yang rajin, ia tahu, semua orang tahu. Tapi semalas-malasnya Deril, ia tak pernah semalas ini.
Pagi ini, ia bangun kesiangan. Mengingat harusnya hari ini ia bangun maksimal pukul enam pagi karena pukul tujuh bel di sekolahnya akan berbunyi. Tapi ia bahkan baru bangun pukul setengah tujuh karena Mamanya menggedor-gedor pintu memarahi Deril yang tak kunjung bangun.
Usai mandi, memakai seragam, dan mengambil tas sekolahnya yang ia taruh di pundak kanan, Deril turun ke lantai bawah. Ia menguap lebar, tak mempedulikan orang tua dan adiknya yang menatapnya jengkel.
"Baru bangun, Ganteng?" tanya Hanin sembari menggeser gelas s**u hangat ke meja seberang, menyuruh Deril cepat duduk dan meminumnya.
Deril menyengir.
"Ini hari pertama sekolah, Bang. Yang bener aja lo mau telat?"
"Halah, gue ngebut lima menit juga nyampe gerbang." jawabnya sembari tersenyum meledek pada Cinta. "Lo nebeng Papa aja, gue males nganterin lo dulu. Keburu telat."
"Ye, katanya lima menit ngebut juga nyampe!" balas Cinta nyolot. Bibirnya terbuka lagi, sudah hendak mengadu pada papanya karena kelakuan Deril, tapi cowok itu sudah membungkam bibir Cinta dengan telapak tangan besarnya, menyuruh diam. Sambil berdiri, cowok itu mendorong kening Cinta hingga kepalanya hampir terjungkal ke belakang.
"Deril berangkat, ya, Ma." pamitnya. Ia mendekati Hanin, mencium pipinya lalu melakukan tos ala lelaki dengan sang Papa. "Jangan lupa anterin Cinta, loh, Pa."
Adam, sang Papa, mendengus kasar. Ia mengangguk sopan pada Deril, tersenyum terpaksa. "Baik, Tuan Muda."
Deril tertawa. Dasar Papanya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jika biasanya pagi-pagi begini, usai Deril turun dari motor, ia akan menggoda Shara dengan berbagai cara, membuat cewek itu jengkel setengah mati sampai cemberut membuat Deril langsung terbahak-bahak di depan pos satpam.
Tapi kali ini, boro-boro tertawa. Melihat gerbang sekolah saja sudah bisa membuat Deril teringat akan Shara. Semua sisi sudut sekolah mengingatkan ia dengan mantan kekasihnya itu. Deril menghela nafas lelah sebelum kembali melangkah.
Shara boleh saja melukai hatinya, tapi dunia tidak boleh tahu kalau Deril hancur hanya karena seorang wanita. Deril tetap harus jadi Deril yang dahulu. Tak boleh tiba-tiba ada gelar sad boy yang tertempel pada jidatnya.
"Wadoh, mas bro, sendirian aja!"
Baru akan menaiki tangga ke arah kelasnya, suara cempreng milik Agas menyapa gendang telinga. Tanpa menoleh, ia mengacungkan jari tengah ke belakang. Agas merangkul bahu Deril sok asik, padahal sudah jelas lebih tinggi Deril dari pada dia.
"Tampang lo ketara banget abis diputusin, njir."
"Emang iya?"
Agas mengangguk. "Suwer. Jangan galau lama-lama lah, bos. Shara ketawa, noh, kalau lo-nya masih sedih begini."
"Kagak t*i. Gue biasa aja."
"Halah."
Tapi Deril memang sudah berubah hampir 180 derajat. Tidak ada lagi Deril yang b****k ketika berkumpul dengan Agas, Andi, dan Dava sekalipun pelajaran sedang berlangsung. Bahkan cowok itu memilih duduk di kursi ujung, di samping Andi, lalu menelungkupkan kepala disana, tertidur.
Telinganya masih sanggup mendengar bahwa Dava dan Agas sedang membicarakan sikapnya, menyebut-nyebut nama Shara sebagai faktor utama, dan lain-lain yang tidak Deril pedulikan.
Agas kira melupakan kekasih yang sudah bertahun-tahun bersamanya semudah membalikkan telapak tangan? Tidak sama sekali.
Baru ketika bel istirahat terdengar, Deril langsung melongokkan kepala, melihat apakah gurunya sudah keluar dari pintu kelas. Andi menoleh kepadanya sekilas sebelum memasukkan buku ke dalam laci meja. "Kantin gak, lo?"
Deril mengangguk dan berdiri.
Dava menyunggingkan senyum mengejek ke arah Deril. "Siapin ati papasan sama mantan, Ril."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bersekolah di tempat yang sama bersama kekasih memang menyenangkan. Tapi resikonya, bisa membayangkan jika status pacaran sudah berubah jadi mantan? Ah, mantap.
Deril tidak menyukai jenis drama apapun. Tapi rasa sakit hatinya tidak bisa disebut berlebihan, kan? Cowok itu menyayangi Shara setulus hati, mempersembahkan apapun yang ia punya untuk gadis itu, kemudian diselingkuhi... rasa sesaknya bukan main.
Benar tebakan Dava.
Pada akhirnya Deril yang menempati meja paling ujung bersama teman-temannya, menemukan Shara dan Intan yang memasuki kantin. Deril bisa melihat cewek itu memiliki kantung mata yang tampak jelas, sepertinya gadis itu kurang tidur belakangan ini. Apa Shara juga memikirkannya semalaman seperti yang ia lakukan? Atau gadis itu malah bermalam dengan sang teman baik alias selingkuhannya?
Detik ketika Shara duduk di bangku kayu panjang disusul Intan yang heboh memilih makanan, tatapan Deril jatuh pada mata Shara yang ternyata sedang menatapnya.
Sialan. Mereka sempat bertukar pandang selama beberapa detik.
Namun Deril tak bersusah payah mengalihkan pandangan. Tatapan iba Shara ia balas dengan alisnya yang terangkat satu. Seolah menantang, seolah ia ingin membuktikan pada Shara bahwa ia tak tersentuh dengan rasa bersalah pada raut wajah gadis itu.
"Eh, Ndi, kayaknya lo tadi dapet panggilan dari Pak Bari, deh. Disuruh ke ruang guru."
Andi mengerutkan dahinya mendengar kalimat Dava. "Kapan?"
"Sekaranglah, bego."
"Oh."
Andi berdiri, tapi Deril tiba-tiba ikut berdiri. "Gue anterin."
"Hah? Lo kira gue cewek segala minta dianterin?"
Deril berdecak jadi tak urung Andi mengiyakan. Mereka berdua melewati meja Shara. Deril yang tahu Andi akan berhenti untuk menyapa Intan langsung memimpin jalan, menyuruh Andi mengikutinya. Tak membiarkan temannya memberi kesempatan Deril berpapasan dengan Shara lagi.
Deril tahu Shara menatapnya ketika ia dan Andi melewati mejanya begitu saja, tapi Deril tak mau peduli.
Baru Deril akan melangkahkan kaki berbelok turun tangga keluar kantin, ia dihadang oleh seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Shara. Deril terkejut bukan main, tak tahu bahwa gadis itu bisa nekat sengaja muncul di depan wajahnya seperti saat ini.
Deril menatapnya datar. "Minggir."
"Aku perlu ngomong."
"Minggir gue bilang."
Andi di belakangnya berbisik lirih, meminta Deril agar tak menaikkan intonasi suaranya mengingat mereka berempat: Deril, Andi, Shara, dan Intan sedang berada di kantin, siapapun bisa mendengar percakapan mereka.
"Enggak. Aku gak mau minggir." ujar Shara bersikeras. Intan di belakangnya sudah ketar-ketir. Matanya melirik ke sekililing kantin yang mulai mencuri lirik ke arah mereka.
"Kamu gak bisa seenaknya mutusin aku gini, Ril. Aku belum jelasin apa-apa sama kamu."
"Simpen baik-baik alasan lo. Gue gak butuh."
"Ril..." Mata Shara sudah berkaca-kaca. "Please, jangan kayak gini..."
"Hell, bisa ngaca? Elo yang bikin gue kayak gini."
"Kita bisa bicarain ini baik-baik. Demi Tuhan gue gak selingkuh, Deril. Gue cinta sama lo—"
Deril terkekeh sinis. Ia maju selangkah mendekati Shara. Suaranya lirih dan terdengar serat putus asa. Matanya meneduh. "Kalau cinta sama gue, kenapa masih kemana-mana, Ca?"
Pandangan Deril berpindah ke gadis di belakang Shara. Ia menatap Intan tajam. "Tan, lo tahu, kan, soal Shara sama b******n itu?"
Intan menggeleng cepat. "Enggak, sumpah demi apapun gue gak tahu!"
"Lo mau b**o-begoin gue juga?!" bentak Deril. "Posisinya elo yang nganter Shara waktu itu! Lo gak mungkin—"
Andi di sampingnya langsung mencekal pundak Deril. Tatapannya menajam. "Jangan bentak Intan. Dia udah bilang gak tahu, jangan kasar sama dia."
Deril menatap Intan lagi yang sudah berdiri ketakutan di belakang Shara. Ini pertama kali dalam seumur hidupnya gadis itu di bentak di tengah keramaian, apa lagi wajah Deril sudah memerah menahan amarah yang siap mencuat kapan saja.
"Lo tahu, kan, Tan?!" Deril maju mendekati Intan. Telunjuknya menunjuk wajah gadis itu. "Lo tahu!"
Dengan itu, Andi langsung mendorong bahu Deril kasar hingga cowok itu menabrak kursi kosong di belakangnya. "Kalau Intan sampai kenapa-napa, urusan lo sama gue."
Deril mengusap wajahnya frustasi. Ia menatap Shara datar lalu pergi dari sana tanpa sepatah kata.
Everything already messed up now.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Di ruang kelas yang sedang sepi itu, Intan sibuk mengusap bahu Shara, menenangkan temannya yang sedang menangis tersedu.
"Gue harus gimana, Tan..." Shara terisak. "Dia gak mau dengerin penjelasan gue. Deril gak pernah sekasar ini."
Shara dihantui rasa bersalah. Bayangan wajah kecewa Deril tiga hari yang lalu dan raut putus asa di wajahnya tadi membuat Shara tak berhenti menyalahkan diri sendiri. Dulu ia dan Deril sering bertengkar, tapi tentu saja yang terakhir kemarin adalah yang paling membekas dan meninggalkan luka. Rasa sakitnya ketika Deril mengatakan bahwa mereka berdua memang tak ditakdirkan bersama, terlalu menyesakkan Shara.
"Jujur, Shar, sebenernya elo sama temen lo itu ada hubungan apa? Kenapa lo sampai... sampai... begituan?" Intan bertanya hati-hati. "Lo selingkuh?"
Shara menggeleng cepat. Wajahnya yang sudah memerah karena terlalu lama menangis itu ia tutupi dengan kedua telapak tangan. "Gue gak selingkuh..."
"Oke, terus ngapain begitu?" tuntut Intan tak puas.
Shara menoleh pada Intan, tangannya menghapus seluruh air mata yang membasahi pipinya. Dengan tatapan sayu, ia mencoba menjelaskan. "Gue juga gak tahu, Tan. Itu terjadi begitu aja, gue bahkan gak sempet nolak. Salah gue adalah... gue terlena. Gue gak mencoba menghindar dari Zaki..."
Intan masih setia mengusap bahu Shara. Kali ini dengan menutupi wajah cantik Shara dari dua siswa cowok yang masuk ke kelas mereka dengan tatapan bertanya. Intan hanya melotot menyuruh teman kelasnya untuk menyingkir.
"Lo ngerti gak, sih, rasanya cinta pertama lo muncul lagi setelah berapa lama udah gak ketemu? Zaki bikin gue tiba-tiba ragu sama perasaan gue ke Deril."
Intan ternganga tak percaya. Ia syok. Bahkan tangan kanan yang ia gunakan mengusap pundak Shara sedari tadi langsung ia gunakan untuk menutup mulut. Seterkejut itu.
"Shar, jangan b**o!"
"I know..." desah Shara. Air matanya siap menetes lagi.
"Please, Shara, sadar! Lo cuman bakalan nyesel untuk yang kedua kali kalau sampai lo ninggalin Deril cuman buat cowok masa lalu lo. Bahkan lo sendiri, kan, yang cerita kalau dulu si Daki—"
"Zaki, Tan."
Intan berdecak. "Whatever. Intinya dia sendiri yang ngegantungin perasaan lo dengan embel-embel nyaman berteman aja. Terus lo mau berpaling dari cowok lo— i mean, mantan lo si Deril cuman buat Zaki? Lo bakal nyesel fiks."
"Enggak, Ya Tuhan, gue gak pernah mikir kayak gitu."
"Tapi elo udah ragu sama perasaan lo sendiri." tegas Intan mengambil kesimpulan. "Sekarang gini, deh, gue tanya. Ini yang tanya seorang Intan, ya. Gue temen lo, tapi kali ini bayangin aja kayak gak berada di pihak manapun. So, jujur sama gue, pilih Zaki atau Deril?"
Shara tertawa mencemooh. "Lo sinting? Deril lah!"
"Ya udah, problem solved."
"Hah?"
"Selesaiin hubungan lo sama Zaki, singkirin dia jauh-jauh kalau lo emang mau memperbaiki hubungan lo sama Deril. Begitu juga kalau lo mau Zaki, berhenti memohon ke Deril. Konsisten, Shara."
Sungguh kusesali
Nyata cintamu kasih
Tak sempat terbaca hatiku
Malah terabai olehku
Lelah kusembunyi
Tutupi maksud hati
Yang justru hidup karenamu
Dan bisa mati tanpamu
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Alasan Shara tidak pernah keluar kelas sekalipun jam istirahat sedang berlangsung adalah untuk menghindari Deril. Itu sudah jelas. Intan bahkan tak perlu bertanya tentang itu. Tapi sayangnya, hari ini lagi-lagi takdir seolah sengaja membuat Shara semakin dirundung rasa gelisah. Baru ia hendak memasuki kantin, segerombolan Deril dan tiga temannya berjalanan dari arah berlawanan. Sepertinya hendak keluar dari kantin.
Rasa cemas dan takut bermunculan di benak Shara. Ia menunduk, entah untuk apa. Mungkin hanya sadar bahwa ia tak sanggup lagi menunjukkan wajahnya di depan Deril.
"Mau ke kantin?"
Tanpa harus mengangkat kepala, Shara tahu Andi sedang menanyai Intan.
"Iya. Elo udah mau balik?"
"Deril ngajakin ke lapangan. Mau futsal."
Kaki Shara bergerak gelisah. Mereka bukan berada di tengah kantin memang, hanya di samping dinding koperasi yang mana banyak siswa berkeliaran masuk dan keluar ke kantin utama. Shara yang menunduk dan sibuk mengalihkan pandangan ke salah satu stan toko tak tahu dimana Deril, ia hanya bisa mencium parfum cowok itu yang selalu tercium familiar di hidungnya. Artinya jarak Deril tak terlalu jauh.
Intan tiba-tiba memekik kencang sambil menunjuk wajah Deril. "Ih, muka lo kenapa pucet banget kayak mayat idup?!"
Shara langsung menoleh, menemukan Deril yang berdiri di samping Agas, kini ikut mengalihkan tatapannya membalas Shara. Hanya sedetik sebelum menepis telunjuk Intan dan menjawabnya. "Paan dah lu. Lebay banget."
"Lo sakit?" tanya Intan.
"Tanyain, dong, ke temen lu. Si Deril bisa sampe kayak mayat idup gini gara-gara siapa." balas Agas dengan suara sengaja dikencangkan.
"Apa, sih, kok lo tiba-tiba nyolot?!" Intan melotot kepada Agas. "Biasa aja, dong, ngomongnya!"
"Idih, orang gue ngomong biasa juga." Lalu Agas merangkul bahu Deril sok asik. "Eh, Ril, lo tahu gak kemarin di twitter ada hash tag trending."
Deril mengernyit tak paham. "Hah?"
"Itu loh. Lagi ada kasus skandal snapgram artis. Si Zara sama Zaki. Kalau dipikir-pikir, hampir mirip gak, sih, nama ceweknya kayak mantan lu yang kemaren?"
Kalimat blak-blakan Agas membuat semuanya langsung mengatupkan bibir. Agas memang selalu jadi kompor walaupun niatnya hanya membela teman. Deril melirik Shara yang kini menunduk dengan kedua tangan yang bertautan tak nyaman.
Deril berdecak. "Diem gak lo?"
"Loh, bener, kan? Kayaknya yang punya nama Zaki, tuh, suka bikin rusuh dimana-mana—"
"Cabut, cabut. Keburu bel." sela Deril tak mau Agas melanjutkan kalimatnya. Ia lalu pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang lagi.
Andi menghela nafas, menatap tak enak pada Shara. "Kita duluan, ya."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *