[I wish I could explain your eyes, or how the sound of your voice gives me butterflies. How your smile makes my heart skip beat and how every time I'm with you, I feel so complete
- Pinterest.com -]
Dadaku dipenuhi bunga-bunga pagi ini, setelah tadi malam sepertinya resmi sudah aku menjadi pacar Langit Segara. Hatiku makin berbunga ketika bangun tidur tadi mendapati pesannya yang romantis.
[Pagi pacar ... kangen]
Mengingat hal itu saja membuat aku susah menahan mulutku untuk tersenyum. Sampai Pak Yanuar kebingungan melihatku, "Kirei, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya, "bagaimana bimbingan kamu sama Elang, Rei?"
"Huh? B-baik Pak!"
Kening Pak Yanuar makin berkerut banyak, "Bimbingannya berjalan lancar, kan?"
"Sangat lancar Pak...," sahutku masih kesulitan menyembunyikan rasa bahagiaku.
Setelah Pak Yanuar pergi, dari kejauhan aku melihat Bio yang sedang berjalan ke arahku. Ia meminta waktuku untuk bicara dengannya sebentar saja, melihat wajah memelasnya aku tidak sanggup menolaknya. Ia membuka keheningan dengan meminta maaf sekali lagi dan menjelaskan kenapa ia dan Elang harus melakukan taruhan itu. "Baru kali ini gue enggak bisa tidur karena udah membuat perempuan kecewa—itu kenapa gue pengin minta maaf lagi sama kamu, Rei," ungkapnya.
Aku masih terdiam sambil membaca ekspresi wajahnya yang serius dan sungguh-sungguh. Tidak adil rasanya kalau aku minta ia tidak mengangguku sementara aku pacaran dengan teman taruhannya. "Bio, aku memang kecewa dan sakit hati, tapi aku sudah memaafkan kamu dan Elang," kataku.
"Aku boleh berteman sama kamu, kan Rei?"
Aku mengangguk lemah, walau dalam hati aku tahu bahwa ini akan menjadi masalah antara aku dan Elang—karena ia sudah menegaskan kalau aku tidak boleh berdekatan lagi dengan sahabatnya itu.
***
"Lo lagi ngapain?" tanya Elang di ujung sana.
Dan ya, aku kembali lagi ke Blue Sky Caffe setelah berdebat sengit dengannya sebelum berangkat waktu itu. "Lang, jelas aja aku lagi kerja, lagian tadi aku sudah jawab lewat pesan yang kamu kirim deh," jawabku dengan jengah.
Semenjak kami menyatakan berpacaran, hampir setiap hari Elang meneleponku dan mengirim pesan. Tentu saja aku senang, tapi kalau sedang kerja seperti sekarang, aku merasa tidak enak dengan karyawan lainnya.
"Gue kangen mau denger suara lo, apa salah?" sahutnya di seberang sana.
"Ya, enggak salah sih, tapi aku enggak enak terima telepon terus, Lang."
Mataku mengedar melihat sekeliling dengan gagang telepon di telingaku. Elang menelepon ke cafe, karena tidak bisa meraihku lewat ponsel.
"Oke, gue mau boarding sebentar lagi, sampai besok ya...," katanya, "and I miss you," lanjutnya.
"Iya," jawabku tanpa mau membalas 'miss you' –nya karena Rosa sedang berada di sebelahku sambil senyum-senyum tidak jelas. Aku menarik napas dalam sambil menggeleng, "Dagh...." Aku menutup teleponnya.
"Ciee ... memang ya, wajah orang yang lagi jatuh cinta itu bisa kelihatan lho. Kayak kamu nih, meronaaaa terus dari tadi." Tuh kan Rosa jadi punya bahan ejekan untukku—gara-gara Elang nih. "Si Boss kayaknya benar-benar kepincut sama kamu Rei," tambahnya.
"Ssst, jangan keras-keras...," kataku menutup mulut Rosa dengan jariku.
"Aku rasa semua juga tahu deh. Kan si Bos tiap hari teleponnya ke café—nyariin kamu pula—dan setelahnya muka kamu sumringah...," ledeknya lagi.
Duuh, sumpah, malu.
***
Kalau kemarin penerbangan Elang dari New York pukul 18.25, maka harusnya hari ini, Sabtu pukul 09.00 sudah tiba di Indonesia. Namun sudah tengah hari belum ada kabar apa pun darinya. Ponselnya juga mati, pesan yang kukirim sejak pagi tadi juga belum masuk. Aku berniat untuk mencari tahu lewat Leo dan bergegas ke kantornya. Namun, kuurungkan niatku saat mendengar percakapannya via telepon dengan seseorang dan menyebut nama Elang. "Memangnya mau ngapain Elang di sana?" tanyanya, kalau tidak salah aku mendengar nada panik dalam suaranya.
Kemudian ia berdecak, "Lo jagain dia jangan sampai bikin keributan, Dy. Gue ke sana sekarang!" ujarnya sambil membuka pintunya dan mendapatiku berada di sana, "Ki—rei?" Ia terlihat terkejut sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Di mana Elang, Leo?"
Leo menarik napasnya, ia menyentuh bahuku, "Aku akan memastikan dia baik-baik saja, Rei," katanya berusaha menyembunyikan kecemasannya. Leo salah satu orang yang tahu tentang hubunganku dengan Elang. "Aku pergi dulu ya...," lontarnya.
Aku mengikuti langkahnya, "Aku ikut...," kataku—entah mengapa aku ingin tahu apa yang terjadi padanya—pada pacarku itu.
Leo terlihat tidak setuju dengan keputusanku, "Kamu enggak perlu ikut Rei. Elang ada di tempat yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan untuk didatangi," katanya. Namun hal ini malah semakin meyakinkan diriku untuk ikut bersamanya. " Kamu yakin?" tanyanya, dan aku mengangguk penuh keyakinan.
***
Rabbit Tattoo Shop, nama tempat yang kami datangi. Beberapa pelanggan yang duduk di sana menatapku heran, tapi aku tidak peduli dan tetap mengikuti kemana Leo melangkah. Ia masuk melewati pintu dengan desain tato yang sama sekali tidak kumengerti artinya. Ada ruang tunggu dengan sofa kulit berwarna coklat tua dengan dinding berwarna hitam pada satu sisinya (dengan desain berbagai macam tato). Ada beberapa lampu menggantung di atasnya, dan ada tiga ruangan dengan pintu kecil di depan sofa cokelat tersebut—ruangannya sepi—tidak seramai di depan tadi. Kemudian Leo menuju ke salah satu pintu kecil yang tidak tertutup rapat, seperti biasa aku membuntutinya.
"Banci itu b*****t!" Suara Elang terdengar keras, membuat Leo dan aku berhenti di depan pintu. Dengan gerakan reflek, tanganku menahan baju Leo yang berniat untuk menerobos masuk. "Apa masih kurang bukti kalau gue sama Kirei udah sampai tahap pacaran? Bahkan gue udah cium dia! Dia udah kalah ... dan gue mau dia jauhin cewek itu!"
"Lo sama Bio aneh deh. Dan ini tuh taruhan terlama kalian tahu enggak?! Bikin cewek kayak Kirei tunduk aja butuh waktu sebulan lebih?? Bukan lo banget, Lang!"
"Sialan! Sebentar lagi gue bisa bikin dia bertekuk lutut di bawah gue! Lo liat aja!"
Aku menelan ludah ketika Leo melihat ke arahku dengan ekspresi aneh dan tanganku masih mencengkeram bajunya, menahannya agar tidak masuk ke dalam.
Temannya terkekeh ringan, "Lo enggak pakai perasaan kan, Lang?"
"Intinya, gue enggak mau Bio berdekatan lagi kayak begini sama Kirei! Dia harusnya cari cewek lain...."
"Iya ... intinya kita tahu yang harus nerusin taruhan ini kan memang lo, Bio udah kalah—enggak dapat Lamborgini lo. Kalau lo bisa bikin Kirei tidur sama lo—ya lo yang dapat semua taruhan kita. Dan gue rasa Bio mencegah lo untuk dapatin itu."
"Gue—" Suara Elang berhenti entah kenapa.
Mataku membesar sekaligus berkaca-kaca menatap Leo yang masih melihat ke arahku dengan ekspresi prihatin. Aku melepaskan peganganku pada bajunya dan berbalik arah, berlari secepat mungkin untuk keluar dari tempat itu dan menjauh darinya—dari Elang.
Selamanya.
Jangan melihat ke belakang ataupun berbalik Rei, kamu tidak akan sanggup melihatnya.
"KIREI!!" Aku tahu ia akan mengejarku.
Aku mengabaikan suaranya dan terus saja berlari, menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Bahkan aku tidak sadar kalau cuaca yang tadinya terang benderang sekarang berubah mendung dan menurunkan gerimis kecil, tapi aku akan tetap berlari walau hujan menjadi deras sekalipun. Mungkin orang-orang berpikir aku sedang syuting sinetron atau apa—aku juga tidak peduli. Karena larinya lebih cepat, ia berhasil mendahuluiku dan menahan tanganku. Namun segera kutepiskan dengan keras tangannya. Aku tidak mau laki-laki itu menyentuhku lagi!
Ia berdiri di hadapanku dan aku merasa sangat bodoh bisa percaya padanya—pada kata-kata manisnya—pada pengakuan cintanya! Aku menggelengkan kepala menatap mata cokelatnya yang pura-pura sedih.
"Kirei, please, biar gue jelasin dulu...," katanya memberi kode dengan tangannya agar aku mau mendengar penjelasannya.
Apa perlu?
Apa aku butuh penjelasannya lagi?
Dan selanjutnya apa?
Aku masih mau berhubungan dengannya?
Tidak untuk semua jawabannya.
"Ciuman waktu itu, apa tujuan kamu menciumku saat itu, Lang?" Seketika anganku melayang pada saat Elang menciumku di apartemennya waktu itu, namun yang terasa kali ini bukan lagi perasaan hangat melainkan rasa sesak yang sangat menyakitkan. "Apa itu termasuk taruhan kamu, Lang?"
"Rei—."
"JAWAB, LANG!" teriakku tidak peduli saat ini aku berada di pinggir jalan dan menjadi perhatian beberapa orang.
"Gue jelasin dulu awal persoalannya...."
"Aku enggak butuh penjelasan kamu!"
"Rei, kejadiannya bukan sepenuhnya seperti yang lo dengar tadi...."
"Jawab saja Lang. Apa tujuan kamu cium aku?" desakku. Jawabannya pasti lebih menyakitkan, aku tahu itu. Tapi entah kenapa aku mau mendengarnya sendiri dari mulut laki-laki di depanku ini.
"Enggak ada tujuan apa-apa, itu re—."
"BOHONG! Kamu jahat, Lang!" jeritku. "Aku benci kamu!! BENCI!" makiku dan pergi begitu saja dari hadapannya.
"FINE!! TERSERAH!! Lo mau dengar? Jawabannya IYA!" serunya dengan suara yang penuh emosi. Aku berbalik melihatnya dari jarak sekitar tiga meteran. Kemudian ia melanjutkan dengan suara agak keras , "iya, gue taruhan untuk bisa cium lo! Iya, gue taruhan untuk bisa tidur sama lo dan bikin lo nyerahin virginitas lo sama gue!!" katanya lantang. "Tapi itu karena gue enggak mau Bio yang dapetin itu semua, REI!!" lontarnya, " ngerti enggak sih?! Gue enggak rela kalau cowok b******k itu yang dapetin lo!!" lanjutnya.
Aku menganga dan mendelik sekaligus ke arahnya sambil berteriak, "DASAR SAKIT JIWA!!!" hardikku marah. Dan berbalik lagi untuk menjauh darinya. Aku benar-benar harus menghilangkan semua perasaanku pada laki-laki penuh pesona itu! Aku harus benci padanya!! Harus ... harus ... dan harus! Air mataku mengalir tanpa bisa kubendung lagi.
"f**k YOU REI!!" Aku masih mendengar samar-samar suaranya memakiku.
***
"FINE!! TERSERAH!! Lo mau dengar? Jawabannya IYA!"—"iya, gue taruhan untuk bisa cium lo! Iya gue taruhan untuk bisa tidur sama lo dan bikin lo nyerahin virginitas lo sama gue!!"—"Tapi itu karena gue enggak mau Bio yang dapetin itu semua, REI!!"—" ngerti enggak sih?! Gue enggak rela kalau cowok b******k itu yang dapetin lo!!"
Kata-kata Elang terus berputar di kepalaku secara otomatis. Aku berusaha mengusir bayangannya dengan cara menggelengkan kepala sambil mengacak-acak rambutku. Berharap bayangannya pergi!
Kemudian sambil bersandar, aku menyalakan ponselku. seketika rentetan pesan dan puluhan misscall terbaca di layarnya. Puluhan itu dari Elang dan Leo. Aku membuka pesan dari Elang satu per satu.
Kirei, please! Nyalain handphonenya!
Gue mau jelasin, Rei!
Rei, please kasih gue kesempatan untuk jelasin!
Ciuman itu sungguhan Rei, walau awalnya taruhan itu yang dorong gue, tapi perasaan gue real!
Yang berikutnya cukup jauh jaraknya dari pesan sebelumnya.
Rei ... lo di mana?
For God's Sake, Rei! Tolong jangan keras kepala! Gue khawatir!
Pembohong!
Masih banyak lagi pesannya dengan isi kurang lebih sama. Aku menekan gambar tempat sampah untuk menghapus semua pesannya. Tentu saja aku tidak pulang ke rusunku—karena aku tahu Elang akan menyusulku ke sana. Aku bermalam di rumah Rosa, yang kebetulan suaminya tidak ada di rumah malam ini.
Kemudian aku juga membaca pesan dari Leo, orang yang sangat kupercaya dan kuhormati sebagai atasan sekaligus temanku.
Aku minta maaf, Rei. Sungguh.
Hanya ini saja pesan dari Leo. Dan aku juga menghapusnya. Dan memblokir nomor ponsel dua orang ini, dan juga nomor Bio.
Selesai sama mereka semua!
***