LIMA BELAS

1044 Words
[We have to be meaningful to ourselves before we become valuable to others - Ralph Waldo Emerson -] Sikap keras kepala memang sudah menjadi ciri khas cowok tatoan itu, aku tahu ia tidak akan membiarkanku pergi. Ini kupahami betul, karena saat ini ia sedang memegang pergelangan tanganku dan menarikku ke tempat yang lebih sepi dan dengan paksa membuatku masuk ke sebuah ruangan, kemudian ia mengunci pintunya. Jantungku berdegup kencang mengingat Elang adalah orang yang temperamental. "Kamu mau apa sih, Lang?!" tanyaku sambl menepiskan tangannya. "Bicara!" katanya, galak. Aku menghela napas, ketika Elang makin mendekat ke arahku. "Kita bisa bebas bicara di sini. Silakan lo maki gue! Keluarin sumpah serapah lo, karena udah jadi objek taruhan gue. Lo boleh pukul gue sepuas lo—nih!" ujarnya sembari menyodorkan pipinya padaku. Aku menelan ludah dengan susah payah, "Oke! Kamu mau bicara—kita bicara!" Kuhela napas panjang sekali bersiap untuk mengungkapkan unek-unekku padanya, "kamu itu ibarat racun untukku, Lang! Kamu tahu? Gara-gara kamu aku kehilangan sahabatku, gara-gara kamu bea siswaku terancam hilang, gara-gara kamu jantungku selalu berdetak cepat tidak terkendalikan, gara-gara kamu juga dadaku meradang setiap kali melihat ada perempuan lain yang nempel-nempel sama kamu enggak jelas!" Aku berhenti untuk menarik napas lagi, "dan karena kamu juga aku merasakan sakit hati luar biasa, jadi kuputuskan untuk menolak racun itu—menolak kamu. Aku harus menjauh dari kamu...karena kamu bukan untuk aku...dan karena aku tidak seharusnya punya perasaan ini ke kamu—." Lesung pipi Elang terlihat jelas, karena ia mengulum bibirnya sambil menatapku, ia menggeleng cepat, tangannya memijat hidungnya, "Gue enggak tahu harus bilang apa...tapi gue tersanjung di bagian lo meradang kalau liat gue sama cewek lain, karena itu juga yang gue rasain kalau lo dekat sama cowok lain," katanya sambil menghela napasnya. "Lo pikir kenapa gue hajar Bio habis-habisan saat gue lihat lo berdua ngobrol dan tertawa di café waktu itu? Itu karena gue cemburu. Dan satu hal, Bio sedang melakukan hal yang sama—deketin lo untuk memenangkan taruhan...," ungkapnya, dan wajahnya terlihat mengeras karena mengingat momen itu. "Kamu sendiri enggak lebih baik, ya kan?" sindirku. Ia menunduk seraya menghela napas, "Iya, tapi perasaan gue terlanjur berubah sama lo Rei... gue berniat mau ungkapin semuanya di saat yang tepat." "Kapan saat yang tepat itu? Setelah aku berada di bawah kamu??” tudingku makin ketus. Mata Elang memicing dengan alis berkerut, "Untuk pertama kalinya gue enggak berpikir untuk maksa lo ada di bawah gue, Rei! Sama lo gue bener-bener enggak ada niat itu!" kilahnya, membuatku melengos menghindari matanya. "Gue pernah bilang enggak akan nafsu sekali pun liat lo b***l—itu bullshit! Karena setiap kali sama lo, gue harus nahan diri dan menahan 'si dicky' untuk tetap di tempatnya...." Ia menunduk dengan matanya mengarah ke bagian antara kedua kakinya, "apalagi 'dia' pernah kena tendangan san go kong waktu itu. Untungnya 'dia' enggak trauma...," ujarnya sempat berkelakar. Ya mau tidak mau aku jadi tersenyum mengingat aku pernah menyakiti 'dicky-nya' itu dengan tendangan sekuat tenaga. Elang melangkah makin mendekat lagi dan berusaha meraih tanganku, namun tanganku menjauh, "Jadi tolong bilang, gue harus lakuin apa supaya lo maafin gue, Rei?" tanyanya dengan tatapannya yang melembut. "Jangan bilang lagi kalau gue harus lupain lo!" Ya Tuhan. "Apa yang kamu mau, Lang?" Aku enggak percaya menanyakan hal ini padanya. Matanya berbinar terang, seperti melihat secercah harapan padaku, "Gue mau lo tetap jadi pacar gue, tutor gue, dan tetap bekerja di Caffe Sky Blue." Aku dengan cepat menggeleng, "Enggak mungkin selain yang kedua—jadi tutor kamu, itu pun terpaksa aku lakukan karena aku enggak mungkin kehilangan bea siswa di tahun terakhirku." Ia melenguh pelan, "Tapi lo mau kerja di ma—." "Enggak usah pikirin aku," Aku memotongnya. Ia menghela napasnya, "Oke, gue anggap ini sebagai hukuman. Gue harus bersyukur lo masih jadi tutor gue, dengan begitu gue masih bisa terus dekat sama lo," katanya, ia melangkah lebih dekat lagi padaku, kali ini ia berhasil meraih kedua tanganku—dan aku menelan ludah ketika merasakan aliran listrik yang dengan cepat merambat mengalir di darahku. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tanganku, "Please, Rei. Gue pengin selalu dekat seperti ini sama lo," ujarnya seiring dengan wajahnya yang makin mendekatiku, hidung kami bahkan hampir bersentuhan. Dan tubuhku membeku—otakku memerintahkan untuk menolaknya, namun tubuhku tidak menurutinya—aku malah menikmati sensasinya. Kesadaranku kembali saat bibirnya menyentuh tipis bibirku—sontak saja aku menjauh—bibirku menjauh darinya. Kekecewaan terlihat di matanya. Aku menggeleng seraya menelan ludahku dengan susah payah, "Kamu akan terus melakukan hal ini sampai aku benar-benar ada di tempat tidur sama kamu, ya kan Lang?" "Rei...." Mata cokelatnya redup, "sampai kapan lo akan siksa gue kayak begini?" Aku mendekatinya dan memberanikan diri menyentuh wajahnya dengan tanganku, meraba lesung pipinya seperti yang selama ini aku inginkan. Getaran kecil terasa saat kulit tanganku bersentuhan langsung dengan kulit wajahnya. "Kamu enggak akan memenangkan taruhan ini, Lang. Dan bukan aku yang menyiksa kamu, tapi sebaliknya...." Tangan Elang menangkap tanganku, dan mengarahkan ke mulutnya, ia mencium telapak tanganku. Rasanya—ya Tuhan, rasanya aneh tidak tergambarkan dan ada dorongan yang mendesakku untuk mengarahkan bibirnya ke bibirku lagi, tapi aku masih bisa menahan diri. Kemudian ia menciumi ujung jariku satu per satu, dan sebelum jari terakhir aku sudah menarik lagi tanganku dan menjauh darinya dengan napas terengah dan jantung yang meronta tidak jelas. Aku tidak bisa terlalu intim seperti ini dengannya, karena bisa dipastikan aku yang akan menyerahkan diriku padanya dengan sukarela. "Aku harus pergi, Lang." "Enggak, selesaikan dulu apa yang udah lo mulai...," tuntutnya dan membuatku menatapnya penuh antisipasi dan waspada. Karena ia bergerak mendekatiku lagi. Jaraknya semakin dekat, sekarang Elang berada di depanku hanya berjarak beberapa inchi saja. Ia menarik pinggangku dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang bebas mengangkat daguku hingga aku menatapnya. Tatapan matanya menggelap, mulutnya sedikit membuka dan sedang bergerak ke arahku. Sebelum mencapai bibirku, tanganku dengan sigap menutup mulutnya. Dan lagi-lagi dia mendengkus kesal penuh kekecewaan. "s**t, Kirei! Kenapa lo keras kepala banget sih? Lo enggak harus ngelawan perasaan lo terus-terusan, kan?" tukasnya kesal. Aku menatapnya tajam, "Aku pernah melakukan kesalahan dengan membiarkan kamu menciumku, Lang." "Buat gue itu bukan kesalahan, Rei. Itu bentuk sayang gue sama lo." "Tapi aku enggak percaya," kilahku dengan memutar tubuhku menuju ke pintu, membuka kuncinya dan menghambur keluar dari sana. Dadaku terasa sesak setiap kali mendengar pengakuan palsu dari cowok bermata cokelat itu. "Apa ini salah satu keahlian lo, huh? Selalu melarikan diri?" Suara Elang tiba-tiba datang dari sampingku. Langkahnya lebih cepat dariku, tentu saja ia dengan mudah dapat menyusulku. "Pergi, Lang." "Rei, jangan bohongin perasaan lo!" Aku berhenti dan menatapnya, "Aku lebih baik bohongin perasaan aku, dari pada sakit hati karena percaya sama kamu!" ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD