Dua hari berlalu, Mawar begitu merasa tersingkir kan. Ia sama sekali belum berbincang dengan sang suami. Dengan tekat yang kuat, hari ini harus bisa memberikan kopi buatannya yang sudah dicampur sesuatu dan mantra. "Mas ...," panggil Mawar membuat Hamdan menoleh ia baru saja keluar dari kamar. "Ada apa, War?" tanya Hamdan mendekati istri keduanya. "Mas ini, gak ada waktu banget sama aku. Kalian sibuk terus, Mas pasti lupain aku," rengek Mawar manja, memegang lengan suaminya. "Maaf, Sayang. Bukan maksud Mas begitu, tapi ini, kan, ada Mama sama Papa War. Tolong mengertilah," tutur Hamdan. "Mas terus meminta agar dimengerti, tapi Mas tidak berusaha agar mengerti aku. Itu tak adil Mas," lirih Mawar lalu pergi membuat Hamdan merasa bersalah. "Haduh ... apa yang harus gue lakuin," ujar Ham

