DELAPAN BELAS

1448 Words
[One smile, can start a friendship. One word, can end a fight. One look, can save a relationship. One person, can change your life - Thisilovelife.com -] Elang masih bersungut-sungut saat aku masuk mobilnya di halte depan restoran tempatku bekerja. Ini karena tadi aku menolak untuk pergi bersamanya dari kampus. Aku menyentuh tangannya dan memainkan jemarinya, menyelipkan jari-jariku di antaranya. Ia tidak merespon, namun menahan tanganku ketika jari-jariku terlepas dari tangannya. Kemudian ia menggenggam tanganku dengan erat dan mencium punggung tanganku cukup lama—masih dengan raut cemberut. "Sampai kapan sih kita kucing-kucingan begini?" "Sampai aku menemukan cara bagaimana bisa mengatakannya pada sahabatku, agar mereka bisa menerima hubungan kita." "Huh?!" Matanya melotot, "kenapa harus peduli omongan orang lain sih?" rutuknya. "Mereka sahabatku, Lang. Aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku." "Kalau mereka sahabat yang baik, harusnya mereka happy lihat kamu happy sekarang...." Aku menarik napas dalam-dalam, “Memangnya kamu yakin aku happy sekarang?” ledekku. Wajahnya berkerut melihatku. "Aku yakin mereka juga bahagia, Lang," selaku. "Hanya saja jadi lebih sulit karena Ruth punya perasaan ke kamu...." Elang berdecak. "Aku mau ajak kamu jalan malam ini," katanya seraya mematikan mesin mobilnya, tidak terasa kami sudah sampai di cafenya. Elang membuka pintu mobilnya dan melompat turun setelah aku mengangguk merespon ajakannya. Wajahnya berubah menjadi sumringah, sehingga lesung pipinya terlihat lebih dalam dari sebelumnya, bibirnya melengkung tersenyum. "Hfft, aku enggak bisa marah kalau lihat kamu pasrah begitu...," ujarnya seraya meraih pinggangku dan mencium leherku seenaknya. Aku mendorongnya panik dan memukul bahunya, "Jangan melakukan itu sembarangan, Lang!" protesku. "Kenapa?" kepalanya berputar melihat sekeliling, "enggak ada siapa-siapa kan?" katanya. *** Setelah Leo dengan mudahnya menerimaku kembali, Elang memutuskan bahwa aku akan mulai bekerja lagi di cafenya mulai besok. Lepas pukul enam sore ini ia benar-benar membawaku keluar dari café. Aku terus memandangi profil Elang yang sedang mengendarai mobilnya. Sesekali ia melihat ke arahku dan memamerkan lesung pipinya yang dalam dan semakin menggemaskan. Tangannya meremas jemariku yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Bibirnya terus melengkung seolah-olah tahu kalau aku pasrah ke mana pun ia membawaku. Sampai akhirnya mobil berhenti dan parkir di depan sebuah restoran di area puncak yang dingin. Aku mengernyit memandangnya melompat dari mobil dan berlari ke arah pintuku untuk membukanya. Ia menjulurkan tangannya untuk membantuku turun—ini karena mobil Elang cukup tinggi. Mataku memandang sekitar, pemandangan sinar lampu di pegunungan terlihat begitu indah. Elang menggandeng tanganku masuk ke dalam restoran, namun ia segera melepasnya ketika kami bertemu dengan seseorang yang menghampirinya dan menyapanya dengan sangat akrab. "My Broman Langit Segara!" sapa cowok berjaket kulit itu. "Enggak sangka Tuhan menakdirkan kita ketemu di sini, My Bro!" serunya. Laki-laki ini sedikit sempoyongan, namun ia berhasil mendekati Elang dan menepuk pundaknya. t**i lalat pada dagunya mengingatkanku pada aktor kawakan yang sangat terkenal. Tapi Elang begitu dingin membalas sapaan temannya, bahkan ia terkesan menutupiku dari temannya itu ketika matanya terarah padaku. Laki-laki itu mengamatiku dari atas sampai bawah. Bibirnya melengkung, "Mangsa baru?" cetusnya. Elang terlihat dingin dan gugup sekaligus, ia makin menghalangiku dari pandangan cowok bertahi lalat itu. "Jaga mulut lo, No!" geramnya. Kedua alis laki-laki yang dipanggil No itu meninggi, "Oh bukan mangsa baru? Ehm...taruhan baru kalau begitu??!" ujarnya sembari mencuri lihat padaku—yang 'disembunyikan'—di belakang tubuh Elang. Rahang Elang mengeras, dan dengan gerakan cepat ia meraih kerah jaket laki-laki itu sembari memukul wajahnya dengan keras, hingga terjerembab ke lantai—sudut bibirnya mengeluarkan darah. Aku menarik baju Elang menjauh dari laki-laki itu, aku takut ia akan membuatnya masuk rumah sakit. Elang melihat ke arah cowok yang masih tersungkur itu dengan tatapan geram, "Jangan coba-coba, No!" ancamnya. Si No itu mengacungkan jari tengahnya pada Elang dan berusaha untuk bangkit. "Lo masih aja serakah!" tukasnya, "lo lupa kalau kita berbagi Cheva waktu itu? Bolehlah sekarang gue jug—aargh!" Elang kembali memukul wajah laki-laki itu sampai ia kembali tersungkur. Beberapa pelayan memegangi Elang dan mengusirnya karena sudah membuat keributan. Dan dengan gusar ia pun menarik tanganku untuk kembali ke mobilnya. Berbagi Cheva, apa maksudnya? Mataku membesar menatap punggungnya. Ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, senyumnya yang tadi lenyap sudah. Sepertinya mood-nya berubah drastis karena pertemuan kami dengan cowok bernama No tadi. Banyak pertanyaan berkecamuk di dadaku, tapi mana bisa aku bertanya dalam keadaan ketakutan seperti sekarang ini? "ELAANG BERHENTI!" Aku tidak tahan lagi dengan sikap marahnya yang seperti ini, membawa kendaraan seperti orang kerasukan saja. Wajahnya yang tegang dan keras menoleh ke arahku, kemudian ia menepikan mobilnya dan masuk ke dalam rest area. Aku baru bisa bernapas lega ketika mobilnya sudah parkir dan berhenti. Mataku menyorot ke arahnya, tajam. Ia terdiam dan menyentuhkan dahinya di setir mobil. "Siapa cowok tadi, kenapa kamu memukulnya dan kenapa kamu jadi begini??" Kepalanya menoleh ke arahku, ia melepaskan tali pengaman dari tubuhnya sebelum memutar tubuhnya ke arahku dan meraih tanganku, "Semua itu masa lalu Rei," katanya, "aku harap kamu enggak anggap serius omongannya tadi," lirihnya. "Bagian mana yang seharusnya aku enggak anggap serius, Lang?" tanyaku, "mangsa kamu, taruhan kamu, atau di bagian kalau kalian berdua berbagi Cheva??" sindirku sambil susah payah menelan ludah. Gilirannya yang kesulitan menelan ludah, "Semuanya...," gumamnya. "Tapi aku penasaran dengan ‘yang berbagi Cheva’, aku mau tahu apa maksudnya itu," sahutku sembari menarik tanganku dari genggamannya untuk melepas tali pengamanku dan leluasa memandang ke arahnya. Elang menarik napas panjang, "Rei...," panggilnya, "aku enggak mau kamu—" "Aku mau tahu," potongku cepat. Ia mengangguk, "Oke, tapi ingat...ini cuma masa lalu, enggak berarti apa-apa sekarang," ucapnya memastikan bahwa aku seharusnya tidak terpengaruh hal ini nantinya. Aku mengangguk. "Namanya Dino, empat tahun lalu dia adalah pacar Cheva—dan aku merebut Cheva darinya, karena aku sempat menyukai perempuan ini sewaktu di SMA dan Dino tahu itu. Kamu tahu kan, aku harus mendapatkan apa yang kumau—kadang dengan cara apapun...," tuturnya. Aku termangu mendengar pengakuannya. Kemudian ia melanjutkan, "Dino akhirnya tahu pacarnya selingkuh denganku dan kami bertengkar hebat. Ia sangat marah dan persahabatanku dengannya benar-benar berantakan. Sampai akhirnya aku pindah ke Indonesia untuk menghindari mereka. Dan dua tahun kemudian Cheva menyusul dan kami kembali 'dekat' beberapa kali" terangnya. " Aku dan Cheva hanya having fun, Rei. Aku enggak lagi punya hasrat untuk menjadikannya seseorang yang special di hidupku," katanya sambil meraih tanganku lagi. Aku menarik napas dalam-dalam. Having fun? Sebatas mana arti having fun buat Elang dan Cheva? Ck, seperti kamu tidak tahu saja Rei! Jawab pikiranku sendiri. Aku masih tercengang dan berusaha mencerna cerita Elang barusan. Tentu saja ini adalah masa lalunya dan Cheva hanyalah salah satu wanita yang pernah bersamanya. Mungkin masih banyak lagi Cheva-Cheva lain yang sudah pernah merasakan hangatnya pelukan dan sentuhan Elang seperti sekarang. Akankah aku menjadi Cheva berikutnya?? Mataku masih menatap mata cokelatnya yang redup, perlahan aku menarik tanganku, namun ia sempat menahannya sambil menggeleng, "Please, Rei—." Aku menatap manik matanya sambil berpikir, sanggupkah aku menerima masa lalu Elang yang seperti ini? Dunianya sangat jauh berbeda denganku, ia tidak akan merasakan resah yang kurasakan sekarang, karena aku belum pernah berhubungan dengan pria manapun. "Dan kamu masih bertemu dengan Cheva sampai sekarang," lirihku. Ia mengangguk pelan dengan gurat penyesalan di wajahnya, "Sebelum aku menyadari kalau aku jatuh cinta sama kamu—aku merasa bahwa aku 'membutuhkannya', Rei," ujarnya. "Tapi sekarang aku merasa kamu sudah cukup untuk aku...," jelasnya. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa menerima ini? Aku harus siap dengan kejujuran Elang sekarang, sekalipun itu mengiris-iris hatiku. "Kapan terakhir kali kamu 'membutuhkannya' Lang?" tanyaku sambil menelan ludah. Matanya membesar sesaat, ia menggelengkan kepalanya cepat, "Please, Rei. Jangan tan—" "Kapan, Lang?" potongku. Alih-alih menjawabku, ia malah memutar tubuhnya lagi menghadap ke depan sambil memasang tali pengamannya dan melajukan lagi mobilnya dengan cepat. Ia menghindari pertanyaanku, tapi dari reaksi dan ekspresi wajahnya aku tahu, bahwa belum lama ini pasti mereka bertemu dan having s*x together. Karena tentu saja aku tidak bisa memenuhi 'kebutuhannya' itu. *** Kami tidak bersuara lagi sampai berada di depan rusunku dan aku mencegahnya untuk mematikan mesin mobilnya, "Aku capek Lang, sebaiknya kamu pulang saja ya, aku ingin istirahat," dalihku. Elang menahan tanganku saat hendak turun dari mobil, aku memandangnya, "Please, Lang. Aku perlu waktu sendiri," kataku sambil melepaskan tangannya perlahan dan melompat dari mobil. Ia ikut melompat turun dari mobil dan menghampiriku, "Aku bertemu dengannya—Cheva, kira-kira dua minggu lalu, saat aku merasa kacau dengan apa yang kurasain ke kamu, Rei. Di saat seperti itu s*x membuatku sedikit rileks dan ya, Cheva kadang-kadang menjadi pilihanku...," katanya terdengar jujur. Mataku memanas dengan sendirinya. Dadaku juga teriris-iris menyadari bahwa laki-laki ini sudah terbiasa menenangkan diri dengan cara seperti itu. Yang mana aku tidak akan bisa memberi ketenangan semacam itu padanya. "Maafin aku, Rei." Aku melihat kesungguhan di matanya. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaanku yang meradang. Aku bukan Cheva, yang bisa membuatnya rileks dengan layanan s*x-nya. Aku adalah wanita konvensional yang akan mempertahankan kewanitaanku sampai aku menikah nanti. Dan bisakah Elang menerima itu?? Bahuku meninggi merespon permintaan maafnya, "Aku masuk, Lang," kataku seraya melangkah pergi meninggalkannya dengan kegalauan. Dan mobilnya melaju dengan cepat keluar dari rusunku. Dan ternyata penuturannya tadi sangat mempengaruhiku, dadaku terasa panas jika mengingat Elang membutuhkan perempuan itu dalam hal yang tidak mungkin ia dapatkan dariku. Ini rasa cemburuku atau rasa tidak percaya diriku yang berlebihan? ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD