“Kayaknya tuh anak mulai lagi gilanya deh. Heran,” gumam Putri pelan. “Apa dia sebahagia itu karena sekelompok sama aku? Atau memang dia suka senyum selebar itu kali ya?” Putri menggelengkan kepalanya perlahan.
Tanpa sadar Putri juga tersenyum melihat Nando. Tapi ketika Nando melambaikan tangan ke arahnya, Putri langsung berpaling ke arah lain.
Lalu senior dari PGSD yang mengaku bernama Bungsu meminta mereka untuk tenang sejenak. Karena dia akan membacakan perlengkapan yang harus dibawa setiap kelompok. Mereka diminta membawa terpal dua lembar untuk membuat tenda. Tak lupa pula baju ganti dan peralatan mandi karena kegiatan mereka akan dilaksanakan di pantai dari Sabtu pagi hingga Minggu sore.
Mereka juga diberi pilihan konsumsi. Ingin masak sendiri atau menyerahkan kepada panitia pelaksana. Jika mereka ingin masak sendiri, diwajibkan bawa kompor dan peralatan masak lainnya. Tapi jika ingin disiapkan oleh panitia, mereka diwajibkan mengumpulkan uang untuk biaya makan sebanyak lima kali. Tidak dalam jumlah yang besar, mereka cukup mengumpulkan uang sebesar tujuh puluh ribu per orang, dimana uang tersebut akan digunakan untuk sarapan dua kali, makan siang dua kali serta makan malam sekali.
“Jadi kalian mau masak sendiri atau ngumpul uang aja?” tanya lelaki dengan tinggi seratus lima puluh sentimeter tersebut. “Kalau mau ngumpul uang, kumpul ke ketua kelas kalian. Nanti ketua kalian yang kasih ke panitia,” tambahnya.
Serentak mereka memilih mengumpulkan uang saja daripada harus repot masak di lokasi kegiatan. Terlebih harus membawa peralatan masak yang tentu saja sangat banyak dan merepotkan. Mereka juga ditawarkan baju untuk kegiatan seharga tujuh puluh lima ribu.
“Untuk baju, kalian diskusikan dulu. Tapi paling lambat akhir minggu ini sudah kasih kabar ya? Karena bajunya mau disablon dulu,” ujar Bungsu seraya mengedarkan pandangan kepada semua mahasiswa di kelas. “Jadi, nanti baju kalian ada tulisannya Jurusan Bimbingan Konseling dan logo jurusan juga. Untuk desainnya, nanti bisa minta sama Kak Puji. Kakak cantik di sebelah saya ini,” tambahnya lagi sembari tersenyum jahil pada perempuan berjilbab biru di sampingnya.
Perempuan yang bernama Puji tersebut hanya tersenyum menanggapi pujian tersebut.
“Ji, tolong tuliskan nomer hapeku di papan tulis!”
Perempuan tersebut mengangguk lalu berjalan meuju papan tulis. Meraih spidol berwarna hitam yang terselip di bagian bawah papan tulis tersebut. Lalu menuliskan dua belas angka di benda yang berwarna putih tersebut.
“Oke, masih ada pertanyaan?”
Bungsu melihat satu per satu mahasiswa baru di hadapannya.
“Ndak ada, Bang,” jawab mereka serentak.
“Ndak ada yang mau tanya abang sudah punya pacar atau ndak kah? Sudah makan atau belum? Tanya apa gitu,” ucapnya lalu tertawa pelan.
Semua orang yang berada di dalam kelas tertawa. Tak terkecuali dua orang senior yang turut bersama Bungsu
“Oke, kalau begitu sampai ketemu lagi,” ucapnya lagi lalu berjalan keluar, diikuti oleh kedua temannya.
Begitu ketiga senior tersebut keluar, Nando dengan begitu semangat berdiri. Lalu berjalan ke dekat papan tulis. Dengan senyum yang merekah, dia bertanya siapa yang ingin memiliki baju untuk kegiatan Bina Akrab nanti. sebagian besar setuju.
“Aku mau, Do.”
“Aku juga.”
“Iya, keren kayaknya kalau kita pake baju yang sama pas kegiatan.”
Tapi ada juga yang masih ingin bertanya kepada orangtuanya terlebih dahulu. Sehingga diputuskan besok saja keputusan akhirnya. Lalu mereka mulai membahas ketua kelompok masing-masing. Tapi karena setiap kelompok tergabung dengan lokal A, mereka belum bisa memilih ketua kelompok.
Sebagai ketua kelas, Nando berinisiatif untuk mengumpulkan lokal A dan lokal B agar bisa sesegera mungkin memilih ketua kelompok masing-masing. Sehingga lebih cepat juga untuk pembagian tugas di setiap kelompoknya karena sekitar sepuluh hari lagi, Bina Akrab tersebut akan dilaksanakan.
Tak membuang waktu, Nando mendatangi lokal A begitu diskusi dengan teman sekelasnya berakhir. Tapi ternyata, lokal A sedang menjalani perkuliahan. Nando kemudian menuju papan pengumuman untuk mengecek jadwal kuliah mereka, mencari waktu yang tepat agar lokal A dan lokal B bisa bertemu utnuk berdiskusi.
Nando memutuskan menunggu lokal A selesai kuliah. Dia ingin bertemu dengan ketua kelas dari lokal tersebut. Dia ingin menawarkan untuk bertemu besok siang tepat pukul dua belas siang karena di waktu tersebut adalah waktu senggang kedua lokal tersebut.
Nando melirik jam yang berada di kiri tangannya, tepat pukul dua siang. Mata kuliah lokal A akan berakhir satu jam lagi dan mata kuliah lokal B akan dimulai satu setengah jam lagi. Yah semoga waktu setengah jam akan cukup untuk berdiskusi dengan ketua kelas lokal A.
Nando kembali ke kelasnya sembari menunggu lokal A menyelesaikan kuliah. Begitu masuk ke dalam kelas, beberapa teman bertanya mengenai pertemuannya dengan lokal A. Nando pun menjelaskan kepada mereka.
Lalu dia mendatangi Supri dan Adi yang sedang berbincang-bincang dengan Lina. Tapi Putri tak terlihat diantara mereka.
“Putri mana?” tanya Nando lalu duduk di kursi yang terletak di sebelah kiri Supri. “Dia pulang?”
Lina tersenyum. “Kenapa? Mau minta maaf? Hehe.”
Nando menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe iya sih, semoga aja dimaafkan.”
Supri merangkul Nando. “Alah, tadi bilang Putri kau sudah dimaafkan. Sok lagi mau minta maaf.”
Nando mengulum senyum. “Apa artinya semalam aku dimaafkan ya? Tapi dia ndak balas smsku. Aah, biar ndak dibalas asal dimaafkan. Hehe,” pikir Nando dengan senyum malu-malu.
Lina, Supri dan Adi tersenyum geli melihat Nando. Tak lama, Putri datang lalu duduk di samping Lina.
“Sudah, Put?” tanya Lina.
Putri yang baru selesai berbicara dengan ibunya melalui sambungan telepon, mengangguk pelan. “Temani aku beli minum yu?! Haus bah.”
Nando tiba-tiba berdiri. “Aku aja. Anggap aja permintaan maafku. Oke?!” Dia langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Putri.
Kompak, mereka berempat menggelengkan kepala.
“Pas SMA, dia begitu kah memang, Di?” tanya Supri kepada Adi,
Adi mencoba mengingat kebersamaannya dengan Nando saat masih kelas satu sekolah menegah atas. Meski tak begitu akrab saat sekolah tapi menurut Adi, Nando sosok teman yang baik. Tapi dia sangat cuek dengan perempuan. Terlebih jika Nando mengetahui jika perempuan tersebut menyukainya, dia akan sangat tegas menolak.
“Bahkan ya, pas perpisahan itu, banyak yang mau ngasih dia kado tapi ndak ada satu pun dia ambil,” ungkap Adi.