Mulai Gila Lagi

1669 Words
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Putri membawa piring serta gelas kotor tersebut ke wastafel. Mencucinya sejenak lalu masuk ke dalam kamar. Tak lama, ponselnya berdering. Putri meraih ponselnya yang tergeletak di kasur. Melihat siapa yang sedang menghubunginya. Sedikit malas, Putri menekan tombol hijau yang terdapat pada ponsel tersebut. “Iya Lin, kabari aja kalau kau sudah mau bersiap,” ucap Putri lalu mematikan sambungan telpon. Putri bersikap seperti itu bukan karena marah kepada Lina, bukan. Dia memang sedang tak bersemangat untuk ke kampus karena kejadian kemarin. Yah, dia masih merasa kesal dengan Nando. Apa itu juga termasuk marah? Entahlah, Putri hanya merasa kejujuran Nando membuat rasa pesimisnya semakin tumbuh subur. “Aku memang bukan cewek cantik. Tapi, bukan berarti dia menganggapku semenyeramkan dan seaneh itu,” pikir Putri. “Apa karena itu dia terus menatapku dulu? Bukan karena terpesona olehku? Tapi karena keanehanku?” Putri melihat potret dirinya di depan cermin. Seorang gadis berwajah manis tapi terlihat lesu yang mengenakan kemeja putih bermotif bunga. Dengan gontai Putri menuju lemari pakaiannya lalu membukanya. Dia menatap tumpukan baju yang didominasi oleh warna putih. Di sebelahnya, beberapa kemeja yang digantung menggunakan hanger juga didominasi oleh warna putih. Hanya beberapa helai kain yang tidak berwarna putih, itu pun hanya warna-warna yang tak begitu terang, warna kalem seperti peach. Puas melihat isi lemari, Putri menuju kasur berseprei putih dengan motif panda lalu membaringkan tubuhnya. Lalu dia menoleh pada meja belajarnya. Di tempat tersebut terlihat sebuah netbook keluaran terbaru bertengger tepat di dekat sekumpulan alat tulis milik Putri. Tentu saja, benda tersebut berwarna putih. “Tadi pagi mamak ke pasar beli bahan-bahan kue. Kebetulan mamak ngelewatin toko barang elektronik dan mamak ingat kalau anak mamak pasti butuh laptop. Jadi yah, mamak beli deh,” jelas Siti. “Kau suka warna putih kan, Sayang? Ini,” ujar Siti lalu menyerahkan sebuah netbook lengkap dengan tasnya tepat setelah Putri memasuki rumah setelah pulang dari kampus. Putri mencoba tersenyum saat menerima benda tersebut. Lalu meminta ijin untuk istirahat sejenak karena hatinya sedang sangat panas. Meski hari ini hatinya tak sepanas kemarin tapi tetap saja rasa kesal itu masih ada. Menutup mata sejenak. Putri mencoba menenangkan perasaaanya. Dia sadar, dia tak seharusnya marah. Terlebih Nando juga sudah mencoba untuk meminta maaf dengan tulus tepat setelah Putri berlari meninggalkan kelas. Lelaki itu bahkan mengirim pesan singkat yang cukup panjang. Ingatan Putri terlempar pada kejadian kemarin. Begitu dia meninggalkan kelas, ada Lina yang menahan tangannya begitu Putri akan menuruni tangga. Maaf, itu adalah kata pertama yang Lina ucapkan. Sembari tersenyum, Putri menyatakan bahwa semua itu bukan salahnya. Lina pun meminta Putri untuk kembali ke kelas karena masih ada satu mata kuliah yang harus mereka jalani. Putri menggeleng. “Aku mau pulang aja, Lin,” ucapnya. “Oh iya, kita kan bareng ke kampusnya. Aku tunggu kau aja deh, kabari aja kalau sudah mau pulang,” sambung Putri sembari mencoba tersenyum. Seolah tahu bagaimana perasaan Putri saat itu. Lina memutuskan untuk pulang saja, dia tak ingin Putri mengendarai motor di saat marah. Sebenarnya Lina bisa saja pulang dengan orang lain jika dia memang ingin mengikuti perkuliahan. Tapi, baginya, ada yang lebih penting dari mata kuliah yang lima belas menit lagi akan dimulai. Lina kembali memasuki kelas untuk mengambil tasnya yang masih berada di dalam kelas. Begitu dia keluar, ada Nando yang turut bersamanya. Membuat Putri seketika memalingkan wajah. Lalu berlari menuruni tangga, diikuti oleh Lina. Samar, Putri mendengar Nando berteriak menyatakan maafnya. Bahkan begitu malam tiba, Nando mencoba menelpon Putri tapi dia tak mengangkatnya. Lalu sebuah pesan, masuk beberapa menit kemudian. Sebuah pesan yang cukup panjang. *** Nando memasuki kelas dengan pundak yang terlihat turun. Dia kembali duduk bersama kedua temannya. Lau mereka kembali menghibur Nando. “Nanti malam aja kau telpon dia, Do,” usul Supri. “Orang kalau masih marah terus dirayu bakal tambah marah. Tunggu aja emosinya sedikit reda baru kau hubungi.” Adi yang sejak tadi menepuk pundak Nando juga turut membenarkan perkataan Supri. Tak lupa, dia memberi semangat kepada Nando. Tak lama, satu per satu teman mereka datang. Lalu disusul dosen yang akan mengajar. Selama perkuliahan, Nando tak begitu konsentrasi. Dia lebih banyak melamun dan melihat ke arah jendela. Supri dan Adi hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Nando. Saat perkuliahan selesai, tanpa basa-basi kepada kedua temannya, Nando langsung pulang. Begitu sampai di rumah, Nando menghubungi Lina. Dia bertanya bagaimana kadaan Putri. Tak lupa pula dia bertanya bagaimana cara agar dia bisa dimaafkan. Tak disangka, Lina juga meminta maaf karena Lina lah yang mulai mempertanyakan perasaan Nando terhadap Putri. “Putri ndak bakal lama kok marahnya. Percaya deh.” Kalimat dari Lina tersebut membuat Nando sedikit bernapas lega. Yah, setidaknya dia mempunyai celah untuk dekat kembali dengan Putri. “Tapi, kau tetap harus minta maaf ke dia,” ucap Lina. “Tadi aku juga sudah minta maaf ke dia. Tapi dia malah bilang kalau bukan salahku, bukan juga salahmu. Itu murni karena memang dia kenyataannya memiliki penampilan yang aneh,” jelas Lina. Seperi tertampar. Nando tak tau lagi harus bagaimana. Seharusnya dia marah saja pada Nando, tak perlu merasa rendah diri seperti itu. Toh, Putri bukan gadis berpenampilan aneh. Dia gadis sederhana yang sangat memikat dengan pembawaannya yang kalem. “Kalau mau hubungi Putri, malam aja. Biasanya dia bantu mamaknya buat brownies kalau jam segini.” Berbekal info tersebut, pada malam hari Nando baru lah Nando menghubungi Putri. Panggilan pertama, tak diangkat. Mungkin dia ndak dengar, pikir Nando. Berselang setengah jam kemudian, Nando kembali menghubungi Putri tapi masih tidak diangkat. Dia pun memutuskan mengirim pesan singkat saja. Lalu Nando mulai memikirkan kalimat apa yang harus dia tulis agar bisa dimaafkan. Putri, aku minta maaf. Aku bener-bener ndak bermaksud buat kau marah. Suer. Tadi itu, aku keceplosan. “Eh, keceplosan? Sama aja aku bilang kalau dia memang begitu ya?” pikir Nando. Lalu dia menghapus pesan tersebut. “Apa yang musti aku bilang ke dia ya?” Nando melepaskan guling yang ada di pangkuannya. Menyisihkannya ke kiri lalu berbaring. Menatap langit-langit kamarnya, Nando berharap bisa menemukan kalimat yang tepat. Dia kembali menatap ponselnya kemudian mulai menuliskan beberapa kalimat lagi. Putri, aku minta maaf. Sumpah, aku ndak bermaksud buat kau marah. Aku cuma... “Cuma apa ya?” pikir Nando lalu kembali menatap langit-langit kamar. “Cuma mau bilang sayang? Hehe. Bisa dijauhi aku kalau langsung ngomong gitu ke dia.” Tiba-tiba ponsel Nando berdering, membuatnya terlonjak. “Putri nelpon aku?” gumam Nando. “Astagaa, aku musti bilang apa nih? Tenang Do, tenang,” ucapnya lalu melihat ponsel di tangannya. Ternyata bukan Putri tapi Ipung yang sedang mnghubunginya. “Kenapa, Pung?” “Bagaimana kuliahmu? Asyik kah?” “Biasa aja sih, kenapa emang? Kau ndak betah pelajari ikan-ikan di tambak?” tanya Nando dengan nada malas. “Sudah ya, aku ngantuk.” “Hahaha,” Ipung tertawa. “Aku masuk Fakultas Perikanan karena memang mau pelajari ikan. Jangan memang kau tanya-tanya aku kalau tambakmu gagal panen. Awas aja!” Nando berbaring dengan posisi tengkurap. “Inilah yang ndak bagus. Ndak bakal sukses orang yang niatnya sudah jelek kayak kau, Pung. Sudah ya, aku bener-bener sibuk ni.” “Iya iya, kapan-kapan aku kesana ya? Kangen aku sama kau bah.” “Alah, bilang aja kau mau numpang makan,” ucap Nando. “Makanya pulang ke ruamhmu, jangan ngekost. Bapakmu kangen tuh. Hahaha.” “Asem kau,” ucap Ipung lalu mematikan sambungan teleponnya. Nando tertawa. Tak lama, wajahnya kembali terlihat gusar. Dia menatap ponselnya lagi. “Aku bilang apa ya ke dia?” Lalu sebuah ide terbesit di pikiran Nando. Ide yang muncul karena Ipung baru saja menelponnya. Dia pun mulai mengetik pesan untuk Putri sembari tersenyum bahagia. “Bismillah, semoga Putri ndak marah lagi, aamiin.” Putri, aku minta maaf. Aku bener-bener ndak bermaksud buat kau marah. Tadi itu aku bercanda. Aku ndak sungguh-sungguh pas bilang kau kayak kunti. Sejujurnya, kau itu mirip sama sepupuku. Makanya aku liatin kau pas pertama kali ketemu. Ingat kan, pas ujian juga aku sebenarnya mau negur kau tapi malu. Untungnya kita sekelas. Tapi, setelah aku tanya ke mamaku, aku ndak punya sepupu yang namanya Yasmin. Mamaku juga sudah liat kau langsung kan? Kita memang bukan sepupu ternyata. Hehe. Sekali lagi, aku minta maaf.” *** Putri dan Lina tiba di kampus lima menit sebelum kuliah dimulai. Membuat Nando tak punya banyak waktu untuk meminta maaf secara langsung. Nando hanya bisa mencoba tersenyum saat melihat Putri datang. Tapi Putri malah memalingkan wajah. Selama kuliah berlangsung, Nando terus memandang Putri. Yah, meski tak begitu kentara karena posisi duduk Putri berada di depan Nando dan kursi mereka sejajar. Hingga kuliah berakhir, Nando bergegas berdiri. Tapi beberapa orang senior terlihat masuk ke dalam ruangan. Setelah para senior tersebut memperkenalkan diri, mereka menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang. Yaitu ingin menyampaikan sebuah agenda jurusan yang disebut Bina Akrab. Bina akrab itu sendiri merupakan program jurusan masing-masing tapi karena Nando dan kawan-kawan adalah angkatan pertama di jurusan Bimbingan Konseling, otomatis mereka tak punya senior di jurusannya. Sehingga, senior dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar atau disingkat PGSD berinisiatif menggabungkan Bina Akrab jurusannya dengan Bina Akrab Bimbingan Konseling. Tujuan utamanya agar kelak, Nando dan kawan-kawan punya bekal untuk melakukan kegiatan yang sama di tahun berikutnya. Para senior tersebut menyatakan bahwa tadi pagi sudah mendapat persetujuan pula dari lokal A di jurusan BK. Siang ini, mereka ingin meminta persetujuan dari lokal B yaitu Nando dan teman sekelasnya. Sebagai junior, Nando dan teman sekelasnya tentu setuju dan meminta bimbingan dari para senior tersebut. Setelah mendapat persetujuan dari Nando dan mahasiswa baru lainnya, para senior membacakan nama-nama yang tergabung dalam kelompok yang dibagi enam kelompok. Dimana tiap kelompok terdiri dari sepuluh orang. Betapa bahagianya Nando karena dia dan Putri berada dalam kelompok yang sama. “Bener-bener ya? Jodoh memang tak akan bisa kemana-mana,” ucap Nando dalam hati sembari tersenyum melihat ke arah Putri. Sedetik kemudian, Putri berbalik. Lalu dahinya berkerut melihat senyum Nando yang terlihat sangat lebar. “Kayaknya tuh anak mulai lagi gilanya deh. Heran,” gumamnya pelan. “Apa dia sebahagia itu karena sekelompok sama aku? Atau?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD