Bab 2 Putus
"Jadi bener yang di berita itu? Terus bagaimana dengan David? Dia udah tahu? Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?"
Sesilia mulai terisak, ia bahkan tak mampu menjawab pertanyaan ibunya.
"Sil, jawab ibu, jangan cuma diam."
"Bu, maafin aku, itu semua terjadi gitu aja, aku bahkan gak sadar kalau ada cowok lain di kamarku."
"Lah, masa sih di hotel orang bisa masuk sembarangan, kan terkunci otomatis dari dalam?"
"Nah itu yang aku gak tahu, Bu, sumpah demi Allah, Bu. Aku gak tahu?" tangisnya semakin menjadi.
"Kalau Bapakmu tahu, dia bisa ngamuk."
Mendengar ucapan ibunya, perasaan gadis itu bagai terberai, terbang berhamburan bak debu dihembus angin, jantungnya sakit seakan dihunjam sejuta tombak, ia tak sanggup bernapas, tatapannya memudar, perlahan makin gelap dan hitam, akhirnya jatuh terkulai di kursi.
Ivan, manajernya mengira ia hanya tertidur, sehingga tak menghiraukannya, pemuda itu terus saja menelepon.
"Oke, aku udah nemu apartemen. Sekarang kita ke ...." Ia pun menahan ucapannya saat melihat di spion artisnya tengah terbaring di kursi.
Sesampainya di apartemen yang dituju, ia membangunkannya.
"Sil, Sesilia, woy bangun! Kita udah sampai."
Gadis itu tetap tak bergerak, ia pun turun, menurunkan koper, lalu membuka pintu mobil, kembali membangunkannya.
"Hey, bangun! Ayo bangun!"
Sesilia bergerak, perasaannya yang terberai sudah mulai berkumpul kembali, ia mengerjapkan mata, mencoba mencerna apa yang telah terjadi padanya, dia seolah baru datang dari dunia lain, ia sedikit linglung.
"Aah, aku di mana?"
"Kita udah sampai, ayo turun!"
Gadis itu bergerak meski masih agak linglung, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Melihat panggilan ibunya masih on, dia segera tersadar akan apa yang terjadi.
"Oh, ibu, halo."
"Kamu kenapa sih, kok dari tadi diam aja, siapa laki-laki di situ, hahh?"
"Ooh, itu Kak Ivan, Bu. Udah ya Bu, aku mau turun dulu, udah sampai di rumah."
Mereka kini telah berada di apartemen, Ivan segera pamit untuk pergi.
"Kamu di sini dulu, jangan kemana-mana, aku mau ke kantor, kita lihat bagaimana reaksi orang kantor dengan insiden ini."
"Baik, Kak. Makasih ya, maaf udah ngerepotin."
Sepeninggal Ivan, Sesilia kembali bersedih, kata-kata ibunya kembali terngiang.
"Bagaimana kalau Kak David beneran marah, terus mutusin aku? Bagaimana dengan rencana pernikahanku? Aku harus ngomong apa sama Bapak?"
Air matanya mengalir menganak sungai, tubuhnya makin lemah karena kurang istirahat dan banyak menangis, matanya sampai bengkak dan memerah.
Ponselnya kembali berdering, dengan tangan gemetar ia mengambil dan melihat siapa yang menelpon.
"Halo, Kak Ivan, ada apa?"
"Ada panggilan dari showroom mobil, STNK mobilmu sudah bisa diambil, kamu ke sana dulu, naik taksi online aja, pakai masker, jangan sampai ketahuan wartawan, soalnya aku belum sampe kantor nih, kamu bisa kan? Oh iya, bawa juga buku bukti pembelian dan kepemilikan, KTP juga."
"Tapi Kak, aku ...."
"Udah deh, beraniin diri sekali-kali, jangan ngandelin ditemani mulu, pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus pergi!"
Seketika seluruh tubuhnya panas dingin, gemetar dan berdebar jantungnya, napasnya pun terasa agak sesak.
Berulang kali gadis itu berusaha mengatur napas dan merilekskan perasaan, tetapi setelah sekian lama, ia tetap tak mampu menghilangkan rasa takutnya.
Mau tak mau, ia tetap beranjak berganti pakaian dan melakukan semua saran manajernya.
Sesampai di showroom, hari sudah siang, tepat waktu istirahat, suasana tampak sepi, hanya satpam yang berjaga. Gadis itu nampak kikuk dan galau, terlihat dari caranya menarik napas dan menghela napas, ia kebingungan tak tahu harus ke mana.
"Selamat siang, ada yg bisa dibantu?" Seorang pria datang dari belakangnya.
Sesilia segera menoleh mendengar teguran itu.
Ia semakin terlihat gugup.
"E-e, a-aku ... aku mau ambil STNK."
"Boleh lihat bukti pembeliannya?"
"Ini."
Pria itu lantas menatapnya lekat saat mengetahui nama pemilik mobil di depannya.
"Kamu ... Sesilia?"
Sontak gadis itu menaruh telunjuk di bibirnya yang tertutup masker.
Pria itu tersenyum ramah.
"Oke, aku paham. Bagaimana kalau kita ke ruanganku aja?"
Sesilia terlihat ragu. Pemuda itu kembali tersenyum.
"Bukannya kamu takut ketahuan sama orang-orang? Di kantorku jauh lebih aman, bagaimana?"
Sesilia pun menurut, ia mengikuti pria itu hingga ke lantai tiga, di mana kantornya berada.
"Silakan duduk!"
Sesilia duduk dengan canggung di sofa, pandangannya diedarkan ke sekeliling ruangan tersebut. Sungguh ruangan yang indah, begitu luas, dengan gambar mobil sport keluaran terbaru terpajang di dindingnya.
"Mana KTP dan BPKB?"
"Ini."
Pria itu mengambilnya, lalu berjalan ke meja kerjanya, menekan tombol telepon dan meminta seseorang datang ke ruangannya. Setelahnya, ia kembali ke sofa.
"Udah, kaca mata sama maskernya buka aja, gak akan ada yang melihat kamu di sini."
Sesilia tertegun sesaat menatap pria di sampingnya dengan cermat.
Pria itu kembali tersenyum, lalu duduk agak jauh dari Sesilia.
"Udah tenang aja, aku bisa menyimpan rahasia kok, aku ini salah satu pengagum kamu loh."
Sesilia semakin gugup, ia sontak berdiri. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Udah tenang, aku bukan pengagum yang aneh, aku bahkan siap melindungi kamu. Tenang ya."
Sesilia menarik napas panjang, dan menghembuskannya dengan kuat.
"Udah, santai aja, ya."
Sesilia kembali duduk, tapi ia masih terlihat belum rileks.
"Oh ya, kenalkan, aku Azka. Aku yang punya toko ini." Pria itu mengulurkan tangan.
Sesilia dengan sedikit gemetar menyambut uluran tangannya, mereka saling berjabat.
"Tangan kamu dingin banget?" Azka terlihat khawatir.
Sesilia tidak menjawab langsung menarik tangannya. "Gak pa-pa."
"Maaf kalau aku udah menakuti kamu, tapi beneran loh, aku bukan orang jahat, tenang aja, okey?"
Sesilia hanya mengangguk pelan, tetapi tangannya saling meremas, terlihat tangannya basah karena keringat dingin terus membasahi. Suara tarikan napasnya yang berat sesekali terdengar jelas. Ia segera mengeluarkan tissu, mengelap tangannya yang basah.
"Kamu okey, kan?" Azka mendekat mencoba memeriksanya, tetapi gadis itu buru-buru menghindar.
"A-aku okey, gak pa-pa, beneran."
"Ya udah, maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi ... kalau boleh tahu, ada apa dengan insiden semalam, itu beneran kamu?"
Sesilia terdiam, air matanya kembali berkaca-kaca. Dadanya kembang kempis menahan sesak yang menghimpit. Ia pun terpaksa melepas kacamata dan menyeka air mata.
"Hey, kamu jangan sedih begitu dong, ayo rileks, mungkin kamu bisa bicara dan mengeluarkan uneg-uneg, biar lebih tenang."
Ia menggeleng pelan. "Aku juga gak tahu." Air matanya kembali menetes.
"Kamu punya musuh?"
Lagi-lagi gadis itu menggeleng. "Gak tahu juga." Ia mulai terisak. Sesak dadanya bagai tertimpa batu sebesar gunung, rasanya tak kuat menanggungnya, bahunya sampai terguncang.
Azka mendekat perlahan, tangannya terulur hendak menepuk bahu gadis itu, tetapi ia berusaha menahan diri. Namun, melihat gadis itu terus terisak sembari menutup wajahnya, ia sangat iba. Mulai menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan sangat pelan.
"Yang sabar, ya. Semua pasti ada hikmahnya. Semoga aja masalahnya cepat diselesaikan pihak agency kamu.
Ponsel Sesilia berdering, dengan terpaksa ia menghentikan tangisnya. Menyeka hidung dan matanya dengan tissue.
Melihat nama David tertera, tangannya seketika gemetar, ponsel sampai terjatuh di lantai. Napasnya semakin memburu, sampai benar-benar sesak napas.
"Hei, kamu kenapa? Rileks okey." Azka sedikit panik melihatnya. Ia terus mengelus-elus punggung gadis itu.
"A-aku ta ... ta-kut, Kak." suara Sesilia tersengal.
Azka segera mengambil ponsel dan mengangkatnya, menyalakan speaker lalu mendekatkannya ke depan Sesilia.
Mata Gadis itu membola menatap Azka, tetapi pria tampan itu hanya menggeleng, menaruh tangan di mulutnya tanda ia akan diam.
"Halo, Sil. Kamu gila ya, siapa pria di hotel semalam, kamu beneran selingkuh?"
Sesilia tak menjawab, napasnya semakin tersengal, aura ketakutan tampak jelas di wajahnya, tangannya saling meremas semakin kuat, keringat dingin membanjiri wajahnya.
"Sesilia, jangan diam aja, jawab!" bentakan David dari seberang telepon terdengar bagai petir di telinga gadis itu, sehingga membuatnya terperanjat sampai terlonjak dari duduknya.
"A-aku, Kak ... itu, ...."
"Cukup! Mulai sekarang hubungan kita berakhir, kita putus, gak ada lagi pernikahan." Panggilan dimatikan oleh David, Sesilia langsung menjerit tertahan, menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan tak peduli lagi dengan pria asing di sampingnya.