Bab 4 Klarifikasi Azka

1271 Words
Sepeninggal Azka, Sesilia meraih guling dan memeluknya. Air matanya berlinang, kenangan sang kekasih terus membayangi pelupuk mata. Kerinduan hati akan harapan dan asa yang telah mereka canangkan, memudar bagai asap tertiup angin, rasa cinta yang masih terukir jelas di relung hati, layaknya duri menancap, menciptakan luka yang begitu dalam, perihnya tak terkira. "Sayang, aku gak sabar deh, pengen meluk dan cium kamu di malam pertama kita." Bisikan sang kekasih tatkala cincin pertunangan di sematkan di jari manisnya sebulan yang lalu kembali terngiang. Tangisnya pun pecah tak tertahankan, meski suaranya tak terdengar, akan tetapi guncangan bahunya jelas memperlihatkan betapa keras ia menangis. "Harusnya ini malam pertama kita, tapi kenapa harus dengan orang lain, kenapa kamu gak bisa percaya padaku," ratap Sesilia lirih, seolah takut terdengar. "Aku harus gimana, aku masih sayang sama Kak David, bisakah aku lupain dia?" Suara isaknya memecah keheningan di kamar itu. "Ya Allah, bantu aku lupain dia." Bahunya semakin berguncang, meratap dan memendam tangis sendirian. Sementara Azka ternyata belum meninggalkan kamar itu. Dia masih betah berdiri, menatap pintu yang dingin, kaku, diam membisu di depannya. Baru setelah beberapa saat, menghela napas berat, kemudian melangkah pergi. Pria itu tidak langsung ke kamarnya, melainkan keluar menemui seseorang. Malam hampir mencapai pertengahan saat dia kembali ke apartemen. Sesilia bangun dengan malas, mandi dan berganti pakaian, lalu menunaikan sholat. "Ya Allah, berilah hamba kekuatan dalam menghadapi cobaan ini, semoga kebenaran akan segera terlihat, hamba benar-benar tak bersalah." Sesilia mengusap wajah setelah mengakhiri doanya. Wanita itu keluar dari kamar, menuju dapur hendak membuat sarapan. Namun, dia tertegun saat melihat suaminya telah sibuk di sana. "Kamu udah bangun?" Azka tersenyum menyambut kedatangannya. Sesilia mengangguk dan tersenyum agak terpaksa. "Masak apaan, Kak?" Dia mendekat dan melihat-lihat. "Bukan apa-apa, cuma roti panggang aja. Maklum aku gak pandai memasak." Lelaki itu tersenyum malu mengakui kelemahannya di depan isteri. "Ya udah, biar aku yang masak, Kak Azka cukup makan aja." Dia ingin merebut teflon di tangan Azka, tetapi lelaki itu segera menarik tangannya menjauh. "Eeh, gak bisa. Kamu duduk aja, hari ini biar aku yang masakin kamu, yaah ... anggap aja sebagai sambutan selamat datang." "Ya udah deh, Kak. Selamat memasak." Ia pun berbalik, menuju meja makan, duduk berpangku tangan menatap suaminya membuat roti panggang. "Hari ini aku akan klarifikasi ke media, soal pernikahan kita. Dan seperti janjiku dulu, aku akan mengungkap kebenaran tentang skandal itu," ucap Azka sambil menghidangkan roti di piring isterinya. Sesilia mendongak kaget. "Kak Azka udah tahu siapa orang itu?" Azka hanya mengangguk, lalu duduk dan mulai menikmati rotinya. "Yang bener, Kak?" Sesilia tersenyum senang dan antusias. "Ya, pokoknya kamu nikmati sarapannya, dan tunggu hasilnya aja." Sesilia mengangguk senang. Untuk pertama kalinya ia tersenyum sebahagia itu di depan Azka, membuat pria itu menatap istrinya begitu dalam, senyum simpulnya menggambarkan ada rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sesuai janji Azka, media massa benar-benar menayangkan sebuah siaran langsung, suami Sesilia terlihat gagah di depan kamera, berbicara mewakili isterinya, melakukan jumpa pers. "Assalamualaikum, selamat siang teman-teman media, dan juga para pemirsa, aku di sini mewakili isteriku, mau klarifikasi terkait skandal yang melandanya. Sebelumnya aku minta maaf pada keluarga dan kerabat Sesilia, karena skandal itu membuat mereka harus menanggung malu. Di sini, aku mau mengatakan bahwa, skandal Sesilia itu bukan karena dia selingkuh, tetapi lebih tepatnya,dia dijebak oleh seseorang yang gak senang dengan ketenarannya dan orang yang bersamanya malam itu, hanya orang bayaran dari hater tersebut. Malam itu, sama sekali gak terjadi apa-apa, dan kami udah konfirmasi ke bagian Hotel, menurut mereka ada orang yang mengaku ketinggalan kunci kamar, terus meminta pelayan membukakan kamarnya, mereka sama sekali gak tahu kalau ternyata kamar yang dimaksud adalah kamar Sesilia, itulah makanya, pria itu bisa masuk ke kamarnya. Dan juga, tentang pernikahan kami yang terburu-buru, banyak sekali gosip yang menuduh isteriku, katanya karena Sesilia hamillah, skandal itu benerlah, dan sebagainya, itu gak bener ya temen-temen. Aku menikah dengannya itu karena Sesilia stress, gara-gara David memutuskan pertunangan sepihak tanpa mau tahu dan tak mau cari tahu kebenaran di balik skandal itu. Sesilia juga gak mau nama baik keluarganya hancur akibat rencana pernikahannya sudah tersebar di kampung, bahkan semua kebutuhan pesta sudah dipesan. Sebenarnya, aku dan Sesilia gak saling kenal, kebetulan aja kami ketemu saat David memutuskannya dan dia sangat frustasi. Jadi, sebagai seorang penggemarnya, aku gak tega melihatnya terpuruk, dia terlihat sangat rapuh, akhirnya aku menawarkan diri menjadi pengantin pengganti demi menyelamatkan martabat keluarganya. Jadi stop mengatakan hal yang nggak-nggak terhadap istriku, ya. Semua itu gak bener, dia gadis baik-baik, dan dia masih suci, gak pernah disentuh siapa pun. Yaah meskipun aku hanya pengganti, tapi aku serius menjalani hubungan kami, wanita sebaik Sesilia pantas untuk dibahagiakan, bukan dicampakkan seperti yang dilakukan mantannya. Sekalian kami perlihatkan bukti CCTV di Hotel bagaimana pria itu menipu pelayan untuk membuka pintu kamar Sesilia, dan bagaimana dia sengaja mengundang wartawan untuk membuat skandalnya ramai." Tayangan di layar lebar terpampang, semua orang tercengang, apa yang dikatakan Azka ternyata benar. Siaran langsung itu ditayangkan oleh beberapa media tv nasional, kebetulan siaran langsung itu juga tayang di sebuah restoran di mana David tengah bersantap siang bersama seorang wanita cantik berdandan menor, melebihi artis papan atas. "Apa? Skandal itu jebakan?" David terperanjat dan langsung berdiri. "Itu Azka ...? Yang menikah dengan Sesilia, Azka?" Wanita yang bersamanya juga tampak kaget, wajahnya menyiratkan rasa kecewa dan geram,tetapi tidak ia tampakkan. "Ini pasti rencana Azka, dia sengaja merebut Sesilia." David geram sampai meninju meja di depannya. Dia sontak menatap wanita di depannya. "Dia pasti masih sakit hati, semua ini gara-gara kamu." Gadis itu tak terima. "Maksud kamu apaan, apa hubungannya aku sama skandal mantanmu?" "Udah deh, Azka tuh sakit hati gara-gara kita ketahuan selingkuh kan? Masih ingat ancaman dia dulu? Dia mau merebut Sesilia. Dan kalau sampai ini benar, aku pasti akan merebut Sesilia kembali." Wanita itu seketika menahan napas, wajahnya terlihat tegang. "Terus, aku bagaimana? Kamu mau ninggalin aku?" David tersenyum miring, wajahnya berubah sinis menatap gadis itu. "Liana, dari awal kamu yang menawarkan diri, kamu pikir aku beneran cinta gitu sama kamu? Hh, mimpi." David pun meninggalkan mejanya tanpa peduli dengan gadis yang bernama Liana itu. David mengemudikan mobilnya bagai orang kesetanan menuju kantor Azka. Saat ia tiba, para wartawan sudah keluar dari showroom. David terpaksa bersabar menunggu sampai para wartawan pergi semuanya. Begitu sepi, pria itu segera masuk, naik ke lantai tiga di mana kantor Azka berada. Dia bahkan tak peduli dengan teguran pegawai yang ditemuinya. Dia masuk tanpa permisi, langsung berlari mendapatkan Azka yang baru saja melepas jas, menarik kerah bajunya dengan kuat. "Dasar b******k, kamu yang menjebak Sesilia, kan?" "David, apa-apaan kamu, lepasin!" Dia menghentakkan tangan David yang mencengkeramnya lalu mendorongnya menjauh. "Huh, apa kamu punya bukti? Kenapa? Menyesal udah ninggalin dia?" "Diam! Gak usah bohong, kamu. Semua ini akal-akalan kamu, ngaku!" David maju hendak meninjunya, tetapi asisten Azka segera datang dan menahan tangannya. "Sial, lepasin!" David menepis tangan asisten Azka. "Antar dia keluar!" titah Azka pada asistennya. David menahan geram, menunjuk wajah Azka lurus, tatapan matanya tajam bagai tombak yang siap dilemparkan. "Aku pasti akan menyelidikinya, dan aku bakal bongkar kebusukan kamu di depan Sesilia!" Azka tertawa sumbang mendengar ancamannya. "Selidiki? Hah, baru sekarang setelah Sesilia menikah? Kamu pikir Sesilia akan bilang woow gitu?" Azka semakin tertawa lebar. "Sesilia selalu percaya denganku, kali ini dia juga pasti percaya." "Ayolah, kamu bahkan gak punya bukti, lagian kalau kamu gak percaya, kamu bisa datang ke kantor polisi, pelakunya ada di sana, silakan tanya, apa aku yang merencanakannya?" David semakin geram, tangannya mengepal kuat, siap melayangkan pukulan ke wajah Azka, tetapi lagi-lagi dicegat oleh asisten pemilik showroom itu. "Silakan keluar!" Asisten Azka segera menghalaunya keluar. David hanya bisa menepis kencang tangan asisten itu, sekali lagi melirik sinis Azka, lalu keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD