Azka mendekat, mengelus punggung wanita di sampingnya.
"Kenapa harus jadi begini? Bagaimana nasibku, Kak?" Sesilia mulai mencurahkan isi hatinya.
"Kamu tenang ya, jangan sedih. Aku tahu ini menyakitkan, tapi kamu juga gak boleh sampai seperti ini, nanti kamu sakit." Azka mencoba menenangkannya.
Sesilia menggeleng pelan. "Tapi Kak, gimana bisa aku ngadepin Bapak, aku takut banget, Kak." Isak tangisnya terus terdengar menyayat hati.
"Bagaimana dengan rencana pernikahan aku? Padahal sebagian undangan sudah dicetak, semua keluarga udah tahu, keluargaku pasti bakal malu banget, ditambah kasus ini, nama baik Bapak pasti hancur, anaknya tukang selingkuh, padahal nggak."
Azka meraih bahu Sesilia ke dalam pelukan. "Udah ya, udah. Dari pada kamu nangis terus, mending cari solusi, itu yang terbaik. Nangis doang gak menyelesaikan masalah."
"Terus gimana caranya aku menyelesaikan masalah pernikahanku, bagaimana kalau Bapak nyuruh aku minta tanggung jawab cowok itu, aku kan gak tahu dia siapa?"
"Aku bisa jadi penggantinya."
Sesilia terhenyak, menatap pria tampan di sampingnya. Ia tak dapat berkata apa-apa. Otaknya seketika blank.
Seseorang mengetuk pintu, Sesilia kaget dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Itu pegawaiku, tenang aja." Azka segera meraih dokumen Sesilia di atas meja, lalu ke pintu, menyerahkannya tanpa membiarkan pegawai itu mengintip ke dalam.
Sesilia bernapas lega, ia sudah tak menangis lagi, hanya saja ia masih sesenggukan, dan matanya juga sembab.
Azka datang membawa tissu, mencoba menyeka wajah Sesilia.
Gadis itu mengelakkan kepala, merebut tissu di tangannya, lalu menyeka sendiri wajahnya.
"Makasih ya, Kak. Udah mau denger uneg-uneg aku."
Azka tersenyum. "Gak pa-pa kok, santai aja. Aku bisa mengerti kamu karena ... aku juga pernah ngerasain bagaimana sakitnya dikhianati."
Mendengar omongan Azka, Sesilia sontak menoleh menatapnya.
Kak Azka juga diputuskan pacar?"
"Lebih tepatnya diselingkuhi, jadi aku mutusin dia."
"Bukan karena salah paham begini kan? Mana tahu Kak Azka juga salah paham kayak yang aku alami, aku gak selingkuh, cuma dituduh aja."
Azka menggeleng, wajahnya terlihat agak muram.
"Dia selingkuh, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, masuk ke hotel sambil bergandengan tangan, mereka memesan satu kamar bersama."
"Tapi kan, belum-"
"Aku mengikuti mereka, sebelum masuk kamar, mereka bahkan ciuman dulu, lalu digendong masuk. Menurut kamu, apa itu?"
Mata Sesilia membulat, tetapi menyipit karena bengkak, mulutnya menganga tak percaya.
"Bisa-bisanya tidur bareng padahal belum nikah?"
Azka hanya tersenyum kecut, mengangkat bahu.
Ponsel Sesilia lagi-lagi berdering. Ia pun meraihnya, dan kembali shok, nama bapaknya tertera di layar. Tangannya gemetar, panas dingin kembali menguasainya.
Azka segera merebut dan menjawabnya, sama seperti sebelumnya, menyalakan speaker dan mendekatkan ke mulut Sesilia.
"Sil, kamu sudah gila? Mau disimpan dimana muka kami, hah?"
"Bapak, aku minta maaf." lirih suaranya hampir tak terdengar.
"Apa kau bilang? Maaf? Apa maafmu bisa menyelamatkan muka kami, bagaimana pernikahannya, siapa yang bisa menggantikan David, hahh? Apa laki-laki itu mau tanggung jawab?"
Sesilia menatap Azka dengan mata berkaca-kaca, perlahan menggeleng sedih, air matanya pun jatuh ke pipi.
Azka menenangkan Sesilia dengan mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk kecil bahunya. Dengan inisiatif sendiri, pria itu mendekatkan ponsel ke dirinya.
"Halo, Om. Aku temennya Sesilia, kalau Om bersedia, biar aku yang jadi pengganti David, bagaimana Om?"
Bagaimana tersengat listrik, Sesilia menatap Azka, tak ada suara, tetapi ekspresi wajahnya jelas tak setuju dengan ucapan pria itu.
"Sesil, apa kamu dengar? Siapa laki-laki itu, apa kerjaannya, hah? Apa kamu setuju dia jadi pengganti David?"
"Ya, aku dengar kok. Tapi aku ... aku belum yakin. Maafkan aku, ya Pak."
"Jangan mikir lama-lama, pokoknya malam ini Bapak sudah dengar jawaban yang bagus, bagi Bapak sekarang, siapa pun gak jadi masalah."
Telepon dimatikan dari seberang, Sesilia kembali lemas, tapi tidak sampai pingsan. Ia hanya merebahkan diri di sandaran sofa, pasrah pada nasib. Air matanya kembali menetes.
Azka meraih tangannya, menggenggam dengan lembut, sembari menatap mata gadis itu dalam-dalam.
"Aku tahu kamu ragu dengan ucapanku, tapi aku janji, aku sungguh-sungguh. Kamu jangan khawatir, aku gak akan memaksakan kamu untuk mencintai aku kok, kita bisa menjalaninya dulu, kalau memang nanti dalam setahun kita tetap tak bisa menyatukan perasaan, kita bisa bercerai. Asal masalah kamu beres dulu, dan orang tua kamu gak kehilangan muka, itu yang penting saat ini, okey."
Sesilia terdiam, tatapannya kosong, ia masih tak mampu berpikir secara logika. Hatinya kacau, pikirannya semberawut. Azka terus menatapnya menunggu jawaban.
Ponselnya kembali berdering, kali ini nama Ivan yang muncul. Sesilia segera menyambarnya.
"Halo, Kak. Bagaimana, ada kabar dari kantor?"
"Hahh, ada kabar. Tapi kabar buruk."
"Ma-maksud Kak Ivan?" Wajah Sesilia mulai cemas.
"Ya kau tahu kan, bos kita bokapnya David, ya kamu pake selingkuhi anaknya, ya dia marahlah. Dia bahkan ngancam mau blokir kamu di dunia nyanyi."
"Tapi, Kak. Bisa kan masalah ini diselidiki dulu, bilang sama Om Surya, aku gak bersalah."
"Enak sekali kau ngomong, siapa yang berani menentang Pak Surya, cari mati, hah?"
Telepon di tangan Sesilia lolos ke bawah, jemarinya lemas, tulang-tulang di seluruh tubuhnya seolah layu. Tubuhnya pun luruh bersandar di kursi. Air matanya lagi-lagi menganak sungai.
"Udah, udah, okey. Aku jadi khawatir kalo kamu kek gini terus, kamu setuju aja, kita menikah, aku bersedia jadi pengganti David. Pria tak bertanggung jawab kek dia, gak pantas jadi suami kamu."
Sesilia hanya terdiam, Isak tangisnya memecah keheningan, sementara Azka tak bisa lagi berbuat banyak untuk membujuk, hanya mendekat dan memeluk bahunya sembari mengelus-elus lengannya dengan lembut.
Setelah berpikir panjang, Sesilia menyetujui permintaan Azka, rencana pernikahan yang seharusnya digelar bulan depan, terpaksa dipercepat dan digelar tertutup di kampung Sesilia. Tak ada wartawan yang diizinkan meliput.
Selesai acara pernikahan, Azka pun segera meminta izin membawa isterinya ikut tinggal bersama di apartemennya.
"Kamu bisa tidur di kamar itu, dan aku di sini."
Sesilia menatap kamar yang ditunjuk oleh Azka bergantian, pandangannya diedar ke segala arah.
Apartemen itu memiliki dua kamar, satu kamar mandi sekaligus toilet di dalamnya, juga dapur dan ruang tamu.
Setelah puas menatap sekeliling, ia menatap suaminya, mengangguk kecil. Azka pun tersenyum melihatnya.
"Ya udah, ayo!" Azka menarik koper isterinya ke kamar, Sesilia mengekor di belakang.
Meskipun hari ini adalah hari bahagianya, tetapi wajahnya terlihat kuyu, datar, dan dingin. Tak ada senyum atau pun ekspresi senang walau hanya secuil.
Azka pun seolah memahami perasaan isterinya, tak banyak mengajaknya berbicara, ia lebih memilih membiarkan isterinya hanyut dalam perasaannya sendiri.
"Kamu pasti capek, istirahatlah dulu, biar pakaian kamu, aku yang susun di lemari," ucapnya saat Sesilia sudah masuk di kamar.
Wanita itu pun duduk di sisi pembaringan, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, ia benar-benar seperti patung bernyawa.
Azka hanya menatapnya sejenak, menarik napas berat lalu berbalik, menarik koper mendekat ke lemari dan menata baju isterinya di sana.
Sesilia merebahkan diri di kasur, tatapannya kosong. Wajahnya terlihat sangat lelah.
Azka mendekat, mencium kening isterinya setelah menata pakaian.
"Selamat malam, Sayang," bisiknya lembut. Ia masih betah menatap wajah kuyu sang isteri.
"Kamu jangan khawatir, aku pasti akan menyelidiki kasus itu, aku janji akan membersihkan dan mengembalikan nama baik kamu, biarkan David menyesal udah mutusin kamu."
Sesilia hanya mengangguk pelan menanggapi janji suaminya.
Azka tersenyum, sekali lagi mencium kening isterinya, lalu berjalan keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, sekali lagi ia menatap isterinya, tersenyum simpul lalu benar-benar menutup pintu.