Mungkin Ini Takdir (18+)

1011 Words
"Kamu menginginkannya, aku bisa apa?" -Aresha Ravan Arabella *** Bella masih terlelap walaupun mentari sudah muncul kembali bersama sinarnya. Suara ketukan pintu dengan keras terdengar, diiringi dengan bentakan Daniel dari luar. "Bella!! Buka pintunya!" Bella yang mendengar suara Daniel, segera bangkit dan membukakan pintu kamarnya. "Telingamu itu masih berfungsikan? Atau sudah mulai rusak!" Bentaknya. Bella hanya menundukan kepalanya. Ia tau dengan kesalahannya, karena bangun terlalu siang. Tapi apa boleh buat dirinya sangat lelah, lelah dengan apa yang ditangisinya semalam. Bella mencari-mencari kotak P3K entah ia yang lupa atau Daniel yang telah memindahkan dari tempat asalnya. Semua tempat sudah Bella cari, kecuali kamar Daniel. Bella menelan Salivanya, ia berada dipuncak keraguan. Masuk kekamar Daniel atau diam membiarkan lukanya karena serpihan tersebut. Tok..tok..tok.. "Aku izin masuk ya." Bella masuk kedalam namun ia tak melihat sama sekali Daniel di atas ranjang tidurnya Bella dengan segera mencari ke seluruh lemari milik Daniel dan tunggu? Suara desahan seseorang juga terdengar dari kamar mandi Daniel. Bella yang penasarapun mulai menghampiri kamar mandi itu.. "Daniel.. sakit…" Bella membulatkan matanya. Apa yang sedang terjadi? Kenapa ia mendengar suara wanita didalam sana? "Baby..pelan-pelan.." Rintihnya terus menerus. "Iya sayang.. aku pelan-pelan.."Suara Daniel terdengar, membuat seisi dunia terasa membungkam untuk Bella. Bella melangkahkan kakiknya keluar dari kamar Daniel dengan membawa kotak P3K yang berhasil ia temui sebelum suara itu terdengar. Kali ini Dunianya seakan berhenti, detak jantungnya, tatapannya kosong. "Daniel ka-kau..." Bella bersandar dipintu kamarnya. Kakinya yang semula tegak menjadi lemas. "Kau.. melakukan perbuatan itu? Perbuatan yang tidak seharusnya kau lakukan bersama perempuan lain?" Cairan bening mulai menetes dipelupuk mata Bella. "Kenapa, kenapa! Kenapa kau sejahat itu..." Bella menangis. Meratapi kisah cintanya kenapa harus sememilukan ini? Kenapa Daniel begitu jahat kepada dirinya? "Kenapa dia! Kenapa bukan aku yang kau sentuh..." Isaknya, "Istrimu aku, bukan dia!" "Jalang!" Bella tersadar dari lamunannya. Saat kata menyakitkan itu keluar. "Maaf.. aku kesiangan." Daniel tertawa renyah "Cepat! Aku ingin mandi, hari kebebasanmu itu hanya kemarin dan tidak berkelanjutan!" Bella menubruk pelan bahu Daniel karena tubuhnya hampir menutupi seluruh jalan untuk keluar. "Jalang menyebalkan!" Umpat Daniel. *** Daniel sudah selesai mandi. Ia terlihat tampan dan berwibawa saat mengenakan kemeja berbalut Jas. Tapi dibalik itu semua tersimpan sifat yang menyakitkan. Kali ini Bella tak memasak untuk Daniel, bukan karena ia sudah tidak mau membuatkannya lagi. Tangan Bella sedang tidak berkompromi dengan keadaan. "Baguslah, kau sadar diri." Bella terbuyar dalam lamunannya. Daniel menatap kearah meja makan dan Bella dengan sinisnya. "Maaf tapi aku--" "Jangan membuang waktu hanya demi sesuatu yang sama sekali tidak bermanfaat untuk orang lain." Ucapnya. Kemudian berlalu meninggalkan Bella. Bella tak mengerti dengan apa yang ada difikiran Daniel dan tanpa sadar Bella meremas tangannya dengan kencang hingga membuat tangannya mengeluarkan darah kembali. Bella membenamkan wajahnya diatas meja. ---------------------- Gemerlap-gemerlip lampu dan musik membuat semua orang disini bergerak kesana kemari mengikuti irama. Tak lupa Wine menjadi minuman Favorite ditempat ini, dimana lagi kalau bukan clubbing. "Bro, sudah. Kau sudah menghabiskan 5 gelas." Lerainya. Memang benar pria yang berada dihadapannya sekarang telah meminum 5 gelas Wine. "Kenapa ia melakukan ini padaku Yud! Ia tega.. ia-ia.." "Daniel dengarkan aku. Kau tidak bisa mengeluarkan pernyataan sebelum kau tau kenyataannya!" Ya, Orang yang tengah mabuk ini adalah Daniel. Daniel masih sadar dengan ucapan Yuda, sahabat baiknya. Dan kali ini Daniel tidak bisa terima dengan ucapan Yuda. Prangg.. Segelas Wine Daniel lempar keatas lantai hingga hancur berkeping-keping. "Aku tidak membutuhkan saranmu b******k!!" Daniel pergi dari tempat biadab ini dalam keadaan mabuk. *** Bella memandang jam dinding. Seperti biasanya, Daniel belum pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 malam, pekerjaannya padahal hanya CEO, yang hanya bertugas menandatangani berkas, mengadakan meeting dan memikirkan ide-ide untuk berjalannya perusahaan. Terkadang Bella berfikir, apa sebegitu bencinya ia pada dirinya, sampai-sampai ia dengan sengaja pulang larut agar tidak melihat wajah Bella. Bella tetap menahan kantuknya, menunggu Daniel pulang. Karena Bella tak akan bisa bila tertidur dengan benar apabila belum melihat Daniel pulan, karna yang paling utama baginya adalah melihat kondisi Daniel dahulu, baru ia bisa terlelap. Tok..tok..tok.. "Bella..." Bella segera membukakan pintu. "Daniel.." Bella membantu Daniel dan merangkulnya sampai ke kamar milik Daniel. "Kau kenapa?" Gumam Bella saat melihat kondisi Daniel yang berantakan seperti ini. Daniel menatap tajam mata Bella. "Urusanmu apa!" Teriak Daniel Marah. Bella menelan salivanya, "Maaf.. aku hanya menanyakan saja." Bella tertunduk setelah merebahkan tubuh Daniel diatas Ranjang. Bodohnya kenapa ia bertanya sesuatu hal yang sudah ia ketahui. Dari mulutnya tercium dengan jelas bau alkohol, pasti pria ini kembali bermabuk lagi. Merasa sudah tidak dibutuhkan, Bella memutuskan untuk membalikan tubuhnya dan hendak pergi. Tapi, sepasang tangan justru melingkar dipinggang Bella dengan sangat erat, siapa lagi kalau bukan tangan milik Daniel. Daniel memutarkan tubuh Bella. Bella menegang saat bibirnya dengan bibir milik Daniel menyatu, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa ini benar-benar suaminya? Intinya perbuatan Daniel kali ini membuat Bella seketika mematung. Merasa tidak dibalas kecupannya, Daniel malah semakin memperdalamnya. Memperdalam seolah ia tidak pernah merasakan nikmat yang tidak ia rasakan dengan wanita lain. Tentu saja ia pun mendapatkan balasan lembut dari Bella. "A-aku...." Kini tubuh mungilnya sudah berada diatas ranjang, menatap manik mata suaminya yang penuh hasrat padanya. Sebuah jemari, Daniel tempelkan didepan bibir mungil Bella, "Aku menginginkannya sayang. Sangat menginginkannya.." Ucapnya dengan suara yang terdengar serak. Bella tau Daniel sedang mabuk, tapi apa pantas Bella menolak keinginan suaminya? Daniel mulai beraksi mencicipi setiap inchi tubuhnya, dan Bella hanya diam menikmati. Rasanya ia ingin sekali mengeluarkan suara lenguhan, tapi apa boleh buat, ia takut suaminya itu akan marah padanya. "Aku merindukan suaramu sayang.." Bella hanya mampu menggigit bibirnya sendiri. Ia menelan salivanya, mungkin ini sudah saatnya. Menyerahkan apa yang ia miliki untuk suaminya, menanamkan benih yang nantinya akan menjadi buah hati mereka. Buah hati yang telah lama Bella nanti-nantikan, dan Daniel akan segera mengabulkan itu semua. Bella merasakan sakit, kenikmatan. Saat seluruh kepemilikan Daniel terbenam dikepemilikan miliknya. Kini Bella sudah merasa menjadi wanita seutuhnya. Karena sudah menjalankan tugas yang seharusnya sudah lama dilakukan. Malam ini menjadi malam pertama yang indah untuk Bella dan mungkin juga untuk Daniel. Malam yang tak akan terlupakan dalam hidup Bella, malam saat dirinya melepaskan semuanya untuk Daniel. Laki-laki yang dicintai, Suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD