[Ketika dirimu menemui seseorang yang mampu menghapus kesedihan dan air matamu, maka teruslah untuk tetap bersamanya
- mondogiesmusic.com -]
[Hai Rei, apa kabar?]
Itu adalah pesan yang datang dari Ruth. Dan aku sedang memandangi ponselku berpikir untuk membalas pesannya. Sahabatku yang salah paham dan menghindariku selama hampir satu bulan ini.
[Baik, Ruth. Kamu?]
[Aku mau minta maaf sama kamu, Rei. Please maafin aku sama Ina ya.]
Ugh, kenapa maafnya sekarang malah seakan menjadi beban yang berat untukku ya? Kenapa aku cenderung sedih Ruth dan Ina akhirnya memaafkanku dan mau menerimaku kembali jadi sahabatnya?
[Aku yang minta maaf, Ruth.]
Ini tulus dari dalam hatiku, aku minta maaf untuk situasi yang lalu, sekarang dan yang akan datang.
[Aku dan Ina sudah salah paham sama kamu, aku tahu kamu enggak mungkin suka sama Elang. Aku juga tahu kalau kamu sudah berusaha nolak Elang berkali-kali. Maafin aku sudah ragu sama kamu, Rei.]
Glek.
Aku menelan ludah.
Tidak mungkin suka sama Elang? Ini salah pahamnya yang kedua. Aku malah pacaran sekarang dengan laki-laki yang menjadi incaran sahabatku itu.
Aku menghela napas panjang yang lama, kemudian menuliskan balasan pesannya dengan perasaan tidak menentu.
[Iya, Ruth. Sepertinya kita perlu ketemuan yaa....]
Aku merebahkan diri di atas tempat tidur setelah mengirimkan balasan itu. Mataku menatap langit-langit di atas kamarku sambil berpikir keras, apa yang harus kukatakan pada Ruth dan Ina mengenai Elang—mengenai aku dan Elang?
Ehm, Ruth, Ina...aku dan Elang pacaran...dan wussh mereka dipastikan akan mencoretku lagi sebagai sahabatnya dan membenciku selamanya.
Fuuh.
Ponselku berbunyi dan aku langsung menjawabnya, "Kamu lagi apa sih?" tanya suara di seberang sana.
Siapa lagi yang sibuk mengganggu hari tenangku kalau bukan Langit Segara?
"Ini kan hari liburku, jadi aku sedang bermalas-malasan," jawabku.
"Buka pintunya!"
Dan suara ketukan dipintu membuatku sadar bahwa Elang ada di luar sana sejak tadi. Dengan cepat aku beranjak dan berlari ke arah pintu. "Kamu ngapain pagi-pagi ke sini?!" tanyaku sambil melihat ponselku yang berbunyi notifikasi pesan.
"Lho, kenapa? Aku boleh kangen sama pacarku, kan?" katanya seraya memeluk dan mencium leherku.
Konsentrasiku kembali lagi pada suara notifikasi pesan w******p yang masuk pada ponselku.
[Iya Rei, aku dan Ina berencana mengajak kamu ke acara amal lagi siang ini di Panti Jompo. Kamu mau?]
Duh.
Elang memperhatikan ekspresiku yang aneh, alisnya berkerut sambil ia menuju ke lemari es dan mengambil minumnya sendiri. "Kenapa?" tanyanya sembari menenggak minumnya langsung dari botol.
"Elaaang! Kamu harus tuang dulu ke gelas, jangan langsung dari botol begitu!" seruku.
Ia berdecak, "Sesekali jorok enggak akan mati Bu Lurah sayang...," jawabnya dan menyimpan botolnya lagi di dalam lemari es.
Eergh!
"Kamu kenapa?"
"Huh? Ehm—Lang...menurut kamu kalau Ruth dan Ina mengajakku pergi hari ini bagaimana?" tanyaku.
Ia mengeleng sambil berjalan menghampiriku dan memelukku lagi, "Ruth temen kamu yang aneh itu? " sinisnya. "Enggak boleh, karena hari ini aku mau sama kamu...," lanjutnya kembali menghirup aroma di leherku, "kamu pakai sabun apa sih, wangi...," ujarnya dan aku hanya mencebik tidak menjawabnya.
"Tapi...kamu tahu Ruth dan Ina selama ini menghindariku kan? Dan ini kesempatanku untuk baikan sama mereka."
Elang menjauhkan tubuhnya dan menatapku, "Ruth ninggalin kamu karena dia pikir kamu seolah-olah mengkhianati dia, ya kan?" Aku mengangguk, "kamu yakin masih mau temenan sama mereka?" tanyanya skeptis.
"Lang, mereka sahabatku sebelum aku bertemu kamu. Mereka sangat baik sama aku...jadi begini kan gara-gara kamu nih...." Aku mencubit pinggangnya dan membuatnya mengaduh.
"Aduh! Ya aku sukanya sama kamu, gimana dong?"
Ekspresiku berubah malu-malu, aku masih tidak habis pikir apa yang membuat Elang bisa menyukaiku dan ada di hadapanku saat ini? Tapi kalau sampai hal ini masih berhubungan dengan taruhannya itu, aku bersumpah akan menganggapnya sebagai debu!
[Maaf Ruth, tapi hari ini aku enggak bisa. Mungkin lain kali, ya.]
***
"Memangnya kamu mau ajak aku kemana?"
"Ke hotel mau enggak?" tanyanya sambil menyeringai genit dan mendapat pukulan di bahunya dariku. "Duh...kenapa dipukul sih?" lontarnya sambil memegangi bahunya dengan tangannya yang bebas, karena tangan kirinya sedang menggenggam tanganku turun dari lift rusunku.
"Ya kamu mau ajak aku ke hotel, memangnya aku apaan?"
Ia malah terkekeh pamer lesung pipinya yang dalam itu, "Kamu tuh yang viktor, aku mau ajak kamu makan di restorannya, memangnya kamu ngarepin aku ngajak kamu booking kamar ya?"
"Iiih!" Aku mencibir padanya, "jangan macam-macam ya Lang!" ancamku.
"Janji, enggak macam-macam kok. Asal kamu enggak mancing-mancing 'si dicky'," selorohnya sambil memberikan dua jarinya di depan wajahku.
What??? Edan! Untuk apa aku pancing-pancing 'dia'. Pipiku pasti merona hanya karena memikirkan kemungkinan itu.
Elang jadi lebih suka menggunakan motornya sekarang, karena dengan begitu aku akan terus memeluknya. Ia memakaikan helmnya padaku dan memastikannya terpasang dengan sempurna. Senyumnya terus mengembang, terus terang aku merasa aneh melihatnya begitu bahagia.
"Kali ini aku akan lebih pelan dari sebelumnya, bahkan lebih pelan dari pejalan kaki...," katanya sambil terkekeh. "Karena sekarang aku enggak mau buru-buru sampai tujuan," lanjutnya lagi.
Aku ikut tertawa ringan, "Kalau gitu buat apa naik motor, ya kita jalan kaki saja...."
"Kalau kamu mau aku gendong di sini...." Ia menunjukkan punggungnya, "aku mau jalan kaki"
Gemblung.
Elang benar-benar melajukan motornya sangat lambat, sampai beberapa kali diklakson motor atau mobil lain. Setelah mendapat protesku berkali-kali barulah ia berjalan normal dan bahkan sesekali cenderung kencang—membuat peganganku ikut mengencang. Jadi terkadang aku juga berharap jalanannya memang padat terus seperti ini, jadi ia tidak seperti orang kesetanan. Atau memang aku berpikiran sama dengannya dan ingin berlama-lama dalam posisi sekarang? Memeluk punggungnya yang keras dengan erat, dan dengan nyaman menempel padanya.
Yang membuat perutku bergejolak aneh lagi adalah ketika motor harus berhenti karena lampu merah, tangan Elang dengan sengaja menyentuh tanganku yang melingkar di pinggangnya. Kadang juga tangannya meraih kakiku yang ada di samping tubuhnya.
Aku dan Elang punya selera pakaian yang mirip, jeans robek dan kaus casual. Jadi ketika ia mengatakan ingin mengajakku makan di hotel, aku sudah berpakaian sesuai seleraku. Tapi Elang bilang tidak masalah sama sekali, karena ini bukan restauran formil. Ia membawaku ke restauranall you can eat bernama SEIYA yang ada di dalam sebuah hotel bintang lima, di mana kita bisa sepuasnya makan selama tiga jam penuh. Beberapa pasang mata wanita berusaha mencuri pandang ke Elang, termasuk pelayannya pada saat menerima kami di depan pintu masuk dan melakukan pembayaran. Dan hal itu mulai mengangguku, tapi cowok berlesung pipi itu dengan santainya memeluk leherku dan mencium kepalaku di depan umum. Membuatku syok setengah mati namun berbunga-bunga sekaligus.
Ia mengajakku mengambil makanan apa saja yang kusuka, seafood, makanan tradisional, sushi, berbagai macam snack, desert dan masih banyak lagi pilihannya. Kurasa lambungku tidak akan cukup untuk mencicipi semua makanannya. Kami menuju ke meja dengan baki penuh berisi makanan. Ia duduk di sebelahku dan matanya makin berbinar seraya memberitahu makanan apa saja yang diambilnya. Beberapa pengunjung juga memperhatikannya sepanjang ia mengambil makanan tadi. Tapi matanya hanya terfokus padaku dan makanannya saja, ia mengabaikan wanita-wanita cantik yang haus perhatiannya itu. Ada perasaan hangat yang merasuki dadaku merasakan sikapnya saat ini—tatapannya dan sentuhan tangannya.
Aku menyentuh lubang pipinya, "Ini enggak bisa disembunyiin ya?"
Ia malah terkekeh. "Kenapa? Bikin kamu terangsang ya?" katanya v****r.
Aku menusuk pipinya dengan telunjukku, "Issh!" umpatku. Iya sih, sahutku dalam hati.
Elang menatapku dengan ekspresi menggoda, "Kalau lagi sama kamu, malah semakin kelihatan, karena aku enggak bisa berhenti senyum...," gombalnya.
"Tapi menarik perhatian cewek-cewek di sana tuh," sungutku sembari menunjuk beberapa pasang mata wanita dengan daguku.
Kepalanya mendekat ke telingaku, "Kamu cemburu ya, Bu Lurah?" selorohnya.
Aku menggeleng, "Aku cemburu kalau kamu yang lihatin mereka," balasku.
"Ngaku aja sih kalau cemburu," sahutnya terkekeh ringan.
Di saat jeda istirahat untuk menurunkan isi perut kami, Elang melihat ke arahku, gurat wajahnya berubah serius, "Kirei, kamu mau balik lagi ke cafe ya?" bujuknya.
Aku melenguh pelan sembari menyeruput sisa minumanku, "Aku malu sama Leo dan yang lainnya, bolak-balik terus," jawabku.
"Makanya kalau marah sama aku enggak usah pakai resign segala...," sindirnya.
"Tapi aku kan malas ketemu kamu."
"Enggak perlu malu segala lah, lagian mereka juga sering nanyain kamu...."
Aku tersenyum kecil, "Baiklah, tapi dengan syarat, aku minta kita rahasiakan dulu hubungan kita dari teman-teman kampus, oke?"
Ia menatapku dengan ekspresi aneh, "Kenapa? Kamu takut Ruth sama Ina marah ke kamu lagi?"
Aku menggeleng, "Kasih aku waktu untuk menjelaskan semuanya pada mereka, Lang," ujarku meminta pengertiannya. "Please...," rengekku.
Ia menghela napasnya, "Kamu harus secepatnya kasih tahu mereka tentang kita, aku enggak suka sembunyi-sembunyi," katanya.
Aku mengerucutkan bibirku, "O ya?" sindirku.
Elang berdecak sambil mencubit pipiku, "Hiish, jangan samain, Bu Lurah!" tukasnya sambil mencium dahiku cepat. "Kamu gemesin banget sih!"
***
Hari berikutnya Ruth dan Ina menyambutku di kelas dan kami duduk berdampingan lagi. Elang dan teman-temannya masuk kemudian, dan ia menepati janjinya dengan hanya melewati tempat dudukku sambil melirik penuh arti padaku, entah ada yang memperhatikan atau tidak. Yang pasti semua orang tahu kalau aku sudah berani menolak cowok popular itu.
Sebuah notifikasi berbunyi, [Aku enggak tahan begini, Rei.]
Aku berdecak pelan, belum juga hari ini berjalan.[Lebay!] balasku.
[Aku pengin duduk sebelah kamu.]
Kepalaku menoleh sedikit ke arah kiri—di mana ia duduk, dan mendapatinya sedang memperhatikanku dengan matanya yang cokelat itu.
[Miss you....]
Aku menunduk cukup dalam sambil menahan senyumku, dan Ina memandangku curiga. "Kenapa Rei?"
"Huh? Eh enggak apa-apa Na...," jawabku sedikit gugup sambil mematikan ponselku dan memasukkannya ke dalam tas.
Selama jam kuliah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberitahukan mereka, namun Ruth dan Ina merasakan ada keanehan padaku. Entahlah, aku merasa canggung sekarang berada bersama mereka, tidak lagi seperti dulu. Walau Ruth masih saja berbisik-bisik tentang Elang pada Ina. "Elang itu memang badboy, tapi aku masih saja terpesona kalau melihat dia Na...," ujar Ruth.
Ina menanggapi, "Iya, tapi kamu tahu kan kalau dia itu sudah bikin teman kita yang satu ini jadi taruhannya?" sahutnya sambil melihat ke arahku. "Udah deh sekarang catat dalam kepala kamu ya, kalau Elang itu enggak layak buat kita," tegasnya pelan seraya merapikan bukunya ke dalam tas, "Ya kan Rei?" tanyanya, "aku salut deh sama Kirei, karena dia mungkin cewek pertama dan satu-satunya yang bisa menolak Elang...," katanya.
Ugh.
Tenggorokanku tercekat seketika.
"Kita makan siang yuk, aku yang traktir...," ujar Ruth sambil menarik tanganku.
Aku tidak sempat lagi melihat ke bangku belakang untuk melihat Elang, karena Ruth menarikku cepat keluar kelas, dan ponselku berbunyi. Ina dan Ruth memandang ke arah tasku saat aku meraih ponselku keluar.
"Siapa Rei?"
Hh? "Ehm...ini ... atasanku di restoran, sebentar ya...." Aku berbohong pada mereka sambil agak menjauh dan menjawab teleponnya, "ya?"
"Mau kemana?"
"Mau makan siang," jawabku sambil melirik jam di tanganku, tepat tengah hari, aku masih punya waktu dua jam sebelum bekerja nanti.
"Aku juga lapar...mau makan kamu...eh sama kamu...."
Lagi-lagi bibirku melengkung karena gombalan manisnya, namun langsung berubah ketika melihat ke arah Ruth dan Ina yang sedang memperhatikanku dari jauh. "Lang, ini kesempatanku untuk bicara sama mereka, kamu makan sama teman-teman kamu dulu ya...," jawabku.
"Jam satu aku tunggu kamu di mobil ya, aku antar kamu ke tempat kamu kerja untuk resign dan balik ke café...."
Lihat bagaimana ia mengaturku sekarang? Dan sebetulnya aku bukan tipe penurut, namun entah kenapa kali ini aku ingin menurutinya. "Baik Pak," balasku bersamaan dengan Ruth yang menghampiriku dan kututup ponselnya.
"Kenapa Rei? Kamu harus kerja ya?" tanyanya.
Aku menghela napas panjang dan mengangguk sambil melihat ke jam tangan, "Iya, tapi aku masih bisa makan siang bersama kalian kok...," kataku.
Ya ampun, aku merasa tidak enak ketika harus berbohong seperti ini, hanya saja aku tidak tahu harus memulai dari mana sekarang. Kami sedang bersantap siang sembari membahas acara amal yang akan diadakan Ruth minggu depan. Aku memandang mata mereka bergantian, "Ruth...Ina...." Aku menelan ludah, “ada yang ingin kusampaikan...," kataku.
Mata Ina langsung fokus melihatku walau ia sedang mengaduk-aduk makanannya. "Iya Rei?" Ruth juga ikut melihat ke arahku, dan sumpah ini benar-benar membuatku gugup. Aku ingin tetap bersahabat dengan mereka seperti dulu, sebelum rasa untuk Elang ini timbul dan berkembang seperti sekarang. Aku menarik napas panjang, dan ponselku berbunyi lagi. Dan yang membuatku cemas adalah, ponselku berada di atas meja dan Ina yang duduk di sebelahku melihat nama penelepon yang muncul di layar ponselku.
Ups.
Alisnya berkerut menatapku kemudian melirik ke Ruth, "Elang, Rei?"
"Mungkin dia mau tanya soal bimbingan...," jawabku sambil menolak teleponnya.
Mulut mereka berdua membulat, "Owwh...." Secara bersamaan, "memangnya kamu enggak bisa minta digantikan Rei?" tanya Ruth.
Aku menggeleng, "Aku akan kehilangan beasiswa."
Mata mereka membesar ke arahku dan aku mengangguk membenarkan.
[Aku nunggu, Rei.]
Pesan Elang masuk pada saat aku berniat mau menulis pesan juga untuknya, [Sebentar lagi.]
[Enggak bisa, sekarang kamu ke sini atau aku yang ke sana?]
Ya Tuhan.
Aku berdiri dengan panik, "Ruth, Ina...aku harus pergi...."
"Kalau kamu mau bimbingan sama Elang...ingat Rei, dia itu cuma menjadikan kamu taruhannya, jangan seperti Ruth yang buta terus-terusan melihat cowok itu. Aku takut kamu akhirnya menyerah dan terima dia...," lontar Ina menusuk jantungku.
JLEB.
"Ih...aku sudah sadar kok siapa Elang. Kan Kirei juga yang kasih tahu kalau Langit itu bukan jangkauan kita! Ya kan, Rei?" timpal Ruth.
Huh?
Aku tersenyum kecut sebelum melambaikan tangan pada keduanya dengan hati yang acak-acakkan.
"PERTAHANKAN BENTENG KAMU, REI!!" seru Ina membuatku menoleh dan melemparkan senyum pahit padanya.
***