[Some people come into your life and you just know you will never be able to replace them if they left
- pinterest.com -]
Ekspresi Pak Yanuar membuatku cemas, "Bukankah kamu bilang bimbingannya berjalan lancar, Rei? Kenapa sekarang kamu ingin digantikan?" tanyanya ingin tahu.
"Saya merasa tidak sanggup Pak," sahutku dengan wajah memelas.
Pak Yanuar menghela napas, "Tapi Pak Segara sudah sreg sama kamu Rei. Kemarin bahkan beliau menelepon supaya kamu terus membimbing Langit sampai akhir semester," katanya. "Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus tetap jadi tutornya Langit—demi beasiswa kamu kan, Rei." Ia menelan ludahnya, "dan demi saya tentunya," lanjutnya lagi.
Mana mungkin aku bisa terus menjadi tutornya Elang sementara hubunganku dengannya memburuk seperti ini. Tapi bagaimana bisa kutolak kalau taruhannya adalah pekerjaan Pak Yanuar dan juga bea siswaku yang tinggal sebentar lagi.
"Duh Pak ... tapi saya sama Elang itu benar-benar—."
"Tolonglah, Rei," potongnya. "Kamu hanya perlu bertahan kurang dari setahun lagi kan? Setelah itu kamu lulus, lagipula kan kamu hanya ketemu satu jam saja untuk satu kali bimbingan. Bapak tahu Langit memang menyebalkan, tapi kita tidak punya pilihan lain, bukan?" katanya.
Pak Yanuar benar, aku tidak punya pilihan lain, mau tidak mau dan suka tidak suka aku harus menjalani nasibku sebagai tutor cowok b******k sekaligus memesona itu. Dengan langkah gontai aku keluar dari ruangan Pak Yanuar.
Baru saja kakiku menapaki lantai di luar pintu rektor, terdengar suara berat yang sangat familier di telingaku. "Kirei...." Padahal baru saja kuberdoa agar tidak dipertemukan dengannya, dan laki-laki penyuka warna hitam itu sekarang sudah ada di depanku. Aku memandangnya sekilas dan bergeser untuk meneruskan langkahku menuju kelas. Tapi seperti biasa Elang membuntutiku dan beberapa pasang mata melihat ke arahku dengan rasa ingin tahu yang tinggi. "Kamu harus berhenti ngikutin aku, Lang," ujarku tanpa melihatnya.
"Enggak! Gue enggak akan pergi sebelum bisa jelasin persoalannya sama lo!"
Aku menghela napas, "Please, Lang." Aku berhenti dan menghadapnya, kurasakan semua orang memandangku dengan sinis. Mungkin mereka berpikir aku sudah membuat idolanya mengejarku tapi aku malah menjauh alias sok jual mahal—menerimanya pasti lebih salah lagi. Simpati malah jatuh pada Elang bukan padaku. Aku tidak mau mereka menikmati dramaku dan Elang saat ini. Karena itu aku mengajaknya ke tempat yang agak sepi dari lalu lalang orang lain.
"Dengar Lang, aku enggak butuh penjelasan kamu. Percuma kamu mau jelaskan juga aku enggak mau percaya lagi!"
"Terus gue harus gimana, Rei?" katanya terdengar frustrasi sambil menjatuhkan tangannya.
Aku menghela napas panjang dan memberanikan diri menatapnya, "Oke, aku kasih tahu kamu harus gimana...," kataku sambil menelan ludah karena tidak tahan melihat lesungnya. "Kamu ingat kan bagaimana pertama kali kita ketemu?" Elang mengangguk cepat, "kamu juga pasti ingat saat pertama kali kamu bilang kamu suka sama aku?" Ia mengangguk lagi, "terus ... apa kamu juga ingat waktu aku berlari memeluk kamu dan bilang kalau aku mau kamu balik lagi untuk aku??" Elang mengangguk sambil sedikit tersenyum ragu.
"Iya, gue ingat semua itu, Rei," ujarnya tersenyum dengan sepasang lesung pipi yang dalam.
Fokus Rei! Fokus!
Aku mengangguk sambil menelan ludah, "Oke, yang harus kamu lakukan adalah melupakan semua yang kamu ingat tadi, lupakan kalau kita pernah bertemu....," ujarku telak dan membuat ekspresinya berubah drastis. "Kita sama-sama harus melakukan itu," kataku berusaha menahan kepedihan dalam hatiku.
"Lo b******k Rei! Lo buat gue jadi begini dan sekarang lo menghindar?"
Mataku membeliak mendengar komentarnya, "Jadi kamu nyalahin aku?"
"Ya semua gara-gara lo! Gue enggak pernah ngerasa begini! Gue enggak pernah merasa peduli sama cewek mana pun!"
"BOHONG! Ini pasti bagian dari taruhan kamu ... aku enggak percaya! Enggak akan pernah percaya lagi!" Suaraku ikut meninggi.
"Gue taruhan untuk bisa cium lo, karena gue enggak mau ada cowok lain nyentuh lo—fu**! Terlebih Bio!! Karena jelas dia lakuin itu untuk bikin gue marah!"
"Jangan membenarkan sikap salah kamu, Lang. Kamu mainin perasaan aku!" sahutku sambil bergerak menjauhinya.
Helaan napasnya bersamaan dengan kepalanya yang menunduk dan mendekat padaku, "Rei...." Aku mundur menjauh. "Kirei, gue enggak mau kehilangan lo."
"Yang pasti lagi, kamu enggak mau kehilangan mobil kamu itu ... bukan aku."
"ENGGAK! Gue enggak peduli sama mobil sialan itu!" sergahnya sambil menyapu wajahnya dengan tangannya. "Kalau dengan mobil itu bisa bikin Bio jauh dari lo, dia bisa ambil!" serunya, "Tapi gue tetap enggak mau kehilangan lo!" tukasnya.
Aku benar-benar muak sekarang dan memutar tubuhku bersiap untuk meninggalkannya. "f**k you, Rei!" hardiknya seraya menendang kursi yang ada di dekatnya sampai terbalik, padahal itu kursi besi, "kenapa lo harus sekeras ini sih? Kasih gue kesempatan untuk memperbaiki ini semua!" pintanya dengan suara keras yang masih bisa kudengar.
Sudah yang keberapa kali Elang menyebutku dengan kata f**k itu, dadaku panas juga mendengar kata itu terus keluar di saat ia sudah frustasi berdebat denganku. Aku menghela napas dan memutar tubuhku menghadapnya, ada jarak kurang lebih lima meteran antara aku dengannya. "Jangan pernah bilang f**k lagi padaku!" tambahku lagi dengan d**a meradang karena marah.
"f**k! f**k, f**k f**k! Gue bisa bilang itu kapan pun gue mau! Jangan atur apa yang keluar dari mulut gue!" makinya sambil berjalan mendekat kepadaku.
Aku berdecak dan menggeleng seraya memijat pelipisku, "Ini benar-benar enggak akan berhasil, Lang. Maksudku, bahkan menjadi teman pun kita enggak mungkin!"
"Itu karena lo munafik! Lo menyangkal perasaan lo sendiri!" katanya.
Mungkin Elang ada benarnya, tapi aku tidak akan mengakuinya. Elang tidak layak untukku dan aku bukan untuknya. Baginya, aku tidak akan pernah cukup.
***