Astaga Bella lupa!
Ia tidak boleh terlalu dekat dengan pria lain, walaupun pria itu sudah dianggap oleh dirinya sebagai Kakak angkatnya. Bella harus bisa menjaga jarak, karena ia telah menikah.
Posisinya yang tadinya berada disamping Edward, Bella memutuskan untuk berpindah posisi menjadi didepan pria itu.
Edward menatapnya bingung, ada apa dengan Bella? Apa ia begitu marah padanya sehingga tidak ingin berada didekatnya?
"Maaf Mbell.. tapi sumpah, waktu itu aku benar-benar sibuk.." Edward mencoba memberi pengertian kepada Bella, Bella hanya mengangguk mengerti.
Dua orang pria berbadan cukup besar, yang sepertinya bodyguard terlihat dari pintu restaurant, nafasnya terengah-engah, matanyapun terlihat seperti mencari sesuatu.
Edward yang menyadari kehadiran kedua bodyguard itu, seketika wajahnya berubah menjadi panik.
Edward menelan salivanya, "Bell, a-aku harus segera pergi." Ucap Edward, bahkan tubuhnya sudah bangkit dan siap untuk pergi.
"Kenapa Bang?" Ucap Bella khawatir saat melihat wajah Edward yang terlihat benar-benar panik. Bella sendiripun tak mengerti dengannya.
"Ta-tapi aku harus buru-buru. aku pe-pergi Bel.." Edward segera berlari dengan cepat menuju kebelakang Restaurant, sepertinya ia keluar melewati pintu belakang.
"s**t, cepat! Kita harus segera menemukan pria itu!" Ucap bodyguard itu walaupun hanya selewat saja, Bella dapat mendengar perkataan mereka.
Menyeramkan sekali dan kasihannya orang itu. Sedang menjadi incaran bodyguard menyeramkan seperti mereka. Fikir Bella.
Bella tak mau ambil pusing, ia segera hengkang dari restaurant ini. Dan harus segera pulang sebelum Daniel, mendahuluinya dan kemudian ia akan murka, karena dirinya ini pulang terlalu lama.
***
Mobil Daniel masih terparkir rapi didalam garasi. Mungkinkah Daniel hari ini hanya berdiam diri didalam rumah? Ia fikir pria itu pergi bekerja seperti biasa. Atau mungkin pria itu membatalkan niatnya untuk pergi bekerja karena dirinya terlalu lelah dengan pekerjaannya itu?
Walaupun pekerjaannya sebagai CEO, pasti Daniel memiliki rasa lelah yang ia rasakan, karena otaknya harus bekerja menemukan banyak ide-ide cemerlang untuk berlangsungnya perusahaannya kedepan.
Bella memasuki rumah sedikit takut, takut bila pria itu akan marah padanya karena telah pergi terlalu lama, karena biasanya pria itu akan menunggunya dan sudah menyiapkan seribu penghinaan untuknya, namun begitu Bella sudah berada didalam ia tidak mendapatkan kehadiran pria tersebut?
Kemana perginya? Apa pria itu sakit? tapi melihat kondisinya tadi pagi, itu sangat tidak memungkin bila pria itu sakit.
Bella pun sejenak memilih untuk mendaratkan tubuhnya diatas sofa lalu menyandarkan kepalanya tersebut disofa.
Cukup lelah juga ia berkeliling kota, walaupun ia menaiki taksi. Tentu ia merasa lelah, jalanan kota sangat ramai hingga macet yang berkepanjangan, membuat otak Bella dibuat pusing olehnya.
Disaat ia tengah merenggangkan otot-ototnya, suara tawa seorang wanita yang terdengar begitu jelas ditelinga Bella, membuat ia kembali menegakkan tubuhnya itu dan mencoba mendengarkan dengan lebih jelas suara tawa tersebut dan lagi ia mendengar suara tawa tersebut.
Manik mata Bella kini menuju kearah dapur saat ia meyakini suara tawa tersebut berasal dari sana.
Suara tawa tersebut pada akhirnya membuat rasa penasaran Bella hadir begitu menggebu-gebu, ia sangat ingin melihatnya.
Dan saat ia behasil menuruti rasa penasarannya, pemandangan dihadapannya, pemandangan itu sungguh menyakitkan! menusuk jantung.
Bella terpaku melihatnya. Daniel sedang memeluk seorang wanita yang sedang memasak. Memeluknya dengan mesra.
"Aku rindu masakanmu sayang."
Mulut Bella sedikit ternganga saat melihat Daniel yang ternyata tengah bersama wanita lain, bahkan menggunakan kata Sayang untuknya.
Sayang? Aku ini istrimu, tapi kenapa justru dia yang kau panggil dengan sebutan Sayang! Marah Bella dalam diamnya.
Bella menggigit bibirnya sendiri saat rasa sakit dihatinya semkain terasa, bahkan ia memutuskan untuk menghindar dengan berjalan mundur, disaat ia tidak sanggup melihat dan takut terciduk oleh Daniel karena tengah menyaksikan dirinya bersama wanita lain.
'Prang' Nasib buruk justru kini menimpanya. Gelas diatas meja tak sengaja tersenggol sikut Bella. Bella terkejut, termasuk Daniel dan perempuan itu.
"Kau!" Bentak Daniel saat melihat keberadaan Bella dibelakang dirinya.
Terciduk sudah. Bella sudah terciduk telah melihat adegan Daniel memeluk perempuan itu dengan mesra.
Bella buru-buru mengambil serpihan gelas yang tebuat dari kaca dan memindahkan ketangannya untuk segera dibuang dan akan segera pergi dari adegan menyakitkan itu, tapi Daniel justru malah menahan kepalan tangan Bella yang memegang serpihan gelas, menahannya dengan kencang.
"Kalau sampai kejadian ini tembus ke telinga Papa, kau tidak akan selamat!" Desis Daniel pelan dengan tatapan menyalang.
Bella menahan sakit, serpihan gelas itu menancap ditelapak tangan Bella, tangannya bergetar. Bahkan ia mulai merasakan darahnya mulai mengalir.
"Pergi jalang!" Perintah Daniel dengan nada membentaknya.
Bella pun memutuskan untuk pergi tanpa berbicara, sebelumnya ia juga membuang serpihan gelas dan mencabut serpihan yang menancap ditangannya lalu membuangnya kedalam tempat sampah. Iya, Serpihan yang sudah terdapat bercak darah yang sangat banyak itu.
"Pergi jalang!" Kata-kata jahat itu kembali terputar, kata-kata yang lebih menyakitkan dari lukanya ini.
Bella terisak didalam kamarnya, tangis itu sudah sedari tadi ingin ia pecahkan tapi tidak bisa, ada Daniel didepannya. Ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Daniel, karena ia takut Daniel akan semakin senang melakukan hal yang menyakitkan dan akhirnya Bella harus pergi dari kehidupannya. Pasti itu yang ia inginkan, tapi Bella tidak akan melakukan hal itu, karena Bella sangat mencintai Suaminya.
Bella menatap jari telunjuk sebelah kiri miliknya yang terkikis Pisau "Aku fikir karena ini kau berubah." Bella menahan isaknya, "Karena luka kecil ini kau akan berubah."
Bella tersenyum pedih "Ternyata aku salah, aku yang terlalu mengharapkannya. Itu hanya refleks biasa Bella."
"Dan sekarang, ia melakukan ini." Pandangan Bella sudah beralih ketangan kanannya yang berlumuran darah, "Ini menjelaskan semuanya, kalau kejadian semalam hanya ketidaksengajaan ia menolongku."
Tapi ini semua hanya luka biasa yang mudah disembuhkan, tidak dengan perkataan Daniel begitu merobek-robek hatinya.
Jadi ini alasannya, ini alasan Daniel menyuruhnya beristirahat, alasan kenapa pria itu berubah hari ini. Karena ia bertemu dengan seorang wanita.
Jadi ini semua hanyalah alasan klasiknya yang tidak aku mengerti dan seharusnya aku tidak menyangkut pautkan masalah ini dengan kejadian semalam! Bodoh Bella, kau bodoh. Lagi-lagi kau terlalu terlelap dalam khayalan bodoh ini.
Dan manamungkin juga Daniel mencintaiku dengan secepat itu, aku terlalu percaya pada diriku sendiri, kalau ia sudah mencintaiku walaupun mungkin itu hanya setitik.
Baiklah tuhan, kenapa aku tidak dihidupkan nyata di khayalan bodoh ini saja? kenapa kau justru malah mengirimku di kehidupan kenyataannku! kehidupan nyata yang justru malah membuatku terasa tidak ingin hidup lagi!
Aku sungguh membenci ini semua. Tapi aku hanya manusia biasa yang harus bisa menerima takdir ini, aku terima tuhan. Tapi beri aku sedikit kebahagiaan, sedikit saja. Aku ingin merasakannya, dan merasakan itu semua bersama suamiku.